
"Silahkan masuk bidadariku." Gilang sudah menggesek sebuah kartu di depan salah satu pintu yang letaknya tak jauh dari lift yang baru saja mereka lewati.
"Ini maksudnya apaan nih? kok eneng mencium adanya konspirasi ya antara CEO dan Wakilnya...? a'a sekongkol ya...?" tuduh Gita pada suaminya yang sudah cengar cengir, bingung harus jawab apa. Sebab memang ia tidak tau hal selengkapnya.
"Ga neng, a'a juga ga tau. Kayaknya nasib yang mengantar kita bisa nginap di sini." Jawabnya klasik.
"Tapi dari tadi a'a selow ya, ga ada marah marahnya...?" suara Gita meninggi.
"Iya... sebab kalo yang ada manis manisnya itu, air mineral neng." Gilang memasang senyum paling lebarnya tapi tidak menampakkan giginya. Sampai matanya jadi sipit.
"Eh, sekarang bukan waktunya bercanda ya a'. Ga lucu...!!!" Gita hilang rasa kantuk. Berganti dengan rasa geram dan dongkol jadi satu. Bisa bisanya suaminya itu bercanda, di saat emosi masih memenuhi kepalanya.
"Siapa yang ngelawak?" tanya Gilang agak malas meladeni kemarahan istrinya. Memilih berpendar, mengagumi kemewahan kamar yang akan mereka tempati malam ini.
Sebuah suiete room dengan ukuran 72MΒ², yang lebih pantas di samakan dengan ukuran sebuah apartement. Ruang tamu yang terpisah dengan kamar tidur. Kamar mandi marmer yang mewah. Bahkan view yang di sajikan merujuk pada Kota dan teluk Marina, pemandangan ikonik dari Marina Bay, elegan, indah, mewah dan akan bikin betah.
Gilang menelan salivanya sendiri, otak kalkulatornya langsung berhitung cepat. Ia terbiasa mengurus keperluan Kevin. Ia juga hapal dengan selera bosnya itu. Jika Gilang tak salah, ia dapat menaksir tarif satu malam di kamar ini, sama dengan nafkah yang ia berikan untuk ibunya. 5 juta, itu pasti. Kurang mungkin tidak, lebih iya.
Ah, sudah lah. Gilang terlanjur cinta. Perse tan dengan segala keiritannya selama ini. Toh, selama ini ia sudah mati matian bekerja keras. Mungkin dengan begini, ia bisa sesekali menikmati pencapaiannya. Juga tidak sendiri, ada Gita istrinya yang juga harus ia bahagiakan dengan hasil jerih payahnya selama ini, bukan kah rejeki akan datang bertubi tubi, jika telah memuliakan istri.
"A'a... a'a kerja sama kan dengan kak Kevin?" desak Gita lagi.
"Ga ada neng. Dari tadi bukannya kita nempel aja berdua kayak perangko?" Ujarnya meletakan tas pakaian mereka dalam lemari.
"Lalu kita bisa ke sini?"
"Nah kalo itu bukan sekongkol namanya. Kan eneng sendiri yang menerima amplop kecil dari ibu bos tadi."
"Gimana?"
"Isi amplop tadi, ya akses kartu masuk kamar ini, neng."
"A'a bilang hanya ucapan apa tadi...?"
"Ya... kalo di kasih kartu kamar hotel, apa dong namanya, kalo bukan selamat berbahagia dengan pasangan?"
__ADS_1
"Aah... udah udah. Makin lelah otak kalo gini. Hah... udah jam 1 aja, tidur gih. Besok kita, pulang jam berapa a'...?"
"Astagafirullahalazim, a'a lupa beli tiket neng." Gilang tepok jidat.
"Mampus daah, ntar setelah bersih bersih lagi. Di tempat tidur aja, nanti kita sama sama belinya. Kita memang repot seharian ini." Simpul Gita yang sudah tidak berdaya untuk marah lagi.
Keduanya sudah dengan piayama couple kotak kotak berwarna dasar putih, menambah ke uwuan pasangan pengantin baru itu. Pakaian itu merupakan kado dari Ninik saat di resepsi beberapa minggu yang lalu.
Cup.
Gilang mencium pipi Gita.
