CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 67 : MIRNA DAN ANTONI


__ADS_3

"Kalo jodohnya Siska hanya ASN gimana bu?" Asep bahkan tidak peduli ada adik Siska bersama mereka saat itu.


"Sep... Sep. Mau ASN kek, pedagang kek, atau profesi apa saja, asal tidak maling atau pencuri. Ibu ga masalah. Yang penting seiman, bertanggung jawab dan Siskanya mau. Biar anak presiden, kalo dia nya ga mau, gimana?" cerocos bu Nirmala langsung.


"Ah ... masa Siska ga mau sama anak Presiden bu?" goda Asep masih menyusuri lorong menuju kamar Siska .


"Ya kan mereka sudah nikah semua. Mana mau dia, ntat di sebut pelakor... ya kan." Bu Nirmala tetap berapi api menjawab pertanyaan Asep.


"Asep sih, sebenarnya bukan pencuri bu. Tap Siska yang sudah berhasil mencuri." Bisiknya mendekat daun telinga bu Nirmala. Agar yang ia ucapkan tidak di dengar Mirna dan Antoni.


"Hah.... Astagafirullahalazim. Ibu salah mendidik gimana sampai di berani jadi pencuri. Dia mencuri apa Sep? ketahuan polisi belum? Apa dia akan di penjara? Ya Allah... ampuni dosaku ya Allah."


"Stt... jangan keras keras bu. Belum ketahuan polisi, juga ga akan di penjara. Paling di bawa ke KUA."


"Hah... kamu ngomong tuh yang jelas ya Sep. Jantung ibu sakit Sep." Hardiknya dengan suara meninggi.


"Siska sudah berhasil mencuri hati Asep bu. Kalo ibu ijinkan, mau Asep ajak nikah."


Bugh...


Punggung empuk Asep sukses mendapat pukulan dari bu Nirmala.


"Kamu tu ya Sep. Bercandanya kelewatan sama orang tua. Norak bangey... huh." Bukannya percaya, Ibunya Siska justru menganggap semua yang Asep sampaikan tadi adalah lelucon.


Obrolan itu tidak berlanjut. Sebab Asep sudah membuka ruang rawat inap yang di tempati Siska.


"Ibuuuu....!!!" seru Siska setengah berteriak.


"Assaalamualaikum." Sapa bu Nirmala sambil melangkah ke dalam.


"Walaikumsallam bu. Mirna, Anton." Seru Siska senang.


"Kamu sakit, apa pura pura sakit sih Sis? mana ada pasien duduk selonjoran di sofa." Bu Nirmala terkejut melihat Siska yang dengan santai duduk di sofa. Tanpa ada selang infus lagi di tangannya.


Sepeninggalan Asep tadi, rupanya perawat sudah melepas jarum dan selang yang tertancap di punggung tangan kanan Siska.


"Ya sakit lah bu. Ini bekas jarumnya masih di lem." Tunjuk Siska pada plester yang tertempel di punggung tangannya.

__ADS_1


"Iya juga sih. Kamu sudah sembuh?"


"Iya... sore ini sudah boleh pulang. Begitu pesan dokternya tadi." Jawab Siska.


"Alhamdulilah. Syukuur lah, kalau kamu bisa segera keluar dari rumah sakit ini. Jika tidak bisa-bisa uang tabungan kamu bisa habis untuk bayar biaya pengobatan mu di rumah sakit mahal ini." Kata Nirmala tanpa tedeng aling-aling.


"Siska disini tidak dikenakan biaya, bu. Karena semua sudah ditanggung oleh tante Rona." Potong Asep cepat. "Alhamdulillah... baik sekali sih mereka." Dengan penuh syukur. "Siska, kamu sangat beruntung memiliki teman seperti Muna. Bahkan sampai keluarganya pun sangat memperhatikan mu, menganggapmu seperti saudaranya sendiri." Lanjut Bu Nirmala sangat merasa beruntung karena anaknya memiliki sahabat sebaik hati Muna.


Suasana hening sejenak saat Mirna dan Antoni mengelilingi seluruh ruangan ruang rawat inap Siska tersebut.


"Ibu..., kita malam ini tidur di sini ya?" tanya Antoni dengan polosnya.


"Oh tidak, Nak. Kan tadi kakakmu bilang, dokter sudah mengijinkan dia pulang. Jadi ya, kita ikut pulang juga." Jelas bu Nirmala.


