
Gilang tiba tiba sudah datang di area ghibah squad. Entah ia mulai mendengar dari mana segala macam bantuk pembunuhan karakter di sana tadi. Sehingga ia bisa langsung nimbrung, nyambung dengan yang di bicarakan mak emak.
"Bu... Gilang pamit pulang dulu ya. Besok nginap deh sampe minggu. Biar rumah rame. Paman Ali juga akan datang lagi sama Anisa. Agak sore." Info Gilang pada ibunya.
"Wah... kalo paman Ali datang, Kalian tidur di rumahmu saja. Biar paman tidur di kamarmu." Jawab ibu dengan cepat.
"A'a. Ajak Anisa tidur di rumah kita saja. Kamarnya kan 4. Eneng kurang lama ngobrol sama Anisa kemarin." Saran Gita pada suaminya, tanpa peduli dengan barisan emak emak haus info yang masih betah bertengger di teras warung itu.
"Oh... iya boleh deh. Mari... ibu ibu. Permisi kami pulang dulu ya. Hampir magrib nih, di cari malaikat. Ntar di catat lho sibuk ngosip di tempat tetangga." Gilang dengan gamblangnya mengeluarkan isi kepalanya. Membuat wajah mak ghibah squad keki saja.
Mau marah malu, mau protes takut ga kebagian sembako besok. Akhirnya mencari plastik saja untuk mengumpul sampah sisa rujakan mereka tadi. Ga sekalian bu, mulut sampah kalian di bungkus dan di buang jauh ke tempat pembuangan akhir, biar rumah ibu Gilang bersih dari racun yang bisa saja merusak otak bu Dian.
Semuanya sudah bubar. Sebagian isi rumah ibu Gilang sedikit berubah. Tim dekor tadi juga sudah ijin pada pa RT untuk meminta agar kenopi di pasang sampai ruas jalan utama. Dan di hari H nanti, akses jalan di alihkan agar tidak mengganggu jalannya acara yang di laksanakan kurang lebih 4 jam saja. Yaitu mulai pukul 10 pagi hingga 2 siang. Sehingga setelah itu, jalan bisa di lalui dengan normal kembali. Saat tamu sudah selesai memberi doa restu.
Ngunduh mantu adalah sebuah prosesi adat tambahan yang biasanya dilakukan oleh pasangan pengantin. Dengan kata lain, ngunduh mantu dapat diartikan sebagai sebuah keluarga yang telah mendapatkan seorang menantu.
Tradisi ini dilakukan guna menyambut kehadiran sang mempelai wanita sebagai anggota keluarga baru dari keluarga besar pihak mempelai laki-laki.
Rumah di tata apik juga di buat pelamiman layaknya sebuah pesta pernikahan sederhana. Untuk memudahkan kerabat dan orang terdekat untuk memberikan ucapan selamat, serta mengenal sang menantu.
Gilang dan Gita menggunakan pakaian couple senada. Gita mengenakan brokat warna tosca, warna favorit Gilang. Dan rok batik bermotif sama dengan kemeja Gilang. Suasana dekorasi rumah, lebih di dominasi warna kehijauan sesuai permintaan Gilang.
Kediaman Gilang sudah di penuhi para tamu. Keluarga Gita pun hadir lengkap. Ada Diendra beserta Indira. Ada Daren juga Zahra. Ada Kevin, Muna, Aydan dan Annaya. Juga ada Babe Rojak dan nyak Time yang ikut dalam iring iringan kedatangan mempelai wanita.
Ritual adat sudah di selenggarakan dengan lancar. Dilanjutkan pengajian singkat serta doa makan bersama. Baru tiba sesi foto bagi pihak keluaraga saat para tamu menikmati hidangan yang di sediakan pada rombong yang tersedia.
Tempat sajian makanan di buat memanjang, untuk memudahkan tamu memilih makanan sesuai selera. Mulai dari bakso, soto, rawon, gado-gado sampe mpek-mpek tersedia di satu lorong. Lalu meja mendatar melintang tersedia, tiga macam nasi. Ada nasi, uduk, nasi putih hingga nasi kebuli bisa menjadi pilihan para tamu. Untuk urusan menu lauknya juga lengkap dari opor ayam, rendang sapi, bebek panggang sampai gulai kambing, bebas untuk di pilih dan di ambil sesuai selera.
