
Gita sudah jauh lebih sehat, baby Gwen kini sudah berusia 6 bulan. Luka pasca operasinya tentu telah mongering luar dan dalam. Pun luka dalam hatinya yang sempat tertoreh akibat kepulangan Genta yang lebih dahulu dari mereka semua.
Benar saja, saat Gita sudah merasa kuat untuk keluar rumah. Makam Alm. Genta adalah tempat pertama yang menjadi agenda kunjung utamanya. Ada tangis yang tercurah bersama dengan air zam-zam yang ia kucurkan untuk membasahi permukaan makam kecil di hadapannya. Tak melihat wajahnya pun membuat Gita rindu, apalagi jika sempat mendengar tangisannya. Untuk itu, Gita bersyukur atas semua yang terjadi. Sehingga ia tak akan terseret dalam ruang rindu yang pasti akan membuatnya terpasung dalam bayangan bayi tak bernyawa tersebut.
Tumbuh kembang Gwen tentulah sangat amat baik. Selain mendapat banyak bantuan dan pengalaman dari baby sitter. Gita pun sungguh telah menjelma menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Yang memang full time hanya mengurus anak dan suaminya. Gita tak menyesal sedikitpun, akan hilangnya rutinitas dunia kerja. Baginya senyuman, tangisan bahkan diamnya Gwen lebih menarik dari apapun juga.
Pipi Gwen tembem, sebab selalu rakus dalam hal menerima asupan makanannya. Di tambah lagi kini Gwen sudah mendapatkan Makanan Pelengkap ASI. Gita dengan telaten memask sendiri makanan yang mengandung gizi terbaik untuk putri tercintanya tersebut. Sehingga, untuk demam pun. Gwen hampir tak pernah rasakan. Gita sungguh tidak menyia-nyiakan kesempatannya menjadi ibu hebat untuk putri mereka itu.
Gilang harus melaksanakan UTS di Jakarta secara tatap muka. Maka ini adalah pengalaman pertama Gwen melakukan perjalanan jauh lewat jalur darat. Hal pertama pula bagi Gita akan bertemu Muna dan anak ke tiganya, Adera. Sebab pasca Muna melahirkan dan kemudian di susul Gita melahirkan. Mereka sama-sama di sibukkan dengan kegiatan yang sama, yaitu mengurus bayi mereka masing-masing. Sehingga pertemuan mereka bahkan tertunda hingga keduanya sungguh telah merasa sehat.
Kevin tidak pernag mengijinkan untuk Muna pergi-pergi lagi sampai Adera berusia 3 bulan. Setelah itu, barulah ia mengijinkan Muna kembali ke Rumah sakit untuk sesekali memeriksa pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sebagai direktur di rumah sakit yang ia pimpin.
“Mae … “ Kevin merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang sudah tidak beraroma minyak bayi lagi di kamar mereka.
“Apa …?”tamya Muna mengerti. Jika panggilan itu keluar. Pasti bayi besarnya ini sedang menginginkan sesuatu.
“Rumkit sedang banyak kerjaan …?” tanyanya menarik pinggang Muna, agar bersatu dan bertumpuk dengan tubuhnya di atas kasur.
“Stabil sih. Aman.” Jawab Muna membalas pelukan suaminya, dengan ciuman-ciuman di pipi suaminya yang tak pernah bersih dari jambangnya itu.
“Liburan yuuk, Mae.” Kevin kalo begini sudah mirip kucing yang sedang merayu majikannya agar di beri makanan tambahan.
“Berdua atau berlima …?” tanya Muna segera.
“Mae … mau berdua saja ?” tanya Kevin balik.
“Ga fokus juga sih. Pasti kepikiran anak-anak. Mereka juga sedang lucu-lucunya.” Ungkap Muna yang selalu bahagia melihat perkembangan anak dan bayinya.
“Abang maunya berdua saja denganmu, sayang. Kita lama a berduaan saja. Abang mau pelukan sepanjang hari sama Mae.” Manjanya sungguh kumat.
“Ada apa sih … bukannya tiap hari kita ketemu di rumah, bang?” jawab Muna menyisir rambut Kevin dengan jarinya.
