CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 184 : KASIH DP


__ADS_3

Muna menengok kiri dan kanan suasana di kamarnya. Bersyukur hanya dia, Aydan dan Adera saja yang ada di dalam sana. Terbayang bagaimana malunya Muna saat Aydan mengepal dan mengacungkan tangan kanannya hanya demi mengandaikan jika sebesar itu otong milk suaminya. Oh Aydan.


Tak terasa tiga puluh hari berlalu dengan damai dan tentram. Tak ada drama keluhan lelah begadang atau kesulitan membagi waktu pada anak-anak mereka, sebab bantuan baby sitter dan para nenek yang selalu tampak bahagia ikut menjaga cucu mereka.


Ya … setelah Muna melahirkan. Babe Rojak dan Nyak Time memilih tinggal di kediaman Hildmar. Sama dengan mama Rona dan Abah Dadang. Merekapun memutuskan untuk tinggal sejenak di kediaman itu, demi ikut memperhatikan Aydan juga Annaya yang sudah mulai belajar berjalan. Dan Ambu, kini menjadi spesialis tukang masak akan semua keinginan Siska yang sedang getol makan masakan Ambu. Sehingga Ambu tak lagi ngambek, merasa berguna akan kehadirannya dalam hal melayani permintaan manjah si ibu hamil yang super cerewet itu.


“Mamaaaam …” Suara Kevin ceria saat memasuki kamar mereka bersama Annaya putrinya yang ia gendong dengan dua tangannya.


“Naya …” Panggil Muna dengan tatapan sedih melihat Annya yang sudah tak bisa ia gendong dan ajak bermain.


Kevin menyodorkan Annaya ke wajah Muna untuk di cium-cium.


“Maafin mamam ga bisa gendong Naya ya …” Sedih Muna yang hanya bisa mencium putrinya.


“Sudahlah, ga usah di bahas. Ujung-ujungnya Abang yang salah, Mae.” Ujar Kevin mencium kening istrinya.


Suasana kamar mereka menjadi lebih semarak. Ada Adera yang baru saja hanyut dalam tidurnya setelah popoknya di ganti dengan yang bersih. Ada Annaya yang di ijinkan Kevin duduk berpangku dengan Muna. Juga ada Aydan yang ikut terlelap di sebelah adik ketiganya. Kevin bahagia melihat momen lengkap keluarga kecil mereka ini, bangga dan tak mengira jika kini mereka sudah menjadi orang tua dari 3 orang anak.


“Sayang … tunggu Ade tiga bulan kita liburan ya. Kayaknya seru deh. Naya pasti sudah bisa jalan. Jadi Mae, gendong Ade saja.” Ajak Kevin tiba-tiba.


“Huh … boro-boro mikir liburan. Ngelewatin 40 hari ini saja pasti berasa banget capeknya, Bang.” Tangkis Muna pada ajakan suaminya.


“Jangan berpikiran buruk gitu, Sayang. Di jalani dengan bahagia saja. Abang selalu ada buat kalian.” Hibur Kevin pada Muna yang kembali cemberut.


“Kalo Mae ga mau liburan sama anak-anak, gimana kalo kita honeymoon saja. Mae mau kemana?” konyol Kevin mengajak Muna.


“Makin horror aja ajakannya, Pap. Mana bisa Muna ninggalin anak-anak ini demi berbulan madu sama Abang.”


“Kenapa … takut bunting lagi.” Kekeh Kevin menggoda Muna.


“Huh .. Sorry ya bunting lagi.” Jawab Muna penuh percaya diri.

__ADS_1


“Percaya diri sekali, istri abang?” Seloroh Kevin menatap tak yakin pada Muna.


“Pabriknya udah tutup, Bang.” Jawab Muna lantang penuh percaya diri.


“Kapan di tutupnya? Kan abang belum nengok sejak Ade lahir.” Kevin merasa terancam akan nasib otongnya.


“Tadi … “ Jawab Muna singkat dengan senyum mengembang.


“Kenapa ga minta persetujuan Abang, Mae? Terus Otong gimana?”


“Apa hubunganya pabrik tutup sama Otong?” tanya Muna menatap lucu wajah Kevin yang tiba-tiba mesum penuh tanda tanya.


“Pap … yang di tutup hanya pintu reproduksinya. Tapi jalurnya masih bisa di pake. Hanya air cebongnya ga akan masuk, alias mental.” Jelas Muna dengan bahasa yang makin membuat Kevin bingung sendiri.


