CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 188 : IKHLAS


__ADS_3

Perawat mengerti keadaan fisik dan mental pasien pasca operasi itu, pasti sedang tidak baik-baik saja. Dan dari raut wajah suami pasien sangat menyiratkan jika istrinya belum mengetahui apa-apa tentang kehilangan bayi laki-laki mereka. Memilih untuk memberi semangat agar segera pulih adalah hal yang bisa ia berikan pada pasiennya tersebut.


Gita melahirkan sebelum magrib, dan mulai sadar setelah waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Tentu saja tak banyak yang bisa mereka lakukan setelahnya, selain kembali tidur untuk memulihkan kesehatan agar segera ceria menyambut esok hari.


Gilang tidur dalam ruangan yang Gita tempati. Menyuapi istrinya makanan lembek yang sudah di sediakan, sudah pasti ia lakukan dengan sabar dan telaten. Dan itu bukan hal yang luar biasa bagi Gita, sebab kesehariannya Gilang memang selalu siap melayaninya dengan tulus dan penuh sayang.


Semalaman Gilang tidur dengan mengenggam tangan Gita. Bed yang di siapkan untuknya sengaja ia dekatkan dengan bed yang Gita tempati. Dengan alasan sudah malam, pihak rumah sakit tidak mengantarkan bayi Gita untuk bertemu dengannya. Namun, berjanji jika esok pagi mereka akan mempertemukannya dengan sang ibu.


Gita mengerjabkan matanya, pertanda sudah merasakan tidur yang sangat puas dan jauh lebih nyaman dari kemarin. Namun tetap saja, rasa nyeri yang kadang terasa cenat-cenut itu muncul di area perut bagian bawahnya.


“Selamat pagi … waktunya berseka dan mengganti perban di perut.” Ada dua perawat datang masuk ke dalam kamar ranap Gita.


Gilang bergeser ke bagian kepala Gita, ingin dia saja melakukannya. Tetapi mengingat luka sayatan di perut Gita, mungkin sedang perlu di rawat oleh tangan yang lebih ahli. Maka memperhatikannya dengan seksama saja, baginya sudah cukup.


Hati Gilang sungguh sakit melihat pengorbanan istrinya. Melakukan operasi Caesar tentu lebih ribet ketimbang normal. Pasien tidak bisa segers beraktivitas seperti semula, akibat luka besar setelah pisau bedah itu beraksi di permukaan perutnya. Mata Gilang juga dapat melihat dengan jelas, jika di bawah badan Gita masih banyak darah. Sisa-sisa perjuangannya melahirkan buah hati mereka kemarin. Gilang tau, Gita tampak bugar pagi ini bukan karena sungguh telah sehat. Melainkan berusaha terlihat kuat saja, agar suaminya tidak semakin iba melihatnya.


“Sudah selesai bu.” Perawat sudah mengganti lapisan di bawah tubuh Gita yang masih banyak mengeluarkan sisa kotorannya. Kini Gita sudah menggunakan pakaian psien yang terbuka di bagian dadanya. Tubuhnya pun sudah jauh lebih wangi dan bersih dari sebelumnya. Tak lupa Perawat juga sudah memeriksa tekanan, saturnasi dan memastikan obat sudah mereka berikan dan perbaharui untuk pasien mereka yang sebentar lagi akan bertemu dengan bayinya.


“Cantik dan segarnya bunda pagi ini.” Puji Gilang mencium kening istrinya.


“Iya … bunda sudah segar. Ayah yang masih bau kecut.” Cemberut Gita pura-pura tak suka.


“Ga papa… kan mereka sudah ga di perut bunda. Jadi ga bakalan ada lagi yang drama ga tahan cium baunya ayah.” Bantah Gilang berusaha menunjukkan keceriaannya.

__ADS_1


“Iya … ya A’. Waktu hamil Eneng sigitunya. Ga tahan cium bau a’a yang belum mandi.” Kenang Gita ke masa awal kehamilan si kembar.


“Makan dulu ya Neng, a’a suapin. BIar cepat kuat ketemu anak kita.” Gilang menelan salivanya saat akan menyiapkan makanan untuk istri tercintanya.


“Huum … buruan suapin eneng.” Pintanya masih dengan manja dan suara yang mengemaskan di teliga Gilang. Dan suaminya itu harus memastikan jika makanan yang di sediakan harus habis di makan oleh istrinya tersebut.


