CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 207 : SOLUSI


__ADS_3

Entahlah harus terbuat dari apa hati seorang Gilang. Dia selalu di tempa untuk menjadi seseorang yang berlapang hati, yang harus memiliki rasa maaf seluas samudra. Taroh kata, Gilang terlalu di tuntut menajdi sempurna oleh sang ibu. Padahal ia hanya seorang manusia biasa yang juga punya sisi kebencian dan segala bentuk kelalilam lainnya.


“A’a …Eneng lupa bilang. Tapi sebelum pulang. Uang yang eneng siapkan di amplop. Eneng kasih ke mamanya Gibran.” Gita tidak mau menutupi apapun dari Gilang.


“Heem … uang sendiri ya terserah di pake buat apa. Asal jangan minta ganti rugi sama a’a yaa.” Kekeh Gilang pada sang istri. Uang dalam brankas itu teruntuk Gita menyimpan uang belanja bulanan yang kerap Gilang berikan. Jika menerima gajih atau uang apapun yang sudah menjadi hak Gita selama menyandang status istri Gilang.


Tapi, Gita irit. Uang itu hanya kdang di pakai untuk membeli keperluan dapur. Yang kadang juga sudah Gilang beli dan penuhi. Untuk pembelian tas, sepatu,m parfum dan sebagainya. Gita sudah jarang membeli benda-benda itu sejak jadi istri Gilang. Bukan karena di batasi. Hanya sepertinya ia merasa itu bukan lagi hal utama yang harus ia miliki. Sehingga, isi brankas itu memang tidak sedikit isinya. Gita diam-diam masih menyimpan cita-citanya ingin memiliki sebuah usaha sendiri nanti. Saat Gwen sudah bisa mandiri.


“Neng …”


“Apa …?”


“A’a boleh bantu biaya pengobatan kakek?” tanya Gilang pelan.


“Ya wajib lah A’a.” Jawab Gita tanpa pikir panjang.


“Gimana kalo biayanya mahal?” pancing Gilang.


“Berarti Allah mau kasih rejeki yang lebih banyak lagi buat keluarga kita A’.” Jawab Gita santai.


“Semudah itu eneng mikirnya…?” Gilang takjub dengan Gita yang mungkin menganggap uang itu bagai helaian daun nangka. Yang jika di peting atau gugur berjatuhan, bisa tumbuh sendiri dengan cepat bahkan makin lebat.


“Truuus … menurut a’a. Ngejwab pertanyaan tadi sesulit dosen penguji saat sidng tesis? Yang semuanya harus singkron dan dapat di uji kebenarannya? ” Gita balik bertanya.


“Ya ga gitu juga. Eneng ga mikir kalo hati a’a tuh masih ga ikhlas loo maafin dia.” Gilang hanya mengaku pada istrinya jika ia masih menyimpan dendam.

__ADS_1


“Huuuh ayah Gwen payah. Ga bisa cepat move on dari masa lalu. Ngapain miara dendam. Dapat duit? Dapat emas? Apa untungnya a’ …?” tanya Gita memandang wajah suaminya dengan dua tangan menopang dagunya, demi menunjukkan keseriusannya menjawab pertanyaannya.


“Ya emang ga dapat begituan. Tapi kan rasanya mangkel gitu lah neng.” Gilang minta di bela, agar tetap saja membenci kakek Sudrajat.


“Iiih … eneng jadi takut pernah salah sama A’a. Marahnya lama.” Ujarnya mencebikkan bibirnya pada sang suami.


“Ga gitu. Beda kasus ini Neng.” Gilang terus membela diri.


“Apapun kasusnya. No dendam. Titik” Gita memilih meluruskan pinggangnya dan menarik selimut sampai menutupi permukaan dadanya.


“Iya … besok a’a temui dokter. BIar jelas, itu kakek di apain biar lekas sembuh.” Jawab Gilang mengikuti istrinya masuk dalam selimut yang sama.


“Nah … gitu donk. Nanti kalo udah ketemu dokter. Tanyain, bisa di pindah rawat ga.” Gita bersemangat. Dan membuat posisinya menghadap Gilang.


“Ke Jakarta aja dulu. Ke Hilimar Hospital. Di sana aka nada Kak Muna, ada kak Kevin. Mereka pasti bantu kita.” Papar Gita dengan nada riang.


