CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 109 : REMPONG


__ADS_3

Mendadak suasana dalam masjid itupun begitu syahdu dan khusuk. Saat kesakralan yang tercipta dengan sendirinya oleh kesucian janji pernikahan Asep dan Siska. Dan rangkaian setelah menandatangani surat nikah. Mereka melaksanakan tradisi sungkeman kepada kedua orang tua mereka yang hadir lengkap. Lagi-lagi suasana mengharu biru.


Sebagaimana inginnya orang tua melihat anaknya menikah, dan seberapa dewasanya sang anak yang telah memutuskan diri untuk memilih pasangan hidupnya. Namun, tak ada yang bisa membendung air mata bahagia sekaligus getir akan masa depan anak-anak mereka nantinya saat menjalani mahligai rumah tangga.


Dari segi usia pun psikologis, baik Asep maupun Siska sudah sama-sama matang. Pekerjaan tak perlu di khawatirkan bahkan untuk masa depan mereka kelak. Walaupun tak sebanding dengan kekayaan yang keluarga Kevin miliki juga di susul pelan pelan oleh Keluarga Gilang nantinya. Tetapi, bukankah rejeki masing-masing telah di atur sesuai takarannya masing-masing.


Maka dengan mengucapkan kata Bismilahirohmanirohim. Kedua orang tua Asep pun orang tua Siska, memilih percaya bahwa anak mereka telah di takdirkan untuk hidup bahagia bersama selama mungkin.


Kedua mempelai sudah meninggalkan masjid yang di tetapkan untuk melaksanakan ijab qobul. Sangat kental terasa suasana kampong tempat mereka melaksdanakan hajatan.


Sebab sepanjang jalan dari masjid sampai pekarangan ryumah Siska, di banjiri dengan aneka jualan. Mulai dari jajanan kecil seperti, baso, cilok, terlur gulung, jagung bakar, sosis panggang. Juga aneka minuman mulai dari es kelapa, pop ice, boba dan lain lain, hingga tawaran dagangan, mainan anak anak mulai dari yang mahal sampai yang murah. Semua bagai pameran mendadak di sana.


Hajatan seperti ini memang sering di manfaatkan para pedagang untuk mengais rejeki, walaupun di dalam rumah memepelai pun sudah tersedia beraneka jenis makanan yang tak kalah lezat dan berlimpah.


Tetapi, itulah suasana di kampong. Orang orang diu desa haus hiburan, apalagi melihat panggung di depan rumah Siska sudah setinggi kepala bocah kelah 5 SD, sudah siap mengguncang orang orang desa setempat.


Siska dan Asep di arak berjalan kaki saja dari masjid menuju rumah, dapat di bayangkan betapa seru, ramai dan uniknya suasana pernikahan pria berwajah oriental tersebut. Terlebih-lebih ayah Asep. Dae Jung yang memang asli Korea, tentu merasa takjub dan tak hentinya tertawa menyaksikan pagelaran hajatan anaknya sendiri. Walaupun ini adalah kali keduanya menikahkan anak. Namun, Kakak Asep perempuan dan menikah dengan pria yang juga masih memiliki keturunan Korea. Sehingga gaya persta pernikahan mereka menyesuaikan dan lumayan modern.

__ADS_1


Hanya wajah Asep yang Korea, tiba di acara nikahannya nol besar. Orang kampong berasa melihat salah satu personil BTS nikah di kampong mereka. Jika tak ingat ini hari bahagianya, ingin rasanya Siska menjambak-jambar rambut para cewek-cewek kampong yang secara terang-terangan mengambil foto selfi berlatar belakang suaminya itu.


“Oppa… tangannya jangan lepas dari siku ini.” Bisiknya dengan masih memasang senyum kearah depan juga mengangkat alisnya memberi kode pada pria yang baru resmi jadi suaminya tersebut.


“Iya… nyi. Jangankan siku. Yang lain juga siap akang pegang-pegang.” Oh… Asep yang tak pernah mau di panggil oppa, dan lebih nyaman dengan sebutan akang pada dirinya sendiri.


Siska melempar senyum kecut sebentar pada Asep. Tak berani lama-lama, demi menjaga marwahnya yaitu sepasang pengantin yang sedang berbahagia lahir dan batin.


