
"Kenapa ? Nyai... kangen akang ya?" Siska masih agak geli mendengar panggilan Nyai yang dilontarkan Asep kepadanya. Entah apa perasaannya saja, Siska merasa bagai menjadi si Iteung dalam sebuah kisah Si Kabayan yang begitu fenomenal dari daerah Bandung.
"Oppa..." rengeknya pelan agak manja, membuat Asep lebih mendekatkan dirinya lagi dengan Siska.
"Ada apa?" tanya Asep lebih mendekat dan tersenyum sedikit ke arah Siska.
"Oppa ... bajuku kemarin mana?" tanyanya masih dengan suara pelan yang hanya mereka berdua mendengarnya.
"Oh, iya. Subuh tadi ku minta Miska bawa pulang untuk di cuci." Astaga, hanya karena mendengar Asep meminta Miska ART tante Rona itu mencuci bajunya saja, mengapa hati Siska menghangat, berlonjak kesenangan mendapat perhatian lelaki yang kemarin kemarin terlihat cuek bebek padanya.
"Hah... sempet sempetnya. Kepikiran nitip sama mbak Miska." ujar Siska.
"Anu... mungkin wanginya nano nano Sis. Karena hampir seharian kan kamu pake." Jawabnya lagi dengan senyum samar.
"Ada apa sih, kalian berdua dari tadi bisik-bisik ?" tanya bu Nirmala pada Asep dan Siska.
"Gak ada apa-apa bu. Ini kita mau pulang, ga mungkin kan, pulang dengan pakaian Rumah Sakit ini. Tenyata Asep sudah minta mbak Miska mencucinya." Ujar Siska menjelaskan pada ibunya.
"Mbak Miska siapa?" tanya bu Nirmala ingin tau.
"ART yang bekerja di rumah tante Rona bu. Semalam ikut tidur di sini, dan pulang tadi pagi saat Siska masih tidur. Jadi ga tau kalo bajunya di bawa untuk di cuci." Jelas Asep.
"Oh... kirain kalian tidur cuma berdua." Fokus bu Nirmala justru soal tidur buka pakaian Siska.
"Assalamualaikum..." suara khas terdengar dari balik pintu ruang rawat inap Siska.
"Walaikumsallam." sahut mereka yang mendengar salam itu menguar di ruangan tersebut. Yang datang itu adalah Rona.
"Waaah ada ibunya Siska. Apa kabar mbak? Kapan datang?" tanya Rona ramah langsung menghambur memeluk bu Nirmala terlihat sangat akrab.
"Baru siang ini, mama Muna." Jawab bu Nirmala membalas pelukan Rona.
"Nak... kasih salam sama tante Rona. Ini mamanya Muna teman kak Siska." Bu Nirmala langsung memperkenalkan Rona pada dua anak yang di ajaknya serta.
__ADS_1
"Waah... ada adiknya Siska. Siapa namanya...?" Rona antusias menerima salim dari Mirna dan Antoni.
"Mirna..." Mirna memperkenalkan dirinya pada Rona dengan sopan.
"Anto..." Rona mengelus kepala Antoni saat tangannya di cium hormat.
"Gimana tadi di jalan...? Mabuk tidak?" tanya Rona ramah menyambut Mirna dan Antoni.
"Tidak tante." Jawab Antoni dan Mirna hanya menggelengkan kepalanya.
"Alhamdulilah. Oh iya Sis, tadi tante sudah menelpon dokter Daya. Katanya kamu sudah boleh pulang sore ini, penyakit radang usus mu tidak berbahaya, juga tidak ada komplikasi. Tapi harus tetap menjaga kesehatan. Terutama pola makanmu. Jangan makan makanan yang pedas dulu, jangan makan makanan yang instan juga. Intinya jangan makan sembarangan. Untuk jam makannya pun harus teratur, jangan suka melewatkan waktu makan. Begitu kalau mau sehat." Urai Rona bahkan melebihi pesan dokter pada Siska tadi.
"Iya... tante." Jawab Siska tanpa bantahan.
"Oh iya ini, tante bawakan pakaian bersihmu. Maaf hanya di cuci, tante tidak membeli yang baru. Ga tahu kalau hari ini kamu akan keluar." Ucapnya menyerahkan paper bag kepada Siska yang sudah jauh lebih sehat dari kemarin.
Siska sebenarnya agak malu pada pemilik rumah sakit tersebut. Yang juga ibu dari temannya. Sebegitu perhatian padanya, sampai-sampai mau mengantarkan pakaiannya macam kurir.
