
Apa Siska yang kekanak kanakan, atau Asep yang terbiasa menghadapi wanita cerewet. Yang pasti hubungan mereka yang baru beberapa jam dia resmikan itu, sudah harus melewati pertengkaran mulut yang tak seharusnya terjadi.
"Kamu marah?" tanya Siska, sebab tak nyaman mendengar kalimat akhir yang Asep ucapkan untuknya tadi.
"Ah... gitu aja marah. Ga kok." Jawabnya santai.
"Serius, Kang?" dengan susah payah Siska menyebut panggilan itu pada Asep.
Berasa berada dihamparan sawah padi menguning yang siap di tuai deh, rasanya. Di mana ada seorang wanita dengan kebaya bunga bunga mengenakan topi caping, membawa bakul nasi menuju pondok. Untuk mengantarkan dan menyiapkan makan siang untuk suami yang lelah memanen padi. Itu yang ada dalam bayangan Siska saat ia harus memanggil Asep dengan panggilan akang. Sungguh tak sesuai ekspektasinya yang sudah berkhayal jauh hubungannya akan ala ala Korea.
Asep terkekeh melihat ekspresi Siska saat memanggilnya dengan sebutan akang tadi.
"Sudah, nggak usah dipaksa kalau memang tidak suka. Nggak papa kok, kamu panggil aku apa aja, yang penting hatimu senang." Ujar Asep membelai rambut Siska dengan lembut penuh sayang.
"Ya nggak gitu juga sih. Mungkin akunya aja yang terlalu ke Korea Korea an. Padahal jelas-jelas tempat lahir kita ya, memang di Indonesia tercinta ini, akang." Ujar Siska mencari alasan.
"Ga usah dibahas lagi, ujung-ujungnya kita berantem. Bukannya kita baru jadian? Ku panggil Bunda baru tahu..." Gasak Asep menggoda Siska.
"Ha... ha... nikah coy... nikah dulu kali baru panggil begituan." Tawa Siska terlerai mendengar jawaban Asep yang sangat menghiburnya. Dan itu mampu melembutkan hatinya mengeraskan tadi.
"Sayaaaang..., udah malam. Waktunya istirahat nih." Ucap Asep lembut di dekat telinga Siska.
"Akang... jantungku. Mau lepas." Kekeh Siska memegang dadanya.
"Perasaan semua penyakit kamu borong deh, Nyiii..." Canda Asep sambil memegang pengait cairan infus, menggiring tubuh Siska yang beranjak menuju bed pasien.
"Nyiii kunti???" Kekeh Siska masih tak terima di panggil begitu oleh Asep.
"Hahaa... youbu." Asep rupanya senang melihat wajah Siska yang kesal padanya.
"Eh... nanti aku tidurnya di mana ya?" tanya Asep pada Siska yang sedikit bingung jika nanti Miska datang tentu akan tidur di ranjang penunggu pasien.
"Mestinya sih di ranjang itu, besar lho. Kayak ukuran no 2, cukup kok untuk tidur bareng Miska." Jawab Siska datar.
"Bareng siapa?" ulangnya menoleh ke arah Siska.
"Bareng Miska." Jawan Siska pasti.
__ADS_1
"Kalau sama sama tidur sih, ga apa apa. Kalo ada yang bangun aja yang bahaya."" Umpat Asep nackal.
"Gimana?" tanya Siska minta penjelasan.
"Ga... ga ada apa apa. Biar Miska sendiri tidur di ranjang itu. Nanti aku tidur di sofa aja. Tinggal miring kiri, aku udah bisa langsung liat muka kamu sepanjang malam deh." Jawab Asep dengan senyuman yang mampu menerawangkan Siska ke langit langit ruangan itu.
"Iih..., sweet banget sih. Akang." Kekeh Siska tak kalah senang mencubit perut Asep.
"Jangan nakal tangannya. Belum muhrim." Asep mengingatkan Siska yang langsung menarik tangannya yang sempat mendarat sempurna dan berputar tadi.
"Permisi..." Suara Miska terdengar masuk ke ruang rawat Siska.
"Oh... iya. Masuk mbak Miska." Siska menyilahkan Miska masuk dan menyampaikan jika ia boleh tidur di ranjang besar yang memang di siapkan untuk menunggu pasien VVIP.
Obrolan Asep dan Siska pun sudah tak terdengar lagi. Sebab Asep sudah pindah ke sofa, bahkan lebih dahulu mendengkur halus di sana.
