
Gilang baru saja berada beberapa meter meniggalkan kediamannya menuju kantor. Tetapi ponsel pintarnya selalu meronta ingin segera di sentuh untuk mendapat perhatiannya.
“Kamu sudah tau kakek Sudrajat masuk rumah sakit, Lang … “ itu adalah suara ibu Dian. Wanita yang melahirkannya. Wanita yang ingin ia muliakan selama berada di dunia. Wanita yang ingin ia limpahkan dengan kasih sayang setelah Gita dan Gwen, wanita yang kemudian juga telah menjadi tanggung jawabnya untuk mendapatkan cinta dan perhatiannya.
“Iya Bu. Gilang sudah dapat kabar dari Gibran.” Jawab Gilang masih sambil fokus menyetir mobil yang ia kemudia sendiri.
“Kapan kamu punya waktu. Antarkan ibu menjenguk kakekmu, Lang.”
Chiiiith.
Mendadak Gilang menginjak pedal rem. Terkejut hatinya mendengar permintaan sang ibu. Pelan-pelan ia menepi untuk sungguh berhenti saja, demi melayani obrolan dengan sang ibu.
“Gimana?” ulang Gilang tak percaya.
“Antarkan ibu menemui kakekmu.”
“Bu … ibu ga papa bertemu dia?”
“Insyaallah … ibu siap Lang.” Jawabnya lirih.
“Bu … kakek itu jahat.”
“Dia kakekmu. Bagaimanapun darah yang mengalir di tubuh kalian itu adalah darah yang sama.” Jelasnya pelan.
“Ibu jangan bercanda. Dia pernah mengusir ibu. Tidak menganggap ibu menantunya … lalu apa tujuan ibu menemuinya?”
__ADS_1
“Lang … umur tidak ada yang tau. Sedangkan sesama manusia wajib saling memaafkan. Ibu ingin minta maaf pada kakekmu.” Lanjutnya pelan.
“Ibu … yang salah itu dia. Kenapa ibu yang minta maaf …?” Gilang berang. Hatinya mendidih mendapati alasan sang ibu yang tiba-tiba ingin berjumpa dengan pria tua yang sangat amat di hindarinya. Jangankan menemui kakek Sudrajat. Jika mengikuti kata hati, Gibran pun tidak mau ia berikan pekerjaan, saking bencinya Gilang pada pria yang kata ibunya memiliki garis kerutunan yang sama dengannya itu.
“Ibu yang salah, Lang. Telah memaksakan diri menjadi menantunya. Ibu yang membuatnya menjadi monster. Seandainya ibu tidak menerima ayahmu, pasti kebenciannya tidak seperti ini pada ibu.” Terang Ibu Gilang panjang.
“Aku kerumah ibu saja.” Tanpa basa basi Gilang memutuskan sambungan telepon. Juga tanpa pikir panjang, ia segera melajukan kendaraan roda empatnya ke arah rumah sang ibu. Tak puas otaknya mencerna yang di sampaikan ibunya. Tak rela rasanya, jika harus ibunya yang meminta maaf pada orang yang salah pada mereka.
Tanpa mampir ke kantor terlebih dahulu, kini Gilang sudah berada di rumah sang ibu. Tidak perduli dengan banyaknya dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani. Sebab baginya bertemu ibu lebih penting.
“Siapa yang memberikan informasi untuk ibu, jika dia sakit?” sepertinya Gilang enggan menyebut jika pria yang di kabarkan sakit itu adalah kakeknya.
“Kemarin … ibunya Gibran ke sini. Dia menceritakan bagaimana kondisi terkini kakekmu. Dia juga mengharapkan bantuan dari kita. Sebab, bagaimanapun. Ibulah yang memang menantunya. Sebab, ia sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, ayah Gibran. Dia juga mengaku tidak mampu membiayai pengobatan kakekmu. Sebab, suaminya juga sedang dalam perawatan yang tidak boleh putus dari obat-obatan mahal.” Gilang mengerti, mengapa ibunya luluh. Pasti jiwa sosial dan simpatiknya terhadap orang lain tengah bangkit.
“Lang … rejeki itu bisa datang dari mana saja. Kamu pernah dalam posisi mereka. Tidak mampu, tidak berdaya. Tetapi Allah selalu punya cara untuk menolong kita. Masa, giliran orang membutuhkan pertolonganmu, dan di saat kamu mampu. Kamu menolak memberi bantuan?”
