CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 183 : HURUF R DAN S


__ADS_3

Adakah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan rasa bahagia yang keluarga ini sedang alami. Kembali di percayakan mengemban amanah untuk merawat dan mendidik bayi kembali walau dengan jarak hanya seumur jagung. Ya Annaya bahkan bulan depan baru genap berusia setahun, tetapi sudah menjadi seorang kakak. Luar biasa memang. Hanya orang jaman dahulu yang belum kenal KB saja, yang melahirkan dengan jarak seperti Muna. Anak sebelumnya berusia 11 bulan, sudah brojol saja. Secara phisikis tentu saja itu tidak baik, sebab kemungkinan mendapatkan perhatian dari sang ibu jelas akan berbagi. Sedangkan Annya masih sangat perlu mendapatkan kasih sayang yang penuh.


Tetapi apa mau di kata, ujung sarung yang terpotong sudah mengeluarkan hasil. Dan bayi itu bahkan adalah seorang laki-laki, penerus nama Mahesa pula. Kevin bangga dengan keberhasilanya. Sedangkan Muna memilih ikut bahagia dan yakin jika semua ini bukan kebetulan. Melainkan scenario yang Allah berikan untuknya. Maka menerima, menyanyangi dan memberikan yang terbaik untuk Adera adalah hal terpenting yang dapat ia lakukan kali ini.


“Waaah … Adenya gendut. Pipinya tembem.” Aydan mencubit hingga putih pipi Adera yang membuat hati mereka di area itu sedikit was-was.


“Iya … sayang. Sama kaya kak Ay dulu juga gitu. Jangan di pegang-pegang lagi ya pipinya, nanti makin besar.” Muna sudah sehat. Setelah tiga hari di rawat, kini ia sudah kembali berada di kediaman Hildimar. Dan suasana rumah itu tentu sudah ramai kembali. Tak ada keluarga yang rela tidak ikut dalam keseruan saat anak ketiga itu sudah ada di dunia.


“Oh … kakak Ay dulu kecil gini Mam …?” Kepo Aydan memastikan jika ia pun dulu pernah jadi bayi.


“Iya sayang. Dulu Kakak keciiil sekali.”


“He … he … Kenapa Adenya pakai baju gini Mam …?” Aydan menunjuk-nunjuk kain lampin yang masih rapi membungkus bayi merah itu.


“Memangnya … biar panas. Seperti masih dalam perut Mamam, sayang.” Jelas Muna yang masih sabar meladeni pertanyaan si comel Aydan. Waktu ia punya Annya tidak se comel ini. Sebab dia masih belum banyak memiliki kosa kata. Masih dua tahunan, malah belum mengerti jika Annaya itu adiknya. Ya … apalagi Annaya sekarang. Jangan-jangan Annaya dan Adera nanti malah di kira anak kembar, karena nama mereka sama juga paut usia mereka tidak sampai setahun tadi.


“Dalam perut Mamam ga ada Ace Mam?” celetuk Aydan lagi.


“Gimana …?”


“Dalam perut Mamam panas…” Oh Tuhan Aydan, Muna ngidam buku kuliah kali ya waktu ngidam. Ini bocah kok pinternya kebangetan.

__ADS_1


“Ga gitu sayang … ya. Dia masih sangat kecil. Jadi harus di bungkus gini, biar ga mudah sakit.”


“Huum kecil siih.” Celetuknya sendiri. Kemudian memilih sibuk dengan maianannya di tempat lain. Muna dan yang lainya hanya bisa menggelengkan kepala pada tingkah polah pemimpin masa depan itu.


“Mamam … kenapa kaki Ade ini di bungkus ?” lagi-lagi Aydan datang lagi saat Adera BAB dan Muna sedang membersihkannya sendiri, belum di bantu baby sitter yang baru lagi. Sultan bebas ya, satu kepala satu baby sitter donk. Jadi kalo satu lusin, mereka sungguh sangat berjasa. Sebab membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.


“Iya … memang gitu Ay. Biar ga masuk angin.”


