CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 14 : RUJAK MODUS


__ADS_3

Rumah tangga sebaiknya memang demikian. Sebagaimana manisnya memadu kasih saat berpacaran atau penjajalan saling mengenal karkter masing masing. Lalu merasa ada ke cocokan antara satu dengan yang lain, kemudian bersepakat saling mengikat dalam janji suci pernikahan.


Saat menjalani proses pengenalan dan penjajakan semua jurus rayuan ampuh di keluarkan saat ingin meyakinkan pasangan. Masa setelah menikah, rayuan dan puja puji itu tidak di aplikasikan?


Apa karena gunung, bukit, ngarai, dan lembah yang terhampar di seluruh bagian tubuh pasangan telah di jelajahi semua tanpa ampun yang membuat beberapa pasangan abai untuk melakukan usaha dalam rangka menjaga kemesraan dan mempertahankan ikatan cinta itu.


Ya... isi rumah tangga bukan hanya bujuk dan rayuan semata. Sebab tak ada manusia yang bisa hidup hanya dengan cinta. Tapi kunci dari segalanya ialah komunikasi.


Jika dulu, Kevin dan Muna di uji tentang kesetiaan, sebab tinggal pada benua yang berbeda di awal pernikahan, saat itu kuncinya hanya komunikasi yang di lakukan secara terus menerus dan terbuka.


Ujian rumah tangga Gilang dan Gita tidak soal LDR. Sebab mereka tinggal di bawah atap langit yang sama, namun tetap di berikan kerikil pada jalan biduk rumah tangganya. Yaitu menghadapi hidup yang status sosial mereka memang berbeda. Hal itu sudah mereka ketahui sejak sebelum memutuskan untuk menikah. Dan itu mereka sudah sepakati, tidak akan jadi masalah di kemudiam hari.


Semua itu hanya bagian kecil dari contoh lika liku kerhidupan berumah tangga. Siapa sabar dialah pemenang. Siapa tak kuat, mungkin meja hijau tujuan akhirnya.


Rumah ibu Gilang sudah ramai sejak kamis sore, sebab tim dekorasi dan pihak cathring sudah datang untuk menyeting posisi yang sesuai dengan keadaan bentuk rumah. Agar terlihat pantas dan tidak hiruk pikuk.


Rumah ibu dapat di bilang sederhana juga tidak besar, halaman depannya harus berbagi dengan kios penjualan air isi ulang milik Arum. Membuat pekarangan itu menjadi sempit. Dan itulah gunanya pada pendekor datang. Untuk memastikan tempat mana yang perlu mereka rapikan agar acara terselenggara dengan tertib dan nyaman.


Beberapa tetangga tampak antusias ingin mencuri star tentang siapa istri Gilang. Sejak Gilang SD mereka sudah tinggal di daerah itu. Tentu para tetangga juga tau bagaimana ibu Gilang menjalani hari hari mereka, saat masih punya suami hingga sekrang telah menjadi janda.


Para tetangga juga tak sedikit yang berminat mengangkat Gilang jadi menantu, tanpa memikirkan status dan keadaan ekonomi mereka yang pas pasan. Melainkan karenan Gilang tampan, lagi ramah, suka menolong. Bukan hanya remaja putri yang ke semsem. Tapi para ibu ibunya yang kepincut dengan Gilang yang rupawan.


"Penasaran lho bu... sama mantunya. Orang mana sih?" tanya salah satu tetangga yang membawa satu toples kerupuk untuk modal ngobrol di depan warung Arum.


"Orang Jakarta." Jawab Ibu Gilang cepat.


"Oh... kok bisa. Ketemu di mana sih, bu?" tanya yang lain lagu. Sambil mengupas buah kedondong. Ya sepertinya mereka sudah menyusun rencana. Sebab yang tadi bawa kerupuk, yang ini ngupas kedondong. Yang lainnya lagi sudah ada yang bawa cobek dan bahan membuat bumbu rujak. Ada lagi yang baru datang membawa buah nenas, jambu dan pisang mengkal. Oh... benar benar niat banget ibu ibu itu. Yang ingin mendapatkan informasi dengan modus ngerujak bersama.


"Teman kantornya bu." Ibu Gilang menjawan lagi.


"Oalaaah. Kapan to nikahnya bu. Tiba-tiba ngunduh mantu saja. Ga ada kabar gitu."

