CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 66 : CALON MERTUA


__ADS_3

"Kenapa merengut? kecewa? maunya di bibir lagi?" Hidung Siska kembang kempis, mau bilang iya... tentu saja malu. Mau bilang tidak, kan memang mau. Tapi, masa di bilang juga.


"Ga usah menghayal nyai. Laki-laki itu yang dipegang omongannya. Sekali aku udah bilang tidak akan melakukannya tanpa izin mu, maka aku tidak akan mengingkarinya, tapi selama belum halal aja siih." Ujar Asep agak cengegesan karena kalimat akhirnya sendiri.


"Nanti kamu buktikan sendiri saja, bahwa aku tidak akan mengulangi yang semalam, kecuali kamunya yang maksa." Siska semakin malu mendengar perkataan yang Asep ucapkan. Sekaligus bersyukur bahwa di dunia ini masih ada lelaki yang walaupun sempat monyosor tanpa izin, tapi ke sininya masih mempertahankan ke originalitasannya. Juga masih menomor satukan omongannya atau janjinya kepada wanita yang sudah ia tetapkan jadi kekasih.


"Iih... apaan siih. Udah pergi sana, buruan. Nanti calon mertua mu kelamaan lho. Ntar keduluan datang daripada kamu yang jemput." Siska mengalihkan topik karena memang agak malu akibat harapannya yang tidak kesampaian tadi.


"Oke... nyai. Akang keluar dulu ya. Kalau lamaan berarti kami langsung ke KUA daftar nikahan. Atau keliling dulu untuk memberikan pelayanan prima dulu buat calon mertuaku." Ledek Asep yang terlihat begitu bersemangat akan bertemu ibu Siska. "Iya... ho'oh. Serah deh. Mau pelayanan prima kek, pelayanan standar kek, sana ... sana, buruan...!" usir Siska secara halus terhadap Asep yang akan menjemput ibu dan mungkin adik-adiknya.


Begitu Asep sampai di depan lobby, benar saja telepon Asep kembali berbunyi. Dari nomor baru. Masih bertulis Indonesia. Rupanya Siska sudah memberikan nomor telepon Asep kepada ibunya, sehingga Ibu Siska bisa langsung menghubungi Asep menggunakan ponselnya.


"Asep... ini ibu. Nirmala ibunya Siska." "Iya Bu... Asep sudah di lobby. Ibu ke sini ya..." Jawab Asep akrab.


"Aduh... nak Asep. gimana siih...?" suara itu terdengar seperti orang protes.


"Kenapa bu...?" tanya Asep polos.


"Mana ibu tau mana lobby ah. Mana barang kami tuh banyak, Sep. Kami kan mau lama di sini. Terus ini orang tukang travel nya gimana ya, Sep?" bingung Nirmala langsung curhat pada Asep.


"Oh.. bentar bentar nanti aku ke situ. Minta supir ke parkiran sebelah kiri ya bu." Pinta Asep sambil berjalan ke arah kiri rumah sakit tersebut.


"Sudah... ini kami sudah parkiran." Jawab ibu Siska tak berhenti menyerocos.


Telepon tidak terputus, sampai Asep akhirnya melihat ibu Siska dan dua Adiknya Mirna dan Antoni. Tampak sudah berhamburan di luar mobil yang mungkin itu mobil travel yang mereka maksudkan.


Begitu telah dekat Asep langsung mengambil tangan ibunya Siska dan menciumnya dengan penuh takzim, berbanding terbalik dengan adik-adik Siska yang kemudian mencium punggung tangan Asep Dengan hormat.


"Sudah dibayar, Bu?" tanya Asep sopan.


"Ya sudahlah, mana mau orangnya nganter kalo belum bayar. Beli bensinnya gimana Sep... Sep." Celoteh bu Nirmala.

__ADS_1


"Oh iya ya. Tunggu sebentar ya bu. Asep ambil mobil dulu, biar deket mindahin barang." Ujar Asep bergerak mendekati mobilnya.


Asep langsung mendekatkan mobilnya dan memindahkan barang-barang bu Nirmala yang benar benar banyak itu. Ya barang barang ibunya Siska benar benar banyak, mulai dari tas pakaian, dus dusan, sayur-mayur pun ada semua.


Untung saja ibunya Asep tidak bawa kambing, sapi, lembu, domba dan juga ayam sebagai oleh-oleh untuk Siska.


"Oke udah semua nih bu? Yakin udah semua nggak ada ketinggalan di mobil?" tanya Asep meyakinkan.


