CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 52 : ASEP KEPO


__ADS_3

Sejak resmi putusnya hubungan antara Laela dan Asep. Siska pun mulai menghujani Asep dengan perhatian perhatian kecilnya melaui chat WA yang dapat ia lakukan. Tetapi tidak intens. Ia terkadang memulaiterlebih dahulu, tapi kadang juga mebiarkan obrolan mereka itu tergantung bagai pakaian di jemuran. Persis dengan perasaan readers yang beberapa hari ini di gantungin oleh nyak othor. (Maaf ya ga sengaja). Namun ternyata hal tersebut memancing untuk Asep memulai duluan dalam hal menanyakan kabar Siska.


Asep tidak agresif namun bukan berarti tidak kepo dengan beberapa SW yang kadang berseliweran di room WAnya. Kadang SW itu pun sudah di setel Siska, hingga hanya Asep saja yang dapat melihatnya. Kadang Siska menampilkan gambar beberapa dokumen, berentakan. Sekedar ingin Asep tau bahwa pekerjaanya banyak. Atau kadang pic beberapa makan yang ia ingin nikmati, namun tidak sempat ia beli karena kesibukannya.


“Ga percayakan? Cuma mau jagung bakar aja, harus nunggu 2 kali purnama. Nasib sibuk benget ? apa bagian dari ngenesnya ga punya temen nongkrong ya?” Isi SW Siska dengan efek ambigu tentunya.


“Oh… malam minggu ya? Pantes dari tadi yang seliweran, pada semua gandengan. Jomblo melipir di balik pintu deh.” Paling berjarak dua jam Siska mengganti ganti SWnya.


“Jomblo itu pilihan, dan pilihannya milih orang lain.” Akhirnya SW Siska ini yang menggelitik jiwa keponya Asep.


“Sis…” Chat Asep.


“Annyeonghaseo. (Apa kabar?)” Jawab Siska dalam bahasa Korea.


“Ini teh Indonesia, Neng.” Balas Asep dengan cepat.


“Mianhamnida (maaf)” Balas Siska dengan emot senyum centil.


“Kesambet se tan Korea Sis?”


“Aniyo… (tidak).” Balasnya lagi.


“Orang jomblo begini amat ya…? Annyeonghi kyeseyo (Selamat tinggal).” Bosan Asep yang sedari tadi di suguhi bahasa Korea yang sebenarnya ia mengerti namun malas untuk ia tanggapi.


“Iiih… jangan selamat tinggal dulu. Aku kan Cuma lagi belajar bahasa Korea A’Aseeeep.” Jawab Siska kemudian dengan bahasa Indonesia yang normal.


“Mau belajar itu mending langsung ngomong, dari pada di tulis gitu.” Balas Asep lagi.


“Terus Siska ngomong sama siapa? Sama TiPi…?” tanya Siska pada Asep.


“Sama aku aja, perjam 200 ribu.” Balas Asep sambil mengantup bibirnya sendiri, menahan senyumnya sendiri. Yang kemudian menoleh kanan dan kiri memastikan jika ekspresi senyum sendirinya tidak terciduk oleh orang lain.


“Eh matre ya… ga usah deh maksih.” Balas Siska yang sesungguhnya senang mendapat balasan dari Asep, walau hanya bercanda.


“Sis… Kuliahmu udah aktif?”


“Iya udah, kenapa?”


“Masa…?”


“Kenapa masa?”


“Masa? kuliah udah mulai, kamu masih jonblo aja… ha.. ha..ha” Ternyata Asep niat banget ya ngolok Siska.


“Eh busyeet. Sesama jomblo di larang saling ledek. Ntar jodoh lhoo.” Balas Siska dengan wajah merah jambu menahan rasa yang berdesir- desir di dalam dadanya yang tiba –tiba ngilu menggebu.

__ADS_1


“Bisa gitu…?”


“Bisa dong. Mau taruhan?” tantang Siska berani.


“Ampuuun. Maaf deh kalo gitu. Tapi sumpah, jadi kamu ngenes banget sih. Makan jagung bakar saja pake nunggu dua purnama.” Chat Asep lagi.


“Hah… tau dari mana?” Siska pura pura ga sadar kalau sejak tadi ia hanya mancing dengan memasang story di statusnya.


“SW…mu”


“Iiih Kepo.”


“Biarin, salah sendiri taroh di medsos.”


