CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 216 : PENDIRIAN GILANG


__ADS_3

Gita pingsan saat berada di ruang dokter. Yang tentu saja ada beberapa alat dan apapun yang bisa membantu mempercepat proses kesadarannya. Tidak ada tanda-tanda penyakit serius yang perlu di khawatirkan. Gita hanya syok mendengar jika ketersediaan ginjal yang ada di Hildimar Hospital itu tidak ada yang cocok. Sehingga dengan penuh keyakinan. Gilang pun segera menawarkan dirinya untuk di lakukan pemeriksaan. Yang berlangsung 3- 5 jam. Sehingga tidak perlu berhari-hari, bagi mereka untuk mengetahui, apakah ginjal Gilang cocok dengan ginjal yang di butuhkan oleh Sudrajat.


Pasca melewati pemeriksaan, Gilang hanya menghabiskan waktunya di Mushola rumah sakit. Segala campur aduk pikirannya, ia tumpahkan di atas sajadah. Seikhlas-ikhlasnya bibir berkata, namun hati manusia siapa yang tau. Sesungguh-sungguhnya hati Gilang untuk berkorban, sisi lain hatinya tentu khawatir. Sebagian bisikan dalam kalbunya pun berkata, haruskah ia mati demi memanjangkan umur lelaki yang pernah jahat padanya di masa lalu.


Dan kini, Gita tidak mungkin pingsan untuk kedua kalinya. Ia hanya mencorat coret plester di tangan Gilang pasca di ambil darahnya untuk di lakukan pemeriksaan.


“Hasilnya sudah keluar dan 99% cocok. Kapan siap di lakukan tindakan?” tanpa tedeng aling-aling dokter yang di tangannya sudah tertera sebuah pernyataan keakuratan sampel darah Gilang yang sungguh cocok dengan yang di butuhkan Sudrajat pun, sudah jelas.


Ingin rasanya Gita merobek-robek kertas di tangan kanan dokter itu. Lalu berlari bersama Gilang untuk menghindari sebuah kenyataan yang ada di hadapan mereka.


“Ini sudah hampir petang. Apakah tindakan bisa di laksanakan besok?” tanya Gilang tak gentar. Sementara Gita, sudah mirip mayat hidup. Bibirnya putih, permukaan kulitnya pun hampir tak terlihat di aliri darah. Gita sedang menguatkan dirinya untuk tidak semaput kembali.


“Bisa. Silahkan persiapkan diri. Besok jam 10 pagi. Kita akan melakukan operasi. Jangan lupa puasa kurang lebih 8 jam ya pak. Jadi malam ini silahkan puas-puas makan dulu. Makan istrinya juga silahkan, sebab pasca operasi nanti, bapak tidak bisa melakukan pekerjaan berat dulu. Termasuk hubungan suami istri.” Senyum dokter agak nakal terlihat menggoda, dan itu sangat menyebalkan di mata Gita.


Mana mungkin mereka bisa melakukan itu sebelum operasi yang mempertaruhkan nyawa suaminya. Bercanda dokter itu. Jangankan untuk melakukan hubungan suami istri. Untuk makan, berjalan dan tertawa saja Gita tak mampu.


“A’a … urungkan saja niatmu untuk donor ginjal. Eneng tidak siap.” Rengek Gita saat mereka di dalam kamar Gwen. Ya mereka butuh waktu bermain bersama putri tunggal mereka tersebut, sebelum besok sang ayah akan melakukan operasi donor ginjal.


“Allah yang mengetuk hati A’a. Maka percaya saja, semua akan baik-baik saja.” Jawab Gilang memeluk Gwen dengan erat.

__ADS_1


“Jangan cobai diri a’a sendiri. Mengaku saja jika a’a pun gentar melakukannya.” Gita meminta sedikit tempat di dada Gilang untuk menyandarkan kepalanya di tempat ternyaman tersebut.


“A’a tidak sedang mencobai diri. Hanya sedang memberanikan diri untuk percaya dengan jalan yang Allah ijinkan untuk kita lewati bersama.” Gilang mencium-cium pucuk kepala Gita.


