CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 64 : ASEP JUJUR


__ADS_3

"Saat aku mencintai seseorang, aku tak harus mengatakannya. Sebab kamu akan tahu dari cara aku memperlakukanmu." Asep langsung mengecup kening Siska lembut.


"Iih... jadi malu." Umpat Siska le Ge-eRan. Pagi itu ia hanya ingin mendapat sambutan atau kata kata mesra saja dari Asep. Yang ternyata malah lebih dari itu.


"Malu saja kan pagi ini. Ga sakit sakitan?" canda Asep pada Siska yang kemarin selalu punya alasan sakit asma, jantung, lumpuh dan sebagainya saat Asep bertindak manis dan berkata mesra.


"Bisa di cek kok. Keadaanku hari ini, pasti sudah sehat wal afiat." senyum Siska terkembang.


"Miska mana?" tanya Asep.


"Sudah ijin pulang." Jawab Siska. Asep mengangguk. Sambil melirik baki berisi sarapan pagi masih belum tersentuh.


"Nyai belum makan?" tanya Asep yang sebenarnya tau jika Siska belum sarapan pagi.


"Belum atuh, akang." Kekeh Siska.


"Ya Allah, sedep euuy di denger. Eta mah cita cita akang, sejak dulu. Ada yang panggil akang sama abdi." Siska mencibir ke arah Asep.


Sebenarnya Asep tidak serius dengan panggilan itu, ia hanya suka saja melihat wajah kesal Siska. Yang menurutnya semakin wajah itu dongkol, malah semakin manis dan cantik.


"Akang suapin ya Nyi."


"Iya kang... hiii... hiii... hi.. hi." Tawa Siska menyerupai nenek lampir, biar horor sekalian.


Asep membuka plastik warp sajian sarapan Siska pagi itu, mengangkat angkat alisnya sendiri memandang orak arik telur dan tumisan sayuran.


"Bismilahirohmanirohim. A... a. Buka mulutnya." Perintah Asep di hadapan Siska.


"Ga ada sambel, kang?" tanya Siska setelah satu sendok sukses masuk mulut Siska.


"Bener bener minta putus nih anak. Jelas jelas ususnya radang, malah cari sambel. Gimana sih?" hardik Asep setengah bercanda.


"Kang... jangan dikit dikit ngancem putus dong. Walau cuma bercanda. Kata kata itu doa lho. Atau emang ga ikhlas jadian sama aku...?" Siskan menyampaikan dengan raut wajah agak sedih.


"Astagafirullahalazim. Maaf ya sayang. Ga gitu maksudnya. Cuma merasa perlu ngancem aja, biar takut." Istigfar Asep tersadar.


"Aku ga usah di takut takutin Cukup di bilangin aja, pasti nurut kok." Siska melanjutkan kalimatnya, agar Asep bisa lebih mengerti dia.


"Iya... maaf ya sayangku." Jawabnya lagi sambil masih setia menyuapkan makanan ke mulut Siska berganti ganti dengan air putih.


"Oppa... yakin jadiin aku pacar?" tanya Siska penasaran.

__ADS_1


"Yakiin. Kenapa?"


"Kan oppa baru putus sama Laela. Jangan jangan Siska hanya pelarian saja."


"Baru putus apaan? udah lama, sejak Muna ketemu tante Rona. Sebelum dia berangkat ke Belanda. Aku sama Laela sudah renggang kok."


"Hanya renggang ... bukan berarti putus kan?" tanya Siska memastika.


"Iya sih... kami renggang karena salah paham. Lalu lost kontak gitu."


"Sempat ngantung... gitu?"


"Iya... sampe Muna udah hamil ini."


"Kok bisa?"


"Ya... dia ga kasih kesempatan untuk aku luruskan semuanya. Dan selalu menghindar."


"Tapi... sekarang benar sudah putus?"


"Iya... sudah resmi putus. Setelah akhirnya dia kasih undangan pernikahannya."


"Iiih. Biasa aja kali."


"Masaaa..." Goda Siska.


"Beneran... kaya apa aja."


"Akang sempat serius gitu sama dia?"


"Ga kok... biasa aja."


"Kok bisa lama?"


"Ya... gimana ya? Ga tau juga."


"Gimana sih? Akang cinta dia?"


"Ga.. Eh.. Aduh gimana ya?"


