
"Maaf aja ga cukup untuk seseorang yang sudah menerobos segelan bibirku, A'a..." Ujar Siska berani. Saat dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Karena Miska yang di utus Rona belum datang.
"Hah...? masa yang tadi baru pertama?" Eh, Asep tidak sekaku sapu ijuk ya gaes. Setelah kehilangan muka tadi, rupanya remnya juga agak blong. Lagi mendekati Siska yang masih duduk di atas bed pasien.
"Ya emang..." rengut Siska antara malu dan bangga jika tadi adalah pengalaman pertamanya.
"Yakiiin..." Goda Asep lebih dekat.
"Ga percaya...?" tanya Siska mendelik ke arah Asep.
"Masaaa...?" Eh, Asep malah makin deket kaya bang Jarwo ngejar Adit, wkwkwkk.
"Eh... kenapa makin deket. Jangan bilang mau siaran ulang ya. Yang tadi aja akunya kecolongan lho." Umpat Siska menutup bibirnya dengan pungung tangan yang tidak berinfus.
"Kecolongan...? lincah gitu di dalam." Asep sudah terlanjur malu tadi, sekalian saja bikin malu pada Siska.
"Oppaaaa..." Rengek Siska ala ala gadis Korea yang super manja.
"Mwo... (apa)" tanya Asep pelan terdengar sangat se ksi dan menggoda.
"Jangan menggodaku. Kita bahkan belum saling bersepakat apa apa, tapi kamu sudah nyosor duluan." Siska masih terlihat belum puas dengan hubungannya dan Asep yang tiba tiba itu.
"Coe-ong hamnida (maaf)." Ujarnya lagi.
"Untuk apa? jangan bilang semua yang kamu bilang tadi hanya modus atau bagian dari kegombalanmu saja biar bisa nikmati bibirku." Siska tiba tiba resah.
Asep memeluk setengah badan Siska yang masih dalam posisi duduk di atas ranjang.
"Maaf... sudah lancang, tanpa ijin nyosor bibir perawanmu. Aku sudah lama mengamatimu, juga kadang ingin memilikimu. Tapi..." Kalimatnya tergantung.
Asep melepas pelukan mereka, takut tiba tiba Miska datang, mungkin tragedi lagi akan terjadi. Ia menarik kursi dan duduk sejajar tepian ranjang yang di duduki oleh Siska.
__ADS_1
Asep meraih tangan kiri Siska, menggenggamnya, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Mestinya tadi... aku harus cium ini dulu ya, baru itu." Ucapnya menunjuk bibir Siska dengan matanya. Dan kata itu berhasil membuat wajah mereka berdua bersemu merah jambu menahan rasa malu.
"Kamu... sering kok wara wiri di kepalaku. Tapi, iya. Aku ga punya nyali untuk dekati kamu. Aku bukan pria mapan sekaliber Kevin atau Daren. Bukankah selama ini hidupmu berada di antara mereka. Bisa saja kan seleramu adalah lelaki seperti mereka. Belum lagi, aku tak pernah melihat kamu dekat dengan lelaki manapun secara sembarangan. Jadi, aku simpulkan kamu tengah menanti seorang lelaki tajir. Apalah aku Sis, hanya ASN biasa. Tak punya harta banyak apalagi berlimpah. Mana aku mampu memberimu hidup mewah nantinya." Ungkap Asep dengan tatapan penuh kejujuran.
"Oppa... kalau belum khatam ambil ilmu tafsir setingkat cenayang. Sebaiknya jangan menduga duga sendiri dong. Kamu kira aku cewek matre...?" tanya Siska menatap Asep yang serius memandangnya. Tak henti memandang wajah cantik Siska dengan tatapan jatuh cinta yang begitu tajam. Sungguh Siska makin termehek mehek melihat binaran manik mata tersebut. Lagi... tatapan itu hanya pernah ia lihat lewat layar kaca, saat sang aktor di drakor melakonkan perannya dengan sempurna.
"Aku berharapnya sih, kamu bukan tipe cewek matre. Soalnya aku bakalan ga kuat cari duitnya." Siska tertawa melihat kepolosan wajah lelaki yang membuat jaringan sel sel dalam tubuhnya tak normal, meronta, bergetar dan membuat semua tak stabil.