“Relasi bisnis abang ada ceweknya.” Lapor Kevin tanpa di minta.
__ADS_1
“Trus …?”
“Ya … abang sedang ingin meninjukkan aja pada mereka, kalo abang tuh punya istri.” Jawabnya kekanak-kanakan.
“Harus honeymoon gitu, supaya orang tau abang sudah beristri?” tanya Muna lagi.
“Ga gitu sayang. Relasi itu akan mengadakan family gathering di Turki. Dan abang gam au datang sendiri.” Alasan Kevin lagi.
“Ya udah, kita datang se RT aja. Sama bunda Laras, sama Ami sama bi Nia juga Pap. Gimana?” tawar Muna yang tidak mau terpisah dari paketan lengkapnya.
“Terlalu heboh, Mae. Ini kan acara yang di buat relasi bisnisnya abang. Masa bawa se RT, gitu?” cemberut Kevin pada ide Muna.
“Abang malu punya anak tiga …?” tanya Muna.
“Hah ngapain malu. Punya anak enam aja, abang mau. Apalah ini Cuma tiga …?” senyum Kevin melebar mengucapkan hal tersebut.
“Ya udah kita berangkat rame-rame aja.”
“Ya, kan kita biaya sendiri ga minta bayarkan sama yang ngundang.”
“Tapia bang mau selalu terlihat berdua-dua saja sama Mae.” Ujarnya setengah merajuk.
“Iish …. Bayi besarku segitunya kalo sudah punya mau. Ya sudah, kapan kita berangkatnya …?” Muna mengalah, sambil berpikir jika Adera yang sudah tujuh bulan tentu sudah tak begitu rewel untuk di tinggal beberapa hari.
“Minggu depan …”
“Berapa hari …?”
“Empat hari.”
“Huum. Insya Allah, anak-anak anteng untuk di tinggal. Kasihan mereka.” Ujar Muna setengah bergumam.
“Ga ikhlas ninggalin mereka …?” tanya Kevin lagi.
__ADS_1
“Ya si abang kaya orang miskin. Hanya demi mau berdua-duaan sama Muna, anak harus di tinggal. Di bawa semua kenapa? Yang penting ke acaranya kita hanya berdua. Kalo gam au kelihatan heboh, berangkat dan pulangnya jangan bareng dengan pesawat yang sama. Pake jet sendiri gitu.” Saran Muna pada suaminya.
“Huum … boleh juga. Kalo gitu kita seminggu di sana. Biar lamaan. Dan harus ada satu hari kita berdua tanpa anak-anak.” Ujar Kevin lagi.
“Penting banget ya berduaan itu …?” tanya Muna sambil tersenyum menatap wajah manja suaminya.
“Mae pilih. Abang mau berduaan saja sama Mae, atau berduaannya sama yang lain …?” ancam Kevin.
“Yeee … emang masih laku. Tiga bulan lagi abang usianya 40 lho.” Kekeh Muna menertawai usia Kevin yang akan berkepala 4.
“Cie … yang selalu mengingat usia suaminya. Udah siapin kado apa nih buat yang tercinta.” Ledek Kevin berbalik pada Muna.
“Inget selalu donk. Kan abang kesayangan Muna.” Kecup Muna pada bibir Kevin, sebentar. Hanya sebentar ya gaiish, ga sampe saling sesap menyesap.
“Makasih wanita terindah dalam hidupku.” Kevin mendusel kepala Muna penuh sayang, lalu merengkuh tubuh itu dalam pelukannya.
“Abang boleh minta kado istimewa ga, Mae …?” lanjutnya pelan.
“Apa sih yang enggak buat kesayangan …?” kekeh Muna mendongak kea rah wajah si jambang itu.
“Serius …?” tanya Kevin menatap bola mata istrinya dalam.
“Iya … mau minta apa sih ?” tanya Muna lagi.
“Mau minta Mae hamil lagi.” Jawab Kevin memandang lekat pada wajah wanitanya.
Bersambung …
Maaf ya telat up.
Nyak lagi flu berat. Sibuk dengan tugas lainnya juga. Semoga setelah ini bisa up sehari sekali ya .
Terima kasih🙏
__ADS_1