CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 132 : MANA TAHAN


__ADS_3

Gita memang di minta untuk bedreast oleh bidan di desa itu. Namun bukan berarti tidak boleh melakukan apa-apa. Hanya, memang di batasi untuk melakukan pekerjaan yang berat dan membuatnya lelah saja. Maka, tentu saja tidaklah akan menjadi masalah besar jika hanya berjalan ke rumah sebelah. Apalagi yang ia lakukan di sana hanya menyaksikan ibunya Siska membuatkan pempek untuknya.


“Hai bumil…” Sapa Siska ceria pada Gita yang memang baru ia temui setelah tau jika Gita kini sudah positif mengandung.


“Hallo pengantin baru…” Jawab Gita tak kalah semangat membalas sapaan Siska tadi.


Keduanya saling terbahak dengan panggilan masing-masing. Sungguh hubungan pertemanan yang tak di sangka. Tetapi sungguh menorah rasa kedekatan yang sulit untuk di pecahkan. Sebab secara tidak langsung akhirny mereka memiliki pertalian persaudaraan.


Ibu Siska mulai memproses pembuatan pempek, kadang ia menjelaskan bahan juga menyampaikan takarannya. Tapi tidak semenarik Gilang tentunya. Sebab Gilang menggunakan bumbu cinta di dalam masakannya.


Ah, mengapa baru 30 menit Gita sudah merindukan lelaki itu lagi. Gita baru sadar untuk melakukan panggilan ke Gilang. Tetapi sudah 10 panggilannya tak di jawab oleh Gilang. Lagi, Gilang membuatnya resah.


“Ini aGi kenapa ya Sis. Kok ga angkat telepon ku. Sudah 10 panggilan tak terjawab.” Gita memilih curhat dengan Siska yang sejak tadi menemaninya melihat ibu dan Mirna mengolah pempek dari atas meja makan tak jauh dari posiusi ibu dan Mirna beraksi.


“Hah… 10 panggilan tak terjawab. Gilang mana pernah begitu dalam hal merespon panggilan.” Ujar Siska.


“Iya makanya. Balai desa sejauh apa sih? Sampai-sampai dia ga bisa singgah untuk merespon panggilanku?” Gita agak cemas.


“Kalo naik motor 20 menit ya sudah sampai kak.” Celetuk Mirna yang mendengar obrolan Siska dan Gita.


“Nah… berarti dia sudah sampai balai Desa atau kios itu. Masa ga bisa pegang ponselnya.” Kesal Gita.


“Yakin dia bawa ponsel?” tanya Siska tiba-tiba.


“Ya.. yakinlah. Eh, ga tau juga sih. Biasa kan aGi ga pernah ninggalin ponselnya.”


“Bentar ku kesebelah, kali aja ketinggalan.”


“Oh iya tolong ya Sis.” Pinta Gita yang tak mau banyak bergerak.


“Iya…” Jawab Siska yang sudah berdiri dan berjalan menuju rumah sebelah.


Dan benar saja, ponsel Gilang masih teronggok di meja ruang tengah tempatnya rebahan bersama Gita tadi. Ia tak mengurus ponselnya setelah membantu pak Herman mengangkat keramik tadi, lalu berangkat mencari pempek untuk Gita.


“Ini Git… ponsel Gilang ada di meja dekat sofa tengah rumah.” Siska memberikan ponsel milik Gilang pada Gita.


“Ya pantas saja panggilanku tak terjawab. Rupanya tertinggal.” Gita sedikit lega. Setelah tau Gilang tak meresponnya bukan karena apa-apa melainkan tak membawa gawainya.


Mereka pun kembali larut dalam bermacam obrolan dan tetap terus memperhatikan ibu Siska juga Mirna dalam pembuatan makanan yang Gita inginkan tadi.

__ADS_1


“Jadi ibu hamil enak ya Git? Apa-apa tuh di layani.” Uajra Siska.


“Uuuh jangan salah. AGi kan .. kamu tau sendiri. Aku ga hamil aja, apa-apa di turuti apalagi hamil. Jadi makin terbaik lah pokoknya suamiku.” Puji Gita pada suaminya tersebut.


“Iya… bucin mana bisa di ragukan lagi kan.” Kekeh Siska.


