
Mungkin semua pesan, petuah atau pun segala yang Nyak Time, juga Babe Rojak sampaikan baik pada Zahra dan Daren pada acara Tasyukuran calon anak ke tiga Muna dan Kevin , sungguh dapat di terima oleh pasangan yang memang belum genap setahun menikah. Sehingga kini Zahra sudah dapat tidur dengan nyenyak dalam pelukan suaminya.
“Selamat pagi Abi, mau sarapan apa pagi ini ?” Sapa Zahra mesra masih mengendus-ngendus hidungnya pada leher Daren.
“Kalo dari bentuk tawarannya siih, kayaknya mau makan kamu aja sayang …?” Daren memiringkan tubuhnya memandang mesra wanita berdarah Aceh yang sangat ia cintai ini.
“Huum … waktunya mepet. Abi mana pernah bisa makan Umi dalam waktu yang singkat.” Kekehnya so’ menolak.
“Bercanda sayang. Hari ini … Abi ga ada meeting, dan kerjaan agak longgar. Mau ke rumah sakit ?” tanya Daren sambil membelai pipi istrinya lembut.
“Ngapain …?”
“Kali aja Abi juga harus periksa, Mi.” Daren suami pengertian tidak mau jika selamanya Zahra merasa bersalah dalam rumah tangga mereka.
“Tidak perlu. Hati Umi sudah baik-baik saja. Umi udah ikhlas dengan semua yang di timpakan pada Umi. Dengan Abi memeriksakan diri, jika Abi sehat … bisa saja Abi merasa sempurna. Dan kita tidak tau selama apa hati Abi menerima kekurangan Umi. Maaf, bisa jadi Abi yang nantinya berjumawa. Lalu … jika saja Abi pun misalnya tidak sehat. Maka selama hidup kita hanya terisi dengan rasa kecewa yang mendalam atas nasib yang sama-sama kita dapatkan ini.” Jelas Zahra dengan mata yang tak berhenti menatap bola mata bulat milik suaminya.
“Baiklah , senyaman Umi saja. Yang pasti Abi tidak akan pernah berpikir meninggalkan Umi atau menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Abi sungguh tak akan berubah dalam hal mencintai Umi. Ingatkan Abi agar selalu bisa jadi suami setia dan sabar ya, Mi.” Pintanya dengan sungguh pada suaminya.
“Bagaimana soal adopsi anak …?” Zahra ingin mendengarkan pendapat suaminya akan hal ini.
“Dari rahim siapapun itu sama saja. Yang penting anak itu kelak memang di takdirkan untuk kita.” Jawab Daren datar.
“Gimana …?”
“Wanita yang bisa hamil itu pun takdir Allah. Nasib seorang anak lahir dari rahim siapa lalu di rawat oleh siapapun tak lepas dari ijin Allah. Kak Muna lahir dari Mama Rona, tapi justru sukses di rawat oleh Nyak Time. Mama Rona beruntung telah melahirkan, tapi tidak di ijinkan menjadi ibu yang merawat anaknya hingga dewasa. Nyak Time tidak pernah melahirkan, apakah ia termasuk wanita yang tidak sempurna? Tidak bukan, sebab ia justru dapat menjadi ibu yang luar biasa. Jadi … kita sama-sama beroda saja Mi. Mungkin di belahan bumi yang mana saja, suatu saat kita bisa ketemu jodoh soal anak yang Allah percayakan untuk kita.” Daren sungguh bijak sana. Tak pernah menuntut istrinya harus menjadi sempurna, sebab baginya menemukan tulang rusuknya ini pun sudah sebuah anugerah.
__ADS_1
“Jadi Abi mau, jika kita adopsi ?”
“Tidak masalah. Hanya mungkin tidak sekarang ya Mi. Kita harus sudah siap menjadi orang tua. Sebab mungkin menjadi orang tua angkat tidak semudah orang tua kandung. Lihat saja Babe dan Nyak, mereka bahkan sampai pindah domisili demi tetap mempertahankan Kak Muna kecil.”
“Ya … itu karena jalur mereka mendapatkan anak angkat termasuk tidak sah, Bi. Besok, jika kita akan adopsi, kita harus sesuai prosedur.” Zahra mengandai-andai.
“Siap sayang. Tapi tidak besok atau dalam waktu dekat dulu ya.”
