CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 54 : OPPA


__ADS_3

""Apakah sebelumnya pasien pernah di rawat di sini pa?"


"Ti... tidak." Jawab Asep ragu. Siapa dia? mana ia tau riwayat sakit seorang Siska.


"Tidak? berarti belum punya kartu berobat ya pak?" tanya petugas itu kembali.


"I... iya tidak ada." Jawab Asep mengobrak abrik isi dompet Siska, mungkin akan menemukan kartu kesehatan atau semacamnya, tapi tak bertemu.


"Baik kami akan buat kan sekaranh. Ini daftar tarif kamar rawat inap, silahkan pilih untuk pasien, agar di pindahkan setelah melewati masa observasi." Senyum ramah petugas tersebut mengulurlan sebuah buku menu. Tanpa suara Asep membuka buku tersebut untuk memilih kamar untuk Siska.


"Pak... ada punya jaminan? Kartu asuransi atau BPJS yang mungkin dapat di tunjukkan?" tanya petugas itu kembali.


"Tidak mba. Kami pasien umum saja." Jawan Asep yang sudah menemukan satu kamar biasa, terdiri dari 1 bed, satu sofa, kamar mandi dan wc di dalam, satu buah kulkas dan TV juga ada sebagai pelengkapnya di sana, Asep sudah pilih yang tarifnya sudah paling murah yaitu 1,5 juta per malam. Dalam hatinya ia sedikit menelan ludahnya melihat tarif yang ada di rumah sakit milik paman dan tantenya tersebut. Apakah ia salah mengikuti saran tante Rona untuk membawanya ke rumah sakit tersebut.


"Sudah ada pilihan pak?" tanya petugas tadi pada Asep.


"Iya sudah mbak. Yang ini saja." Tunjuk Asep pada pilihan kamar kelas biasa tadi.


"Sebentar kami cek ruangannya dulu ya pak." Ujarnya kemudian memencet beberapa nomor pada telepon di atas mejanya. Asep sabar menanti, sambil terus berpikir akan keadaan Siska.


"Maaf pak...pilihan kamar yang bapak minta terisi penuh. Mungkin bapak bisa pilih kembali? Dan CS sarankan bapak pilih yang VIP atau VVIP saja. Sebab, hanya di sana yang masih banyak kosong." Jelas petugas tadi. Dalam hati Asep berujar sendiri. "Ya iyalah di sana tarifnya sampai 3 juta per malam. Mana ada pasien biasa sanggup di rawat inap di sana, bukannya tambah sembuh, mati iya... kemahalan." Diam diam Asep geregetan sendiri dan sungguh menyesal masuk ke rumah sakit swasta ini.


Mana Asep punya pengalaman mengantar orang sakit. Ntar yang bayar siapa? Jangan jangan nanti Siska marah dengannya. Apa Siska akan bayar sendiri? tapi kan, dia yang membawa Siska ke rumah sakit ini. Masa Asep tidak bantu bayar nantinya.


Sementara Asep masih bertanya jawab dengan hatinya. Petugas tadi kembali menyampaikan info padanya.


"Oh... iya, pak. Jika pasien di rawat di ruaang VIP atau VVIP. Bapak wajib memberikan deposit minimal 10 juta sekarang. Bapak mau bayar sistem cash atau debit, akan kami siapkan kuitansinya." Ujar petugas itu kembali masih dengan senyum ramah, tapi tidak dengan isi yang ia sampaikan.

__ADS_1


Asep terpaksa merogoh saku celana bagian belakang kanannya. Mengambil dompet dan menarik kartu ATM gajinya. Lalu menyodorkan pada petugas tadi.


"Debet saja." Ujar Asep pasrah jika hari itu isi rekeningnya di isap demi Siska yang bahkan bukan siapa siapanya.


"Asep... keadaan Siska bagaimana?" terdengar suara dewa penyelamat tertangkap oleh rungu Asep, ia pun menoleh memastikan asal suara yang tidak laim adalah Rona mama Muna.


"Masih di observasi. Belum tau penyakitnya." Jawab Asep berdiri menghadap Rona.


"Cindy... berikan kamar VVIP untuk pasien atas nama Siska. Biaya masukan dalam tagihan saya." Perintah Rona sambil membaca nametag pada sisi kanan dada petugas, yang segera berdiri menghadap istri wakil direktur rumah sakit tersebut.