Gilang sudah berhasil memindahkan makanan dari piring tadi ke perut istrinya. Yang artinya kini tiba waktunya untuknya jujur dan terbuka akan musibah yang baru saja menimpa keluarga kecil mereka.


“Neng … a’a mau bilang sesuatu. Tapi janji Eneng yang sabar mendengarkannya ya.”Gilang mengenggam tangan yang tidak tertancap jarum infus.


“Mau bilang apa sih, serius sekali.”


“A’a ga tau harus bilangnya gimana sama Eneng. A’a juga bingung ngejelasinnya. Sebab, a’a sendiri sebenarnya belum terima dan masih tidak percaya Neng.” Suara Gilang memelan sambil terus memandang wajah Gita dengan lekat.


“Ada apa … katakan saja dengan jelas.”


“Tapi apa …?” desak Gita tak sabar.


“Tapi … Genta lebih di sayang Allah, Neng. Jadi pas keluar dia sudah ga nangis, nadinya ga berdenyut. Dia Cuma mampir sebentar ke dunia, lalu sekarang sudah sama Allah di surga.” Jelas Gilang pelan dan masih menatap manik mata Gita dengan raut sedih.


“Bercandanya ga gitu juga kali, A’. Bilang kalo a’a sedang bohong.” Ibu mana yang tidak pilu mendengar berita kematian anak yang ia kandung 9 bulan tetapi dinyatakan sudah tidak bernyawa.


“A’a juga berharap semuanya bohong kemarin. A’a juga sudah meminta agar tim medis berusaha menyelamatkannya. Tapi, sejak keluarpun dia sudah tidak menangis, Neng.” Tes … Gilang bahkan tidak berhasil membendung lajunya air mata yang jatuh menjalar di pipinya.

__ADS_1


Dua tangan Gita terangkat ke arah suaminya. Meminta agar kepala itu mengarah ke leher dan dadanya. Justru Gita yang ingin memberi efek tenang pada suaminya yang ternyata lebih shock dari dirinya.


“Jodoh dan maut itu rahasia Allah, A’. Mari kita ikhlaskan Genta, agar kelak kita di sambutnya saat pulang ke surga.” Entah dapat kata-kata bijak dari manakah Gita saat itu. Ia terenyuh saat melihat pijar bersalah yang terpasang di raut wajah suaminya.


“Eneng ga sedih …?”


“Kan a’a tadi udah pesan. Kalo Eneng harus sabar.” Jawab Gita yang sesungguhnya sedang menguatkan hatinya sendiri, agar terlihat baik-baik saja.


“Nangis saja kalo memang sedih. Jangan di pendam, nanti jadi penyakit.” Gilang mengelus kepala Gita, saat sudah merasa hatinya membaik setelah menangis di dada Gita.


“Kita masih punya Gwen yang harus kita jaga kan A’ …?” tanyanya dengan tatapan kosong, masih memindai otaknya dengan seksama. Mencari cela untuk tetap bisa bersyukur di antara duka yang menimpa mereka.


“Iya sayang … Allah masih kasih kita kepercayaan buat jaga satu buah hati kita.” Jawab Gilang tegar.


“Pulanglah untuk memakamkan Genta dengan baik A’. Sampaikan permintaan maaf bundanya yang belum bisa mengantarnya ke pusara. Sampai bertemu di alam lain, di waktu yang Allah ijinkan kita bertemu dengannya nanti.” Lirih Gita mengikhlaskan kepergian putra yang bahkan belum pernah ia lihat wujudnya nanmun sudah harus pulang mendahului mereka semua.


“Terima kasih untuk pengertian Eneng yang bisa terima ke pulangan Genta.” Kecup Gilang pada kening Gita.


“Alhamdulilah … selama ia di perut. Insya Allah, kita sudah memberikan hal yang terbaik untuk mereka. Jadi eneng ikhlas, jika memang Allah lebih sayang Genta.” Gita sungguh berhasil menguatkan hatinya.


Bersambung …


Bawang merah lagi banjir ya

__ADS_1


Maaf, nyak ga kasih mukjizat di part ini. Sebab lebih ingin menunjukkan bagaimana sisi kenyataan hidup saja. Bagaimana seharusnya kita menyingkapi kedukaan dalam hidup.


Semoga di mengerti dan di terima.


__ADS_2