
Asep tidak tau menau mengapa pintu kamar di tutup Ambu dengan keras. Menurutnya, mungkin Ambu tidak sengaja, sehingga Asep cuek saja. Kemudian melakukan ritual sarapan bersama Siska, si istri tercinta. Pun tak ada yang ganjil, di tangkapnya dari sikap Siska yang seperti biasa, selalu berseri menyambut sinar mentari pagi.
Setelah memastikan Siska sudah berangkat di jemput oleh Tama Asisten Kevin. Asep pun mengetuk pintu kamar Ambu yang hanya berjarak 15 langkah dari ruang tamu dan pintu depan.
"Lho … kok tasnya penuh. Ambu teh mau kamana?” tanya Asep bingung melihat ada dua tas pakaian terisi penuh dan padat di kamar Ambu.
Asep membukanya dan melihat isinya baju semua.
"Ambu mau kamana?" ulang Asep pada Ambu yang masih terlihat sibuk mengemasi barang-barangnya.
" Ambu mau pulang. Ambu lebih suka tinggal di desa. Di rumah Ambu sendiri." Jawabnya dengan masih tidak melihat ke arah lawam bicaranya.
"Ambu marah ...?" Huh ... Pertanyaan macam apa yang keluar dari mulut Asep. Maling mana mau ngaku, gengsi tau.
"Ambu ga betah tinggal sama Asep ....?" Ambu masih tak bergeming.
"Sayang ... Pendekatan Asep sama Siska udah lama banget. Bahkan dulu Ambu yang semangat supaya Asep sama Siska. Ternyata setelah jadi istri yang baru 2 minggu ini, Ambu sudaj bosan dengan rumah tangga kami. Maafkan kami ya, Ambu. Jika ada tingkah kami, atau Siska yang nyakiti hati Ambu." Asep merebahkan dirinya di atas tempat tidur Ambu.
Ambi masih diam saja.
"Kalau Asep tau, nikah dan punya istri hanya bikin jarak Ambu sama Asep jadi jauh begini. Mending Asep ga usah nikah, biar bisa sama Ambu aja selamanya." Asep memandang langit-langit kamar dengan tatapan nyalang. Dia tidak tau duduk permasalahannya. Tapi yang pasti ia tak suka dengan gelagat Ambu yang seperti orang sedang merajuk. Marah tak jelas
maksudnya.
"Maaf. Ambu teh cuma ngerasa sudah tidak di perlukan lagi di sini. Jadi lebih baik Ambu hidup sendiri." Jawabnya dengan kerongkongan yang bagai terhalang batu koral, buntu juga sesak di rasanya.
__ADS_1
"Itu hanya perasaan Ambu saja. Ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada ..." Ambu berkeras. Masih tidak mau menyuarakan isi dalam hatinya.
"Tidak mungkin. Asep bahkan lebih lama bersama Ambu di banding Siska. Jadi, Asep tau jika Ambu sedang tidak baik-baik saja. Ambu bilang saja, sejak kapan Ambu menyimpan rahasia dengan Asep." Ia masih rebahan di atas kasur milik Ambu.
"Kamu tidak pergi kerja A'a Cep. Ini sudah jam berapa?" Ambu mengalihkan pembicaraan.
"Untuk apa Asep kerja. Kalau dua wanita yang Asep sayangi, tidak mau jujur sama Asep. Ambu akan pergi tanpa alasan yang jelas. Nanti kalau Asep tanya sama Siska, pasti juga tidak akan bilang apa-apa dan lagi, lagi Asep di minta harus mengerti dengan sendiri tanpa ada tanda-tanda yang jelas." Asep banyak omong, sengaja memancing agar Ambu mau jujur.
"Kamu sudah beristri, Ambu hanya jadi benalu dalam rumah tangga kalian. Ambu mau kerja, tapi di larang istrimu. Ambu tidak bekerja, badan dan tulang Ambu sakit semua.” Keluhnya jujur.
“Masa Siska berani ngelarang Ambu …?” Asep memang baru kenal Siska, tapi bukan berarti ia tidak tau karakter wanita yang sudah sah menjadi istrinya tersebut.
