
Kan Gita jadi ngeri-ngeri sedap melihat kekonyolan sang suami yang main plorot-plorot celana di saat Gwen dalam keadaan bangun. Bahkan habis mengisi batreinya penuh. Itu artinya setelah itu, Gwen akan minta bermain sampai jam mandi sorenya tiba.
“Ha … ha. Takut ya …” Gilang menjawil dagu Gita dengan gemash.
“Ya iyalah … bercandanya ga lucu tau.” Tukas Gita yang sudah berdiri membawa Gwen menuju tempat bermain mandi bola mini nya di kamar mereka, lalu duduk di bagian luar lingkaran. Sekedar untuk menunggui anaknya di sana sampai bosan bermain.
“Ya ga mungkin lah kita begituan di saat Gwen dalam keadaan bangun. Eneng ada-ada saja.” Gilang berdiri kemudian berjalan menuju kamar mandi di kamar itu.
“A’a kemana?”
“Konser tunggal.” Oh M G. Segitu aja itu si jaka udah basah ternyata.
“Perlu penonton ga?” tawar Gita menggoda Gilang yang sudah berwajah kusam.
“Penontonnya mau sambil main lato-lato ga …?” Gilang berharap jawaban itu adalah iya.
“Huuuu … wani piro?” Jawab Gita sambil terkekeh. Sedangkan Gwen sambil sibuk dengan maiannya juga lama-lama bisa tenggleng kepalanya. Sebab lehernya kadang ke kiri kadangke kanan. Sesekali menoleh ke ibunya, kemudian menoleh ke ayahnya. Bergantian. Kemampuan otaknya masih 60% saja dalam hal mencerna pembicaraan orang dewasa. Mana belum bisa berbicara lagi. Mana dia mengerti negosiasi gila yang sedang ayah dan bundanya akan sepakati.
“Hah … situ yang enak. Kok a’a yang bayar.” Kekeh Gilang tak lagi meladeni Gita. Dari raut wajahnya kan jelas, jika Gita tidak akan mungkin mau memainkan lato-latonya di dalamm kamar mandi atau sekedar memanjakan si jaka dengan mulutnya. Hah … dunia tipu-tipu.
Gilang keluar kamar mandi dengan tampilan lebih segar. Rambutnya basah, netes-netes sampai ke leher dan dadanya. Kebayangkan betapa tampannya suami Gita itu. Badannya masih sangat atletis terawat. Otot dadanya masih bidang dan kotak-kotak. Gilang dan Gita sama. Pintar menjaga bentuk tubuh masing-masing. Nge-gym teratur dan menjaga pola makan bukan hanya jadi kebiasaan salah satu dari mereka. Tetapi keduanya. Sehingga, kemolekan tubuh mereka terjaga dengan benar, agar selalu good looking di mata mereka berdua.
“Waw sheksiiih. “ Komen Gita melihat suaminya hanya berbalut handuk di pinggang.
“Di larang komen atau julid. Buruan mandi, kita mau keluar.” Perintah Gilang pada Gita, sambil memilih pakaiannya sendiri dalam lemari.
“A’ … itu baju a’a udah Eneng siapin.” Gita memang sudah menyiapkan baju rumah untuk suaminya pakai setelah mandi tadi.
“Maaf Neng. Itu a’a pakai setelah pulang jalan nanti aja ya.” Ujar Gilang mulai mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
“Kita mau ke mana?”
“Ke rumah sakit.” Jawab Gilang memindahkan handuk yang di pinggangnya tadi ke kepala. Menggosok-gosokkan rambut basahnya agar cepat kering.
“Kita jenguk kakek Sudrajat, A’ …?” Tanya Gita sedikit terkejut. Bukankah tadi kemarin suaminya terlihat tidak antusias menjenguk kakek itu.
“Heem.”
“Kok jawabnya Cuma heeem. Ga ikhlas? Dosa lhoo.” Gita mendekati Gilang, membantu suaminya merapikan pakaiannya.
“Nanti saja bicara ihklas dan dosa. Yang penting, eneng buruan mandi. Atau mau a’a yang mandikan?” Gilang mengalihkan suasana agar tidak mellow.
“Huuu … kabur aja.” Gita segera berlari menuju kamar mandi. Perintah dan tawaran itu terdengar sepele. Tapi hati manusia mana ada yang tau, jangan jangan beneran mau di lakukan, gimana?