“Kenapa …?”
“Abi masih mau pacaran sama Umi.” Daren mentowel ujung hidung bangir Zahra.
“Huum. Lalu menurut Abi … apakah Umi perlu memeriksa ulang di rumkit lain soal bermasalahnya ovulasi Umi …?” Zahra dan Daren tak kalah manis dari pasangan uwu lainnya ya. Mereka memiliki komunikasi yang sangat baik satu sama lain.
“Boleh. Asalkan Umi ikhlas menjalaninya. Tujuannya bukan untuk mendapatkan anak ya Mi. Tetapi hanya mengobati masalah yang mungkin, jika di biarkan akan menajdi penyakit berbahaya. Jika, segala rangkaian pengobatan itu nanti bisa memperbaiki bahkan misal bisa jadi anak, ya Alhamdulilah. Tapi, itu bukan tujuan utama. Bagaimana?”
“Amin. Abi juga berharap jodoh kita panjang bahkan sampai Jannah.”
“Amiin ya Rab.” Zahra ikut mengamini yang di doakan suaminya.
“Umi … mau honey moon? Sepertinya kita perlu penyegaran atas segala yang terjadi dalam rumah kita.” Tawar Daren. Iich manis banget sih mereka.
“Boleh …? Tapi kerjaan Abi …?”
“Sayang … kita yang mengatur pekerjaan. Bukan pekerjaan yang mengatur kita. Jadi permaisuri ku mau kemana?” Tawar Daren menatap manik mata Zahra yang selalu mampu meneduhkan hatinya.
__ADS_1
“Ke Mekkah lagi mau Bi. Kita jadi tamu Allah lagi.”
“Tidak buruk, sayang ku. Kapan …?”
“Huum … kapan ya. Umi baru ingat. Itu soal PAUD belum Umi siapkan soal pengasuh dan pekerjanya Bi.”
“Nanti Abi bantu soal periklanan Lokernya Mi. Kita liburan saja dulu. Pulangnya, tinggal rekapan dan seleksi bagaimana?”
“Suami terbaik …” Zahra tak henti-hentinya memuji suaminya yang memang sangat pengertian ini.
“Baiklah. Nanti Umi juga bisa minta bantu Aisyah untuk memantau penerimaan berkasnya, Bi. Jadi bulan depan Insya Allah PAUD itu sudah bisa beroperasi.” Zahra membayangkan akhirnya impiannya memiliki sebuah PAUD sendiri selama ini akan terwujud.
“Mi …”
“Ya …”
“Besok kalo PAUDnya sudah jalan, bahkan Kak Muna yang mau punya anak tiga saja kalah lhoo dari Umi.”
“Apanya …?”
“Jumlah anak Umi nanti bahkan lebih banyak dari Kak Kevin. Usianya juga akan beragam. Pasti Umi ga akan kesepian.” Daren membayangkan nanti istrinya akan kehilangan banyak waktu untuk sendiri. Istrinya akan tenggelam dalam keriwehan anak-anak didiknya.
“Iya ya Bi. Kan nanti aku terima bahkan dari usia 3 bulan. Pasti Umi juga akan ikut merasakan bagaimana jadi emak-emak yang bahkan beranak banyak.” Zahra tersenyum manis. Manis sekali membayangkan betapa indahnya hari-harinya besok. Saat PAUDnya sudah berjalan. Bahkan ia akan bertemu dengan anak-anak yang memiliki karakter berbeda, sebab berasal dari orang tua yang heterogen. Walaupun tidak ia miliki, tetapi tetap dapat ia nikmati sensasi dalam hal mengurus anak-anak titipan Allah tersebut.
“Buruan pesan tiketnya. Umi kelamaan membayangkan PAUD. Jadi lupa kan mau jadi tamu Allah.” Daren menyodorkan ponsel pintarnya untuk mencari info tentang keberangkatan Umroh mereka.
__ADS_1
“Ngapain beli di sini. Bukannya dulu Umi pernah bekerja di agen travel Haji dan Umroh …?” Kekeh Zahra menertawai suaminya yang sungguh sudah lupa di mana menemukan Zahra. Ya waktu itu Siska yang jeli, mendapatkan info tentang Zahra. Yang saat itu mengurus keberangkatan Umroh masal yang di adakan oleh Kevin dan Muna.
Bersambung …