CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 83 : HAMPIR SEMPURNA


__ADS_3

"Tujuan kita nikah tuh, saling setia. Jadi mohon eneng jangan curiga. A'a ga pernah punya niat untuk selingkuh atau apapun. Eneng tak tergantikan di hati a'a. Kecuali sama...." Kalimat Gilang belum selesai tapi sudah dapat pelototan dari mata Gita.


"Kecuali sama siapa A'...?" Semprot Gita cepat.


"Ya sama Gita Junior lah." Jawab Gilang enteng, sambil berdiri mengantar piring bekas makanan kotor mereka tadi.


"Emang anak kita nanti cewek a'...?" pancing Gita, mengikuti Gilang yang langsung mencuci piring.


"Semua ada dong neng. Cowoknya dua, ceweknya satu aja." Jawab Gilang pasti.


"Kok ceweknya cuma satu...?"


"Jangan banyak banyak, karena keturunan Mahesa itu cantik. Yang ngawal harus dua, kaya eneng. Di jaga banget oleh Pak Bos dan Bang Daren, plus pak Diendra." Jelas Gilang.


"Eneng tersanjung, a'." Kekeh Gita membuat buat rupa wajahnya makin membuat Gilang gemes.


Gilang meraup tubuh istrinya, setelah memastikan tangannya sudah bersih dan kering. Meletakkan bo kong itu di atas meja, lalu mengendus endus area leher Gita.


"A'a... ngapain di sini." Rintihnya berbalut senang. Sebab posisi itu sungguh baru baginya, bagi mereka berdua pastinya.


"Mumpung kita belum punya anak, neng. Kita harus eksplor seluruh ruangan rumah kita ini." Jawabnya makin merapatkan tubuhnya pada wanita pujaannya tersebut.


"Masa di atas meja makan juga sih." Oh Tuhan, Gita mentah banget sih. Kurang refrensi atau hanya malu, ketika di ajak bereksplorasi di area dapur. Kalah jauh dong sama Kevin dan Muna, yang bahkan sempat buat mobil bergoyang di basement apartemen di Singapura waktu itu.


"Ya... kali yang ini bisa jadi cowok. Neng." Jawab Gilang yang tangannya bahkan sudah berpendar seadanya di area kembar favoritnya.


"Hah... bukannya jadi cowok. Malah jadi tukang masak ini a'..." Tolak Gita melepaskan tautan tangan yang sempat terpindai di tombol coklat di dadanya tersebut.


"A'a di tolak nih neng?" tanya Gilang melihat pergerakan istri yang tak biasa berulah demikian.


"Tuh... pukul berapa? Isya an dulu kali A'. Biar berkah buat anaknya." Jawab Gita melengos dengan sengaja justru melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya, berjalan ala pragawati menuju kamar mereka.


"Heeiii... peragaan apaan tuh?" Gilang segera menyusul Gita yang memang tampak sengaja menggodanya


"Mau wudhu A'... Sucian dulu." Ujarnya girang, melihat suaminya terusik.


"Ya ga gitu juga kali neng lepas bajunya." Kesal Gilanh so' merajuk.


"Buruan wudhu. Setelah sholat siap... di gempur sampai pagi deh." Tantang Gita.

__ADS_1


"Masya Allah..." Gilang mengeleng geleng. dengan tingkah istrinya yang makin hari makin nakal saja.


Pagi merekah, matahari cerah ceria. Secerah senyum manis sempurnanya Gita dan Gilang yang tentu saja sudah melakukan ritual program pembuatan anak.


Jangan lupa Gita anak sultan, juga menikah dengan wakil CEO. Tentu saja sangat mampu untuk membeli hairdryer, untuk menyamarkan sisa sisa kegiatan semalam. Dan keramas di pagi hari.


Sehingga saat ke kantor, pemandangan yang terlihat hanyalah geraian rambut kering, lembut dan wangi saja yang terurai sehat di belakang bahunya. Tak terkecuali Muna, yang walau sudah beranak dua, tetapi untuk urusan cari pahala, melayani suami juga sudah termasuk dalam kebutuhan primer Kevin.


"Git... bisa ke ruangan CEO?" kepala Muna nyembul di ruanga sekretaris, untuk meminta Gita menuju ruangan suaminya. Nampaknya Muna sungguh tak pernah absen untuk selalu hadir di perusahaan hampir ia kuasai sahamnya tersebut.


"Baik." Jawab Gita singkat. Sembari berdiri dan menyempatkan menulis notes dan menempelkannya di atas dokumen yang ia antar ke ruangan wakil CEO. Ya... mereka masih seperti masa baru jadian. Yang selalu berkirim notet pendek di antara dokumen yang akan mereka kerjakan, untuk sekedar berbalas pesan singkat dengan tulis tangan mereka.