"Akang Asep Suparta... gimana sih? Biasa aja... ga cinta tapi bertahan 2 tahun yaa...? Kok bisa?"

__ADS_1


"Nyaii Siska tersayang... sama orang yang biasa aja aku bertahan, apalagi sama kamu yang aku cinta. Semoga Tuhan ijinkan kita selalu bersama sampai tua." Ga tau, Asep ngegombal atau serius nih.


"Kang... gulalinya ga usah pake pemanis buatan ya. Soalnya bisa ke pahitan, kalo lebay." Jawab Siska samb tertawa.


"Ga... nyii. Ini pakai gula asli. Ga pake vanili, atau pasta penguat rasa." Asep sudah meletakan piring yang sudah kosong yang tandas di lahap Siska, kembali ke baki dan meletakan kembali ke atas nakas.


"Serius Kang. Udah ga cinta sama Laela?" ulang Siska yang tak mau hati Asep nanti akan terbagi atau di bayang bayangi oleh kenangannya bersama Laela.


"Aku bohong jika tak pernah ada rasa dengannya. Tapi jujur perasaanku tidak sekuat rasa inginku memiliki kamu. Awalnya memang sakit untuk melepaskan, tapi akan lebih sakit lagi jika terus bertahan." Jawab Asep yang sudah berhasil mendudukkan Siska di sofa, agar mereka bisa lebih santai dan nyaman mengobrol.


"Kenapa sakit untuk bertahan?"


"Apa aku harus mengumbar semua kejelekan orang lain, demi meyakinkan seuatu yang baru hanya untuk mendapatkan simpatinya? Maaf ya Sis. Kali ini aku tidak merasa perlu menengok kebelakang tentang dia. Aku sekarang sudah memilihmu, bukan hanya karena di tinggal nikah. Tapi, memang sudan yakin saja dengan perasaanku sendiri." Siska tercenung, menyimak perkataan Asep. Ia sadar, pertanyaannya tadi jika Asep jawab. Mungkin hanya mengundang sebuah perbandingan yang pasti nantinya akan berujung persaingan pada sang mantan.


"Kalau mau jawaban jujur tentang perasaanku. Mungkin aku yang salah terhadap Laela. Karena jatuh cinta padamu sejak pada pandangan pertama, yaitu sejak aku masih menjalin hubungan dengan Laela. Bukankah sesungguhnya aku yang sudah berselingkuh hati? Karena itu, saat ada celah perdebatan kami, aku tak merasa perlu untuk berjuang untuk kelangsungan hubungan kami." Jelasnya panjang lebar.


Wajah Siska biasa saja. Padahal hatinya sudah memar memar terantuk antuk, apa saja di dalam sana. Akibat badai terjadi lagi di dalam, karena pengakuan Asep yang sesungguhnya.


"Aku jatuh cinta padamu, saat aku masih punya dia. Dan, saat aku telah lepas darinya, menurutmu. Apakah aku akan melepaskan kesempatan untuk mendapatkanmu?" tanya Asep dengan wajah datar, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja.


"Lalu... kenapa harus selama ini aku menunggu, akang katakan cinta?" tanya Siska agak kesal. Sebab Asep selama ini memang bagai tak menganggapnya. Sempat ia mengira bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Sebab, insya Allah. Kamu nanti akan jadi pelabuhan terakhir tempat jangkarku bertaut." Jawabnya pasti.


"Itu... kutipan dari novel atau bacaan di mana ya Kang? Ku kaya dejavu gitu, sering baca tapi lupa di mana?" Siska berusaha tidak terlihat serius menanggapinya.


"Oh... mungkin bukan novel. Tapi sebuah kutipan narasi dari sebuah drama Korea, kesukaanmu." Asep tau Siska hanya menggalihkan fokus pembicaraan mereka.


"Pagi..." Suara khas pria sudah terdengar menyapa dari balik pintu ruangan yang Siska tempati.


"Pagi dokter." Sahut Sika ceria.


"Waah... pasiennya sudah sembuh nih? Kok ga ada di tempat ya?" gurau dokter Daya, menyadari jika pasiennya kini tengah duduk santai di sofa ruangan itu.


Bersambung...


Semoga ada yang sempet baca, ngelike dan komen part ini. Di sela ke sibukan di hari raya.


Makasih yaaa


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2