
"Waah... pasiennya sudah sembuh nih? Kok ga ada di tempat ya?" gurau dokter Daya, menyadari jika pasiennya kini tengah duduk santai di sofa ruangan itu.
"Rasanya sudah jauh lebih sehat dari kemarin, dokter." Jawab Siska dengan senyum tersungging.
"Permisi, kita periksa dulu ya." Pamit dokter mendekati Siska dan memulai ritual pemeriksaan. Mulai dari suara detakkan di dada, melihat warna mata, juga bagian perut Siska tak luput dari periksaan.
"Hasil cek darah kemarin, sudah keluar ya. Tidak membahayakan, artinya baru tahap gejala saja. Tapi, tetap harus menjaga pola makan. Jangan yang pedas dulu, yang instan apa lagi. Sementara hindari gorengan juga. Kalo bisa yang rebus juga kukus. Intinya ngalah masak sendiri deh, banyak pilihan menu masakan yang simple tapi sehat. Kurangi makanan berMSG juga. Itu untuk makanan. Sekarang yang paling penting, istirahatnya yang cukup dulu. Oke." Panjang kali lebar tambah tinggi, seperti rumus bangun ruang saja dokter ini menjelaskan tak putusnya.
"Siap... ia dokter. Apa sudah boleh pulang?" tanya Siska.
"Pulang...? kenapa ga betah ya. Di jaga orang setampan ini kok bosan sih." Goda dokter Daya itu membuat mereka semua yang mendengarnya tertawa membenarkan.
"Ga... bukan ga betah. Risih aja, apa lagi ini nih. Bikin susah gerak." Jawab Siska menunjuk selang infus di tangan kanannya.
"Ooh... ga suka infus. Suster, habis cairan itu di lepas saja ya. Kasian pasiennya mau gerak bebas, mungkin salto atau kayang kayaknya. Ha... ha..." Dokter itu tertawa sendiri dan di ikuti yang lainnya.
"Maaf ya... bercanda. Kalo mau pulang..., sebentar kita lihat keadaan sampai siang. Lalu, di resepkan obat untuk 7 hari kedepan. Walau sudah m pulang nanti, harus tetap habiskan obatnya. Tapi... kalau mau sembuh saja sih." Ujarnya kemudian memberi catatan pada kertas di tangannya.
"Ya ... iyalah dok, mau sembuh." Jawab Siska cepat.
"Okeeh. Selamat beristirahat ya. Kami akan melanjutkan tugas lainnya."
"Baiklah selamat beraktivitas dokter." Siska melepas kepergian dokter itu dengan ramah.
"Dengerkan... ga boleh makan pedas dulu." Ulang Asep setelah mereka hanya berdua di ruangan itu.
"Iya... kang mas. Aku denger kok." Jawab Siska terkekeh. Di sambut senyum manis sang kekasih hati.
"Oppa... sudah mandi?"
"Belum."
"Ada bawa baju ganti? Atau pulang pagi ini?"
"Ada lah, handuk dan lain lain semua lengkap."
"Huum... ya sudah mandi gih."
"Kenapa... akang bau ya?" tanyanya sambil mengendus sayap kiri dan kanannya.
"Ga nyium sih, hanya kira kira aja. Jam segini belum mandi. Takut panas dalam, kang." Kekeh Siska yang masih merasa geli sendiri dengan panggilannya.
"Oke... akang mandi dulu ya nyiii."
__ADS_1
"Hihi... hiii... hii. Jangan lupa bawa baju gantinya ke dalam kamar mandi. Ga usah modus ketinggalan baju ya nanti, supaya punya alasan keluar dengan handuk yang hanya terlilit di pinggang." Dumel Siska.
"Jangan cerewet, aku kalo khilaf nyip ok lho." Bantah Asep sambil membawa helaian pakaian juga handuknya menuju kamar mandi.
"Oh yaa... klo gitu. Khilaf aja terus, enak gitu." Jawab Siska berani.
"Waaaw nantang ya. Tunggu ku habis mandi, ku buat sampe bengkak deh tu bibir." Ujarnya cuek sebelum benar benar hilang di telan pintu kamar mandi ruang rawat inap tersebut.
Siska benar sudah merasa sehat dan baik. Ia sudah mampu memindahkan cantelan cairan infusnya sendiri. Sehingga, yang tadi ia masih di sofa. Sekarang sudah bisa beralih sendiri memuju tempat tidurnya.