“Iya deh, ngaku. Beneran, udah lama ga nongkrong makan jagung bakar doang. Aku kok hampir ga punya waktu ya?” curhat Siska tepat pada sasaran.


“Ga punya waktu atau ga punya teman nongkrong?” tanya ASep memastikan.


“Kayaknya keduanya deh.” Jawab Siska cepat.


“Mau di temani?” tawar Asep lagi.


“Ga usah deh, kalo pake acara nyuruh aku ke Bandung demi makan jagung bakar doang.” Balas Siska.


“Besok aku ke Jakarta deh. Ambu udah kangen katanya.” Balas Asep lagi.


“Ya sudah… kalau ga mau di temani makan jagung bakar.” Balas Asep lagi.


“Huum. Iya deh asal sudah kangen kangenan sama ambu aja, boleh deh.” Balas Siska tak mau melewatkan kesempatan bertemu sang pujaan.


“Ha… ha.. Aku bawa ambu aja. Boleh?” goda Asep pada Siska.


“Boleh banget.” Jawab Siska tak mau berdebat.


Asep sungguh datang ke rumah babe Rojak, menemui Siska untuk menepati janjinya. Dan tentu saja tanpa ambu.


“Ambu mana?” tanya Siska tersenyum saat membuka pintu rumah babe.


“Nanti kita jemput sama-sama.” Jawab Asep singkat.


“Udah ketemu ambu belum sih?” tanya Siska agak dongkol jika benar mereka akan jalan ajalan bersama ambu.


“Sudah, inikan hari minggu, aku sudah sejak siang di sini. Tapi ga di ijinkan ambu kemana mana dulu, khusus nemani dia buatkan abon ayam.” Jelas Asep akrab tanpa di minta.


“Untuk…?”

__ADS_1


“Kaya ambu sih buat aku sarapan, bia praktis pas di desa nanti.”


“KKNnya masih lama?” tanya Siska yang tau jikaAsep sedang keluar masuk desa untuk melaksanakan KKN.


“3 minggu lagi selesai. Kamu belum ya?” Belum… masih tahun depan.” Jawab Siska.


“Udah siap?” tanya Asep melihat Siska yang sudah menggantungkan tas selempangnya di bahu.


“Siap sudah.” Jawab Siska memegang kunci rumah.


“Bawa pakaian deh Sis, ambu mau tidur sama kamu katanya tadi.” Ujar Asep sebelum mereka keluar rumah.


“Hah…? Aku di suruh nginap ?” tanya Siska memastikan.


“Iya… tadi pas aku pamit kesini di tanya. Mau kemana dengan siapa. Persis tahanankan?” Ujar Asep kembali duduk di tengah ruangan yang ada kursu kayunya.


“Terus…?”


“Ya aku bilang mau jalan sama kamu. Langsung deh, tante Rona dan Ambu semangat memintaku, membawa kamu kerumah, pesannya. Suruh tidur di rumah, temani ambu.” Jelas Asep lagi.


“Nemenin ambu tidur saja?” pancing Siska.


“Iya… katanya ambu juga kangen kamu.” Jawab Asep datar.


“Yaaah ambu.” Dengus Siska, menghela nafasnya agak dalam.


“Kenapa..?” tanya Asep bingung.


“Kenapa ga temani cucunya saja…?” tanya Siska iseng.


“Astagafirullahalazim. Bukan muhrim Sis.” Jawab Asep mengelus dada.


“Bukan…? Belum…!!” Cecar Siska cuek, masuk kekamarnya untuk membawa pakaian tidur dan gantinya untuk ikut tidur di rumah kediaman Hildimar.


Asep agak gugup dan sedikit terkejut dengan kata-kata yang Siska ucapkan. Membuatnya sedikit berpikir, kenapa ia jadi sedekat ini dengan teman sepupunya ini. Apa ia melakukan ini secara tidak sadar? Apakah ia melakukannya di dalam alam bawah sadarnya?


Asep memilih tidak menanggapi ucapan Siska yang baginya hanya sebagai lelucon. Dan Asep tak ingin mermikirkan apa status kedekatannya dengan Siska. Saat itu, baginya Siska adalah bagian dari keluarga mereka saja, sebab telah di anggap seperti saudara oleh Muna. Selebihnya, Asep belum punya pikirtan atau rencana tentang hubungannya dengan Siska.


Bersambung…


Sorry telat up


Semoga Votenya masih tersedia untuk nyak


Biar besok semangat setor cerita lanjurtannya

__ADS_1


Makasih yaa


🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏


__ADS_2