CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 78 : SARDEN


__ADS_3

Gilang dan Gita sudah berada di rumah bu Dian. Dan ternyata AC tidak hanya di pasang di kamar Gilang tapi, di kamar ibunya juga. Itu adalah saran Gita, dengan alasan agar ibu tidak masuk angin jika cuaca panas, tetapi beliau menggunakan kipas angin. Padahal, ya... selama ini juga pake kipas biasa. Gita hanya tidak mau, ibu akan merasa di nomor duakan lagi oleh Gilang.


Mereka tiba sudah sore, saat teknisi sudah hampir selesai memasang pendingin udara tersebut. Ada sebuah mobil pick up yang terparkir di depan rumah Gilang, plus beberapa hiasan toxic di sana. Siapa lagi kalo buhan gang Squad Gibah yang sudah pura pura jalan jalan sore dan tertahan di depan rumah Gilang.


Tetapi mereka hanya di depan pekarangan, tidak masuk hanya berdiri di depan toko air isi ulang milik Arum. Karena ibu Gilang tidak keluar untuk meladeni mereka. Jadi sepertinya mereka hanya berkomunikasi dengan supir pick up itu saja. Sehingga tak mendapatkan info yang akurat.


"Bener benar ya si Gilang, bagai mendapat durian runtuh, sejak menikah dengan si Gita itu. Kalian liat ga, tiga hari yang lalu ada pick up yang ngantar kulkas 4 pintu lho bu ibu...." mak Dinda membuka lapak ngobrolnya.


"Aah... 2 pintu kali." Jawab bu Joyo tak percaya.


"Empat pintu bu... yang terbaru itu lhoo." Jawabnya lagi.


"Yang side by side... wow ... harhanya amazing banget tuh." timpal tente A'ai. Tim Squad ghibah masih terdiri dari empat orang tanpa tobat dan jera ya gaes.


"Iya... yang mahal itu. Sepertinya menantunya benar benar manjakan ibunya Gilang ya. Pakai pelet apa sih Gilang itu, sampai istrinya nurut sama dia. Lama lama niih, rumah ibunya bakal di rehap deh, pasti." Tebak mama Ucah penuh semangat.


"Iya... ya. Jangan jangan si Gilang itu. Ada ambil ajaran ilmu perkasih deh. Masa modal ganteng aja, bisa ngeluluhin cewek tajir. Udah gitu, istrinya nurut lagi kalo di minta beli ini dan itu untuk mertuanya." Sambung mak Dinda.


"Eh... mas. Mas. Tadi masang ACnya di kamar siapa?" tanya tante A'ai kepo maksimal.


"Waah... maaf bu. Cuma masang tadi, ga tau kamar siapa? Permisiii." jawab teknisi yang baru keluar rumah dan akan bersiap meninggalkan rumah ibu Gilang.


Bertepatan dengan berlalunya mobil tadi, Gilang dan Gita lun datang. Mereka hanya melempar senyum pada tim Squad, tak berminat sedikitpun ingin menyerahkan diri untuk meladeni mereka yang haus berita itu.


"Assalamualaikum bu." Keduanya hampir bersamaan menyapa ibu yang terlihat merapikan rumah setelah penyejuk udara di pasang.


"Walaikumsallam. Wah... kalian datang. tidur di sini Agit, pulang ibu kangen loh Bangun pagi bisa lihat kamu. "ujar Ibu Gilang agak manja pada anak laki-lakinya tersebut. Gilang tidak langsung menjawab, melainkan melempar pandangannya kepada istri tercintanya itu umtuk meminta persetujuan.

__ADS_1


"Boleh sih, tapi pulangnya pagi banget, A..., besok kan kita ngantor." Jawab Gita tak kalah manja pada suaminya, dengan tidak bermaksud untuk menolak permintaan Ibu mertuanya agar mereka bisa tidur di rumah di sana.


"Heem... coba ibu yang tidur dengan kami di rumah Gilang. Jadi kan, Ibu bisa tiap hari lihat Gilang lama. Juga Ibu bisa masak buat Gilang kan, Bu." Jawab Gilang tidak membela istrinya juga tidak menolak ajakan ibunya.


"Ibu masih belum terbiasa, Lang. Kalau tidurnya di tempat orang. Ibu sudah betah di sini."


