CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 164 : CUNGKRING


__ADS_3

Dalam prosesi acara peresmian yang sudah selesai dan mulai sepi. Muna baru menemukan selera makannya. Dan itu hanya jatuh pada sebuah sajian ice cream sederhana. Di sajikan dengan cup kecil dan dengan ciri khas tong besar dari alumunium, sungguh sangat sederhana sekali. Entah Ninik menemukan penjual es itu di mana. Sehingga ia berhasil memiliki tempat untuk menjadi bagian yang boleh tampil di acara peresmian anak cabang perusahaan tersebut. 


 “Ayo ke Jakarta Pak. Saya carter untuk acara empat bulan ke hamilan istri saya.” Dengan spontan Kevin mengajak Bapak penjual ice cream itu dengan pasti. 


“Ha … ha … Bapak bercanda.” Jawab pria yang tidak muda lagi itu, menutup tong esnya yang kedua. Dan itu artinya, jualannya sudah benar habis.


“Ini serius Pak. Mungkin 2 minggu lagi kami akan menggelar acara Tasyukuran di Jakarta. Bapak saya minta buat ini lagi di acara itu ya.” Jangan kan Cuma es dalam berapa tong itu. Resort tempatnya hampir berbuat mesum saja, di beli Kevin. Apalagi Cuma perkara es yang jelas di sukai oleh istri dan calon anaknya. Jangan-jangan tu Bapak penjual es bisa di angkut, di buka kan kios es krim oleh Kevin.


“Waah … ini tawaran yang menurut saya sangat berlebihan,Pak.”  Respon penjual es itu tak percaya pada tawaran yang memang terlihat serius tapi meragukannya.


“Permisi … es nya habis ya, Mang?” tanya Ninik berjalan ke arah rombong es tadi. Saat Muna dan Kevin masih belum beranjak di sana.


“Habis Bu. Ini Ibu dan Bapak ini yang terakhir.” Tunjuk pelayan es tadi dengan ibu jarinya mengarah pada Kevin dan Muna.


“Oh … syukurlah kalo Pak Kevin dan Bu Mona sempat mencicipinya. Cocok Bu …?” tanya Ninik dengan hormat pastinya.


“Banget Nik, pinter kamu cari pilihan cemilannya." Puji Muna dengan spontan.


"Mang ... Perkenalkan. Bapak dan Ibu ini yang punya hajat. Jadi semua mereka yang bayar." Ninik memperkenalkan sultannya pada kang Es Krim.


"Oh ... Pantesan tadi Mamang di ajak jualan sampai ke Jakarta. Kirain bercanda." Tukas kang Es jujur.


"Tolong di kondisikan buat Kang Es Krimnya Nik. Kami mau ada acara empat bulanan dede bayi yang di perut Nyonya ini." Kevin meraba dengan bangga perut Muna. Membuat wajah Muna merona. Itulah ajaibnya sentuhan Kevin. Kini sudah hamil anak ke tiga pun, masih menyisakan gelenyar aneh di sudut hati Muna. Seolah Kevin mampu membuatnya jatuh cinta setiap hari.


"Siap Pak. Nanti di atur kemudian." Jawab Ninik merespon permintaan Kevin.


Acara sungguh sudah selesai, merekapun bubar tangkar dan memasuki kendaraan yang memang sengaja di atur menjadi satu agar terasa akrab dan mengasyikan.


Lagi - lagi Siska yang tak membawa pasangan, jadi mendapat bagian duduk di sebelah Tama yang menjadi supir mobil yang mereka tumpangi.


"Stooop ....!!!" Teriak Muna tiba-tiba.


"Tama .... Stop." Ulang Muna mengejutkan. Bukan hanya Tama yang terkejut. Tapi semua kepala menoleh ke arah Muna.


Tama tidak bisa langsung stop, namun hanya menepi. Memberi sent kiri, dan memelankan laju kendaraan roda empat yang ia kemudi.


"Kenapa Mae?" tanya Kevin yang sejak tadi menggrnggam tangan Muna dan akan terlelap ingin tidur selama di perjalanan pulang ke Bandung.

__ADS_1


"Mundur sedikit bisa, Tam ...?" tanya Muna belum merespon pertanyaan suaminya.


Kepalanya hampir tertempel di kaca sebelah kiri, terus melihat keluar.


"Sebentar Bu, di belakang masih rame." Jawab Tana berusaha membuat jalan mobil itu ke arah belakang.


