CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 187 : KAPAN BISA LIHAT MEREKA


__ADS_3

Gita masih terlihat tenang dalam ketidaksadarannya. Obat bius itu masih bekerja hingga batas waktu yang telah di prediksi. Sehingga ia sungguh tak tau apa yang kinijadi. Gilang hampir di usir dari ruang operasi, karena telah di anggap  telah menganggu jalannya operasi yang sedang berlangsung.


Dokter bukan Tuhan, upaya operasi pun sudah dengan segera di lakukan untuk menyelamatkan nyawa anak dan istrinya. Lalu siapa yang bisa Gilang salahkan atas usaha maksimal yang sudah mereka kerjakan semampu mereka sesuai bidang ilmu yang mereka miliki.


“Kami sudah bekerja dengan maksimal Pa. Terminum air ketuban yang merembes dan hampir habis itu penyebab kematian putra anda.” Jelas dokter menanggapi permintaan Gilang.


“Mengapa tidak kalian lakukan minggu lalu saja operasi ini, jika sekarang anakku sudah tak bernyawa saat lahir.” Gertak Gilang. Ini kali pertama Gilang meluapkan emosinya dengan kasar pada orang lain.


“Kami hanya dokter bukan Tuhan. Jika bapak terus meminta kehidupan pada kami. Silahkan bapak keluar dari ruangan ini…!!” Tegas dokter yang merasa sangat terganggu dengan hadirnya Gilang di ruangan itu.


“Astagafirullah … astagafirullah.” Semampunya Gilang menyadarkan dirinya sendiri. Atas kemarahannya yang mendadak muncul. Kecewa itu pasti, penyesalan juga tentu ada. Tetapi apa hendak di kata. Nasi sudah menjadiu bubur. Bukankah selama ini mereka selalu memeriksakan dengan intens kehamilan Gita. Tidak ada tanda-tanda air ketuban bocor dan sebagainya di ketrangan itu. Tapi , kenapa putranya harus menjadi korban.


Lampu operasi yang bernyala-nyala di ambang pintu sudah mati. Itu berarti operasi sudah selesai di laksanakan. Semburat lega terpancar pada wajah panic dan lelah menunggu di depan pintu. Mereka adalah Diendra, Indira, Ibu Gilang, Arum, Asep dan Kevin. Ikut ada di depan ruang oiperasi tersebut.


Gilang melangkah gontai dan kuyu, tak bisa ia sembunyikan jika ia begitu terpukul atas kehilangan putra pertamanya.


“Ada apa Nak …?” Diendra orang pertama yang melihat wajah kecewa Gilang keluar dari ruang operasi itu.


“Maaf …” hanya itu yang sempat Gilang ucapkan sebelum tubuhnnya di peluk oleh Diendra, ayah mertuanya.


Tampak perawat membawa satu bayi dengan lampin berwarna meah muda. Kevin segera mendekati perawat itu.


“Mana yang satunya suster?” tanya Kevin agak bingung. Ia tau jika adiknya hamil anak kembar.


“Maaf, kami hanya berhasil menyelamatkan satu bayi. Sedangkan yang satunya sudah meninggal di dari dalam kandungan.” Jawab Suster itu lantang.


“Innalilahiwainalilahirojiun.” Jawab mereka serentak.


“Gilang … sudah kamu adzani putrimu?” Kevin menyadarkan Gilang yang sungguh blank. Kehilangan akal sehatnya.


“Astagafirullahaladzim.” Dzikir Gilang melepas pelukan Diendra. Kemudian beralih pada perawat yang menggendong putrinya, lalu masuk kembali kedalam ruangan untuk melakukan ritual wajib sebagai umat muslim.

__ADS_1


“Gwen Alesha Surenra, aku mengadzani engkau ….” Bisikan lantunan bait adzan menguar pelan di dekat daun telinga Gilang. Bagaimanapun sedihnya kehilangan putra pertamanya. Ia hmasih harus tetap bersyukur masih di beri amanah untuk menjaha buah hatinya bukan.


“Kamu temani Gita saja. Untuk urusan persiapan pemakaman biar kami yang urus.” Kevin ambil alih kedukaan yang menimpa Gilang. Ia tak pernah membayangkan jika adiknya akan menderita kehilangan secepat ini. Ia mengerti perasaan Gilang yang tentu bagai kapal kehilangan nahkoda.


