
Kevin mencoba untuk menenangkan Muna yang tiba-tiba melankolis. Tidak dapat ia salahkan juga perasaan cengeng Muna yang datang itu. Sebab ia pun menyadari sejak mereka menginap di resort hingga di rumah, Annaya memang seolah tak betah dekat-dekat dengan Muna.
“Liburan di sini kita akhiri saja ya Mae. Siang ini kita pulang saja. Mau ke Jakarta atau Bandung?” ujar Kevin yang tidak sanggup lama-lama melihat kesedihan istrinya yang jarang murung tersebut.
“Jakarta aja.” Ujarnya segera berdiri untuk segera mengemasi semua barang-barang agar bisa segera pulang ke Jakarta.
“Mungkin de Naya ga cocok suasana di sini ya, bang. Jadi agak rewel.” Simpul Muna bicara pada Kevin.
“Ya namanya juga masih bayi Mae, adaptasinya kan ga sama dengan kita.” Sambut Kevin yang juga ikut membantu Muna untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Sementara di luar, Annaya tampak sudah baik-baik saja. Ia senyum senyum dengan Gita yang
duduk di sofa tengah rumah itu.
“Sini Nay, sama om Gilang aja sambil liat aunty Gitanya.” Gilang mengambil alih Annaya yang tadi sempat berpangku dengan Gita. Tentu Gilang tak mau Gita merasa terbeban dengan menggendong Annaya. Walau hanya bayi yang tak seberapa berat. Tetap saja Gilang sudah mulai memainkan perannya sebagai calon ayah yang mendukung kehamilan yang mereka inginkan itu.
“Ummmaah… ummaah umaaah.” Gita mencium-cium wajah dan sekitaran mulut Annaya dengan gemas.
“Iih wangi banget sih mulutnya, bayi … bayi. Makan apa siih?” tanya Gita ke arah Laras.
“Hah… Cuma ngedot aunt.” Jawab Laras segera.
“Masa… wanginya tuh susu banget. Enak.” Celetuk ibu hamil yang mulai menunjukkan selera ngidamnya tersebut.
“Oh… mungkin aroma biskuitnya tadi kali.” Jawab Laras lagi.
“Biskuit…?”
“Iya… sebentar bunda ambilkan.” Laras segera tergopoh-gopoh ke kamarnya. Untuk mengambil bungkusan biscuit pemberian kakak Asep yang kemarin memberikan untuk Annaya.
“Ini kali yang wangi.” Laras menyodorkan sebuah bungkusan biscuit bergambar bayi itu pada Gita.
Gita segera membuka bungkusnya dan menghirup aroma dari dalam bungkusan itu.
__ADS_1
“Eh iya bener, ini yang wangi. Boleh di Gita makan bun?” tanyanya tanpa malu.
“Ya bolehlah. Kebetulan, mamam ga ijinkan de Naya makan biscuit ini.” Terang Laras pada Gita dan Gilang yang memperhatikannya dengan seksama.
“Kenapa?” tanya Gilang penasaran.
“Karena de Naya belum genap 6 bulan. Ini kan makanan tambahan untuk bayi di atas 6 bulan.”
“Terus kenapa di kasih?” tanya Gilang lagi.
“Karena kemarin de Naya nangis terus. Di kasih susu di dotnya gam au isep. Sama mamamnya juga tambah rewel. Pas di kasih kakaknya mas Asep ini. Malah suka dan kenyang.” Jells Laras sekaligus curhat.
“Emang efeknya apa bun, kalo di kasih sebelum 6 bulan?” tanya Gita sambil mulai mengunyah makanan pelengkap selaian ASI itu dengan antusias.
“Efeknya mungkin akan luka lambung. Karena itu makanan keras bagi bayi, jika di makan langsung seperti aunty sekarang.” Ujar Laras menunjuk Gita yang krak krek saja mengunyah biscuit itu secara langsung.
“Oh… tapi Naya kemarin ga makan begini kan?” tanya Gita lagi menyadari biscuit itu makn
lama makin sedikit.
“Jaman sekarang kan semuanya sudah di pelajari aunt, jadi semua ada peraturan kapan boleh makan apa gitu. Kalo jaman dulu. Huh… bayi tiga bulan saja sudah makan nasi lembek yang Cuma di uyel uyel, lalu di suapkan untuk bayinya. Sekarang, mana boleh.” Ujar Laras melanjutkan curhatnya.
