CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 90 : POLIGAMI


__ADS_3

Terserahlah apa yng kalian pikirkan pada pasangan duo G ini. Double Gombal iya, somplak juga rada rada, mesum apalagi. Pokoknya ngikutinperjalanan hidup rumah tangga mereka itu komplit deh. Gemes gemes cemburunya ada, yang riweh sama mertua juga mereka, sampai di nyiyirin tetangga juga mereka lewati bersama. Bahkan kini, kisah tentang masa lalu keluarga Gilang pun, di kupas tuntas.


Tak perlu lah di bahas juga apa yang akan Gilang tanam di tanah gembur menganga di atas sofa ruang tengahnya, sebab bisa saja ini akan di cekal jika terlalu mendetail dalam hal mendeskripsikannya. Maka setelah keduanya sama sama sudah bersih, mereka pun naik ketas ranjang, untuk melanjutkan cerita yang di potong potong, persis kue ulang tahun yang akan di bagi bagi untuk di suap kepada orang orang terdekat, Heem ngawurkan .


“Belum ngantuk a’a. Ayo lanjut cerita lagi.” Pinta Gita, penasaran Gita maksimal, semaksimal penasaran para readers yang sudah 3 malam di ajak bertanya ke sana kemari seperti mencari alamat palsu.


“Sampe mana tadi neng?” Gilang saja sampai lupa ceritanya sampai mana, saking jeda iklannya terlalu lama dan panjang.


“Sampe hamil dan lahirin a’a di rumah kakek dan nenek a’a. lalu ayah a’a melanjutkan kuliah.” Jawab Gita lancar.


“Pintar.” Puji Gilang mengecup kening Gita.


“Ya … singkat cerita. Ayah lulus kuliah dan berharap segera di perbolehkan membina rumah tangga utuh seperti pada umumnya. Tetapi ternyata ayah salah. Kakek masih tak mengijinkan ayah untuk bersatu dengan ibu, sampai sungguh benar mendapatkan pekerjaan. Dengan alasan, anak dan istrinya nanti mau di kasih makan apa?” Begitu  Sudrajat. Tangisan nenek pun selalu terlihat setiap hari, memohon agar ayah tidak lagi melawan permintaan kakek.” Kisah Gilang terhenti sejenak, menari napas berat.


“Ibu lebih banyak pasrah dan tidak berani menuntut. Walau setiap hari di omeli oleh nenek. Karena memilih menikah dengan ayah, bahkan mau-maunya sampai punya anak dua. Ibu bagai janda, tapi bersuami. Ingin mengaku punya suami tetapi bagai janda. Sebab ayah memang makin jarang pulang. Kecilan a’a bisa di hitung jari  Awalnya ayah datang seminggu sekali, lalu kadang dua minggu sekali, lama lama sebulan sekali, Kemudian hingga hampir sepuluh bulan ayah baru datang kerumah kakek Henra. Tepat di usia a’a 2 tahun kata ibu.” Lanjut Gilang yang kemudian terdiam sendiri.


Satu detik…


Dua detik…


Tiga… empat… lima.


“Kenapa diam a’…?” toleh Gita pada Gilang yang tampak termenung.


“Jangan bilang ini bersambung besok lagi a’…” Pinta Gita memegang lengan Gilang.

__ADS_1


“Tepat di usia a’a yang kedua tahun akhirnya ayah pulang. Dan meminta ibu, teteh juga aGi pergi bersamanya.”


“Maksudnya?”


“Maksudnya, meminta ibu dan kami pada kakek Henra untuk tinggal bersama di rumah keluarga kakek Sudrajat.”


“Oh… artinya ibu sudah di terima oleh keluarga Sudrajat?” ulang Gita agar lebih jelas. Gilang mengangguk.


“Ya… begitu konsepnya. Kami pun pindah dari rumah kakek Henra ke rumah kakek Sudrajat. Penampilan ayah saat datang kali itu, sudah sangat berbeda kata ibu, ayah kembali tampan, tubuhnya berisi kamin bersih, sama seperti Edy Sudrajat yang dulu. Ibu senang bukan main saat tau akan di boyong ke rumah sang mertua, itu artinya beban orang tuanya selama ini berakhir. Ibu dan kami tak lagi jadi benalu di rumah kakek Henra. Tetapi, semua yang ada di pikiran ibu sungguh sangat jauh berbeda. Setiba di rumah besar itu, ibu tidak di anggap bagai istri melainkan pembantu.”


