CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 99 : DI TIMPA LAGI


__ADS_3

"Ya ga bisaa gitu donk neng, masa eneng yang ngalah buat a'a?" ujar Gilang tiba-tiba merasa seperti orang yaang pengecut.


"Bukan ngalaah, a'. Hanya berusaha mengambil jalaan aman saja. Ketimbang besok a'a ngejalani sesuatu yang ga nyaman. Hanya demi ngalah sama keinginaan eneng, kan eneng ga enaak juga." Tukas Gita mengerti.


"Bagaimanapun, cepat ataau lambat, eneng paasti jadi ibu dari anak-anaknya a'a. Sehingga berhenti bekerja walau hanya untuk sementara pasti terjadi, jadi emang lebih baik kita repot sekarang untuk mencari dan memilih orang yang akan bekerja sama dengan a'a." Papar Gilaang kemudiaan.


"Hmm... anak-anak. Jadi kita punya banyak anak ya a'? ntar? huum, jadiin satu aja belom ada tanda tanda." canda Gita agar suasana malam mereka tidak kaku dan terkesan tegang.


"Di imani saja kalo sekarang teh, eneng udah hamil. Terus emaknya cantik, babahnya juga seganteng a'a, masa cuma punya satu anak siih neng?" Gilang ikut meladeni candaan Gita.


"Kalo cantik jangan di panggil emak juga dong a'. Ga cocok sama kecantikan eneng." Bantah Gita.


"Kenapa... alisnya kurang nukik ya kali di panggil emak?" kekeh Gilang memeluk Gita.


"Ga suka aja, besok di pangil emak emak." Rengut Gita sok ngambek.


"Canda neng..." usap Gilang pada rambut panjang istrinya itu.

__ADS_1


"BTW a'... yang membuat a'a tampak gelisah tadi apa?" tanya Gita penasaraan.


"Tadi a'a agak heran saja. Kok, pak bos tau tentang kakek Sudrajat ya?"


"Gimana?" tanya Gita ikut penasaraan. Lalu Gilang pun menyampaikaan hal yang Kevin sampaikaan padanya, saat mereka berada dalam ruang kerja Kevin di rumahnya tadi.


Gita menarik nafas pelan semakin paham dan semakin yakin betapa seorang Kevin, kini tidak hanya beraura sebagai pemimpin tetapi sungguh-sungguh sudah menjelma menjadi seorang kakak, sekaligus orang tua yang patut diteladani, berkuasa dan juga sangat bijaksana.


Gita sungguh terharu akan hal tersebut semakin ia merasa bahwa sang kakak sangat peduli dengan rumah tangganya.


"Insya Allah ya Neng, Semoga bisa seperti pak bos." Doa Gilang serius. "Ngomong-ngomong soal Gibran. Sepertinya a'a udah memutuskan untuk menerima dia sebagai sekretaris yang nantinya akan menggantikan posisinya Eneng. A'a juga udah yakin Gibran tidak pernah mau dilahirkan seolah seperti anak ayah Edy. Gibran juga tidak punya pilihan menjadi anak siapa kan? jadi Neng nggak harus mengalah untuk rumah tangga ini, bagaimanapun kebahagiaan Eneng adalah di atas segalanya. A'a sangat mencintai eneng, semua rayuan yang pernah kita ucapkan itu bukan rayuan gombal neng, pokoknya eneng teh, segalanya bagi a'a. Apalagi besok Neng akan jadi ibu, pasti neng capek bawa-bawa calon anak kita selama 9 bulan, terus ngelahirin, terus ngerawat, ngedidik juga semua itu nggak akan bisa Aa bandingkan dengan apapun Neng. Itu adalah pengorbanan mutlak seorang wanita yang tidak bisa laki-laki gantikan. Apapun itu...! Masak hanya karena masa lalu, A'a juga harus membiarkan Neng bekerja sambil hamil besar karena Aa gak bisa terima Gibran? itu gak adil buat neng." Tiba-tiba Gilang berbicara begitu panjang lebar dan bijaksana. "Eneng juga cinta sama Aa, makanya eneng tuh ga masalah, jika memang harus tetap menjadi sekretarisnya a'a atau wanita karir. Selama itu membuat Aa bahagia." Balas Gita spontan.