"Permisi..." sapa Gita tanpa mengetuk ruangan Kevin.


"Masuk Git. Santai saja, papap Ay ke Cisarua. Gilang juga lagi di pabrik kan. Jadi kita santai dulu lah di sini." Jawab Muna sambil mengutak atik ponselnya, membuka layanan siap antar makanan.


"Oh... iya kak." Jawab Gita melesatkan pan tatnya pada sofa di tengah ruangan itu.


"Eh, gimana semalem. Di omelin Gilang ga sih pulang nya kelamaan?" tembak Muna agak penasaran.


"Di omelin sih ga. Hanya, kalo bisa, jangan di ulangi saja." Jujur Gita pada Muna.


"Ya... itu sih sama saja. Marah donk dianya."


"Huum... sabar. Nanti juga bakalan rame kalo sudah punya the krucil krucil." Hibur Muna kembali pada Gita.


"Pasti lah kak."


"By the way... Kamu udah fix akan resign dari perusahaan ini Git?"


"Iya kak. Kayaknya udah yakin deh."


"Beneran? Kamu bakalan di rumah terus lho, tanpa ketemu temen untuk sekedar bersenda gurau. Ga ada lagi masalah yang kadang bikin penat tapi juga ngangenin lagi." Muna tampaj menawar keputusan Gita.


"Jangan bikin goyah dong, mam Ay. Aku dah bayangkan semuanya, dari resiko terbaik sampai terburuknya kok. Insya Allah aku siap."


Muna hanya mengangguk angguk.


"Insya Allah. Siapa aku gitu yaa. Hanya memandang dari versi aku yang emang dah cita cita jadi wanita karier, walau lelah bagi waktu untuk anak, suami juga kerjaan. Tapi, itu adalah hal yang membuatku bahagia." Kenang Muna pada cita citanya sejak dulu yang memang sangat ingin kerja kantoran. Mana ia tau, justru kini menjadi direktur sebuah rumah sakit.

__ADS_1


"Kalo urusan cita cita, aku juga ga mungkin sampai kuliah di Inggris dong. Hanya, sekarang sepertinya aku mau fokus ke keluarga saja terlebih dahulu. Sebab semuanya tak bisa terulang ulang, jadi ku hanya ingin menikmati setiap fasenya dengan caraku." Jawab Gita klasik.


"Ya... dan cara kita menikmati itu berbeda beda." Setuju Mun.


"Oh... iya. Soal penggantimu, aku liat CV dan performa Melani, oke. Tapi, kakak mu itu, si papap Ay. Ga setuju lho, kalo sekretaris Gang nantinya cewek. Jadi kemungkinan besar, yang kita tempatkan di posisi itu adalah Gibran. Tergantung Gilang aja, mau Melani atau Gibran. Pilihan dari kami hanya dua nama itu saja." Jelas Muna tanpa di minta. Tentu saja hati Gita bersorak, bergembira. Sebab finalnya pada Gilang.


Jika Kevin mampu bernegosiasi dengan Muna, hingga nama Gibran yang muncul untuk jadi penggantinya. Gita yakin tak kalah handal untuk merayu suaminya, agar merujuk pada nama Gibran saja. Jika hanya nama itu yang di rekom sang kakak.


Jika nama itu telah lewat seleksi Muna dan Kevin, Gita sangat yakin akan kualitasnya. Bukankan secara tidak langsung Gilang Surenra yang dulu tukang kebun, lalu sektertaris, aspri dan WaCEO bahkan kini telah jadi suaminya juga telah melewati filter kedua orang tersebut. Dan hasilnya...? hampir sempurna. Hampir saja ya, sebab kesempurnaan hanya milik Allah.


Bersambung...


Oh Tuhan...


Sumpah nyak tuh kangen banget sama kalian.


Hamvaah tau ga sih, ga bisa nulis lanjutan kisah ini.


Sedih aku tuh, tiap kali mau nulis, selalu mental. Keluar dari NT😭


Lapor sana, lapor sini


Curhat sana, curhat sini.


Akhirnya setelah 7 hari mati suri


Nyak bangkit lagi.


Seneng bisa jumpa kalian lagi


Terima kasih untuk yang masih setia, tetap setia dan terus setia.


CUKUP SATU masih punya banyak utang part.


Siska blon nikah, Gita belum hamil.


Masa brenti kaan, ga baeeeuut.


Okeh... met membaca

__ADS_1


Nyak mau nulis lagi dan lagi


Demi kalian❤️


__ADS_2