“Gimana sih …?”


“Tadi Ade imunisasi, kan usia nya sudah 30 hari nih. Dan Muna juga tadi periksa, di USG juga. Rahimnya sudah bersih, tinggal nunggu masa haid sekali lagi maka si otong sudah bisa so’an. Daaaan … Muna udah jera sama kelakuan Abang yang absurd. Jadi maaf ya, bang. Tadi Muna udah langsung pasang IUD saja. Biar pabriknya kebobolan lagi.” Jelas Muna dengan kalimat yang bisa di mengerti oleh suaminya.


“Ga … ntar abang modif lagi, jadi anak lagi, pan brabe.”


“Iya … tapi itu artinya otong boleh nyembur di dalam sepuasnya kan?” Kevin konyol dengan semangat menanyakan kepastian caranya berhubungan pada sang istri.


“Heeem.” Dehem Muna datar.


Kevin beranjak ke nakas, mengambil kalender meja di sana. Menghitung sebentar, lalu merogoh sakunya mengambil ponselnya di dalam.


“Kenapa …?” tanya Muna agak heran.


“Sekarang 30 hari. Artinya 10 hari lagi, otong buka puasa, Mae. Dan ini perlu di buat penjadwalannya di sini, buat alarm untuk pengingat.” Konyol Kevin yang sudah tidak sabar so’an ke rumah Mumun yang sudah sangat ia rindukan.


“Abang norak.” Muna tersipu melihat kelakuan ayah tiga anak ini.

__ADS_1


“Jangan lupa, Mesum juga Mae.” Tambahnya pada pujian atau hinaan untuknya dari sang istri.


“Oh … iya mesum juga. Tapi sangat Muna rindukan.” Jawab Muna yang memang mengakui betapa ia pun kadang merindukan kemesuman sang suami.


“Kangen otong, Mae?” tawarnya akan menurunkan ret sleting celana pendeknya, kemudian mendekatkannya pada wajah Muna.


“ABBAAAAAnngGGG …”


“Huuuaaaaa.” Teriakan Muna sontak mengangetkan bayi Adera yang belum terbiasa mendengar suara toa tadi berteriak.


“Sstttt …. Iish …iish.” Kevin segera meraih Adera ke dalam gendongannya. Memberi ketenangn pada bayi kecil yang masih sensitive tersebut.


“Sabar ya nak, usiamu baru 30 hari. Jadi belum terbiasa dengan hingar bingarnya dunia. Mamam kalian memang gitu, suka teriak kalo keinginannya belum tersalurkan.” Ucap Kevin menenangkan Adera dalam pelukannya.


Muna melempar kain lampin ke tubuh suaminya.


“Yang bikin Muna teriak siapa? Yang keinginannya tak tersalurkan siapa?” kekeh Muna pada sang suami yang sangat usil tersebut.


“Siniin Bang, Ade mau nen tuh?” Lanjut Muna pada Kevin.


“Haah … Ade mau nen. Sama donk, nak. Papap juga udah lama ga nen sama mamam. Bareng yuuks.” Kekeh Kevin menyerahkan Adera pada Muna yang sudah mengeluarkan satu galonnya yang makin besar, padat dan terlihat lebih berisi penuh. Kevin mupeng donk.


“Jangan aneh-aneh deh.” Hardik Muna pada suami mesumnya yang sudah memindahkan Annaya agar dekat pada Aydan yang terlihat masih tidur nyenyak.


Muna cuek saja, membelai kepala Adera saat bayinya itu mulai mengisap ASInya. Dan ternyata sungguh, gallon sebelahnya sudah di keluarkan Kevin untuk ia cium-cium gemas. Tapi tidak pada pucuk coklat kemerah mudaannya seperti Adera. Melainkan hanya di sekitaran pipi montok putih dan mulusnya tersebut.


“Abang … ngapain di situ?” Hardik Muna mendorong kepala Kevin dengan satu tangan yang tadi ia pakai untuk menyodorkan puncak gallon pada Adera.


“Kasih DP buat sepuluh hari kedepan.” Cengir Kevin yang sudah dengan cepat membuat tanda merah pada permukaan dada yang berisi tersebut.


“Abaaaannng ….” Ucap Muna tanpa suara. Takut Adera akan terkejut lagi.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2