CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 172 : DOKTER ITU MANUSIA


__ADS_3

Tepat saat adzan magrib berkumandang Zahra pun sudah berada di kediaman sederhana yang ia dan Daren tempati. Ya … sederhana tipe sultan sih, tetap saja mewah bagi kita. Secara Daren lah kini sebagai CEO pada perusahaan Mahesa, yang dulu di pimpin Kevin. Diendra tidak mengijinkan anaknya membeli sebuah unit apartemen seperti Kevin. Setelah menikahi Zahra, Daren juga di paksa sang Papi untuk tinggal bersama di rumah kediaman Mahesa. Dan di ijinkan keluar jika sudah memiliki rumah pribadi yang di bangun dan di rancang sendiri. Yang berhalaman luas serta perabotan yang sudah sangat lengkap.


Daren tau bagaimana perasaan Zahra sang istri, yang pasti risih jika harus hidup bersama mertua. Alias Mama Indira. Zahra tipe pendiam, tak pandai mengungkapkan perasaannya. Hanya bola matanya yang kadang bisa Daren baca , jika ia tak nyaman terus menerus berada di bawah atap yang sama dengan kedua orang tua Daren.


Sehingga, Daren memang harus merogok kocek yang lumayan banyak untuk segera membuatkan hunian layak sesuai kriteria Papinya, agar dapat segera menyelamatkan bidadarinya dari perasaan yang mungkin hanya akan mengundang stress.


“Maaf aku pulang kesorean, Bi.” Sapa Zahra mencium punggung tangan suaminya.


“Astafirullahalazim, Umi. Abi sudah wudhu.” Daren tak sempat menangkis salim istrinya. Padahal sudah sangat jelas jika ia sudah berpakaian koko, siap untuk ke masjid terdekat.


“Maaf Bi. Wudhu ulang gih.” Pintanya dengan perasaan bersalah.


“Iya … ga papa.” Daren bukan tipikal mudah marah dan nyolot seperti Kevin. Entah ia mewarisi sifat siapa. Yang pasti anak Papi Diendra ga ada yang ahklaknya sama sepertinya. Semua anak Diendra dan Indira sudah sangat pandai memilah dan memilih mana yang baik untuk mereka jalani.


Zahra tak ikut serta sholat di masjid. Memilih tersungkur sendiri di atas sajadah dalam kamar mereka baginya sudah sangat nyaman. Di situ ia lebih leluasa mengungkapkan perasaannya, menumpahkan segala duka lara bahkan tangisnya yang tiba-tiba datang lagi.


Ingin menghubungi orang tuanya di Aceh, Baginya ia hanya berbagi aib dan beban akan kecacatan rahimnya. Bukankah ia tadi sempat khilaf untuk berbagi kesah pada Muna. Mestinya tadi ia berpikir jernih terlebih dahulu. Mancari Tuhan sebelum membagikannya pada sesama manusia. Dan benar saja yang seharusnya tempatnya berbagi adalah suaminya, bukan ipar atau kakak suamimnya.


Zahra sesungukan menyadari kesalahannya. Mengecewakan hati Allah. Ya, itulah yang ia rasakan sekarang. Zahra tipikal orang yang sangat suka menyalahkan diri sendiri. Bahkan mengkerdilkan hatinya sendiri, menghambat kuasa dan kebesaran Allah yang ingin tertumpah atasnya. Itulah tabiat manusia yang selalu punya cela untuk menjadi pendosa.


“Abi … mau ayam goreng atau ikan goreng …?” tanya Zahra menanyakan menu apa yang malam ini akan mereka berdua santap.

__ADS_1


“Heeem … ayam saja Mi. Untuk sayurnya tumis wortel dan kecambah saja. Stok sayur penyubur itu masih adakan?” Daren memastikan ketersediaan makanan yang selalu mereka berdua konsumsi agar rahim Zahra sehat dan subur, sesuai dengan saran yang mereka dapatkan pada artikel di dunia maya.


Glek.


Zahra menelan salivanya. Sedih di hatinya, saat terang-terangan suaminya pun mengikuti menu sesuai saran yang berhamburan di internet. Segala jenis minuman penyehat rahim dan kualitas air kecebong pun tak pernah alfa ia konsumsi. Demi segera mendapatkan keturunan bersama istri tercintanya.