"Sepertinya sudah semua Sep." jawab ibunya Siska celingak celinguk ke dalam mobil.


"Benar udah nggak ada Bu? kali ada disimpen di bawah kolong kursi gitu." Asep berusaha mengingatkan ibunya Siska kembali.


"Yakin kok. Udah semua." Jawabnya pasti.


Asep dan ibu Siska memang sudah sudah akrab, sejak mereka sama-sama berangkat umroh setelah Muna dan Kevin menikah. Sehingga bukan hal yang asing bagi Asep dan bu Nirmala saling bercanda. Itulah kelebihan mereka, karena orang tua Siska yang sudah lebih dulu mengenal Asep. Jadi misalkan Asep akan menjadi menantu mereka pun. Nantinya bukanlah hal yang aneh dan canggung lagi, sebab mereka sudah saling kenal bahkan antar keluarga.


"Bu... sudah makan?" tanya Asep lagi saat barang sudah beres di pindahkan dan supir travel itu sudah pergi.


"Mau Asep ajak makan dulu atau mau ke kamar Siska dulu?" tawar Asep ramah.


"Kamu itu gimana sih, Sep. Ibu ke sini kan tujuannya liat Siska. Ya ke Siska dulu lah, Sep." Sepertinya Bu Nirmala cocok dengan nyak Time, juga ambu. Pasukan mercon yang suka meletup letup dengan tema apapun.


"Asep cuma tanya bu." Jawab Asep dengan sabar. Lalu mengajak bu Nirmala dan adik Siska untuk masuk ke dalam.


"Sep... kita benar masuk rumah sakit nih?" tanya bu Nirmala agak udik.


"Iya bu... kita naik lift dulu ya. Kamar Siska di lantai 5." Jawan Asep terus menuntun ibunya Siska.


"Masya Allah..., kayak hotel ya Sep. Cepet sembuh orang sakit masuk sini Sep. Bagus sekali." Pujinya penuh kekaguman. Meraba bagian dinding kotak yang mengantar mereka bertemu Siska.


"Bu... kita kapan ke rumah sakit. Katanya kak Siska sakit. Kenapa lama baru sampai?" tanya si bungsu Antoni yang baru kelas 1 SD itu.

__ADS_1


"Ya ini ... kita mau jenguk kakakmu." Jawab Asep mengelus kepala Antoni.


"Bukannya orang sakit itu di jenguk di rumah sakit?" tanyanya lagi.


"Iya ini kita di rumah sakit, Ton." jawab bu Nirmala dengan suara agak keras.


"Tapi ini tulisannya semua Hah -I Hi L - Hil. De - i Di, Hildi. em A Ma R. Hildimar. Hah oHo s. Hos. pe i - pi. Hospi. T - aTa L. Hospital. Hildimar Hospital. Tuh... ga ada bacaan rumah sakit bu." Polosnya adik bungsu Siska, mengundang tawa mereka yang mendengar celetukan si bungsu tersebut.


"Ha... ha.. ha. Hospital itu artinya rumah sakit de." Ujar Asep mengelus kepala Antoni dengan gemas.


"Ooh..." Jawabnya sungguh baru mengerti.


"Heemmm, mungkin karena namanya Hospital ya Sep, jadi bagus begini." Bu Nirmala tak kalah polos dengan Antoni.


"Hahaa.... ya ga juga bu. Ini rumah sakitnya Muna lho bu." Asep memberikan info lagi pada bu Nirmala.


"Subhanallah... mereka kaya sekali ya Sep. Rumah sakit saja semewah ini. Pantas kemarin mampu berangkatkan kita umroh bareng bareng ya Sep." Ucapnya takjub.


"Rejeki mereka bu." Jawab Asep lagi.


"Muna hidupnya beruntung sekali. Sudah anak orang kaya. Dapat suami juga ga kalah kaya. Entah besok jodohnya Siska ketemu yang gimana?" Entah itu efek, atau sungguh erangan hati seorang ibu. Sehingga terdengar jika bu Nirmala berharap jika jodoh Siska adalah orang yang mapan seperti Kevin.


"Kalo jodohnya Siska hanya ASN gimana bu?" Asep bahkan tidak peduli ada adik Siska bersama mereka saat itu.


Bersambung...


Buat readersku yang sekarang lagi ikut arus balik. Hati hati di jalan ya. Biar bisa kembali ke rumah dan kembali setia baca lanjutan karya ini.


Makasiiih semuanya


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2