Lama Siska memiliki waktu untuk memandang teduhnya wajah lelaki pujaannya itu, sebelum kantuk pun menyerang dan membawanya ke dunia mimpi.
Suara alarm dari ponsel Asep menguar di ruangan rawat itu. Tidak hanya Asep yang tersentak, Miska juga segera terbangun karena bunyi yang lumayan nyaring tersebut. Tapi tidak dengan Siska. Ia tampak masih tidur terlelap dengan cairan infus yang tersisa sedikit itu.
"Maaf membuatmu terbangun mbak." Ujar Asep.
"Titip Siska ya mbak. Saya ke musholla." Ijin Asep yang kemudian melangkah menuju pintu keluar. Dan Hampir bertabrakan dengan perawat akan mengganti cairan infus yang hampir habis tadi.
"Maaf mas." Perawat genit kemarin rupanya masih bertugas hingga subuh ini.
"Iya... ga papa. Silahkan." Jawab Asep ramah.
Mereka pun melakukan tugasnya sesuai ketentuan. Tidak hanya mengganti cairan infus. Memeriksa tekanan darah, suhu badan juga memastikan tidak ada rasa mual, pusing juga rasaa tak enak lainnya. Lalu merekapun, kembali dengan catatan catatan pada lembaran yang tersedia.
Hari baru tiba, Miska sudah pulang ke kediaman Hildimar. Setelah membantu Siska ke kamar kecil. Untuk membersihkan diri, menyikat giginya dan membasahi sedikit rambutnya. Memberi kesan segar pada penampilan paginya.
Miska pamit pulang, Asep pun datang dari luar luwak coffee itu mencari cari sarapan untuknya.
"Udah sarapan?" tanya Siska pada lelaki berwajah Korea itu dengan ceria.
"Udah."
__ADS_1
"Pagi sekali?"
"Kebiasaan memang gitu, sebelum pukul 7 perutku sudah kelaparan." Jelasnya, agar Siska lebih banyak tau tentangnya.
"Oh... wajib dong."
"Iya... kamu?"
"Dulu waktu sama Muna sih iya. Tapi setelah hidup sendiri ... malas masak." Terang Siska, juga dengan tujuan agar Asep banyak tau tentangnya.
"Dan kalau sudah terdesak. Mie instan solusinya?" tebak Asep pasti.
Siska mengangguk pelan, mengakui salahnya.
"Jangan begitu lagi ya. Sayangi tubuhmu dan segala organnya. Kalo tidak... kita putus saja." Ancam Asep pelan tapi nusuk.
Kenapa harus jadian kemarin, kalo har ini di ancam putus.
"Hah... kok putus siih?" tanya Siska tidak terima.
"Soalnya aku ga percaya selama ini kamu sayang aku. Sama diri sendiri aja ga sayang. Di kasih makanan yang ga bergizi. Besok kita nikah, ku ga mau lho di kasih makanan sembarangan." Papar Asep menyadarkan Siska. Betapa selama ini, ia mengesampingkan kesehatan dan asupan gizinya.
"Cari uang boleh, tapi harus seimbang dengan tubuh yang letih dalam hal mengejar uang tersebut. Semua perlu uang, dan apa pun semua pakai uang. Tapi, uang jadi ga berguna kalau kita sakit. Ga bisa di nimmati." Asep sungguh bagai penceramah bagi Siska.
Tak salah Siska menjatuhkan hatinya pada pria ini. Bukan karena tampang dan fisiknya. Melainkan akhlaknya. Walau pun kepribadiannya rada beda dengan kebanyakan laki laki perayu lainnya, Asep memang pendiam. Tapi tidak dengan soal kesehatan.
"Iya... terima kasih sudah mengingatkan. Besok besok jadi tutor gizi yaaah." pinta Siska manja.
"Siap." Jawab Asep sambil memencet hidung Siska agak gemes.
"Mana kata kata sayangnya pagi ini, buat aku... kang?" senyum Siska melebar.
"Saat aku mencintai seseorang, aku tak harus mengatakannya. Sebab kamu akan tahu dari cara aku memperlakukanmu." Asep langsung mengecup kening Siska lembut.
Bersambung....
Huuum... siapa yang baper sama Asep? Lempar mawar yaaak... kali cukup buat buket tuk bunga tangan nikahan Siska.
__ADS_1
Makasih yaa
π€π€πΉπΉβππππ