CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 130 : PURA-PURA TIDUR


__ADS_3

Mirna sudah kembali kerumah, setelah tertidur di ruang tengah rumah Kevin. Yang sesungguhnya adalah rumah mereka juga. Mungkin aura kepemilikannya masih terasa kental sehingga saat Mirna masuk dan di minta untuk menjaga Gita, ia justru merasa seolah bernostalgia kembali pada rumah masa kecilnya itu. Walaupun bangunan itu sudah tak sama sekali mirip drngan saatmereka tinggali dulu.


“Kamu dari mana sih Mir…?” tanya ibu yang rupanya sejak tadi sudah mencarinya.


“Oh, tertidur di rumah sebelah bu.” Jawabnya jujur.


“Yang aneh-aneh saja, segala tertidur di sana, kayak ga ada kamar di  sini saja.” Ibu Siska agak marah pada anak keduanya itu.


“Yak an ga sengaja. Tadi di panggil kak Gilang untuk jagain kak Gita yang sedang tidur sendiri di kamar. Eh, malah Mirna yang tertidur.”


“Heem… jangan diulangi lagi khilafnya.”


“Iya… maaf. Bu, ibu punya nomor telepon mereka yang di kios desakah? “ tanyanya tiba-tiba.


“Ya adalah…” jawab ibu dengan cepat.


“Bisa tolong di tanyain bu, stok pempek masih adakah, tidak? Sebab kak Gita katanya mau ngidam makan empek-empek yang enak. Mirna bilang saja pempek buatan ibu yang terenak. Tapi karena kita sedang acara, ibu stop dulu produksinya.”


“Wah.. baru saja ibu di telepon kalau stoknya tinggal dikit. Dan ibu sudah di minta untuk ngawasi kelompok Surya untuk membuatnya kembali. Karena acara kita kemarin juga katanya banyak yang beli produk kita di kios,kan banyak yang datang dari desa lain.” Jawab ibunya.


“Gimana kalau ibu buatkan khusus untuk kak Gita saja. Karena katanya diakan sedang hamil bu.” Saran Mirna pada ibunya.


“Sebentar, ibu lihat stok ikan dan tepung ibu dulu.” Ibunya selalu antusias dalam hal membuat makanan ini. Sejak sawah mereka terjual, dan hasil tangkapan ikan mneurun dulu. Pempek adalah salah satu makanan  olahan ikan yang juga berjasa bagi kelanjutan hidup mereka sekeluarga. Ia pantang menyerah membuat panganan tersebut sampai menemukan takaran dan komposisi yang benar-benar seimbang, sehingga buatannya di akui paling enak di desanya.


Maka ia pun di rekrut oleh pengurus PKK khususnya pokja 2 yang bergerak dalam bidang pendidikan dan ketrampilan dalam keluarga, serta pengembangan kehidupan berkoperasi. Salah satunya dengan mendukung Usaha Peningkatan kesejahteraan keluarga (UP2k). Sehingga pokja tersebut akan menjaring warga yang memiliki potensi dan ketrampilan untuk mengolah apapun. Seperti kerajinan atau pengilahan makanan ringan yang di olah dari hasil bumi yang dominan di tempat mereka. Lalu di buat kelompok kecil, yang nantinya akan di berikan modal untuk merintis usaha tersebut, hingga dapat meningkatkan taraf hidup mereka juga men ciptakan olahan khas daerah mereka sendiri.


Sejak itulah, ibu Siska cukup sibuk dengan kelompok kecilnya untuk bersama-sama membuat dan mengelola aneka olahan dari ikan yang memang tak sulit bagi mereka untuk saling bahu membahu mengolahnya. Walaupun awalnya mereka cukup kesulitan dalam hal penjualan, sebab jika hanya di beli oleh warga desa setempat, tentulah pasarannya sangat kecil. Namun, karena bekerja sama dengan UP2K desa, maka tiap ada envent antar desa, produk mereka selalu di bawa untuk di perkenalkan agar di ketahui oleh desa lain. Maka mulai membesarlah pangsa pasar olehan kelompok ibunya Siska tersebut.


“Mir, ibu sudah telepon. Kata Bu Shally. Pempek di sana sudah habis.” Ujar ibunya baru selesai berkomunikasi jarak jauh dengan penjaga kios desa.