“Huh … semua lelaki ya sama saja. Saat sudah punya yang baru pasti selalu lebih membelanya. Apalagi Ambu hanya nenek yang sudah tua renta ini.” Otak manusia yang sudah lama hidup memang begitu ya, perlahan-lahan balik seperti anak-anak. Masa, Ambu menyamakan dia dan Siska yang jelas tak bisa di samakan, bahkan beda genre.
“Ambu itu nenek, bahkan ibu dan abah dadang saja tak pernah melawan dengan semua yang Ambu tetapkan. Dan tidak mungkin Siska yang baru kemarin masuk dalam keluarga kita, sudah berani memarahi Ambu. Asep akan ambil sikap. Asep tidak segan memberi hukuman padanya, jika sudah menyakiti hati ambu.” Ujar Asep lagi.
“Ulah kitu Asep. Siska mah, tidak seburuk itu juga. Tadi, dia Cuma bilang. Supaya Ambu jangan repot-repot ngurus apa-apa di rumah, termasuk sarapan juga bebersih rumah kalian. Jadi untuk apa Ambu di sini?” tanyanya yang makin terdengar begitu kekanak-kanakkan.
“Masa Ambu masih tanya untuk apa di sini ? Apa Ambu tidak mau lihat kami punya anak?” Maaf jika Asep terlalu jauh bermimpi. Asep teh, pengeeeen banget Ambu selalu sehat dan panjang umur, agar sempat melihat dan bermain sama cicit Ambu. Abah Dadang saja, sampai mengeluarkan uang banyak hanya demi menyambungV nyawa. Ingin selalu hidup dengan sehat. Supaya tetap bisa melihat cucunya dari teh Mona. Laaah Ambu, Cuma di minta bersantai menikmati hidup saja sudah marah, ambekan.” Papar Asep menyentil Ambu.
“Kalo gitu bilangin ke Siska, jangan larang Ambu mau kerja apa saja di rumah ini.”
“Bukan hanya Siska yang marah, Asep juga tidak setuju kalo Ambu yang kerepotan ngurus rumah dan lainnya.”
__ADS_1
“Ambu ga repot, atuh. Asep.”
“Ya .. sudah kalo rasanya memang tidak merepotkan, lakukan saja. Apa tadi Siska sampai marah-marah sekali dan menyampaikan dengan kasar tegurannya?” Asep perlu kepastian apakah Siska sudah keterlaluan pada Ambu.
“Tapi, Ambu. Mau dia kasar atau tidak. Merajuk itu bukan solusi. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik. Jadi, karena Ambu merajuk. Asep juga mau merajuk.”
“Asep the mau apa?”
“Asep mau ikut Ambu ke desa juga.” Asep pura-pura saja. Agar VAmbu sadar diri.
“Ya … jangan atuh. Asep teh masih pengantin baru. Pamali atuh pisah-pisahan.”
“Ya kalo Ambu ngambek gitu …” rajuknya tak mau kalah.
“Dasar Asep mah, tengil. Kamu the sejak dulu ga bisa buat Ambu marah. Ya sudah sok, bantu Ambu kembalikan baju ke dalam lemari. Ambu ga jadi merajuk.” Agak malu nenek yang mul;ai pikun itu mengembalikan pakaian ke susunan semula.
“Ambu sudah selesai marahnya …?” tanya Asep.
“Siapa yang marah …?”
“Oh … ga ada yang marah ya. Itu … ayam mas Trisno yang tadi sempat mau bertelor di tempat kita.” Asep sengaja bercanda untuk memastikan jika Ambu sudah kembali ke pengaturan awal.
“Maafin Ambu. Bilang sama Siska. Ambu ga repot ngurus makan dan bersih rumah. Justru Ambu teh, gam au dia repot. Supaya kalian cepat dapat momongan. Ambu kasian liat dia, pergi pagi pulang hampir petang. Apa masih ada tenaganya untukmelayani suami.”
Hah … punya mertua yang tinggal serumah memang agak nyeri-nyeri sedap. Tergantung mood dan kesabaran kita saja menghadapinya.
__ADS_1
Bersambung …