"Tapi bahagianya neng kan yang paling penting. Bukannya cita cita Eneng menjadi wanita karir yang punya usaha sendiri, bukan di bawah perusahaan orang lain seperti sekarang. Eneng udah menuntut ilmu sampai ke luar negeri, nggak mungkin Neng rela hanya berdiam diri jadi ibu rumah tangga, ngerawat anak anak saja, besok. Ya kan Neng?" cecar Gilang. Membuat Gita meremang suka dengan cara suaminya meyakinkan dirinya.


"Yakiiin, ikhlas terima Gibran A'a...?" tanya Gita memastikan.


"Insya Allah, yakin deh." Jawab Gilang tegas.

__ADS_1


"Makin love you, deh sama a'a nih." Goda Gita pada suaminya.


"Neng jangan bilang, eneng lagi ngegoda A'a ya. Kemarin kita udah full nih bikin anaknya. Apa iya malam ini ditimpa lagi?" Gilang pura pura ga mau nih di kasih yang enak enak.


"Iiih, si Aa mah asal Neng bilang love you aja udah dikira mau minta jatah, sekali-kali gitu ah mikirnya yang positif Kalau Neng tuh lagi bilang cinta tuh nggak mesti harus kasih raganya juga. Kata cinta kita itu A', kalau bisa nggak usah berjeda terus aja gitu di bilang, walau tanpa momen spesial. Dan tanpa ada maksud di belakangnya, agar kita tuh terbiasa selalu hidup rukun, damai, aman, sentosa." Ucap Gita mulai meracau dengan mata yang memang mulai terpejam.


"Hm... kalo eneng udah ngomong kayak gini artinya Neng udah ngantuk berat nih. Sini, sini letakin kepala Eneng di bawah akar pohon beringinnya a'a aja, biar cepet pules tidurnya." Gilang menarik kepala Gita agar berbantalkan lengannya, ia hafal benar bahwa istrinya akan lebih terlihat nyaman saat berada dalam pelukannya, bahkan hingga pagi menyapa, Gilang juga rela ketika bangun berasa ga punya tangan akibat tertimpa semalaman.


Sinar matahari menjalar hangat,. berpendar seadanya memenuhi ruang mana saja yang bisa di masuki sejajar pias jalannya.


"Aah... a'a selalu tau yang eneng suka." ucap Gita semakin mulai akan terhanyut dalam alam mimpinya.


Testpack memang belum pernah Gilang dan Gita gunakan, sebab tak pernah mengalami keterlambatan datang bulan selama setelah menikah.


Tetapi entah mendapatkan keyakinan dari mana di antara keduanya, seolah mereka yakin saja. Jika kini di dalam perut Gita sudah tumbuh benih-benih cinta mereka, sehingga kebiasaan Gilang sekarang adalah mencium-cium kulit perut Gita. Sebelum dia mandi atau beraktivitas. Apa lagi di saat keduanya akan terpisah ruang, saat yang satunya pergi ke dapur dan yang satunya mengambil peralatan bebersih.


Kebiasaan Gilang yang sekedar sedikit menggerakan badan untuk berolahraga. Sebab nantinya segala kotoran yang timbul dalam rumah mereka akan dirapikan oleh bi Inah. Namun Gilang sudah terlanjur terbiasa menjadi orang yang rapi dan juga tidak pernah jauh dari alat-alat kebersihan itu, sehingga hal itu sangat membuat bi Inah kurang kerjaan. Kadang hanya nongkrong di depan TV, saat cucian pakaian dan setrikaannya selesai di taklukkan.

__ADS_1


__ADS_2