CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 221 : KADO TERINDAH


__ADS_3

Master of Ceremony adalah orang yang bertugas sebagai pemimpin acara. Mereka adalah orang yang di percaya sang punya hajad untuk memandu sebuah acara, agar tertib lancar juga semarak. Sebelum acara berlangsung tentu sudah ada pembicaraan berkaitan konsep dan apapun yang berkaitan dengan terselenggaranya acara nanti agar selalu dalam rasa yang nyaman bagi para tamu undangan juga rasa bangga dari yang punya acara.


Kevin sudah berhasil berdiskusi dengan Ebonk begitu namanya, selaku pembawa acara nanti. Dan tadi ia juga sudah bilang, jika acara penyerahan kado dari istrinya di coret saja. Dan langsung melompat ke acara doa, di lanjutkan acara remeh temeh dan segera makan – makan saja.


Tapi bagaimana Kevin menghentikan lajunya acara itu, saat dengan suara yang tidak pelan Ebonk sudah memanggil istri Kevin untuk menyerahkan hadiah untuknya. Kevin paham, jika setelah ini akan di amuk oleh Muna yang malu dan keki. Muna merasa di permalukan saat ia tak siap namun di panggil untuk ke atas panggung untuk menyerahkan sesuatu yang sama sekali tidak ia miliki. Kevin lebih tau karakter istrinya ketimbang Ebonk itu.


“Sekali lagi … kami panggilkan ke atas panggung kepada Ny.Kevin Sebastian Mahesa untuk menyampaikan kado untuk suami tercintanya.” Kevin buru-buru mengambil mic lima langkah di depannya. Ia sendiri yang akan menutup rasa malu istrinya, akibat misskomunikasi dengan MC yang katanya kondang ini. Buktinya, MC itu gagal membuat suasana malam ini lancar dan meriah. Kevin kesal di buatnya.


Muna buru-buru naik ke atas panggung. Mengejar suami yang sudah menangkap microphon. Di tangannya ada sebuah kotak kevil.


Kecil saja.


Hanya dapat di pegang dengan satu tangan, ringan pula. Satu tangan Muna memberi isyarat pada Kevin agar tidak berbicara sebelum ia naik mendekati suaminya.


Mengatur nafas sebentar, lalu Muna mendekatkan tubuhnya ke mic yang tentu sudah on fire.


“Selamat malam semuanya. Selamat datang pada perayaaan ulang tahun suami saya tercinta, abang Kevin Sebastian Mahesa. Papap Aydan, Annaya dan Adera. Sehat selalu, makin sayang keluarga, makin cinta Allah. Maaf jika Muna ga sempat belikan apa-apa buat abang. Tapi, percayalah Muna tetap memiliki niat untuk berikan sesuatu yang semoga abang suka.” Ucap Muna tegas lancar dan tak berkedip memandang wajah Kevin yang mulai di landa cemas.


Melihat dari kotak di tangan Muna, hah. Kevin yakin. Muna pasti menghadiahinya sebuah arloji atau cincin. Bukankah dari kotak itu sangat jelas, kecil dan tampak ringan saja. Tapi dengan wajah yang di buatnya sebahagia mungkin, ia pun menerima kado itu, tak lupa di akhiri dengan ciuman di kening Muna agak lama.


“Buka … buka … buka” Eh busyeeet.


Itu Ebonk sepertinya, pulang nanti memang dengan tangan kosong ya. Ga bakalan Kevin bayar akibat mulutnya celamitan saat menjadi pembawa acara. Pake kode buka kado di tengah orang banyak lagi. Kevin tau, isi kadonya basi. Bahkan dadakan. Bisa saja kan Muna tadi menyuruh siapa gitu pergi ke Mall untuk membelikan kado ini.


“Buka saja Bang … orang-orang penasaran.” Ucap Muna memberi ijin pada Kevin.


Hanya Muna yang melihat senyum sinis Kevin di atas panggung. Ia sungguh menaruh curiga dan tidak terima dengan kado dadakan ini. Tetapi, ia tak mau mempermalukan Muna, sesuai arahan. Kevin pun mulai membuka kado itu. Mulai dari menarik pita warna marron yang melilit kado itu. Kemudian pelan pelan membuka kotak persegi tersebut.

__ADS_1


“Taraaaaaa….” Lagi lagi Ebonk heboh sendiri. Mendramatisir keadaan. Seolah-olah di dalam kotak itu memang sesuatu yang menakjubkan.


Dan ternyata isinya memang di luar ekspektasi Kevin. Itu bukan jam, juga bukan cincin berlian atau jamrud. Sebab di dalam itu adalah sebuah benda terbuat dari plastik seukuran telunjuk berwarna putih. Bahkan ada tiga macam berbentuk batangan.


