
Gilang terdiam sesaat mendengar pujian dari Gita untuk Alm. Genta, putra pertama mereka. Bagaimanapun ia masih sangat sedih atas berpulangnya Genta yang mendahului mereka.
Gilang berdiri bari posisinya di sebelah Gwen, lalu manarik sedikit kasur kecil yang di tiduri oleh bayimereka itu, membuat posisinya agak mepet dengan dinding. Agar ia bisa berada di dekat Gita tanpa mengganggu nyenyaknya tidur Gwen.
Gilang memeluk tubuh Gita erat, membenamkan sembab wajahnya di dekat leher Gita. Entah kemana mental baja Gilang selama ini, sehingga ia masih tampak rapuh atas kepergian Genta.
“A’ …. Kita kirim Al-Fatihah saja. Agar Genta tenang dan kita pun dapat pahala.” Gita menenangkan Gilang.
Aneh bukan pasangan ini. Bukan Gita yang di tenangkan melainkan Gilang yang terlihat merasa sangat terpukul.
“A’ … jangan nangis. Mana suamiku yang selalu kuat menjadi sandaranku? Mana cita-cita menjadi ayah hebat untuk anak-anak kita …?” usap Gita lembut pada kepala Gilang yang masih bersembunyi di atas dada Gita.
“Kalau selama ini a’a tidak pernah melihat Eneng sedih. A’a salah. Tidakkah sebenarnya Eneng lebih sakit dari a’a. Mereka pernah hidup bersama dalam perut eneng. Genta pernah nendang perut Eneng, Genta pernah makan dalam tubuh Eneng, Genta pernah usil bermain di dalam perut Eneng. Tapi … Eneng hanya bisa merasakannya dan tak pernah di ijinkan melihat wujudnya. Tidakkah a’a merasa, jika sesungguhnya Enenglah yang paling sakit di sini. Belum lagi luka di sini … A’. Ini tanda yang selamanya tak pernah hilang, bahwa dia pernah ada, menjadi bagian dari hidup eneng.” Akhirnya luruh juga air mata Gita. Yang selama ini hanya ia sembunyikan sendiri. Atau ia baurkan bersama kucuran shower saat ia mandi. Ia tak pernah ingin terlihat sedih atas kehilangan putranya. Demi ingin menghargai jika ada Gwen yang harus ia sayangi. Ada Gilang yang harus ia beri kekuatan agar selalu tegar dengan musibah keluarga mereka.
Tubuh Gilang gemetar menahan sesak di dadanya mendengar jeritan hati istrinya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya, jika Gita sekuat itu menyimpan lara sendiri. Gilang egois, merasa jika ialah orang paling pilu akan kehilangan Genta. Hingga tak menyadari, istrinyalah yang tetap harus ia dukung psikisnya untuk tidak larut dalam rasa duka itu.
“Maaf Neng … maafkan A’a. Terlalu terbawa perasaan duka ini. Maaf tak meyadari, hati dan perasaan Eneng. Sampai kapanpun, Genta tak tergantikan. Dan luka ini selamanya akan menjadi kenangan kita pernah bersamanya. Maafkan a’a yang tak bisa jadi suami sempurnamu ya Neng. Maaf.” Gilang sungguh merasa bersalah. Belum puas ia memanjakan hatinya untuk bergelung dengan duka. Tapi kali ini ia bagai di tempar untuk segera sadar jika dukanya tak beralasan. Sebab masih ada hati yang ternyata hanya pura-pura tegar menghadapi kepedihan yang ia kira hanya ia rasakan sendiri.
“A … jika a’a sedih … eneng tuh lebih sedih. Jika a’a menangis, siapa yang menghapus airmata Eneng …? Jika a’a jatuh dan larut dalam duka ini, siapa yang menarik kita keluar dari kubangan nestapa ini. Allah juga akan semakin menjauh karena ia benci dengan orang-orang yang tidak menerima takdir.” Gita masih saja meraung-raung menyampaikan isi hatinya. Ini kali pertama Gita menangisi Genta secara terang-terangan. Sebab di lain waktu ia hanya sedang pandai menahan. Tetapi, bukan kah lebih baik jika uneg-uneg itu di keluarkan.