"Maaf merepotkan tante... " jawab Siska agak sungkan karena perhatian orang sekaliber Rona kaya tetapi sangat rendah hati itu.
Siska pun beringsut ke kamar kecil untuk mengganti bajunya, bersiap akan pulang tentunya.
"Mbak nanti tidur di rumah kaminsaja, ada ambu. Beliau pasti suka jika tau ada mbak di sini." Ajak Rona pada bu Nirmala agar mau tidur di rumahnya.
"Ah... lain kali saja mama Muna. Kami agak lama juga di sini. Karena mereka berdua ini libur, jadi sesekali lah ke sini jenguk Siska, sekalian ajak liburan." Jawab bu Nirmala apa adanya.
"Baiklah... tapi janji ya. Menginaplah barang semalam di rumah." Rona tetap menginginkan ibu Siska menginap di rumahnya.
"Insya Allah." ujar Bu Nirmala tak berani memastikan. Sebab belum mendapatkan ijin dan persetujuan dari Siska.
Kemudian mereka pun berpisah. Rona kembali ke rumah, dan Asep yang memang di tugaskan untuk mengantar Siska, ibu dan kedua adiknya.
Tak ada kata yang dapat Siska juga ibunya sampaikan. Selain terima kasih sebanyaknya. Sebab, Siska benar keluar rumah sakit itu tanpa syarat. Bahkan pulangnya mendapat sangu obat yang wajib ia konsumsi hingga seminggu ke depan.i
__ADS_1
Matahari sudah terbenam, cahaya keemasan pelan-pelan samar ditelan langit malam yang mulai pekat. Waktu maghrib telah berlalu, Isya pun datang.
Mirna dan Antoni sudah berpendar menggeledah seisi rumah babe Rojak yang sederhana namun sebagian isinya sudah berubah dengan barang kekinian. Terutama di kamar Siska yang kini terletak di loteng atas. Apa lagi kamar Muna yang sudah mirip kamar hotel yang lengkap dengan kamar mandi di dalamnya.
Siska sudah agak jarang masuk rumah itu lewat pintu utama. Karena lebih sering masuk menuju kamarnya lewat tangga samping menuju loteng atas yang memang di rancang khusus bahkan dengan fasilitas cukup lengkap di atas sana, dari kamar mandi, hingga dapur kecil pun ada di atas. Sehingga Siska memang bagai kost saja tinggal di atas rumah babe Rojak tersebut.
Mirna dan Antoni sudah sangat betah dan kesenangan saat masuk kamar Siska tersebut. Menyalakan TV sambil kembali menikmati ayan goreng dalam ember yang mereka beli siang tadi.
Sebelum pulang Asep menyempatkan pamit pada Siska dan ibunya.
"Bu... Asep pamit ya. Maaf tidak bisa lama menemani di sini. Besok minggu. Asep sudah harua kembali ke Bandung, senin masuk kerja." Ujarnya sopan pada ibu kekasihnya tersebut.
"Oh... ga papa nak Asep. Ibu terima kasih banyak atas pertolongannya. Maklumlah Siska tinggal sendiri di sini. Jadi, merepotkanmu." Jawab bu Nirmala sungguh merasa terbantu dengan adanya Asep di sana.
"Tidak repot bu. Anak ibu kesayangan Asep, jadi wajar saja Asep yang perhatikan. Hanya tidak bisa maksimal, karena kami masih tinggal beda kota." Ujar Asep terhenti saat melihat Siska berjalan menuju mereka yang masih di ruang tamu.
"Bu... anak gadisnya buat Asep saja ya bu. Untuk jadi teman hidup mengarungi bahtera rumah tangga bersama selamanya." Asep nekad, entah itu lamaran atau bukan. Tapi baginya meminta Siska pada wanita yang melahirkan kekasihnya itu adalah hal penting untuk membuktikan keseriusannya.
"Insya Allah kalian berjodoh Sep. Ibu hanya bisa mendoakan, selebihnya kalian yang menjalani. Jauh atau dekat jarak kalian nanti dalam menyusun langkah selanjutnya. Pesan ibu, jaga diri kalian." Bu Nirmala mendadak bijak, sedikit terpana melihat keberanian Asep meminta anak gadisnya dengan serius.
"Baik bu. Asep akan jaga Siska hingga halal bagiku." Ucapnya lantang memastikan hubungan mereka akan aman hingga berakhir di pelaminan.
Bersambung...
Okeeh gaiis
Ramadhan lewat
Lebaran juga sudah
Kawin... kawiiin 😂
Belum bosan kan??
__ADS_1
Besok Senin yaa
VOTEnya jangan lupa, arahkan ke sini. Makasih❤️❤️❤️