Siska mengenakan pakaian kebaya bermodel sederrhana, namun detailnya adalah mute mute Kristal yang berkilauan. Membuat penampilannya begitu mempesona dan memukai. MUAnya pun, sampai terkagum dengan detail pakaian yang costumernya gunakan. Sebab, awalnya ia hampir menolak untuk bekerjasama dengan Siska. Menyadari jika job itu akan di laksanakan di sebuah kampung, pesisir pantai.


Pengalaman yang pernah ia terima adalah nantinya akan kesulitan mendapatkan tempat tidur yang layak. Harus ekstra kekat menjaga peralatan riasnya. Mengingat akan keamanan di perkampungan, mungkinada saja pernduduk atau warga yang terlampau kepo ingin tau barang-barang bawaannya.


Tak hanya MUA, para kru fotografer pun, semua di ijinkan menginap di resort milik Kevin secara gratis. Jadilah job tersebut bagi mereka justru menjadi ajang liburan sambil bekerja.


Jangan di tanya berapa tahun Siska menabung agar dapat pakaian mewah impiannya itu, tentu saja semuanya di hadiahkan Muna untuk Siska, yang dulu adalah sahabat tetapi kini menjadi saudara iparnya. Ah… tak semua bernasib sebaik Siska. Sebab tak semua orang juga memiliki hati yang tulus seperti Siska dalam urusan menjaga pertemanan mereka selama ini. Walaupun banyak kesempatan untuk Siska, mungkin menyikut, atau sekedar merebut perhatian Kevin misalnya. Tapi, Siska terlanjur bahagia sejak Muna membawanya pindah dari kostnya ke rumah babe waktu itu. Saat Muna hanyalah anak pasangan penjual ketoprak di pinggira jalan, hingga kini ia menjadi milyuner.


Tak hanya Anaya yang mulai rishi, Muna juga lumayan gerah dengan suasana yang makin siang. Makin berjubel para tetamu yang ingin menyampaikan doa restunya pada Asep dan Siska. Rupanya para kolega bisnis dan langganan pak Herman semua mendapat undangan hajatan yang besar besaran itu.

__ADS_1


Mestinya Muna tak seloyo itu, jika saja ia tak di gempur oart dua di pagi hari. Tetapi, siapa yang mau di salahkan. Toh mereka berdua sama-sama menikmati gelora asmara yang selalu membara di antara mereka tersebut.


“Mamam… Ay boleh main di cana mam?” tarik Aydan pada tangan Muna yang satunya, sebab satunya menggendong Naya yang kulit mukanya mulai memerah dan akan menangis.


“Boleh… tapi sama papap ya…. Ay.” Jawab Muna.


“Ga mau… maunya cama mamam aja, cama de Naya juga. Yuk… mam.” Rengek Aydan yang tergoda dengan jualan maian di luar pekarangan perhelatan akbar tersebut.


“Tapi de Naya kepanasan Ay.” Tolak Muna.


“Gam au… cama mamam.” Paksa Aydan yang mulai rewel tak seperti biasanya. MUngkin karena sejak pagi tak bersama Muna, membuatnya mencari perhatian.


“Iya… sebentar. Mamam titip De Naya sama bunda Laras dulu ya…”


“Cepat mam… nanti… nanti mainannya di ambil olang mam. Tuh… cepaat.” Paksa Aydan menarik narik tangan Muna , agar cepat. Ya… begitulah nasib emak-emak dua anak. Walau punya baby sitter, tetap saja sang anak memilih bersama orang tuanya. Sebab hari mereka memang selalu banyak di habiskan bersama itulah kebiasaan yang Muna sendiri tanamkan. Tak pernah mau anak-anaknya lebihdekat dengan orang lain, pengasuhnya sekalipun.


“Ay… tunggu sebentar. Mamam antar ade dulu ya. Jadi mamam bisa lama temanin kaka Ay.” Pinta Muna dengan lembut, di tengah hingar bingarnya music yang suah gludak gleduk jeder di atas panggung sana. Pun, teriakan Naya yang sepertinya meminta perhatian Muna lebih. Kebayang btapa rempongnya Muna saat itu.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2