Mungkin beberapa obat yang ia konsumsi ada mengandung obat tidur, sehingga saat Asep masih di dalam kamar mandi pun, Siska sudah terlihat lelap dalam tidurnya.
Sampai tidak mendengar ponselnya berdering di samping tempat ia tertidur.
"Halllo..." Asep memberanikan diri menerima panggilan itu, sebab yang ia lihat adalah wajah ibundanya Siska.
"Lho... Siska mana? dia kenapa?" tanya suara di seberang agak panik.
"Ini Asep bu. Siskanya tertidur." Jawab Asep pelan sambil menjauh dari Siska berada.
"Oh... ini ibu sudah masuk daerah Jakarta. Lalu ibu kemana?" tanyanya pada Asep.
"Ibu pake apa?"
"Oh... ibu ke rumah sakit saja langsung. Nanti Asep tunggu di depan ya. Kira kira berapa menit lagi?" tanya Asep ramah.
"Kamu gimana sih Sep. Kok tanya ibu. Rumah Sakit di Jakarta cuma satu ya...? Maba ibu tau berapa lama lagi sampainya." Tukas ibu Siska yang memang ada benarnya itu.
"Oh... iya maaf bu. Bisa tolong, berikan ponselnya sama supir travelnya bu. Biar Asep yang bicara sama dia." Ibu Siska pun segera menyerahkan ponselnya pada supir travel yang ia tumpangi itu.
Dan Asep melanjutkan pembicaraan dengan sang supir. Yang ternyata, masih kurang lebih 30 menit lagi ibu Siska baru bisa sampai.
Asep dan Siska sama sama terperanggah, saat Asep baru masuk ruangan Siska. Ia kaget, melihat Asep yang dari luar sambil memegang ponselnya.
"Dari mana? kok bawa hapeku?" tanya Siska minta penjelasan.
"Tidurmu nyenyak sekali, ga denger ibu nelpon. Maaf ya."
"Oh... iya. Ibu sudah berangkat?"
"Kurang lebih 10 menit lagi mungkin sampai." Jawab Asep pada Siska.
"Alhamdulillah. Tidurku nyenyak sekali ya." Jawab Siska merasa semakin nyaman setelah bisa tidur nyeyak kurang lebih 30 menit.
__ADS_1
"Banget." Jawab Asep.
"Nyai... akang keluar boleh?"
"Kemana?" walau tak begitu suka, Siska tetap saja menjawab jika Asep memamggilnya demikian.
" Calon mertua ku mau datang. Jadi aku harus jemput di depan takut tersesat dan tau arah jalan pulang. Aku tanpamu butiran debu." Kekeh Asep tertawa sendiri."
"Apaaan coba. Cie... cie yang punya calon mertua. Suit... suit kenalin dong, camernya akang." Goda Siska tersenyum senang. Padahal ia tau, yang Asep maksudkan adalah ibunya yang sebentar lagi tiba.
"Siaap... nyai. Nanti akang kenalkan. Ijinkan akang pergi untuk kembali ya." Lanjut Asep lagi.
"Akang di kamar mandi tadi ke sambet setan apa sih? roh pencipta lagu ada yang gentayangan ya? di sini?" tanya Siska.
"Hah... ga. Biasa aja."
"So romantis tau ga...?" Asep sudah makin dekat dengan wajah Siska. Bibirnya sudah siap siap akan mengisap manisnya madu di bibir Siska. Siska pasrah penuh harap, berharap ciuman semalam akan ada part dua, tiga dan seterusnya. Tapi dugaannya melesat, di awal saja bibir itu seolah ingin menyambar bibirnya, tapi ternyata hanya pipi kiri dan kanannya yang jadi sasaran Asep.
Siska agak merengut, setelah mendapat pendaratan bibir itu karena hanya di pipi.
"Kenapa merengut? kecewa? maunya di bibir lagi?" Hidung Siska kembang kempis, mau bilang iya... tentu saja malu. Mau bilang tidak, kan memang mau. Tapi, masa di bilang juga.
Bersambung...
Yaaah maksud hati mau agak pagi. Eh, malah ketiduran. Efek lelah baru berasa kayaknya.
Happy Reading yaa semua.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
MAWAR
KOPI
Selalu nyak nantikan
Nyak sayang kalian
❤️❤️❤️
__ADS_1