
Perhelatan akbar resepsi pernikahan Gita dan Gilang pun berakhir dengan sukses luar biasa.
Gang julid tidak hanya puas menikmati semua hidangan, mata mereka juga terpuaskan dengan pemandangan yang mewah dan indah. Mendapatkan cerita terbenar dari Joli pun merupakan hal yang sangat memuaskan batin mereka.
Menatap nanar, nyalang nelangsa ke arah pelaminan, sungguh bahagia terpancar dari senyum sumringah sang ratu dan raja sehari di sana.
Suara MC memenuhi room. Dengan penuh semangat, mengundang para jomblowan dan jomblowati agar berbaris rapi sebaris jalan masuk kepelaminan. Untuk mengadu nasib mendapat lemparan bunga tangan sang pengantin.
Sebab mitos turun temurun sudah terlanjur beredar dan di percayai, jika mendapat lemparan bunga itu maka, akan segera menyusul ke pelaminan.
Ya iyalah, bukan mitos kali. Setidaknya yang bersangkutan akan segera naik pelaminan untuk mengucapkan terima kasih dan berfoto dengan mempelai pengantin bukan?
Susunan kalimat demi kalimat apik dan ciamik di tuturkan sang MC kondang. Untuk mengantarkan acara sesi lempar bunga yang selalu di tunggu para hadirin. Bukan hanya yang single, yang duda, janda dan masih berkeluarga pun ikut serta meramaikannya. Sehingga makin heboh acara itu.
Drama lempar bunga sudah jadi rahasia umum, sehingga pada kali ke tiga barulah bunga tersebut sungguh di lempar.
"Tiga"
"Dua"
"Satu"
"Yaaaaaaaa...." Teriak MC tak sabar melihat rupa orang yang beruntung itu.
"Aaaaa.... aku dapat. Aku mendapatkannya." Teriak Dara heboh. Dara, salah satu dari gang julid yang ternyata beruntung malam itu.
Apalah arti sebuah bunga tangan, yang terdiri dari kumpulan bunga hidup yang di tata rapi, warna warni, wangi semerbak untuk beberapa hari. Namun, gengsi dan usaha untuk mendapatkan buket tersebut membutuhkan skill juga hoki yang besar.
"Ijin... mbak yang beruntung dapat lemparan buket bunga, bisa naik ke panggung mbak." Suara MC meminta Dara naik panggung untuk mengkonfirmasi kecakapannya dari beberapa puluh kepala yang juga ingin mengadu nasib.
"Hallo... namanya siapa dan dari mana mbak?" tanya MC dengan intonasi yang sangat nyaman di dengar.
"Dara... namaku Dara."
"Asal?"
"Bandung."
"Waaaaw jauh juga. Ada hubungan keluarga dengan pihak mempelai laki laki atau wanita?" tanya MC itu kembali.
"Saya stap di kantor yang sama dengan kedua mempelai." Jelas Dara agak grogi.
"Okeeehhh... ada yang ingin di sampaikan untuk kedua mempelai?"
"Haaaii... hallo pak Gilang dan bu Gita. Selamat menempuh hidup baru, Samawa ya...." Doa Dara klasik untuk pasangan yang berbahagia itu.
"Okeeh... terima kasih doanya. Mbak ... Mbak Dara. Bisa ceritakan gimana senangnya mendapat buket ini?" tanya MC yang bagi Dara lumayan cerewet maklum dia satu server sama Kinan alias Kunanto, tau kan gaes?
"Senang... dan ga nyangka aja. Karena di lemparan ke tiga tadi baru berdiri dan mendekat ke barisan." Ungkap Dara jujur.
"Senang... atau senang banget?"
__ADS_1
"Ya senang lah."
"Senang saja?"
"Iya senang."
"Ga pake banget?" pancingnya.
"Ya cukup senang." jawab Dara datar.
"Baiklaaah... karena hanya senang saja. Maka... sesuai bisikan dari pasangan Gita dan Gilang tadi. Siapapun yang mendapatkan buket bunga tadi. Maka ia juga berhak mendapatkaaaaaan..." MC kondang itu sengaja mendramatisir keadaan. Membuat suasana sedikit menegang, seketika senyap bagai menunggu detik detik pergantian waktu di malam tahun baru.
"Mendapatkaaannn..." ulangnya.
"Kasih tau ga yaaa?" tundanya kembali.
"Berhak mendapatkan.... jodoooh." Jawabnya sukses menciptakan suara.
"Uuuuuuuu..." Kompak dari para tamu undangan yang masih betah menunggu acara hingga selesai.
"Berhak mendapatkan jodoh dari ....?" lagi lagi MC itu menggantung info yang harusnya sejak tadi ia sampaikan.