"Supaya marahnya reda." Ucapnya dengan senyum tampannya.
Gita wajahnya masih datar saja, lalu mengambil ponselnya. Akan membeli tiket secara online. Tapi baru ia akan membuka aplikasi itu. Panggilan icon biru sudah meronta untuk di sentuh. Mama Ay, begitu nama dan wajah yang tertera. Gita pun menggeser, untuk menerima panggilan tersebut.
"Selamat ulang tahun adikku yang cantik. Bagaimana kejutannya?" yang muncul wajah tengil Kevin dan sedikit dada tanpa busana menutupinya di sana.
"Kakak noraaaaak." umpat Gita melampiaskan perasaan dongkolnya. Dan breng se knya Kevin hanya terbahak menertawai wajah kesal Gita.
Gita menangis, sudah luruh rasa kesalnya berganti haru. Ia sendiri lupa jika hari ini adalah hari kelahirannya, saking sibuknya. Dan tak pernah terpikir olehnya jika seorang Kevin akan memberikannya kejutan lagi, semanis ini padanya.
Gilang mengusap bahu Gita pelan. Membuat Gita melepas ponselnya, memilih dada Gilang untuk menyembunyikan tangis bahagianya.
"Pak bos, terima kasih ya." Gilang terpaksa mengambil alih panggilan itu.
"Santai saja Lang. Oh, iya. Maaf, tadi sore kamar itu sempat kami pakai untuk Mae berdandan sebentar. Tapi tenang, semua tagihan sudah ku buat atas namamu. Ha... ha... ha..." Kevin ke sininya sudah tengil, gokil lagi. Hilang sangar dan tegasnya seperti saat menghadapi mak ghinah squad tempo hari.
"Kak... makasih." Ujar Gita yang sudah meredakan tangisnya.
"Sama sama. Nanti jam 11 siang kami numpang makan dengan kalian di situ ya. Mau lah sekali kali kakak ngerasain di traktir Git." Kekehnya lagi.
"Iya kak... di tunggu. Thanks a lot my brother." Jawab Gita dengan senyum tulusnya. Lalu panggilan itu berakhir.
Gita lagi, menyambar tubuh Gilang. Masih speeclesh dengan rangkaian yang Kevin lakukan untuknya.
__ADS_1
"Gita Putri Mahesa istriku, selamat ulang tahun ke 29. Kadonya ntar pilih sendiri ya, a'a belum banyak tau selera eneng." Bisik Gilang pelan di telinga istrinya itu.
"Selalu ada dada ini untuk neng menumpahkan rasa sedih, kesal, marah, juga bahagia itu saja sebenarnya sudah cukup a'. Bagaimanapun di miliki oleh orang sesabar a'a tuh, bagi eneng adalah anugrah." jawab Gita manja.
"Jangan berlebihan menyanyangi manusia, ada Allah yang maha memberi segalanya neng." Gilang tak mau takabur.
"Berulang tahun memang indah. Akan tetapi lebih indah jika berulang kali bersama a'a." Gita memandang tulus ke arah suaminya itu.
"Yaaah gombal. Gimana perasaannya? Udah baik baik saja?" tanya Gilang merapikan rambut Gita yang masih acak adut.
"Alhamdulilah, lega a'. Ternyata prank ulang tahun." Jawabnya meringan.
"Cape...?" tanya Gilang.
Gita hanya merosotkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Tak menjawab.
"Mau bikin sepupu Ay dan Nay...?" tanya Gilang ikut meluruskan tubuhnya seperti Gita.
"Pelukan aja a'. Sepertinya waktunya tidak efisien. Takut hasilnya tidak berkualitas." Jawab Gita memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Gilang.
Lagi, kening Gita jadi sasaran empuk Gilang mengungkapkan rasa sayangnya.
"Baiklah bidadariku. Selamat tidur." Gilang mengangkat kepala Gita agar berbantal pada lengannya. Sesuai permintaan Gita, mereka hanya berpelukan sampai pagi menjelang.
Bersambung...
Jangan lupa ini dunia halu ya
Di dunia nyata manusia model mereka ada 1 banding 1000.
Senin Votenya di mari yaak
Selamat berbuka puasa
Makasih
__ADS_1
πΉπΉββππππ