“Tenang… Asep juga ga lama lagi jadi bucin kok, gayanya aja lempeng. Apalagi kalo udah nabrak portal… hah susah brenti dan mau lagi-mau lagi deh.” Sindir Gita dengan kata penuh kode dan agak pelan. Takut di dengar Mirna dan agak malu dengan ibu.


“Hah… emang gitu ya?”


“Emang udah?”


Siska memainkan matanya sambil mengangguk-angguk tanda sudah melakukan tabrak portal semalam.


“Cie, yang sudah ga …” Siska menutup mulut Gita agar tidak menlanjutkan kata-katanya. Malu jika di dengar ibu dan adiknya.


“Gercep juga kalian.” Kekeh Gita setelah berhasil membuka bungkaman tangan Siska tadi.


“Ya… udah sah ini. Terus ngapain dong bobo bareng tapi ga nganu.” Ujar Siska berbisik di dekat telinga Gita.


“Ha… ha… iya juga sih. Enak Sis?” tanya Gita.


“Heemm… udah lupa.” Jawab Gita dengan manik mata yang di buat-buat nakal.


“Haha… ya sama kali. Sakit semua kayaknya.”


“Tapi bikin candu lho…”Celetuk Gita lagi.


“Masa…?”


“Iya…kan kalo udah sering malah enak.” Kulit wajah Gita merah sendiri saat otaknya bekerja sama untuk kembali kemasa baru baru nikah kemarin. Tak ada yang dapat memungkiri akan kenikmatan indahnya menembus nirwana bersama pasangan tercinta, bukan?


“Eh… kemarin akhirnya pecah di mana?” kepo Siska.


“Ya di Swiss lah. Kan kamu tau setelah ijab Kabul, malamnya kami di UGD berakhir di kantor SatPol PP. Terus aku dapet. Ya tertunda terus sampe kita berdinas ke Swiss.” Terang Gita menguraikan.


“Yaah.. aku dong yang paling katro.” Desis Siska.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Bukannya Muna juga di Belanda ya mecahin telor. Kamu di Swiss. Yaaah cuma aku dong yang di desa.” Rincinya sendiri.


“Kamu sih ga sabar. Kenapa ga ke Korea aja dulu mecahinnya.”


“Hah… mana tahan. Kalo nunggu ke Korea segala buat mecahin itu. Kamu kira enak nahannya. Udah sah ini, deket-deket, bobo bareng lagi. Ngapain donk?”


“Echeeem.” Ibu Siska mendehem karena obrolan duo mantan gadis itui semakin jelas terdengar. Ibunya hanya khawatir jika isi pembicaraan itu akan merusak gendang telinga anak di bawah umur yang sedang membentuk pempek di sebelahnya.


“Mirna… kamu aja yang langsung gorengkan ini. Dan buat kuahnya ya.” Perintah ibu Siska yang ternyatra sudah selesai membuatkan makanan tersebut.


Gita dan Siska tidak benar-benar memperhatikan, sebab topik pembicaraan mereka berdua tentu lebih seru dari pada mempelajari langkah pembuatan pempek pesanan Gita.


“Eh, Git. Kita di teras aja yuk. Pasti Gilang sebentar lagi sampai.” Ajak Siska yang mengerti jika ibunya keberatan saat keduanya ngobrol di dekat mereka.


“Memangnya Gilang kemana?” ibu Siska baru sadar menanyakan kemana suami Gita.


“Ke kios mau beli pempek.” Jawab Gita.


“Lha… kan ibu sudah tanya kalo di sana habis. Kok tetap pergi?”


“Iya… taunya pas sudah terlanjur pergi bu.” Jawab Gita lagi.


“Ke sananya pake apa? Kan pick up di bawa bapak.” Lanjut Ibu Siska.


“Pake sepeda listrik ibu.” Jawab Gita lagi.


“Ya Allah Gustiii, itu kan lama ga di cash. Paling 10 menit udah habis batrenya.”


“Hah… masa bu?” Siska terkejut mendengar ucapan ibunya.


“Ya iyalah. Udah lama ga di pake juga, selama kita acara, mana ada yang ngurus setrumannya.” Jelas ibu Siska lagi.


“Lah… kalo habis batre gimana bu?” tanya Gita kembali cemas.


“Ya ngayuh lah…” jawab ibu dengan cepat.


“Oh tidak… balai desa itu jauh Git. Jangan-jangan tu anak ngayuh dari tadi. Aku susul pake motor ya Git.” Siska meminta ijin pada Gita.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2