CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 163 : ICE CREAM


__ADS_3

Rumah Asep kembali sepi, tidak mau pergi ke kantor seperti yang ia serukan pada Ambu tadi. Hanya ancamannya belaka saja. Ini bukan yang pertama kali Ambu ngambeg, tetapi sering. Karenanya, Asep sudah mahir dalam urusan merayu Ambu. Dan dari antara semua cucu Ambu. Memang hanya Asep yang paling mengerti akan prilaku nenek itu. Kadang Dadang dan ibu Asep sendiri pun sering salah mengartikan maksud ibu mereka sendiri. Asep selalu menjadi jembatan untuk urusan mendamaikan mereka.


Kevin, Muna, Gilang, Gita, Siska dan beberapa karyawan lainnya sudah tampak hadir di Cisarua. Mereka sedang meresmikan pendirian anak cabang perusahaan yang bergerak di bidang obat milik Kevin. Rangkaian acara resmi sudah berjalan dengan lancar. Kevin puas dengan tatanan acara tersebut yang tersusun apik di pimpin Ninik dan Haikal.


Di antara beberapa meja bundar untuk tamu VIP, ada satu meja yang paling menonjol sajiannya. Sebab, di atasnya terpenuhi oleh semua sajian makanan. Dan tentu saja itu adalah meja yang di tempati oleh Ny. Kevin dan Ny. Gilang yang sedang memilih-milih makanan sesuai selera mereka.


“Banyak banget sih Nik, numpuk makanannya di sini?” tanya Muna pada Ninik yang tidak berhenti mengantar segala macam makanan untuk di nikmati.


“Ga tau, ibu mau makan yang mana.” Jawabnya menyusun sajiannya.


“Waw … meja ini kepenuhan Nik.” Tiba-tiba Kevin muncul mendekati meja yang di duduki oleh istrinya.


“Iya … meja ini terlalu penuh dengan makanan. Boleh minta meja lain? Ini mengganggu pemandangan.” Muna menoleh kiri dan kanan mencari tempat yang masih kosong untuk tempatnya berpindah.


“Di sana saja, Mae.” Tunjuk Kevin pada satu meja di pojokkan, saat tamu sudah mulai berkurang.


Muna mengangguk dan akan beranjak menuju meja yang lebih kososng.


“Ibu mau saya bawakan makanan apa?” tanya Ninik sopan.


Muna menggeleng. “Tidak usah bawa apa-apa Nik. Terima kasih.” Jawab Muna sepertinya eneg dengan semua sajian di depannya tadi.


“Selera kita apa ya, nak.” Muna mengelus perutnya dan berbicara sendiri saat pindah tempat tadi. Sementara Kevin kembali bergabung dengan beberapa kolega yang masih terlihat bertahan di acaranya tersebut.


“Ibu Mona kenapa pindah tempat?” tanya Gilang pada Ninik yang saat itu masih berada di sekitaran meja yang penuh makanan tadi. Sebab ada Gita di sana. Dengan lahapnya memakan beberapa menu makanan. Sepertinya ia cocok dengan sajian di atas meja tersebut.


“Katanya meja ini kepenuhan dengan makanan.”


“Lalu, dia mau makan apa?” tanya Gilang lagi.


“Ga ada … gimana ya Pak Gilang. Ninik jadi bingung. Ga enak juga, karena ga tau selera Ny. Kevin.” Ninik sungguh merasa tak enak, sebab dia yang bertanggung jawab dengan pemesanan semua makanan di acara ini.


“Ga papa. Harap di maklumi saja. Orang hamil seleranya kan beda.” Jawab Gilang, membuat Ninik melototkan mata dan menutup mulutnya yang sempat terbuka lebar, dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Oh … Ny. Kevin hamil lagi …?” ujarnya dengan suara yang tidak begitu nyaring.


“Stt … selow. Punya suami ini.” Siska datang mendekati Ninik, yang langsung mendengar keterkejutan Ninik.


“Heey … kamu. Gibran.  Gibran kan.” Muna memanggil nama seseorang yang trentu ia kenal saat di adakan tes wawancara. Dan pria yang di sebut namanya tadi pun menoleh kea rah Muna.