"Kalo kamu cari duitnya sendiri, ya mungkin akan lama baru terkumpul. Tapi kalo aku dan kamu jadi kita...? Mungkin semuanya bisa lebih mudah." Siska... giliran Siska yang kehilangan urat malunya berbicara dengan Asep.
"Pekerjaanmu, sebenarnya pekerjaanmu itu yang menjadi bagian membuat aku minder dan berpikir beberapa kali untuk menjadikanmu teman hidup selamanya." Jujur Asep tanpa malu lagi mengakui perasaannya.
"Apa aku harus jadi pengangguran gitu, supaya bisa jadi istrimu?" tanya Siska tanpa basa basi.
"Ya ga gitu juga. Aku yang ga percaya diri selama ini. Mengira jika aku bukan seleramu." Ucapnya menundukkan kepalanya.
"Ya harus lah." Asep menatap Siska, tampak manik mata itu sangat berharap hal yang akan Siska sampaikan adalah suatu kebenaran.
"Lelaki yang berkeliaran di sampingku selama ini, baik di kantor atau di luar kantor semua tampan, bahkan hampir semuanya mapan. Tapi, semua tampilan fisik itu belum tentu menghadirkan kebahagiaan. Apalagi seleraku sejak awal adalah pria berkulit putih, bermata kecil seperti kamu." Ujar Siska jujur.
Asep menatap dengan mata berbinar.
"Aku pernah di sukai lelaki tampan, kaya, terpelajar juga sopan. Tapi matanya ga sipit. Senyumnya manis, tapi tidak seperti yang mau."
"Jadi kamu tolak?"
"Iya... aku memilih jadi jomblo saja. Daripada harus menjalani sesuatu yang tidak aku sukai. Yang tidak seperti yang aku mau." Jawab Siska.
"Bagaimana jika kita tidak pernah bertemu?" tanya Asep.
__ADS_1
"Jika tak bertemu dengan mu... aku akan tetap pergi ke Korea. Mencari tulang rusukku yang mungkin terlahir di sana. Tapi, jika saat ini bibir segelanku sudah di sosor pria Korea made Indonesia alias KW. Apa mungkin aku akan melepaskan kesempatan ini?" tanya Siska genit.
"Bagaimana kalau... misalnya aku tidak bersedia menjadikanmu kekasih?" pancing Asep.
"Gampang... sekarang santet online sudah marak aku tinggal call saja. Atau aku bisa memanfaatkan ambu atau siapa saja untuk menjebakmu, agar mau menikah denganku." Jawab Siska cuek
"Bagaimana jika usaha itu pun semua tak mempan? dan aku tetap tak suka kamu?" Lagi lagi Asep menggoda Siska.
"Bagaimana kalau mulut cerewet kamu itu, kamu dekatkan ke sini. Biar aku yang cip ok. Biar diem." Tegas Siska pada Asep yang ternyata cerewet dari mulut wanita
"Bilang saja kalau mau di jelajah lagi rongga mulutnya, neng." Goda Asep terkekeh.
"Masih berani?" tantang Siska.
"Siapa takut." Eh... bibir Asep sudah tak berjarak lagi dengan bibir Siska. Tapi tidak menciumnya lama. Hanya di kecupnya sebentar.
"Aku tidak akan mengulanginya di sini." tunjuknya pada bibur Siska. "Dan tanpa ijinmu, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sudah berjanji akan menjagamu. Ijinkan aku jadi lelaki yang pelan pelan mengakhiri kedekatan ini di pelaminan." Wadidaaauu... Asep iih. Asep aaah, Kok, aku berasa jadi Siska sih. Nyut... nyutan deh jadinya di giniin sama si Asep.
"Kok pelan pelan. Aku maunya besok lho jadi istrimu." Siska udah lama kan, jatuh bangun menginginkan Asep, jadi wajarlah ia amnesia di tangannya masih ada selang infus, udah minta kawin sama si Asep.
"Neng... a'a teh hanya ASN bukan CEO . Mau nikahi anak gadis orang teh perlu duit. Mau yang mewah, mau yang sederhana teh sama atuh neng. Semua teh pakai duit atuh." Sunda Asep keluar. Tepat saat Miska mengetuk pintu ruang rawat inap Siska. Membuat obrolan mereka kembali ke mode biasa seolah tanpa perasa.
Bersambung...
Selamat merayakan hari kemenangan ya... buat kita semua.
Salah khilaf mohon di maafkan🙏
Happy readiing all
__ADS_1