"Baik bu." Ujarnya patuh kemudian segera memencet beberapa angka untuk menghubungi pihak CS untuk menyiapkan kamar VVIP untuk Siska tentunya.


"Ayo Sep, kita temui dokter yang menangani Siska." Ajak Rona pada Asep yang masih bertampang sendu dengan tas selempanh Siska yang masih setia menyilang di dadanya.


"Pak... bapak. Ini kartu debitnya." Panggil Cindy petugas tadi, mengembalikan kartu Asep yang tak sempat kerampokan.


Penuturan Rona tak hanya mengejutkan dokter bernama Daya, tapi juga membuat jantung Asep ingin copot. Dadanya berdegub kencang tak karuan, tiba tiba berdetak tak selaras dan tak senormal biasa. Apakah, Asep juga perlu di cek EKG untuk memastikan ritme jantungnya yang terasa tak stabil itu.


"Oh... pantas wajahnya terlihat panik dan ikut pucat. Rupanya yang sakit calon istri ya." Goda dokter itu yang lebih tertarik membahas wajah bingung Asep ketimbang keadaan Siska.


"Ah... harap maklum saja lah. Jadi bagaimana keadaannya?" tunjuk Rona pada Siska yang matanya masih terpejam, entah pingsan, tidur atau pura pura saja. Untuk menghindar tau keadaan di ruang IGD itu.


"Pasien mengalami masalah pada ususnya. Terindikasi usus buntu, dan ini harus di tangani dengan serius. Kita lakukan beberapates lagi, dan pemeriksaan lebih lanjut, apakah dengan obat obatan bisa di atasi. Dan jika memamg telah parah, dan terjadi komplikasi pastinya kita akan lakukan operasi." Jelas dokter itu serius.


Rona mengangguk angguk mengerti.


"Baiklah... lanjutkan pemeriksaan dengan teliti ya. Dan silahkan mengambil tindakan yang terbaik untuknya." Lanjut Rona.

__ADS_1


"Sepertinya, pasien sudah lama mengalami peradangan, sehingga ususnya sudah sedemikian rusak. Jaga pola makan yang ketat setelah ini ya." Ujar dokter itu ke arah Asep.


Mau tidak mau. Asep terpaksa mengangguk, tak punya pilihan lain selain melakukan hal itu, sebab anjuran itu di tujukan untuknya.


"Kenapa tante Rona harus membuat rumor jika Siska ini calon istriku? Apa tidak bisa hanya bilang jika dia adalah sahabat anaknya." Monolog Asep dalam hatinya sendiri, saat Rona sudah memilih pergi ke ruangan suaminya, sebab waktu itu masih pukul 3 sore. Sehingga Dadang masih ada di ruang kerjanya.


"Tante tinggal dulu ya Sep. Mau jenguk abah mu di ruangannya." Pamit Rona pada Asep yang tak tau harus ngapain, di kursi depan. Ruang tunggu IGD, berbaur dengan para penunggu pasien lainnya yang sepertinya bernasib sama dengannya. Menunggu hasil pemeriksaan dan akan di pindah ke ruangan.


Ide iseng Asep datang. Ingin banyak tau tentang isi ponsel Siska. Apa iya, Siska tak punya orang lain yang bisa ia andalkan dan di mintai tolong di Jakarta ini. Kenapa harus Asep yang ia panggil untuk membantunya.


Niat Asep buruk, ponsel Siska memang kini di genggamannya. Tapi tidak dengan sandinya. Tentu saja tak semudah itu Asep bisa membuka gawai pribadi yang bukan miliknya itu.


Asep justru penasaran, siapakah namanya yang Siska semat dalam ponselnya.


Asep mengambil ponselnya lalu menekan icon telepon pada nomor Siska. Dan tertera di gawai Siska bukan nama Asep yang memanggil, melainkan 'Oppa'.


Bersambung...


Asep ga peka benget deh🤧


Atau ga sadar?


Yukks tungguin kelanjutannya


Makasih VOTE, Mawar, Kopi, Tips, komen dan likenya ya.


Lope kalian semua❤️

__ADS_1


__ADS_2