__ADS_1
“Maaf Neng … maaf.” Gilang sudah bangkit meninggikan posisinya. Mengambil ceruk kepala Gita, lalu meletakkannya di dada bidangnya.
“Tiap nyeri di sini datang, bayangan Genta selalu ikut datang a’. Lalu Eneng bisa apa? Ingin menghibur diri dengan memandang Gwen, pun dia lebih sering bersama mbok Darmi yang selalu telaten mengurusnya, sampai tanginsannya jarang terdengar karena selalu tepat waktu untuk di tangani.” Itulah sebenarnya alasan ke bosanan Gita. Yang lebih banyak waktunya di habiskan sendiri. Ia di buat seperti ibu susu saja bagi Gwen. Yang bertemu hanya saat bayinya ingin minum ASI. Dengan alasan klasik, agar Gita cepat pulih dan tidak mudah capek. Bukankah tangisan bayi yang mereka ingin dengar menguar di kamar mereka.
“Maaf sayang … maaf. Kami yang tidak peka dengan tekanan dalam hatimu. Maaf sempat menjadi orang lain yang tidak mengerti akan kebutuhan batinmu.” Gilang mencium-cium pucuk kepala Gita penuh penyesalan.
“Baiklah … mulai besok Gwen akan seterusnya kita jaga bersama. Tanpa banyak di bantu oleh mbok Darmi. Bagaimanapun dia yang masih Allah titipan pada kita. Maka sebaik mungkin kita jaga dan rawat sendiri, semampu kita ya Neng.” Janji Gilang yang akhirnya mengerti, ada sisi kosong dalam hati istrinya. Yang harus di isi dengan kesukaan dengan versinya sendiri.
“Terima kasih untuk pengertian a’a.” ujar Gita menghapus airmatanya sendiri.
“Stt … ini tugas a’a.” Tangan Gita di jegal Gilang. Bibirnya yang mengusap air mata yang sempat berderai tadi di pipinya.
“Kita Cuma kehilangan satu anak. Masih ada Gwen yang harus kita sayangi bersama. Dan, maaf a’a yang sempat oleng. Bagai kehilangan nahkoda dalam biduk rumah tangga kita.” Ujar Gilang mengakui kerapuhannya.
“Pohon itu di sini,Neng. Ini batangnya.” Gilang nakal, sudah menuntut tangan Gita ke batang jaka yang sudah lama ngangur.
“Eh … nakal ya. Ini mana boleh di sentuh. Masih sakit musuhnya.”Gita segera melepas tuntunan itu dan mencubit gemas pipi Gilang.
“Kapan sembuh ya Neng …?” tanya Gilang mulai merasah resah.
__ADS_1
“Kalo normal sih, Cuma 40 hari. Kalo operasi, mungkin 6 bulan.” Iseng saja Gita menjawab pertanyaan Gilang yang sepertinya akan mulai berhitung-hitung kapan bisa lounching.
“Masa sama kaya masa a’a buat tesis sih…?” tanyanya meragukan kebenaran informasi yang Gita sampaikan untuknya.
“Ga percaya … ya udah lounching aja sekarang kalau berani.” Tantang Gita yang sudah merasa suasana hatinya jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Haaah … mana a’a tega lakukan itu. Sedangkan Gwen saja masih belum bisa ketawa. Kaya a’a ga tau apa-apa saja, Neeeeng. Neng.” Kekeh Gilang mengusap lembut surai panjang hitam Gita.
“A’ …”
“Heem. Apa sayang …?”
“Kemarin waktu eneng lahiran. Hanya di bedah untuk ngeluarin mereka aja kan?”
“Iya … kenapa?”
“Ga sekalian di tutupkan pabriknya?” tanya Gita memastikan jika ada kemungkinan dia akan hamil kembali.
“Ga lah Neng. Kemarin Cuma di bedah buat lahiran.” Jawab Gilang yang menandatangani pernyataan.
__ADS_1
“Berarti … nanti pas Eneng dan Gwen control. Eneng sekalian pasang KB ya a’. Biar ga cepat hamil dulu.” Ujar Gita yang tau, setelah masa nifasnya. Pasti akan di serbu tanpa ampun lagi oleh suaminya.
Bersambung …