__ADS_1
Pada bagian depan pintu masuk tadi, sudah ada meja panjang berisi kue kue yang di letakkan dalam nampan besar, berisi aneka jenis kue basah dalam ukuran mini. Di sampingnya ada jenis minuman sirup, es buah hingga bubur cendol juga bubur sum sum.
Jangankan para tamu, ibu Gilang sendiri hampir kumat penyakit jantungnya melihat semua sajian makanan itu, juga rumahnya yang bagai di sulap bagai istana. Tak kalah mewah dari rumah besannya.
Pembagian souvenir paket sembako juga sudah berlangsung dengan tertib. Tak terdengar ribut atau kerusuhan saat pembagian. Hanya, saat pukul 2 siang. Ada sedikit adu mulut yang mestinya tak terjadi.
"Maaf bu. Acara sudah selesai. Tolong bekerja sama dengan kami." Pihak dekorasi akan memulai aksi bersih bersih. Akan segera melepas tenda, agar jalan bisa kembali di lalui dengan normal.
"Iya... baiklah. Kami akan bekerja sama." Oh tenyata tim GS (Ghibah Squad) kembali datang ke rumah Gilang dan sudah menggunakan pakaian dinas ala IRT alias daster.
Mereka ada 4 orang, mak Dinda, bu Joyo, mama Ucah, juga tante A'ai. Ini nama nama yang kemarin mulutnya paling lames. Sebab yang waras tinggal 2 orang.
Ke empatnya kompak ikut melipat kursi, dan mengambil sampah. Tanpa di perintah.
"Ibu... maaf. Ini pekerjaan kami." Ujar tim dekor tadi. Sebelumnya mereka asyik ngobrol di dekat nampan kue. Tapi setelah dapat teguran pertama tadi, mereka bukannya pulang justru bekerja.
"Yang ganggu itu siapa? Mata kamu kicep ya. Ga bisa bedakan mana yang bantu, mana yang ganggu?" mak Dinda sudah berkacak pinggang.
"Iya... bukannya tadi kalian bilang tolong bekerja sama. Ya udah kita kerja sama sama. Eh... malah bilang jangan ganggu...!! Gimana sih?" suara mama Ucah meninggi.
"Bekerjasama yang kami maksud adalah ibu ibu tidak berada di area ini sebab kami akan mulai bekerja. Sebab janji kami hanya dalam satu jam akan membersihkan tempat ini seperti semula."
"Ya justru itu, ini kami akan bantu biar cepat selesai." Bantah bu Joyo membela diri.
"Bukan begitu juga kali bu. Cukuplah dengan ibu ibu pulang mungkin kerjaan kami bisa cepat selesai."
"Ooh... kalian ngusir?"
__ADS_1
"Kalian siapa berani ngusir kami hah?" pekik tante A'ai.
"Bukan gitu maksudnya. Aduh gimana sih ngejelasinnya? rempong deh." umpat tim dekor yang serba salah menghadapi mak ghibah squad itu.
"Lang... cek di luar ada apa?" perintah Kevin yang masih di dalam mendengar samar di luar terjadi keributan.
Gilang segera keluar dan bertanya ada apa? bukannya diam malah tambah ribut, sebab mak GS pintar membela diri.
"Ya sudah maafkan tim dekor ya bu. Mereka hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaan mereka." Simpul Gilang pelan.
"Justru itu, kami ini mau bantu. Tu liat, tumpukan souvenir saja masih berantakan. Kan kami bisa merapikannya." tukas mak Dinda menunjuk ke arah paket sembako yang memang menjadi tujuan mereka.
"Iya... belum lagi meja prasmanan itu, lama lho baru bersih kalau makanannya masih banyak gitu." Sambung bu Joyo menunjuk ke arah meja sajian makanan tadi.
Huummm Gilang paham. Ibu ibu ini cuma modus mau bantu. Mereka hanya ingin mendapat tambahan souvenir.
"Ya sudah begini saja bu, silahkan ibu ibu ambil masing masing satu paket sembako itu. Lalu ke sini lagi bawa wadahan untuk meminta kelebihan makanan itu supaya cepat habis dan kerjaan mereka cepat beres." Baru saja Gilang selesai bicara, empat mak rempong itu sudah ngacir mengambil paket sembako tanpa malu.
Bersambung...
Hallloo semangat hari ini
Tunggu 2 up berikutnya ya
Nyak tunggu
πΉπΉββππππ
__ADS_1