__ADS_1


“Oh… sebaiknya lebih baik ibu buatkan untuk kak Gita dulu deh.” Lagi Mirna menyarankan untuk ibunya.


“Sebentar ibu tanya, bu Murni. Apakah stok ikan masih ada?” Ibu Siska terlihat memencet kipet pada ponsel jadulnya lagi, memastikan di rumah produksi mereka masih ada bahan baku untuk membuat makanan itu.


“Mir, kamu sepedaan sana. Minta bahan baku sama bu Murni. Katanya kala untuk buat sedikit masih ada. Sementara besok belanja lagi untu buat yang banyak.” Perintah ibu Siska.


Tanpa membantah dan berpikir panjang, Mirna segera mengambil tangan ibunya untuk pamit, pergi ke rumah bu Murni sesuai perintah sang ibu. Sebab, ia tadi melihat jika Gita sungguh ingin segera menikmati pempek.


Siska keluar kamar, setelah mengawasi orang salon melepas tabir dan segalah dekorasi dalam kamar pengantinnya. Berpapasan dengan Mirna yang tampak terburu-buru melewatinya. Namun tak sempat bertanya hendak kemana.  Belum jelas Siska akan lanjut ke dapur atau keluar rumah, tampak Gilang sudah berada di depan pintu memanggilnya.


“Sis… Mirna mana?” tanya Gilang.


“Ga tau, barusan pergi ga bilang mau kemana?” jawab Siska apa adanya.


“Pake motor?” tanya Gilang lagi.


Belum Siska berkesempatan menjawabnya mereka berdua justru melihat anak itu melaju dengan motornya.


“Nah..  tuh dia pake


 motornya.” Jawab Siska menunjuk kearah luar.


“Waduh… ada lagi alat transportasi yang kalian punya?” tanya Gilang pada Siska.


“Tuh pick up untuk ayah mengantar pesanan bangunan. Dan satunya lagi sepeda listrik untuk ibu ke pasar.” Siska menunjuk ke arah garasi.


“Boleh pinjam salah satunya?” tanya Gilang lagi.


“Ya boleh lah, masa enggak. Mau yang mana? Pick up apa sepeda?”

__ADS_1


“Pick up saja.” Semangat Gilang yang akan ke kios desa membeli pempek untuk kidaman Gita.


Tapi belum Siska berhasil mengambil kunci pick up itu, pak Herman justru tergopoh-gopoh keluar kamar dengan wajah seolah panic.


“Kenapa ayah?” tanya Siska.


“Aayah lupa, ada pesanan dari desa sebelah. Minta di antarkan keramik. Ya Allah, kok bisa lupa begini.?” Ujarnya sungguh terburu-buru. Membuat Gilang dan Siska hanya saling berpandangan artinya, p[ick up itu tak bisa di pinjam.


“Gilang bantu pak.” Tawar Gilang mengikuti belakang pak Herman yang akan sibuk memindahkan keramik dari gudang ke atas pick up. Pak Herman tidak menjawab, karena masih merasa shock setelah di tagih pihak


pembeli.


Tersisa Siska yang langsung sendiri setelah Gilang mengekori ayahnya. Terpikir olehnya untuk ikut membantu ayah dan Gilang memindahkan keramik tersebut.


“Akang…” panggil Siska lembut pada Asep yang masih tertidur walau hari mulai sore.


Asep tak bergeming. Tetap dengan tidur nyenyaknya dengan posisi miring sebab tidur di sofa kamar itu, karena ranjang mereka baru saja di porak poranda pihak yangmembersihkan dekorasi tadi.


“Ayaaang.” Bahu Asep di guncang oleh Siska. Tetapi nihil. Asep terlihat masih lelap dalam tidurnya.


“Oppaaa…” panggil Siska dengan tangan yang memang di arahkannya pada senjata tumpul yang menyakitinya semalam. Reflek Asep berbalik dan malah mendudukkan Siska di atas perutnya.


“Kenapa… mau lagi? Pegang-pegang oppa.” Hah… Asep dari tadi pura-pura tidur?


“Iiih… ayang. Tidur bohongan ya?”


“Mana bisa tidur kalau orang lagi kerja seperti tadi. Terus ini di atas gini kenapa nih? Sudah mau mencoba gaya women on top?” tanya Asep yang ternyata usil juga mesum melebihi Kevin.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2