__ADS_1


"Akadnya bulan lalu di Jakarta. Lalu resepsinya baru minggu kemarin. Maaf ga sempat kasih kabar. Karena itu saya minta acara ini di laksanakan di sini. Supaya ibu ibu kenal dan tau saya sudah mantu." jelasnya pelan.


"Itu mantunya yang biasa ke rumah lama itu bukan bu?" tanya ibu yang sedari tadi kebagian tugas mengulek kacang dan gula merah.


"Risna...? Bukan. Mantu saya namanya Gita."


"Ga perna di ajak kerumah sini ya bu? soalnya kok ga pernah liat Gilang bawa cewek kerumah." tambah yang lain


"Pernah, tapi memang jarang. Sekali waktu mereka baru kenal. Terus sekali waktu saya baru keluar rumah sakit. Lalu, kemarin waku baru habis akad mereka ada nginap di sini."


"Oh... mereka tidak tinggal di sini. Pantesan makin jarang liat Gilang di rumah. Hanya kadang pernah liat ada mobil mewah parkir di depan rumah ibu. Itu mobil mantu ibu?" Sudah mengarah ke kejulidan yang hakiki.


"Ah... hem em. Iya mungkin."


"Lah kok mungkin sih. Kalo udah pernah di bawa ke sini bareng Gilang, ya pastilah itu milik mereka."


"Waaah. Kalo bener mobil yang warna hitam pernah parkir di depan sini, itu mobil istrinya Gilanh. Fix bu, Gilang mantunya sultan." Ibu yang spesialis nguleg tadi bersemangat. Sampai tak sadar sudah banyak membubuhi beberapa cabai di cobek tadi.


"Eh... beneran. Saya pas lewat, langsung kagum liat mobil singgah di situ. Berasa mimpi bisa liat mobil model itu secara live. Buru buru ambil ponsel, cek harga dong di google."


"Terus harganya berapa tuh?" tanya yang lain ikut penasaran.


"7 Sampai 8 M bu ibu...."


"Hah..."


"Apa...?"


"Masaa?


"Ah yang benar?"

__ADS_1


"Tajir dong berarti istrinya Gilang."


"Iya... ya bu Gilang?"


Bukan hanya ibu ibu itu saja yang kaget, ritme kerja jantung ibu Gilang saja di buat tak beraturan karena terkejut saat mendengar harga mobil yang kini di gunakan anak dan menantunya.


"Maaf bu... saya tidak tau harga mobilnya segitu." Ujar ibu pelan,. setelah memastikan jantungnya sudah baik baik saja.


"Bukan harga mobil yang kami tanya, tapi apa iya istri Gilang anak orang kaya?"


"Iya bu... maksud kami apakah benar mantu ibu anak sultan. Kalo iya... hmmm. Ga lama lagi ibu pasti di bawa pindah ke istana megah oleh Gilang. Bahagianya..." celetuk yang lain.


"Eh belum tentu lho. Bisa jadi malah Gilang yang ga di ijinkan menginjakkan kakinya ke rumah ibu lagi. Karena ga level tinggal di sini. Ya kan ibu-ibu?"


"Iya betul tuh bu Gilang. Dari pacaan sampai menikah saja baru tiga kali mau main ke sini. Itu tandanya mantu ibu sombong. Jarangkan mau bercengkrama atau pendekatan gitu sama ibu. Hm... sombong tuh pasti. Anak orang kaya..." simpul yang lain. Tentu saja meresahkan hati ibu yang belum benar benar yakin pada kepribadian Gita. Kasian Gita selalu di curigai tanpa alasan.


"Harus kuat kuat hati bu kalo mantunya kaya. Dari sekarang ibu harus tetap pegang anak ibu. Kalo tidak, harga diri ibu bisa di injak injak. Anak ibu tidak akan jadi kepala rumah tangga. Melainkan jadi budaknya. Sabar ya bu, kudu eling." Timpal yang lain, seolah mereka sudah kenal baik saja dengan Gita.


Bersambung...


Hai readers sudahkah kalian ngopi pagi ini?


Enyak kehabisan nih. Ada yang mau kirim buat nyak?


Buat modal nulis 2 bab lanjutan siang dan sore nanti.


Nyak ga bohongkan upnya sekarang 3x sehari🀭


Makasiiih untuk yang selalu setia


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2