“Ada Bi, sebentar Umi buatkan.” Zahra tak ingin menunjukkan kegelisahannya. Ia memilih berbakti terlebih dahulu pada suaminya. Dan setelah nanti di pembaringan, ia berjanji akan berterus terang dengan keadaannya. Juga pasrah dengan apapun langkah yang suaminya ambil agar darah keturunnya bisa berlanjut.


Tiga puluh menit adalah waktu yang Zahra habiskan untuk menyiapkan makan malam sederhana mereka berdua. Zahra tipe keibuan sekali, jarang meminta atau merengek untuk makan di luar. Belanja dan jalan-jalan pun hanya saat Daren yang mengajaknya. Waktunya ia habiskan untuk membaca atau mengaji. Bahkan ia tak kenal dengan nama dan wajah para artis bermata sipit berkulit putih pada layar kaca. Stasiun televisi yang ia tonton hanya dakwah dan tauziah, selanjutnya benda pipih itu gelap. Ia matikan saja. Zahra tidak pernah terkontaminasi dengan siaran gossip atau semacamnya.


Di tempat tidur Daren nakal. Tangannya segera meraba bagian favoritnya yaitu bagian lipatan agak tembem di pangkal paha istrinya.


“Umi sudah bisa sholatkan tadi …?” tanyanya sarat akan kode.


“Ya … kali masih ke halang tampon.” Cium Daren pada kening istrinya.


“Bi … tadi umi ke rumah Kak Muna.” Zahra mulai akan jujur pada suaminya.


“Oh … pantesan senja baru pulang. Pasti ngobrolnya lama kalo dengan mama Aydan itu.” Daren mengusap surai hitam yang baru saja terlepas dari penutupnya.


“Kak Muna ternyata hamil lagi lho Bi…” Pancing Zahra agar suaminya tertarik berbicara kearah anak dan seputar kehamilan.

__ADS_1


“Rejeki mereka Mi. Kita tunggu giliran saja. Makanya giat berusaha.” Bibir Daren sudah di depan bibir Zahra, siap menerkam.


“Bi … bagaimana kalau giliran itu tak kunjung tiba pada rumah tangga kita. Apa Abi akan menikah lagi?” Zahra langsung pada titik permasalahan kegundahannya sedari tadi.


“Astafirullaalazim … Umi. Istigfar. Tidak boleh berburuk sangka pada Allah. Dan saru untuk membayangkan sesuatu yang belum pasti terjadi.” Daren tak jadi melu mat bibir ranum di hadapannya. Ciut perasaannya saat istrinya berbicara yang tak masuk akalnya.


“Tapi aku mandul, Bi.”


“Umi …!!!” Hardiknya. Daren tak suka Zahra mendahului Tuhan. Mencap dirinya sendiri, bagai tak bisa berusaha lagi.


Zahra berdiri, melangkah mendekati tas yang ia tenteng sejak dari rumah sakit. Mengambil amplop berkop sebuah nama rumah sakit. Lalu menyodorkannya pada Daren yang sejak tadi terduduk di ranjang melihat pergerakkan istrinya.


“Ini hasil pemeriksaanku Bi. Ovulasiku bermasalah. Gejalannya juga sering terlihat jelas. Haidku kadang sakit dan tidak teratur. Sehingga aku sudah di vonis mandul. Aku ga bisa kasih keturunan untuk kita Bi. Maaf.” Tangis Zahra meledak lagi. Sungguh hari itu, banyak air matanya berjatuhan di sebabkan perasaan yang sama. Patah hati karena kemandulannya.


Daren membaca sebentar. Lalu meremas kertas itu hingga kecil.


“Dokter itu manusia, Mi. Siapa dia yang berani mendahului Tuhan? Tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak. Umi baru menemui satu dokter. Mungkin di belahan dunia yang mana Allah sudah siapkan wakilnya untuk membantu kita untuk mendapatkan keturunan. Lalu … mengapa kamu senista ini bersedih atas keterangan manusia yang juga di ciptakan Tuhan…?” Daren tidak terima jika istrinya mandul. Ia bahkan yakin, jika mereka terus berusaha di tempat lain, mungkin akan mendapatkan ridho ilahi untuk mempercayakan satu manusia saja untuk mereka didik dan ajar sebagai buah hati mereka.


Bersambung …


Tuh … buat readers yang juga mau nyak cerita tentang rumah tangga Daren dan Zahra. Nyak cukup adilkan. Tenang semua akan kena giliran kok.

__ADS_1


Makasih ❤️❤️❤️🙏



__ADS_2