“Hah … mau ngirit gitu. Biar sedikit keluar biaya, alias mau cari gratisan?” ledek Gilang


“Hah… kebaca ?” tawa Gita berderai.


“Ga gitu juga sih. Satu, di sana lumayan ngumpuni kan dokternya juga peralatanya. Dua, kemungkinan gratis sih kecil, tapi bisa membabtu meperkaya kakaku sendiri. Hehehe. Tapi juga bisa menjadi lading pahala jika kak Kevin mau meringankan biaya pengobatanya. Mereka bisa dapat dobble kan. Pahala dan uang.” Jelas Gita.


“Darah Mahesa tuh benar ngalir looh di dalam tubuhnya Eneng.” Tukas Gilang terkekeh.


“Lalu yang ga suka memafkan orang juga kejam itu darah Sudrajat?” timpal Gita bercanda.

__ADS_1


“Aaah gam au. A’a kan Surenra, bukan Sudrajat.” Elak Gilang tak mau mengaku.


“Iiih dosa looo… ga mau ngaku.” Canda Gita pada suaminya. Begitulah ke santaian rumah tangga itu dalam berkomunikasi. Bukan hanya karena mereka sudah banyak uang, sehingga otaknya longgar. Ga kayak kita yang pikiran suka bercabang antara bayar angsuran,tagihan juga keracunan akan promo di aplikasi toktik, toko hijau, toko oren, promo di lembah biru bahkan tawaran di insta-insto. Harap tenang itu semua ujian. Bagi yang tabah mampu skip, bagi yang lemah klik keranjang kuning lalu pilih mode COD. Hidup sebercanda ini merusak impian menggapai cita-cita yang sesungguhnya. (Otor curhat geees)


Hari baru, selain ke kantor. Gilang sudah punya jadwal khusus hari itu. Yaitu pergi ke rumah sakit kembali untuk berjumpa dengan dojter yang menangani penyakit sang kakek. Tak lupa, Gita sudah seoerti ikatan tali yang suoer kenceng mengingatkan Gilang agar membawanya serta. Membawanya ikut bertatap muka dengan dokter yang akan menjelaskan dengan detail kondisi Sudrajat.


dr.Birawa Pelangi, Sp.PD. Begitu nama yang tertera di nametag seorang dokter yang tidak lagi muda itu, tengah duduk di hadapan Gilang dan Gita yang di antarai sebuah meja kerjanya.


“Ini hasil rotgenya. Jadi pasien mengalami gagal ginjal stadium 4. Ini, ginjal beliau mengecil. Sudah tidak bisa berfungis dengan maksimal. Itu yang satu. Dan yang satunya lagi, juga sudah mengalami kemunduran fungsi. Kemungkinan besar karena terporsir banyak membantu pekerjaan yang sebelah, sehingga iapun nantinya akan mengalami kegagalan yang sama.” Jelas dokter itu menujuk-nunjuk gambar di kertas hitam transparan yang mereka tidak mengerti.


“Apa solusi pengobatannya?” tanya Gilang.


“Solusi …?” kalimat itu terdengar seperi sebuah pertanyaan. Sembari melanjutkan jawaban, dokter itu menyempatkan memperbaiki letak kacamatanya yang melorot ke ujung hidungnya yang minimalis.


“Jika yang kalian maksud adalah menunda waktu, maka pasien bisa melakukan Hedodialisa sebanyak dua kami dalam seminggu. Atau yang sering di kenal dengan cuci darah. Untuk menyaring atau memfilter racun yang masuk dan beredar dalam darah, yang tak mampu ginjal pisahkan.” Jelas dokter itu dengan rinci.


“Menunda waktu … artinya tidak sembuh?” cecar Gilang kemudian.


“Yess.. All right. Cuci darah hanya mendunda waktu untuk pulang. Tapi tidak bersifat menyembuhkan. Sebab segala sesuatu yang sudah tidak berfungsi dengan normal adalah suatu pertanda, kepulangan sudah di depan mata.” Terangnya lengan kalimat lugas.


“Lalu, apa memang tidak ada obat, terapi atau apa saja yang mebuat ginjal itu bisa berfungis dengan normal?” Lagi Gilang merasa penasaran dengan penyakit itu.


“Tentu ada solusi untuk kesembuhan yang benar sembuh…”


Berambung …

__ADS_1


__ADS_2