“Kuatlah untuk mereka. Allah lebih sayang putramu, maka jagalah yang tersisa padamu.” Pesan Kevin sebelum membawa Bayi yang sudah terbungkus kain lampin, siap akan di mandikan dan di beri kalin kapan.


Gilang hanya diam. Semacam linglung berkepanjangan. Tak tau harus melakukan apa. Bersyukur banyak orang di sekitarnya untuk mendukung dan mengambil alih semua yang harus ia selesaikan.


“Siapa nama putra kalian ?” tanya Kevin kemudian.


“Genta Akbar Mahesa.” Jawab Gilang. Ya … ia dan Gita sudah merancangkan nama calon putra dan putri mereka. Gita yang meminta, agar putranya nanti akan ia beri nama belakang yang sama dengannya, yaitu Mahesa. Dan Surenra untuk putri yang nanti akan di nikahkan oleh Gilang ayahnya.


Kevin mengangguk menerima jawaban itu. Itu penting Kevin tanyakan, untuk keperluan nama di batu nisan nanti tentunya.


Sementara Gita sudah di pindahkan ke dalam ruang ibu nifas. Beberapa jam berlalu perlahan matanya sudah mulai bisa terbuka. Efek obat bius berangsur hilang. Namun memang ia belum boleh melakukan aktivitas fisik juga pikiran.


“A’a … ?” panggilnya pelan.


“Dimana anak-anak kita …?” tanya Gita ingin tau.


“Mereka di ruangan bayi, Neng.” Jawab Gilang bohonhg. Tidak mungkin kan, dia langsung bilang jika Genta sudah bersama Tuhan di sorga.


“Gwen cantik … ayah?” Gita ingat siapa nama calon anak perempuannya.


“Cantik seperti Eneng.” Ujar Gilang sambil menelan salivanya.


“Genta pasti tampan seperti a’a.” Khayal Gita sendiri. Dia yang sangat ingin nama itu untuk putranya kelak.


“Neng …”


“Iya a’ …”

__ADS_1


“Terima kasih sudah melahirkan dengan selamat. Terima kasih sudah jadi istri sempurna dan luar biasa untuk a’a. I love you … neng.” Gilang mencium cium pipi, mata, dahi dan bibir Gita dengan sangat lembut.


“Terima kasih pada Allah a’ … yang sudah memberi kepercayaan agar kita mengemban amanah menjadi orang tua.” Ujar Gita yang masih belum tau jika anaknya hanya satu yang boleh mereka rawat.


“Cepat sehat ya Neng …” usap Gilang pada tangan yang masih tertancap jarum infus itu. Tes … air mata Gilang jatuh di sana.


“Kenapa a’a nangis …?” tanya Gita heran dengan ekspresi suaminya.


“Terharu neng. Bahagia. Akhirnya kita sungguh telah jadi ayah dan bunda. Terima kasih, sayangku.”


 Tidak ada rayuan gombal kali ini. Gilang sesungguhnyamasih sangat bingung. Kapan harus jujur tentang Genta yang sudah tak bernyawa dan esokpagi akan segera di makamkan.


“Iya A’ Selamat juga buat a’a yang selalu sabar ngadepin eneng yang super cerewet selama hamil mereka. Selanjutnya minta sabarnya di lanjutkan ya a’… temani eneng jadi ibu hebat untuk anak-anak kita.” Pinta Gita


 sambil mengelus kepala yang masih menempel di sisi ranjang pasien.


“Permisi … sudah ada kentut bu? Jika iya, sudah boleh minum sedikit demi sedikit ya.” Tanya perawat yang sudah masuk menerobos ruang rawat Gita.


“Heem … rasanya sudah sejak tadi.” Jawab Gita dengan cepat.


“Oke … bagus. Ini minuman dan makanannya.” Perawat menyodorkan nampan berisi makanan untuk Gita.


“Baiklah. Kapan saya bisa bertemu anak-anak saya suster …?” tanya Gita tak sabar melihat buah hatinya.


“Sehat dan kuat dulu ya … nanti kami akan segera bawa dede bayi nya ke sini.” Jawab perawat itu sambil melirik kea rah Gilang.


Bersambung ….


Maaf Ya readers mereka jadi Tri-G aja, ga bisa jadi Four-G


Salam sehat untuk semua

__ADS_1


__ADS_2