
Keadaan dapur rumah Siska mendadak nano-nano, yang tadinya sibuk menyiapkan bumbu untuk ikan bakar. Tetapi kini berubah agak mellow. Gita terkadang sadar akan keinginannya yang kelewatan bahkan konyol. Tapi ia sendiri pun, seolah tak sadar sudah berkehendak ini dan itu secara berlebihan. Semacam di luar kendalinya sendiri.
Sementara, Gilang, Asep dan Antoni sudah tiba di pelabuhan kecil daerah pantai. Dan Gilang juga Asep sedikit takjub melihat pemandangan di sana. Penunjuk waktu memang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam, Tetapi suasana di tempat itu lebih tepat di sebut pasar. Beraneka kegiatan ada di tempat tersebut.
Ada yang sudah melakukan transaksi jual beli ikan, ada pula yang masih bekerja sama mengangkat ikan dari jaring besar,bahkan ada yang baru saja mengikat kapalnya yang sarat akan muatan kekayaan laut tersebut.
Senyum Gilang lebar, selebar-lebarnya. Sirna sudah perasaa dongkol, kesal dan cemasnya tadi saat berangkat. Demi melihat ikan yang berhasil ia bawa pulang untuk istri tercinta. Ini bahkan pengalaman pertamanya membeli ikan langsung dari laut. Bukan hanya karena harga yang jauh lebih murah, tetapi kesegaran ikan yang ia dapatkan itu yang sangat membuatnya puas. Belum lagi ia bisa dengan bebas memilih ikan dengan ukuran besar dan kecil sesukanya, Gilang yakin. Gita, istrinya pun akan senang melihat ikan yang ia dapatkan.
“Gimana Ton, aman?” tanya Gilang pada Antoni adik ipar Asep yang masih berseragam putih biru.
“Beres kak, aman.” Jawab Antoni yang sudah dengan sigapnya menyusun boks dari bahan styrofom tebal di bak belakang pick up ayahnya.
“Untung Antoni di bawa tadi. Selain sudah tau jalan, dia juga terpikir untuk bawa boks itu.” Celetuk Gilang pada Asep yang duduk di sampingnya.
“Bukan terpikir untuk membawanya, tapi mungkin sudah terbiasa. Iya ya Ton?” Asep memberikan pertanyaan langsung pada Antoni.
“Iya kak. Kalo urusan belanja ke sini memang sudah jadi tugas Anton. Biasa dengan ibu.” Jawabnya
“Siapa yang nyetir?” tanya Gilang lagi.
“Ya Antoni ganteng lah kak.” Kekeh nya menjawab pertanyaa Gilang.
“Heei belum cukup umur kamu berkendara…” ujar Asep.
“Ya memang sih, tapi di desa kan jarang ada Polisi kak. Lagi pula Anton kan sudah dapat ijin mengemudi secara lisan.”
“Siapa yang kasih ijin?”
“Ayah dan ibu. Hanya Negara yang belum kasih Surat Ijin Mengemudinya.” Kekeh Antoni menanggapi pertanyaan Gilang.
“Sa aja kamu.” Imbuh Asep.
“Kasiah ayah kak, kalo sudah cape di toko. Kadang juga ikut angkut barang. Eh, tiba giliran stok ikan ibu habis untuk produksi aneka olahan lautnya, juga harus di antar ayah. Makanya Antoni di ajarin nyetir, supaya ngurangin kerjaan ayah.” Jelas Antoni yang masuk akal.
__ADS_1
Asep dan Gilang mengangguk pelan. Menyetujui alasan Anton tadi.
“Kak … bisa berhenti dulu ga?” pinta Antoni.
“Kenapa?”
“Antoni mau duduk sama ikan saja di belakang.” Pintanya tiba-tiba.
“Ini malam Ton, makin dingin kalo duduk di bak belakang.” Jawab Asep pada adik istrinya itu.
“Ga papa kak. Yaa… boleh yaa…” desaknya secara terus menerus. Membuat Gilang menginjak pedal rem untuk menghentikan laju mobil itu, untuk menurunkan Antoni.
“Hati-hati kamu di belakang jangan ngobrol sama ikannya. Entar kalian melakukan konspirasi untuk sama-sama kabur.” Canda Gilang pada Antoni yang sudah melompat ke atas bak di belakang.
“Justru Antoni ganteng mau jaga ikannya, supaya bisa sampai dengan selamat sampai rumah kak.”kekeh Antoni menjawab candaan Gilang.
