
Pagi datang di tandai masuknya sinar mentari di celah-celah tirai penutup kanar Gilang dan Gita. Mata mereka berdua sungguh masih sangat kalat dan sepet. Baru tertidur pada pukul 3 dini hari, bahkan hampir terlambat untuk melaksanakan sholat subuh yang mereka laksanakan sesingkat-singkatnya, kemudian bersepakat melanjutkan tidur mereka lagi.
Sukseslah kini mereka bangun saat jarum panjang di angka 12 dan jarum pendek pada angka 8. Bagai kesetanan keduanya mandi bersama untuk mempersingkat waktu.
Tidak ada makanan sarapan pagi, juga tak ada susu hangat mengisi perut keduanya. Sebab mereka sungguh terburu. Dan anehnya bukan saling menyalahkan melainkan sama sama tertawa dengan kebersamaan mereka bangun kesiangan itu.
Sebelum berangkat Gita sempat
mengambil roti tawar dan selai kacang, yogurt 2 botol, juga kemasan air mineral. Sehingga walau di perjalanan keduanya tetap bisa mengisi perut dengan makanan seadanya, agar usus dapat bekerja saja walau munghkin tak semaksimal
biasa.
“A… Eneng suapin ya.” Sorong Gita
pada roti yang sudah ia olesi tadi. Dan Gilang segera melahapnya dengan wajah berseri.
“Benar benar sampai kesiangan kita
neng gegara kisah semalam.” Celetuk Gilang.
“Ga papa, yang penting tuntas a’.”
“Tapi malu neng, kita terlambat ke
kantornya.”
“Iya sih… tapi kan ga sering ini
terlambatnya.” Gita memberla diri.
Jaral tempuh rumah dan kantor kurang lebih 20 menit. Sehingga mereka memang hampir pukul 9 baru menunjukkan batang hidung di kantor. Dan ajaibnya lagi, Kevin sudah menunggu mereka di loby depan. Apakah, wakil CEO dan adiknya ini juga akan ia semprot karena terlambat?”
“Gilang langsung ke ruangan saya.” Sambutnya saat Gilang baru saja masuk dalam kantor.
“Si … Siap pak.” Jawab Gilang agak
gelisah.
“Lembur Lang…?” Goda Kevin saat Gilang sudah masuk ke dalam ruangannya danhanya ada mereka berdua.
“He…he…he. Iya pak.” Gilang malas
membela diri, bahkan akan rela di bully, agar tak panjang lebar lagi ceamah Kevin padanya.
__ADS_1
“Bagus, kejar setoran mau kasih cucu ya. Ambil di weekend donk. Biar durasinya makin lama.” Kekeh Kevin. Oh rupanya, moodnya sedang baik. Buktinya Gilang datang selambat itu ia tak marah.
“He…he.. Siap pak.” Jawab Gilang
lagi.
“Lang…Kamu buat panggilan untuk
Gibran. Kemungkinan ia calon tunggal yang akan memenuhi kuota pegawai magang di bagian sekretaris. Silahkan kamu interview terlebih dahulu, bisa ajak Gita. Sebab untuk beberapa bulan kedepan Gita belum boleh resain sebelum Gibran benar paham apa saja pekerjaannya. Atau ada saran lain?” tanya Kevin serius.
“Apa harus pegawai magang ya pak?”
“Maksudnya?”
“Saya rasa, Haikal saja sudah cukup
di bagian sekretaris pak.”
“Tidak bisa Lang. Haikal tidak memiliki good speaking. Dia itu konseptor. Sebagai pemimpin yang baik kita harus paham karakter setiap pegawai kita, ia tak akan enjoy dan tak maksimal bekerja jika bekerja tidak sesuai dengan yang ia kuasai.Yang ada, dia stres dan merasa pekerjaan adalah beban untuknya. Lagi pula, kemungkinan besar ia akan pindah ke Cisarua. Penawaran saya sedang ia pertimbangkan.” Jawab Kevin memberikan alasannya.
“Lalu kandidat lainnya tidak ada?”