"Yaaah... kok pulang. Padahal di sini bagus sekali lho Bu. Tadi Anto sudah masuk ke ruangan itu, tuh... ada pancurannya Bu, di dalam. Pasti sangat menyenangkan bisa mandi di sana." lanjut Antoni tanpa malu-malu menunjuk kamar mandi yang ada di dalam rumah sakit itu.


"Iya Bu. Di sana juga ada ranjang yang besar dan sepertinya empuk. Enak untuk di tiduri." Mirna menambahkan alasan Antoni.


"Hussh... kaliam berdua ini apa apaan sih. Ini tuh rumah sakiy. Bersyukur bisa cepat pulanh. Laaah... malah mau mondok di sini. Gimana sih?" hardik bu Nirmala pada dua anaknya.


"Di mana itu kak?" tanya Mirna.


"Sinii..." Panggil Asep lalu melangkah ke arah jendela, berharap kediaman Hildimar akan terlihat dari sana, sebab masih dalam satu komplek.


"Naah.. itu tuh rumahnya. Kalo ialan kaki paling 15 menit dari sini. Mau?" Antoni berlari menengok ke arah luar jendela.


"Waah... rumahnya tinggi kak. Pasti bagus." Polos Antoni takjub.


"Anto...!!!" Hardik Siska agak malu atas ke katro an adik adiknya.


"Bu... ibu. Kita nginapnya di sana ya." Rengek Antoni tak mengerti dengan hardikan Siska tadi.


"Tidak To. Kita akan menginap di mana kakakmu Siska tinggal." Tegas bu Nirmala pada anaknya.


"Ga papa To. Rumah babe Rojak juga sekarang sudah bagus. Kamar mandinya juga ada pancurannya kok. Ya kan Sis?" Asep mencari pembenaran.


"Iya... rumah babe Rojak sudah lebih besar dan bagus,. bertingkat juga. Nanti kamu lihat, pasti betah." Ujar Siska lebih lembut dan tenang.

__ADS_1


"Tapi sebelum ke sana, Anto mandi di sini dulu ya kak." Siska mendengus agak kesal. Ini adiknya keras kepala, bahkan udiknya ga ketulungan. Siska jadi malu pada Asep.


Tapi, Asep justru merasa lucu. Dan tampak senang saja melihat tingkah polah adik kekasihnya itu.


"To... kamu ga lapar. Mau makan ayam goreng uenak ga?" tawar Asep lagi pada Anto yang bahkan baru pertama kali ini ia kenal dan temui.


"Mau... mau kak." Setengah berteriak kegirangan mendengar akanakan ayam goreng.


"Bu... boleh ajak Mirna dan Anto makan di luar? Biar ibu yang temani Siska, gimana?" pinta Asep sopan.


Bu Nirmala membesar besarkan bola matanya ke arah Mirna dan Antoni.


"Awas ya kalo kalian bikin malu kak Asep. Jangan makan berantakan. Jangan banyak tanya. Diem aja, apalagi kamu To." Belum berangkat saja, pesan bu Nirmala sudah seabrek abrek. Ingin ikut serta, tapi Siska perlu teman, ingin tinggal. Serasa tak percaya dengan kedua anak udiknya itu.


"Ya sudah Sep... ajak saja. Tapi kamu jewer saja kuping mereka jika bikin malu. Apalagi Anto yang masih bangor itu." Bu Nirmala mengijinkan.


"Tenang saja bu. Nanti Asep bawa ke ruangan khusus yang ga banyak di liat orang." Jawab Asep menghibur.


"Emang ada?" Siska ikutan be go, merasa baru tau jika tempat makan ayam goreng ada ruangan private.


"Ya di ada ada in lah." Jawabnya sambil tersenyum tampan.


"Kami berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Pamitnya.


"Walaikumsallam, hati-hati ya Sep." Sahut ya berpesan.


"Iya bu." Sahutan itu untuk bu Nirmala, tapi tidak dengan matanya.


Mata Asep yang sedari tadi seolah menyiratkan permintaan ijin pada Siska kekasih hatinya


Bersambung...


Maunya up 2x sehari


Apalah daya... masih banyak tidur timbang ngehalu


Makasiih semua❤️

__ADS_1


__ADS_2