“Siap. Iya Bu, saya. Ada yang bisa saya bantu …?” Gibran menghentikan langkahnya di dekat Muna yang menyebut namanya tadi.


“Apa yang kamu bawa …?” tanya Muna tanpa basa-basi.


“Ini ice cream, Bu.” Jawab Gibran yang memang sedang membawa nampan berisi beberapa cup berisi ice cream buatan local. Yang juga bagian dari sajian yang tersedia di sana.


“Boleh minta …?” tanya Muna.


“Oh … ini silahkan Bu.” Jawab Gibran sopan dan segera menurunkan satu cup kecil untuk Muna. Kemudian pamit berlalu untuk mengantar ice cream itu pada yang memintanya sebelumnya.


Muna sampai memejamkan mata saat ice cream itu masuk dalam mulutnya. Memastikan bahan apa saja yang menjadi bahan pembuatan Ice Cream itu. Muna kembali menoleh mencari Gibran ingin bertanya asal muasal ice cream yang baru beberapa kali suap sudah di rasakannya sangat cocok di lidahnya.


“Gibran, Bang.” Jawab Muna pelan.


“Kenapa?”


“Tadi dia bawa ini. Dan ini tuh enak.” Muna menyodorkan cup ice cream yang sudah tandas tadi.


“Ice Cream …? Itu di pojok sana. Nanti Abang yang ambilkan.” Tunjuk Kevin yang memang sudah berkeliling di tiap rombong makanan yang berjejer di stand khusus makanan. Persis seperti acara pernikahan saja sajian makanan di acara tersebut.


“Ga usah, Muna ambil sendiri saja.” Muna langsung berjalan menuju tempat yang Kevin tunjukkan padanya. Tentu saja Kevin mengikuti arah langkah Muna.


“Permisi Pak. Mau Ice Creamnya.” Pinta Muna sopan berdiri di antara beberapa orang yang juga sedang mengantri di depan tong e situ.


“Sebentar ya Bu, gantian.” Jawab pelayan itu dengan sopan.


“Pak … cupnya ada yang lebih besar ga? Sepertinya cup itu kurang untuk saya.” Muna mengajak pelayan itu ngobrol.

__ADS_1


“Heem … memang begini standart cupnya. Kecuali ibu mau,dengan wadah besarnya. Seperti mangkuk.” Jawabnya sambil masih melayani pesanan orang yang lebih dahulu datang dari Muna.


“Bapak punya wadah mangkuk itu …?” tanya Muna lagi.


“Ada. Ibu mau ?” tanya nya lagi.


“Iya Pak, saya pakai wadah besar saja.” Senyum Muna merekah.


“Ini bahannya apa?” tanya Muna saat hanya dia yang di layani oleh pelayan yang menyajikan ice cream itu.


“Ini bahannya dari keladi bu. Bahasa sekarang taro.” Jawabnya maih terlihat sibuk menyendokan ice berwarna keunguan muda itu di  wadah yang memang agak besar.


“Waah … benar benar lokal ya. Berapa tong buat hari ini?”


“Ibu yang memesan tadi 2 tong.”


“Sudah habis semua …?”


“Allhamdulilah, sisa ini saja.” Jawabnya masih mengeruk ke dalam tong di hadapannya.


“Bapak … biasa berjualan di mana?” tanya Muna masih mewawancarai pelayan Ice tadi.


“Saya biasa berjualan di depan rumah saya saja. Kadang dengan sepeda motor berjaja, jika produksi lagi banyak.” Bapak tadi sudah dengan senyuman menyodorkan wadah besar yang sudah penuh dengan ice cream.


“A …” Kevin meminta Muna menyuapinya dengan ice cream itu. Dan Muna segera menyuapi suaminya.


“Bapak, pernah jualan sampai Jakarta …?”tanya Kevin. Biasa Kevin gitu lhoo.


“Waah … injak Jakarta saja tidak pernah Pak, apalagi jualan.” Kekeh pelayan ice cream itu merasa lucu dengan pertanyaan Kevin.


“Ayo ke Jakarta Pak. Saya carter untuk acara empat bulan ke hamilan istri saya.” Dengan spontan Kevin mengajak Bapak penjual ice cream itu dengan pasti. 


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2