"Berhak mendapatkan sebuah Iphone 12 Pro Max. Selamat menemukan jodohmu dengan ini ya cantiiik." Ujar MC menyodorkan sebuah Ipone lengkap dengan kotaknya yang di tenteng dalam tote bag, dan itu nyaris mencopot jantung Dara dari tempat seharusnya berada. Kaget... sumpah.
Heeeii... mimpa apa Dara semalam, jika kini ditangannya sudah ada sebuah gawai dengan icon apel tergigit senilai hampir 18jt itu. Ini nyata? bukan mimpi kan?
"Aaaacccch." pekik Dara terkejut.
Dan para tamu pun melongo, tak menyangka bahwa ada hadiah besar tersembunyi di buket bunga yang di lempar tadi.
Dara melangkah menuruni tangga panggung. Dengan segala rasa yang sulit di jabarkan seperti aritmatika. Semakin merasa bersalah, jika sejak kapan hari, mereka hanya berjulid ria saja, menggibah pasangan dan keluarga Gita dan Gilang. Yang ternyata menyimpan sejuta hadiah dengan misi rahasia. Penuh kejutan dan sangat dermawan.
Gegap gempita pesta kini benar usai. Keluarga Gita dan Gilang sudah berada dalam kamar hotel yang di siapkan untuk mereka hingga tiga hari kedepan. Bebas mau di gunakan atau tidak. Yang pasti sudah termasuk dalam paketan wedding mereka.
Kevin puas dengan perhelatan itu, merasa bangga bisa membantu menyelenggarakan hari bahagia adik adiknya walau beda ibu. Sebab nilai cek yang sama yang Kevin berikan pada Daren dan Zahra saat menggelar pernikahan mereka di Aceh tiga bulan yang lalu.
"Cape neng?" tanya Gilang pada Gita yang terlihat susah payah ingin melepas gaun pengantinnya.
"Banget a'..." Manja Gita dengan suara serak hampir parau.
"Sini A'a bantu." Gilang sudah menurunkan ret sleting gaun itu untuk memudahkan Gita melepas gaunnya.
"Makasih A'..." Ucapnya pada Gilang yang sudah berjalan ke toilet untuk menyiapkan air hangat untuk istrinya berendam.
"A'a jangan ikut berendam." tukas Gita saat tubuhnya mulai terbujur dalam bath up di sana.
"Kenapa?"
"Nanti ada yang hidup cari lubang." Gita sudah mengantisipasi takut di gempur Gilang malam ini.
"Hahaaaa... pahala neng. Pahala." Modus Gilang jenaka.
__ADS_1
"Ijin dong a' sumpah capek banget." rengeknya.
"Iya... a'a juga cape, pegel." jawab Gilang yang memilih menyerahkan punggung belakangnya di sirami air hangat lewat aliran shower. Berasa di pijet.
"Apanya yang paling pegel A...?" tanya Gita yang menikmati hangatnya rendaman air menggenang tubuhnya.
"Muka."
"Bukan kaki?"
"Ga."
"Kok bisa?"
"Cape senyum terus sama tamu."
"Senyum itu ibadah A'..." celoteh Gita.
"Yang bilang musibah siapa?"
"Yaaah sewot."
"Siapa?"
"A'a..."
"Mana...? biasa aja."
"Hmmm." dehem Gita singkat kemudian menyudahi acara berendam yang bahkan belum sampai setengah jam.
Gilang segera menyusul, ikut menyudahi acara mandinya. Membalut handuk di bawah pusatnya. Lalu berjalan ke lemari untuk memasang pakaian tidurnya.
"Sini a'a yang keringkan rambutnya. Kalo kepala basah di bawa tidur, besok langsung sakit neng. Masuk angin." Sabar Gilang pada istri yang selalu ingin ia manjakan itu.
Gita menyerahkan hairdryer pada Gilang. Lalu mengambil kapas dan pembersih wajahnya untuk menghapus sisa riasan tebalnya tadi.
Rambut Gita susah kering sempurna, sisa make up pun sudah bersih tuntas. Selanjutnya merekapun merebahkan tubuh letih itu, pada satu bantal. Sebab kepala Gita tak perlu bantal busa. Hanya perlu lengan Gilang untuknya alas kepalanya.
"Tenyata, melaksanakan akad nikah di hari yang berbeda dengan resepsi itu sangat menguntungkan ya neng." Ujar Gilang membelai surai panjang iatrinya.
"Kenapa?"
"Karena ga perlu unboxing saat stamina lagi down gini." Racau Gilang dengan mata yang sudah tertutup, ngantuk berat.
Bersambung...
Puasnya hati readers kalo tiap hari baca tulisan nyak, udah kaya makan obat.
3x sehari niii yeee
Makasiiih attentionnya semua
__ADS_1
❤️❤️❤️