“Lang … ibu bukan malaikat. Tapi setidaknya, sebelum ibu di jemput Tuhan. Ibu mau berdamai dengan masa lalu. Agar kubur ibu di lapangkan.”
“Asatafirullahalazim, Astafirullahalazim, Astafirullahalazim.” Dzikir Gilang menyapu wajahnya dengan dua tangan.
“Maafkan Gilang bu. Bukan Gilang ingin memperuncing masalah dan mengorek masa lalu. Hanya Gilang tidak mau ibu terluka lagi.” Jawab Gilang memeluk tubuh ringkih di hadapannya.
“Ada Allah yang selalu punya cara membalut luka hati ibu, Lang. Jika kita ikhlas, maka Tuhan akan cepat menyembuhkannya.” Jawabnya menepuk bahu Gilang.
“Gilang kerja dulu ya bu. Nanti sore Gilang jemput, kita jenguk ke rumah sakit.” Gilang mengalah dengan permintaan sang ibu. Untuk apa dia memanjakan kebenciannya, toh korban sesungguhya pun sudah sangat begitu legowo memaafkan musuhnya.
__ADS_1
Gilang ke kantor dengan segala rasa yang berkecambuk dalam hatinya. Dia bukan lah korban asli. Tetapi efek kejahatan itu tentu sampai ke dia. Gilang mestiunya tak harus terlunta lunta sekolah sambil bekerja, kuliah sambil jadi tukang kebun dan sebagainya. Jika kakek itu tidak mengusir mereka.
Gilang juga pasti tumbuh dengan kasih sayang lengkap dari ayah dan ibunya, di masa ia membutuhkan kasih sayang dari sang ayah. Gilang tidak pernah sungguh merasakan memiliki ayah, seperti anak laki-laki lainnya. Dan itu mengenai hatinya secara langsung. Gilang pahit atas semua itu.
Pekerjaan Gilang ternyata tidak banyak. Siska sudah menyortir dengan teliti semua pekerjaannya. Sehingga untuk pulang cepat pun, Gilang tidak akan bermasalah. Terlihat dari raut wajahnya, jika kini ia terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Memilih pulang minta di hibur oleh dua wanitanya di rumah. Gilang rasa, senyum kedua wanita itu bisa menjadi moodbosternya. Gilang segera membelah jalan menuju kediaman yang selalu ia rindukan beserta orang-orang di dalamnya.
Gwen tau Gilang adalah tempat ternyaman untuknya meletakkan kepalanya di dada Gilang. Bayi itu sangat manja pada sang ayah. Bahkan Gita sering di abaikannya jika ada Gilang. Gwen sangat terlihat ingin berlama-lama dengan sang ayah, sampai tak sadar tertidur dengan sendirinya di dada bidang ayah tampannya itu.
“Pindahin ke boxnya aja A’. Biar a’a bisa istirahat.” Gita menjukurkan tangannya ingin mengambil alih Gwen yang terlelap dalam gendongannya.
“Stt … ga usah Neng. A’a mau istrirahat bareng Gwen saja.” Gilang menolak saran Gita. Sebab siang itu ia mau tidur sambil memeluk bayinya. Entah energy apa yang ingin ia bagi pada sang buah hati. Baginya memeluk Gwen siang itu adalah hal yang membuatnya nyaman.
Gilang sepulang kantor tadi memang sudah mengganti pakaiannya dengan kaos rumahan, sehingga ia bisa langsung mengenakan kostum itu untuk tidur siang bersama putrinya.
Gwen berbantal lengan Gilang. Sebelum kantuk membawanya ke alam bawah sadarnya. Gilang habiskan waktunya untuk memandangi wajah polos tak berdosa itu dalam pelukannya.
“Posisi Eneng … udah geser ya di hati A’a.” Gita menempelkan tubuhnya di belakang punggungGilang yang tidru miring.
“Ga semudah itu ngegeser Eneng di hati a’a…?”
“Tapi … buktinya. Sejak tadi hanya Gwen yang a’a pegang.”
“Stt … pegang Eneng di jam segini itu rawan bencana. Entar malam, a’a milik eneng sampai pagi.” Kekeh Gilang melupakan sedikit rasa sedinya tadi.
__ADS_1
Bersambung …