"Ada apa, Sayang?" Kevin ikut nelihat keluar. Berharap dapat jawaban atas komando tiba-tiba dari istrinya.


"Nah ... Itu. Dikit lagi Tam. Mundur lagi. Udah kelihatan." Ujarnya terus mengamati bagian luar.


"Ya .... Iya di sini. Itu tuh, Pap. Dari tadi banyak yang jual itu." Jawab Muna akan berisiap turun.


"Itu apa ... ?"


"Ga tau juga sih. Tapi dari gambar, sepertinya enak. 'Cungkring' Kang Memet." Muna membaca salah satu plang nama pada penjaja panggulan yang berjualan di pinggir jalan.


"Hah ....? Tapi itu bukan restoran Mae. Itu hanya penjual pinggir jalan." Kevin bukan sombong, hanya lebih memikirkan kebersihan suatu tempat yang akan di jadikan tempat untuk mengisi perut.


"Nyicip aja. Penasaran. Namanya lucu." Hanya kalimat itu yang Muna ucapkan sebelum turun dari mobil. Membuat Kevin sempat menggeleng melihat kelakuan Muna.


"Cungkring dari apa, Kang?" tanya Muna segera, setelah sudah mendarat di depan tempat pembuatannya.


Muna mengangguk ingin tau.


"Ini dari kikil Sapi, Neng .Cara membuatnya dengan merebus potongan kikil sapi dengan bumbu kuning. Lalu disajikan dengan bumbu kacang yang gurih dan manis. Lebih enak lagi di makan dengan potongan ketupat atau ketan yang dicampur dengan parutan kelapa." Jelas sang penjual.


"Mau donk, coba." Liur Muna sudah akan netes-netes membayangkannya.


"Berapa porsi, Neng?" tanya penjual yang akan siap melayaninya.


"Bentar, Kang." Muna kembali ke mobil untuk menawarkan makanan itu pada mereka yang masih belun turun.


"Ada yang mau ga?"


"Itu apa?" tanya Gita.


"Kikil Sapi."

__ADS_1


"Ooh ... Boleh deh coba." Jawab Gita tidak seantusias Muna sih. Tapi lebih ke menghargai tawaran istri kakaknya.


"Siska .... Mau?" tanya Muna ke arah depan."


"Enggak deh." Jawabnya singkat.


"Abang ....?" Muna memastikan jumlah pesanannya.


"Abang masih kenyang." Jawab Kevin agak cuek.


"Oke."


"Tama ... Gilang?" Lanjut Muna mengabsen orang-orang dalam mobil.


"Tidak. Terima kasih, Bu." Jawab Tama sopan.


"Nanti, Gilang nyicip punya Eneng saja." Jawab Gilang langsung.


Muna kembali ke arah penjual, kemudian menyebutkan jumlah pesanan. Dan berdiri menunggu proses pembuatan 'Cungkring' dengan wajah berseri. Senang melihat pembuatan itu secara langsung.


Tama turun membawa payung. Mendekati


Istri bossnya. Sebab itu memang bukan di sebuah warung makan, hanya penjaja yang berkeliling dengan panggulan. Yang bisa berpindah kapan saja, dan kemana saja. Tentu saja tak ada tepian atau rombong yang akan menaungi kepala pembeli yang menunggu proses cungkring di buat.


"Ijin bu, biar saya yang menunggu. Jadi ibu silahkan menunggu di mobil saja." Perintah Tama sopan pada Muna yang masih kuat berdiri bagai menyaksikan chef handal beraksi.


"Tidak usah, Tam. Saya suka kok melihat ini." Jawab Muna tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Tama.


Jadilah Tama, bagai bodyguard Muna, yang berdiri memegangi payung besar agar istri majikannya tidak ke panasan. Kevin sekilas melihat pemandangan itu, lalu bergegas turun mengambil alih tugas Tama.


"Kamu di mobil saja, Tama." Perintah Kevin keluar dari mobil dan meraih tangkai payung yang di pegangi Tama.


"Oh ... Ga papa. Biar saya yang pegangkan untuk Bapak dan ibu." Jawab Tama paham dengan tugasnya.


"Naik saja ke mobil, Tam. Perjalanan kita masih jauh." Muna ikut mengijinkan Tama untuk kembali pada posisinya sebagai supir.


Bersambung …

__ADS_1



__ADS_2