"Cie... cie..., ibu tambah betah nih. Malam ini tidurnya juga, pasti lebih sejuk." Gilang menggoda ibunya.


"Kan ibu sudah bilang, ga usah belikan itu untuk ibu, kamu terlalu memanjakan Ibu, pemborosan saja. Paling-paling nanti Riswan dan Haniya, yang ikut tidur dengan ibu, karena kamar Ibu sejuk." Ujar ibu panjang.


"Ooh... ibu minta di pasangkan AC di kamar teteh?" simpul Gilang.


"Oh... tidak. Tidak..! Bukan, bukan Lang, Tidak gitu maksudnya. Iih kamu macam-macam saja Lang. Nanti kalau di kamar Arum juga ada ACnya bayar listriknya mahal." Kelit bu Dian


"Nanti kalo ada rejeki lagi, Gilang belikan buat teh Arum." Ujar Gilang melanjutkan candaannya pada sang ibu.


"Jangan...apa kalian nggak lihat ? tadi itu di depan warungnya Arum. Ibu sampai nggak berani ke depan lho, karena ada ibu-ibu itu pada ngumpul ngusipin Ibu. Pasti ngomongin ibu." Lanjutnya.


"Kan kemarin Kalian juga baru kirimin kulkas 4 pintu rumah. Padahal ibu juga nggak minta, kan malu." Rengutnya.


"Kenapa malu...? bukannya itu biar nanti Ibu belanjanya nggak sering-seringkan. Jadi belanja sekali-kali saja.


"Ya Allah. Coba kalian lihat isi kulkas Ibu. Aduh saking besarnya itu udah kayak lemari pakaian, tapi isinya sarden doang." Curhat bu Dian.


"Ibu minta diajak belanja nih...? kode nih." Goda Gilang mencolak ibunya.


"Enggak Lang, apa sih? Bukan gitu hanya Ibu memang belum saja pergi berbelanja karena katanya arum yang mau pergi mengisi kulkas tersebut." jawab ibu Gilang dengan jelas.

__ADS_1


"Sudahlah, Gilang bercanda kok. Ada makanan nggak? Kok Gilang lapar ya?" Gilang berjalan menuju meja makan mereka, membuka tudung saji di sana.


"Yaah..., ibu belum masak."


"Ada ikan bu...?"


"Ga ada ikan. Adanya cuma ayam, mai?" tanya ibu pada Gilang.


Gita sudah masuk ke kamar lalu keluar membawa baju rumahan akan segera mandi.


"Neng mau ayam goreng?" tanya Gilang pada Gita yang lewat dibarea dekat dapur.


"Heemm... sembarang aja. Nanti eneng yang buat a'. Setelah mamdi." Jawabnya tak ingin merepotkan ibu mertuanya.


"Okeey... tapi ada ikan kaleng nih, neng. Lebih cepat masaknya." Gita menghentikan langkahnya mendengar ada ikan kaleng.


"Hah ikan kaleng?" ulangnya.


"Iya... tuh di kulkas ada satu kaleng sarden." Jawab ibu Gilang.


"Oh ... enak ga A'?" setengah berbisik bertanya pada Gilang sebelum masuk kamar mandi. Maklum Gita anak sultan mana tau dengan sarden, jadi terlihat bingung dengan istilah itu.


"Enak lah, apalagi kalau udah di tambah tomat, sayur kacang kasih cabe sedikit. Tumis bawang sampai harum. Kemudian tambahin Indomie biar banyak." Gilang mebelan salivanya sendiri membayangkan masakan praktis yang sering ia makan itu dulu.


Gita mengangguk angguk, lalu sungguh masuk untuk mandi. Dan ibu Gilang yang walau sudah mulai melewati separuh baya itu pun langsung ke dapur dengan semangat memasak makanan sesuai permintaan anak lelaki kesayangannya tersebut.


Selanjutnya Gilang yang mandi, bersiap pula untuk melaksanakan rukun Islam kedua bersama ibu, istri, kakak juga dua keponakannya di rumah ibu.

__ADS_1


Kemudian baru mereka makan malam bersama dengan menu sarden yang jadi bintang utamanya.


Bersambung....


__ADS_2