“Itulah gunanya orang-orang sekolah dan melakukan penelitian bun. Tujuannyakan agar generasi selanjutnya semakin sehat.” Ujar Gilang memberi jalan tengah.
“Iya sih, tapi mamam udah terlanjur marah sama bunda.” Laras sungguh merasa tak nyaman atas keputusannya untuk memberi Annaya makanan tambahan kemarin.
“Udah ga papa. Bu Muna ga pernah lama kok marahnya, hanya emosi sesaat saja. De Naya juga mungkin belum bisa beradaptasi di sini, jadi serba salah yang ia rasakan.” Lanjut Gilang terdengar seperti menghibur Laras, agar tidak terlarut dalam rasa bersalahnya.
“Laras, kemasi barang. Kita pulang siang ini.” Suara Kevin terdengar saat ia keluar dari kamarnya dan mendekat pada perkumpulan orang-orang yang ngobrol tadi.
“Baik pak.” Ujar Laras sigap.
“Maaf, titip de Naya ya.” Ujarnya pada Gilang dan Gita yang hanya duduk bersantai. Keduanya mengangguk menyetujui permintaan Laras.
__ADS_1
“Tuh… Naya anteng sama kalian.” Tukas Kevin melihat anaknya dalam gendongan Gilang.
“Ini sih bukan anteng kak, tapi malah ketiduran lagi.” Gita memperhatikan bayi yang dalam dekapan suaminya tersebut.
“Hah… masa?” Kevin mendekat dan memastikan Annaya, yang ternyata benar sudah kembali tidur dengan nyeyak bersama Gilang.
“Sampah apa ini?” tanya Kevin memegang bungkusan biscuit yang teronggok di atas meja dekat mereka.
“He…he.. makanan yang de Naya makan kemarin. Yang bikin mamam kesel.” Jawab Gita cengegesan.
“Di kasih lagi? Sampai habis gini?” tanya Kevin dngan suara agak tinggi.
“Tidak. Bukan bayi ini yang habiskan, tapi bumil yang ngiler sama makanan itu.” Jawab Gilang tertawa senang. Karena bisa menyebut istrinya dengan sebutan Bumil, entah hatinya berbunga-bunga menyadari akan gelar itu di sandang Gita sekarang.
“Waah… ngidam biscuit bayi nih ceritanya. Buruan borong deh Lang, buat Gita. Masih mending kalo hamil Cuma minta di kasih makan biscuit bayi, jamin sehat dan bergizi. Ketimbang minta yang aneh-aneh dan ga musimnya. Pusing-pusing deh kamunya.” Kekeh Kevin ikut senang melihat adiknya mulai memasuki masa masa serunya hamil.
“Pagi semua…” Suara centil mama Indira terdengar dari depan pintu masuk. Tanpa salam ia sudah menerobos masuk dan memeluk Gita.
“Sayangnya mama… ih udah hamil ya. Selamat ya, makasih mama mau tambah cucu lagi nih.” Ujarnya memeluk Gita dengan bahagia.
“Hmm… iya makasih ma.” Jawab Gita membalas ucapan gemas dari mamanya.
“Jaga Gita yang Lang. Jangan buat capek dan sedih ibu hamil.” Ujar Diendra lebih kepada Gilang.
“Iya pi. Insya Allah siap.”
“Anak mama ngidam apa nih? Mau makan masakan mama?” tanya Indira yang sungguh merasa senang. Bagaimanapun, ini adalah cucu pertamanya. Sebab Daren dan Zahra belum menunjukkan tanda-tanda untuk memberikan mereka keturunan, walau lebih duluan menikah dari Gilang dan Gita.
“Eng… mau makan apa ya? Ga ada mau apa-apa sih.” Gita terlihat pikir-pikir.
“Ga ada selera makan makanan buatan mama. Tapi biscuit bayi udah habis sebungkus.” Sindir Kevin mengangkat sampah bekas makanan Gita tadi.
“Waaah… ngidam yang menyehatkan kalo gitu.” Jawab Indira senang.
__ADS_1
“Kamu belum melewati fase cari durian saat belum musimnya kan Lang?” tanya Diendra pada Gilang. Bukan bertanya sih, hanya lebih kea rah menakut nakuti saja. Sebab ia sudah melewati beberapa macam teta-teki saat menghadapi ke dua istrinya hamil.
Bersambung…