“Kok bisa…?”


“Kakek memantau semua tindak tanduk orang orang di dalam rumahnya. Dan yang lebih parah, dalam rumah itu, ada seorang wanita hamil yang katanya adalah istri sah ayah.”


“Astagafirullahaladzim… itu ibunya Gibran ya a’…?” Gita tak sabar.


“Iya neng, ayah beristri dua. Saat sulit mencari lowongan pekerjaan, ia di arahkan oleh kakek untuk melamar pekerjaan di perusahaan milik sahabatnya. Dan ayah pun di terima dengan syarat harus mau menjadi menantu sabahat kakek Sudrajat. Awalnya ayah menolak, sebab itu ia masih sering pulang. Berhenti bekerja malah kebangkrutan punbmenunggu, untuk usaha kakek Sudrajat. Ayah, dalam dilemma. Ingin kembali nekad hidup miskin bersamaanak dan istri, tapi tak bisa pergi. Sebab itulah, ayah semakin jarang pulang, ia tak tau harus berkata apa pada ibu. Kian hari ayah  semakin di paksa untuk menjalin hubungan dengan wanita itu. Hingga ayah di ancam untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu yang tidak pernah secara sadar ia lakukan, entah apa yang terjadi. Dan apakah ia khilaf, sehingga ayah sendiri tidak tau mengapa dan kapan ia bisa tidur dengan wanita itu. Lisa Cahya Ningsih namanya. Awalnya aman saja, namun, tak lama kemudian. Terdengar kabar jika wanita itu hamil, sehingga ayah di minta menikahi secara sah wanita bernama Lisa itu.”


“Hah… keluarga aneh.” Celetuk Gita geram.


“Ayah bersedia menikahi Lisa dengan syarat hanya sebagai formalitas. Untuk menutupi aib kehamilan yang ia sendiri tak tau kapan dan siapa pelakunya. Lalu, syarat yang kedua adalah ayah meminta agar kakek Sudrajat menerima ibu  juga kami sebagai menantu dan cucu beliau. Dan jadilah akhirnya ayah pun beristri  dua di rumah tersebut.”mGita geleng geleng.


“Berat sekali ujian yang ibu hadapi a’a. Jadi sedih eneng dengernya. Mau peluk ibu a’.” Pias Gita sendu.


“Sini… peluk a’a aja sebagai perwakilan.” Senyum Gilang pada istrinya yang mendadak mellow.

__ADS_1


“Eneng serius a’. Kasian ibu. Sudahhidup pas pasan, lalu harus menerima suami yang nyata beristri lagi. Ayah


sesungguhnya cinta ibu ga sih, kok ga bisa ngelawan kakek. Sebel eneng,a’.” Gusarnya geregetan.


“Bukan hanya ibu yang perlu di kasihani. A’a juga jadi korban. Sejak dalam kandungan jarang ketemu ayah, pas lahir juga jarang di sambangi. Giliran punya ayah harus berbagi dengan orang lain. Untungnya saat itu a’a masih sangat kecil. Tidak mengerti akan staus orang yang beristri dua. Yang a’a tau ada teman main hampir sebaya saja dengan a’a.” Ujar  Gilang kemudian.


“Sampai usia berapa ayah menjalani poligami?” tanya Gita penasaran.


“Sampai usia a’a 7 tujuh tahun. Dan Gibran kurang lebih 4 tahun. Jadi, a’a sudah lumayan besar dari Gibran. Sehingga a’a lumayan mengerti jika ada ketidak adilan dalam perlakuan antara aGi sama Gibran.” Lanjut Gilang memegang perutnya.


“Kenapa a’… sakitnya sampe sekarang ya?” tanya Gita polos.


“Bukan sakit neng… a’a jadi lapar. “ Ujarnya berdiri akan beranjak meninggalkan Gita.


“Kemana?”


“Buat nasi goreng aja, beneran lapa neng.” Ujar Gilang kabur.


Bersambung…


Nah, readers benerkan hari ini double up


Votenya yang kenceng, biar ga mental dari rangking, kaya minggu lalu


Makasih banyak yaa semua

__ADS_1


Lop All❤️❤️


__ADS_2