Gilang memberanikan diri menguliknya.
jauh lebih baik dari Gibran. Hanya dia cewek, dan saya orang pertama jika pengganti Gita adalah kaum hawa. Saya tidak perlu menjelaskan secara detail alasannya. Yang pasti kita sama sama lakmi-laki. Kada iman bisa kalah sama si amin. Kepala atas punya otak Lang, tapi tidak dengan kepala bawahmu. Karena itu, sebisa mungkin kita hindarkan saja segala peluang dan kemungkinan yang terjadi. Bukan berarti saya meragukan kesetiaanmu, hanya ingin lebih waspada saja. Tetapi, itu tidak harga mati, jika memang rasannya tidak cocok dengan Gibran. Boleh ambil Melani, atau di lakukan seleksi ulang, setelah para pelamar itu bekerja sebagai pegawai magang, sambil jalan kita menilai kembali siapa yang ngumpuni masuk bagian sekretaris.” Ujar Kevin yang tidak bermaksud memaksakan kehendaknya.
Gilang mengangguk-angguk menegerti, sedikit bersyukur jika Gibran bukanlah harga mati. Iapun kembali bekerja, pun membuat janji temu dengan Gibran yang pada berkasnya terdapat contak personnya.
“Pukul 3 sore bisa ke PT.MK Farma.
Ruangan Wakil CEO. By. Gilang Surenra.” Isi chat Gilang pada Gibran, saat memastikan jika di jam itu ia telah senggang dari beberapa pekerjaannya. Bismillah saja apa yang akan terjadi saat ia akan bertemu nanti.
Sementara Gibran terlonjak mendapatkan kirimian WA dengan nomor baru dan mengaku bernama Gilang Surenra. Ia merasa tak asing dengan nama itu. Bukan hanya sekedar saat ia membaca struktur di sebuah perusahaan yang sedang ia lamar untuk mengais rejeki, tetapi
sungguh ia hanya mengingat ingat sendiri akan nama yang rasanya sering berseliweran dalam pikirannya.
Gibran berkemas, mengenakan pakaian rapi. Rambut sedikit basah setelah berwudhu dan sholat, memberi kesan segar untuk penampilannya yang akan bertemu dengan orang penting . Orang nomor dua di perusahaan PT.MK Farma.
“Rapi sekali Bran…” Celetuk Lisa
sang ibu yang menatap nanar putra tunggalnya.
“Ada panggilan ke perusahaan tempat ku melamar kemarin.” Jawabnya singkat.
__ADS_1
“Kamu di terima, nak?”
“Belum tau ma. Insya Allah doakan
saja.”
“Selalu lah,nak. Masa mama ga doain
kamu. Pamit papa sana.” Pintanya pada sang anak kemudian. Gibran pun, berjalan menuju kamar tempat ayahnya terbaring tak berdaya karena terkena serangan stroke yang kedua, membuat tubuhnya lumpuh sebelah.
“Gibran pamit ya mah.” Ujarnya
menyalimi tangan ibundanya.
“Iya hati-hati, semoga beruntung.”
Doa Lisa menyertai sang anak.
Gibran pun melangkah masih dengan pikiran yang mengganjal tentang nama Gilang. Kemudian memundurkan langkahnya, berbalik
pada ibu yang berdiri di ambang pintu akan melihat punggungnya pergi.
“Ada apa?” tanya Lisa agak bingung.
“Ada yang ketinggalan?”
“Ehm… ma. Apa mama kenal dengan
orang yang bernama Gilang Surenra…?” tanyanya. Akhirnya mulutnya terbuka untuk bertanya, sekedar memenuhi rasa penasarannya pada nama itu.
“Gilang Surenra…?” Beo Lisa mengingat-ingat.
“Iya… Gilang Surenra.” Ulang Gibran
lagi.
“Apa gilang yang kamu maksud adalah anak mas Edy Sudrajat?”
“Anak papa Edy…?” Ulang Gibran. Ia sempat memanggil papa pada ayah Gilang. Dan foto di ulang tahun ke empatnya juga masih ada, sungguh saat itu papanya adalah Edy Sudrajat. Nama yang sama dengan nama belakangnya. Walau setelah itu ia tak tau di mana pria tersebut. Dan saat ia SMA, ia di kenalkan oleh
ibunya pada Reza Hanggito sebagai ayahnya. Ia sungguh bingung, saat itu. Sebab seolah ia memiliki dua orang ayah. Tetapi setelah mereka tinggal bersama, dan ia mulai besar. Ia mengerti makna mana ayah angkat, maka ayah kandung. Sehingga kini Gibran dapat menerima jika pria yang sedang menderita kelumpuhan itulah ayahnya, dan Edy yang pernah ia sambangi makamnya adalah ayah angkatnya saja, pun hanya ia nikmati kurang lebih 4 tahun saja.
Bersambung…
__ADS_1