Hah …? Tiga batang?


Apa itu.


Kevin hampir tak percaya melihat isi dalam kotak. Kado itu isinya tidak di dapat dari suruhan kurir, juga tidak di dapat dari Mall mana saja. Ini sungguh tidak bisa di perjualbelikan. Kevin langsung memeluk Muna, mencium-cium kening, pipi, mata, dagu juga bibir Muna. Hampir tak bernafas di buatnya.


“Terima kasih Mae.” Ucapnya bertubi-tubi.


Kemudian Kevin mengangkat tiga batangan dari dalam kotak tadi. Kado itu adalah alat tespack dari berbagai merk alat tes kehamilan. Dan semua alat itu menunjukkan bahwa kini Muna sedang berbadan dua. Pantas saja Muna tidak merasa perlu repot membeli kado untuk Kevin. Bukankah ia sendiri yang pernah merengek pada Muna untuk di berikan anak lagi sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke empat puluh.


“Waaaaaah … congratulation. Pak Kevin akan menjadi ayah lagi niiih.” Suara Ebonk kesininya udah mirip toa lho. Ngalahin suara Nyak Time yang lagi kegirangan.


“Huuuuuu…” riuh rendah sorak sorai para tamu yang ikut bahagia dengan pencapaian pasangan beda usia yang selalu produktif nambah anak itu.


“Udah 2 bulan.” Jawab Muna.


“Ini produk mana?” tanya Kevin. Maklum ia mana pernah tau kapan Muna melepas IUDnya. Bukankah terakhir ia sudah janji minta anak dan Muna tidak bersedia karena Adera masih terlalu kecil untuk di kasih adik. Tapi … hati dan pikiran manusia mana ada yang tau kan.


“Sebelum kita hooneymoon yang terakhir. Pas abang bilang ga minta Muna hamil lagi. Di situ Muna sadar. Kalo Muna ga boleh egois. Jadi sebelum itu, Muna lepas IUD, Muna siap menerima bibit premium abang lagi. Tapi …” Kalimatnya menggantung.


“Tapi apa?” Kevin penasaran


“Abang janji. Setelah ini, Muna ga mau hamil lagi. Muna udah mau fokus ngurus anak anak sampai besar sambil kerja. Oke?” Nego Muna masih di sekitaran para tetamu yang berseliweran menyalami mereka.

__ADS_1


Sungguh kado terindah bukan.


***


Tidak ada drama muntah, lemes dan masuk rumah sakit pada kehamilan Muna yang ke empat ini. Semua ia jalani dengan enjoy tanpa beban. Hingga waktu mengantar mereka pada masa Muna harus bersalin.


“Dokter … langsung lakukan operasi kecil saja. Untuk menutup pabrik anak itu.” Pinta Kevin pada dokter kandungan. Ia sungguh menepati janjinya. Untuk tidak lagi meminta Muna hamil dan menambah pasukan keluarga merekan.


“Selamat pak, bayinya sehat dan cantik. Beratnya 3,3 kg panjang 50cm.” Dokter menyerahkan bayi yang sudah terbungkus lampin itu pada Kevin untuk ia adzani.


“Adiba Myesha Hildimar, aku mengadzani engakau …..” Kevin Mulai mengadzani putri bungsunya.


Kevin pernah bercita-cita memiliki anak empat di usia 40 tahunnya, sudah tercapai. Dia juga pernah berjanji akan adil dalam hal memberi nama belakang pada putra putrinya. Sehingga kini Adiba sungguh telah menjadi pelengkap keluarga Mahesa dan Hildimar yang berjumlah seri.


Aydan Athallah Hildimar, Annaya Intan Mahesa, Adera Bintang Mahesa dan Adiba Myesha Hildimar.


TAMAT


Dengan lahirnya anak ke empat Kevin dan Muna. Maka berakhirlah pula karya berjudul Cukup Satu ini. Walau Endingnya sebenarnya tidak begini dan tidak sesuai dengan kerangka yang nyak buat. Tapi, jujurly nyak ga sanggup dengan segala hujatan jika kisah aslinya nyak mainkan. Sebab nanti akan jadi sad ending. Jadi, sampai di sini saja ceritanya.


Selamat bertemu pada kisah cinta dan masa depan cemerlang anak-anak mereka pada karya nyak selanjutnya dan selanjutnya.


Jangan unfollow.


Nanti akan ketemu Aydan di judul yang rilis di pertengahan tahun ini. Mungkin di bulan Juni atau Juli.


Terima kasih selalu setia.

__ADS_1


Dan mohon maaf jika dalam penulisan atau komen author ada kejanggalan juga kesalahan yang menyinggung hati para pembaca.


Wasallam


__ADS_2