“Hah … ga ada lobangnya Mam. Lewat mana anginnya masuk?” Aydan memperhatikan dengan detail telapak kaki adiknya dan memang tidak menemukan lobang untuk jalan angin masuk.


“Ada kok, tapi kecil. Namanya pori-pori. Nanti kalo Aydan makin besar dan sekolah. Pasti akan tau.” Jelas Muna dengan sabar.


“Oh … eeh . Ade punya ini juga. Cama kaya punya Kakak Ay. Tapi punya ade keciiil.” Lagi lagi Aydan membandingkan burung yang ia miliki dengan milik adik yang jenis kelaminnya sama dengannya.


“Beda Mam. Ga cama … punya Papap becaaal. Cegini.” Aydan mengenggam tinjunya dan mengangkat tangan kanannya pada sang ibu. Heeeer… wajah Muna memerah, menahan malunya setelah mendengar perkataan Aydan yang suka bener.


“Huush … kaya pernah lihat saja.” Muna mencoba tidak percaya dengan omongan Aydan yang kini malah duduk di atas tempat tidur seolah ingin menemani sang ibu merawat adiknya.


“Pelnaah dong Mam. Kan Papap cama Aydan bisa kencing cama-cama. Belenang juga cama-cama. Ay seling liat, Mam.” Aydan meyakinkan si ibu, Huuh. Aydan. Ga usah di jelaskan. Mamam kamu itu justru tidak hanya pernah melihatnya, tapi sering merasakan tumbukan benda itu, sampai jadi kamu, Annaya dan Adera ini, Aydan.


“Ya sudah … setelah ini ga boleh bilang-bilang begitu. Itu hal yang tidak pantas untuk di bicarakan dengan orang lain.” Muna memilih menasehati anak sulungnya. Takut kebiasaan saja, ngomong senjata bapaknya segede apa ke orang-orang, malu Munanya.

__ADS_1


“Kenapa …?”


“Nanti ya Kakak Ay. Saat Aydan menjadi besar semuanya baru Ay mengerti.”


“Tapi Ay cekalang cudah becal Mam …” Aydan rupaya tidak terima di sebut kecil. Ya iyalah… udah punya adik dua ini.


“Iya besar … tapi kan masih belum bisa sebur huruf R, huruf S. Itu artinya kakak masih kecil.” Muna mencoba mengalihkan topic pembicaraan mereka.


“Oh … halus bica bilang huluf itu, Mam?”


“Iya dong … kalo udah bisa sebut huruf itu dengan benar. Berarti Kakak sudah besar.” Jelas Muna yang sudah memindah posisi Adera ke dalam gendongannya. Dan bersiap akan memberikan ASInya pada Adera.


“Tapi Ay … becal dari Ade Mam.” Ya Allah ini anak memang rese ya. Ada-ada saja yang di protesnya.


“Ya iyalah … Ade baru umur 3 hari. Kan Kaka Ay udah tiga kali ulang tahun.” Muna juga tak bosan menjawab semua keingin tauan naka sulunga tersebut.


“Oh gitu … Mamam udah berapa kali ulang tahun?” tanya Aydan pada Muna yang dengan cueknya saja mengeluarkan kemasan ASI yang gelantungan di dadanya.


“Berapa kalinya … 26 kali.” Jawab Muna menyadari jika ternyata dalam usia hampir lima tahun pernikahannya mereka bahkan sudah punya anak tiga. Ia menikah di usia 21 tahun. Yah … memang ngebut banget Kevin menggenjot istrinya. Sebab ia menikah di usia 34 tahun dan bercita-cita akan mengejar prestasi Ferdy dalam hal punya anak. Hah … ada-ada saja si bang Ke.


“Kaka Ay tiga kali ulang tahun. Jadi umulnya tiga tahun. Mamam 26 kali. Belalti 26 tahun. Waaah …. Banyaknya ….?” Otak anak seusia Aydan mana mengerti apa-apa. Mendengar jumlah segitu saja baginya sudah banyak. Mama mu itu mamah muda Ay. Tante-tante readers usia se Muna, bahkan masih banyak yang cari jodoh aja, tauuuu. He … he … he Just kidding ya guys.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2