“Semua aktivitas a’a tidak akan sama seperti sebelumnya lagi. Kita juga tidak mungkin hanya merasa cukup memiliki Gwen. Suatu saat, kita kan berikan adik untuk Gwen kan a’ …?” entah itu sebuah kode atau apa yang keluar begitu saja dari mulut Gita. Masih dalam rangka menggoyahkan iman suaminya, agar tidak semudah mendonorkan darahnya pada sang kakek.


“Sayang … eneng tuh belahan jiwa a’a. Masa sebagai kekasih hati, eneng tidak memberikan dukungan saat a’a ingin berbuat baik.” Gilang menegaskan Gita.


“Eneng baru tau, jika sifat asli a’a adalah keras kepala.” Gita memilih menjauh. Keluar dari kamar Gwen dan masuk ke dalam kamar mereka. Memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Bahkan tak mengecup kening Gwen. Semua kenormalan yang sering ia lakukan menjadi rusak. Kacau semua tatanan otak Gita. Baginya ini bagai bomerang di hatinya.


Gilang tak bergeming. Memilih tidur bersama putri kecilnya saja di kamar serba pink itu. Jika ia masuk ke kamar mereka pun, tidak banyak yang bisa ia lakukan. Isinya hanyalah permintaan Gita untuk batal melakukan hal yang sudah bulat ia lakukan.


“A’a berangkat ke rumah sakit Neng.” Pamit Gilang saat ia sudah tampak segar setelah mandi, dan mengenakan kemeja putih dengan celana biru dongker. Mata Gita bengkak. Sebab malamnya hanya ia habiskan dengan menangis. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selaian mengeluarkan air yang di produksi oleh matanya.


“Allahumma musharrifal qulubi sharrif qulubana ala thaa ‘atika.” (Ya Allah, Dzat yang mengurus seluruh hati, arahkanlah hati kami terhadap ketaatan kepada-Mu). Gilang meraih tangan Gita untuk ia genggam. Dan berdoa bersama. Meminta ketenangan hati mereka berdua.


“A’ …”


“Stt …” Belum ada kata apapun keluar dari mulut Gita. Tetapi bibir itu sudah di portal dengan telunjuk Gilang. Sebagai permintaan jika ia tak ingin mendengar apapun lagi untuk menggoyahkan yang akan ia lakukan.

__ADS_1


“Anggap saja ini jihad, Neng.” Lanjutnya, kemudian mengecup kening Gita lama. Hingga ia merasa pipi wanitanya itu basah lagi, karena verbalnya tak di perlukan. Maka air mata adalah cara terjitu bagi Gita untuk mengiringi kepergian suaminya.


“Nanti eneng susul. Eneng mau siap-siap dulu. A’.” Jawab Gita menyerah. Hatinya memang tak rela, tapi setelah ini ia harus lebih kuat berdiri untuk mengurus suami yang tentu perlu dia, istri yang siap dan setia dalam sehat dan sakitnya, seperti ikrar nikah yang pernah mereka ucapkan di hadapan saksi.


“Gilang … kamu tidak harus berkorban begini untuk kakekmu.” Belum Gilang sampai di ruang rawat Sudrajat. Di depan sudah ada Dian yang tampangnya sebelas dua belas dengan Gita. Di bawah matanya mengalung hitam. Entah kurang tidur atau banyak menangis. Yang pasti rupa ibu Gilang, sudah mirip wajah orang yang tertimpa bencana, kusut masai dan tak karuan.


Gilang enggan untuk menjawab. Ia hanya memeluk erat tubuh wanita yang di hormati dan sangat di sayanginya tersebut. Kemudian menggenggam tangan itu untuk mereka kemudian masuk ke kamar rawat kakek Sudrajat.


“Selamat pagi Kek.” Sapa Gilang ceria.


“Selamat pagi cucu kesayangan dan luar biasa.” Jawab Kakek dengan tatapan mata sendu.


“Sudah siap dengan kehidupan yang baru nanti setelah operasi, Kek?” Gilang tidak tau harus bicara apa untuknya saling menguatkan dengan sang kakek.


“Dian, Gilang. Demi Allah. Saya mohon ampun untuk semua khilaf dan dosa yang pernah saya lakukan pada kalian.” Sudrajat berusaha untuk duduk dan menarik tangan Gilang untuk di ciumnya dengan rasa bersalah yang teramat sangat.


“Kakek jangan begini …”


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2