Gita sudah selesai mandi dan menggunakan pakaian rapi juga sopen tentunya. Sementara menunggu, Gilang habiskan waktunya untuk bermain bersama Gwen yang sebentar lagi akan di jemput pengasuhnya untuk membersihkan tubuhnya juga akan makan sore jelang malamnya.
“Kita langsung ke rumah sakit …?” tanya Gita saat Gilang masuk kamar mereka.
“Oh … ibu ikut.” Jawab Gita lebih terkejut lagi.
“Iya … tadi pagi waktu a’a berangkat ke kantor. Ibu telpon soal kakek.”
“Terus …?”
“Ya inilah. Kami akhirnya janjian jenguk ke rumah sakit.”
“Tuh kan. A’a sud’zon duluan. Orang ibu aja sudah baik-baik saja hatinya. Kenapa a’a malah masih sedongkol itu.”
“A’a dongkol untuk ibu. Tapi saat yang aku bela ternyata sudah lupa pernah terluka, ya .. a’a bisa apa? Ga mungkin kan, a’a masih mau dendam, kalo korbannya aja udah damai.” Sungut Gilang pada Gita.
__ADS_1
“Berjiwa besarlah, kita kan ga bisa jamin juga kita selalu bisa baik sama orang. Siapa tau kita khilaf apa, ga sadar nyakitin hati orang lain. Gimana ?” Gita sudah memilih tas mana yang akan ia pakai ke rumah sakit.
“Iya … iya ga usah ceramah. Ibu udah siap dari tadi.” Gilang memegang dua bahu istrinya agar mereka segera berangkat.
“Eh … bentar. Ambil uang di brankas dulu a’. Kali mereka butuh.” Gita membelokkan tubuhnya menuju tempat penyimpanan uang yang ada dalam kamar itu.
“Udah ga usah. Beli buah aja.” Tolak Gilang yang memang masih terlihat separuh hati untuk menjenguk kakeknya.
“Ga boleh pelit nanti rejekinya sempit.” Gita … Gita memang tak pernah berprasangka buruk dengan orang lain. Hatinya selalu lapang dengan semua orang.
“Liat keadaannya aja dulu.” Dengus Gilang yang tidak bisa membendung langkah istrinya membuka brankas itu.
“Ga banyak kok. Ku bawa 5jt aja. Ini juga ga akan eneng keluarin, kalo mereka terlihat mampu.” Jawab Gita cuek sambil memasukkan lembaran uang merah itu. Kedalam amplop lalu menyimpan dalam tas yang akan ia bawa.
“Mampu apanya. Orang ibunya Gibran kasih kabar ke ibu saja, karena ga sanggup bayar biaya kakek tua itu.” Cicit Gilangdalam hati.
Mereka sudah tiba di rumah ibu. Dan ternyata ibu sungguh sudah siap, bahkan dengan sekeranjang parcel buah yang sangat lengkap.
“Wah kedululuan ibu nih beli buahnya.” Sapa Gita melihat ibu mertuanya yang sudah siap dengan buah tangannya.
“Arum yang belikan. Tapi, dia ga bisa ikut dulu. Mungkin besok. Karena masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.” Jawab ibu.
Heem … usaha air isi ulang Arum memamg sekarang lebih ramai pembelinya. Sesuai saran dari Gita, jika di awal ia memang menggunakan system jemput boola. Dan selanjutnya kini ia, sudah banyak memiliki pelanggan tetap, karena dia siap antar dalam jumlahbanyak, bonus yang beragam di setiap pembelian juga pelayanan yang ramah. Menjadi kunci kesuksesan usaha Arum sekarang, sehingga perekonomian mereka meningkat.
Tiga orang itu sudah berjalan di koridor rumah sakit menuju ruangan yang sudah mereka pastikan, di mana kakek Sudrajat di rawat.
Ruang rawat itu bersifat umum, sebab hampr 10 pasien berderet-deret di bed pesakitannya masing-masing. Jarak pasien satu dan lainnya hanya bersekat tirai yang mudah di buka dan di tutup dengan tangan. Suasananya lumayan riuh juga gaduh. Suara erangan pasien dan alat medis beradu sesukanya. Bukan ketenangan yang tercipta bagi para pasien yang butuh waktu untuk beristirahat. Namun justru ketakutan saat dapat melihat pasien lain dengan mudah, bahkan mungkin ada yang melewati masa sakaratul mautnya di depan mata, di sebelah ranjang sesama pasien.
“Bapak …”
__ADS_1
Bersambung …