Kendaraan roda empat itupun berlanjut menyusuri jalan yang mereka lewati tadi, sungguh mitos atau misteri menurut kepercayaan orang-orang terdahulu, waktu pulang dari suatu tempat memang selalu lebih singkat di bandingkan waktu berangkat, sebab katanya. Para pepohonan dan tumbuhan di alam itu selalu bertanya akan tujuan orang-orang asing. Orang-orang yang baru melintasi dan mereka jumpai, sehingga terasa lebih lambat dan lama saat melewatinya.
“Ga papa, ga repot juga. Malah aku senang, tadi pengalaman pertamaku lho. Bisa melihat transaksi orang-orang mendapatkan ikan yang biasa hanya kita lihat di pasar atau sudah ada di super market. Proses yang panjang ya, ikannya udah beberapa kali pindah tangan. Selain kondisi ikan semakin layu, harganya juga jauh lebih mahal ketika sampai di kita.” Asep mengungkapkan kesenangannya.
“Hmm … tadinya mau kesel lho, karena Eneng mintanya malam-malam gini. Ternyata dia malah dapat ikan berkualitas premium.” Tukas Gilang.
“Anak kalian cerdas tuh, kesannya aja maksa. Tapi ia mau yang terbaik untuk perkembangan otaknya.” Asep menanggapi dengan tenang.
“Ha … ha … iya perkembangan otaknya. Tapi mestinya ga kayak gini juga. Hari ini yang masuk ke perut Eneng tuh dari ikan kalengan, ke ikan olahan , sampai akhirnya ikan segar. Ini masih dalam kurung waktu belum 24 jam lho Sep, kamu bayangin betapa ku cinta padanya, ha … ha … ha….” Bahak Gilang menertawai dirinya yang baru sadar sudah di peras sang istri.
“Haaaallaaah, bucin kamunya.” Ledek Asep ikut menertawai Gilang.
“Kamu udah lewat 24 jam belum sih jadi suami Siska. Ntar kamu juga akan kena giliran kayak yang aku rasakan. Banyak-banyak berdoa supaya pas Siska hamil nanti, ngidamnya yang anteng-anteng aja. Awalnya aku bingung, kenapa selain kata selamat yang orang sampaikan pada istriku saat ketahuan hamil, selalu di lanjutkan dengan kata sabar yang di tujukan untukku. Bukankah aku juga layak di beri kata selamat, apalagi itu hasil tembakan jitu ku. Mestinya aku dong yang hebat bisa nembak tepat sasaran. Eh, ternyata oh ternyata. Efek peluru yang tertelan di rahimnya itu, memberi efek sampai ke jantung, hati, jiwa dan ragaku. Aku terkena imbas dari senjata ku sendiri.”
Ungkap Gilang panjang lebar.
"Senjata makan tuang donk." Kekeh Asep.
__ADS_1
“Lagian, siapa suruh nembak bener gitu?” lanjut Asep lagi.
“Ya emang di keker sebenar mungkin sih. Sampai josh.”
“Giliran tepat sasaran bingung?” ledek Asep lagi.
“Bukan bingung aja, takjub malah efeknya sekuat itu.”
“Nyesel …?”
“Ya enggak lah. Seneng seneng cemas, Sep.”
“Senengnya…?”
“Ya kan bakal nambah keturunan.”
“Cemasnya …?”
“Takut aja, kalo ga bisa kasih pelayanan prima untuk istri yang udah mau di hamilin. He … he … he …”
“Intinya bersyukur aja kali ya, Lang.” Asep memberi kalimat penenang untuk Gilang. Walau ia sendiri belum pernah merasakan sensasi menjadi suami yang sudah berhasil menghamili istrinya.
“Itu adalah hal wajib yang kita miliki Sep. Rasanya tuh amazing banget. Semoga kalian cepet nyusul ya …” Ucap Gilang menatap sebentar kearah Asep.
Asep hanya terdiam.
“Ya pasti lah cepet, buatnya aja langsung ga pake nanti.” Lanjut Gilang lagi sambil tersenyum sendiri.
“Maksudnya …?” Asep pura-pura blo”on.
“Ga usah pura-pura gitu. Bukannya kalian udah nembus nirwana semalam. Aku yang merana, ga bisa main-main dulu karena Eneng baru hamil.” Curhat suami yang istrinya baru hamil muda bahkan lemah kandungan.
Bersambung …
__ADS_1