
Seketika wajah putih Asep merona merah. Mana mungkin diamenyangkal, betapa gigihnya ia mengauli Siska yang sudah halal baginya. Lalu kenapa di permasalahkan?
“Ga usah di jawab, bini kamu itu somplak. Semua di ceritain ke aku, tadi siang.” Gilang bagai cenayang menerka-nerka hal tengil yang di lakukan pasangan pengantin baru itu. Padahal, mana ada Siska sedetail itu menceritakan malam pertamanya, kecuali reader. Yang udah tiga kali purnama tungguin adegan pecah perawan Siska by Asep.
“Masa …?” Ya ampun, jangan terpancing Asep. Gilang cuma ngarang tau.
“Menurut kamu …?” tanya Gilang yang tau jika Asep sudah berhasil di kibulinya.
“Heem … terserah deh. Mau berapa kali juga, udah halal ini.” Celetuk Asep malas.
“Hah …? Jadi yang kata Siska kalian 5 ronde sampai pagi itu benar?” Gilang kaget dong. Merasa kalah tepatnya.
“Kalo iya kenapa?” Asep sudah mulai mencium bau-bau Gilang hanya memancingnya.
“Emangnya kalian? Malam pertama yang tertunda.” Giliran Asep yang berhasil membuat masam wajah Gilang.
“Sudah lah bro, ga penting kali bahas begituan. Yang pasti itu barang masih segelan.” Puji Asep dengan kesucian istrinya.
“Heem … itu adalah satu-satunya hal yang paling membanggakan sebagai seorang suami. Rasa bangga sekaligus hormat kita pada mereka, wanita-wanita yang masih menjunjung tinggi adat ke timuran. Menjaga diri dan marwahnya hingga di pertemukan dengan pasangan halalnya.” Gilang menjelma menjadi orang yang bijak.
“Alhamdulilah. Dan tugas kita tak hanya berhasil mendapatkan kesuciannya. Melainkan menjaga hubungan kita agar tak bernoda dan di nodai oleh hal apapun di kemudian hari, ku rasa itu lebih penting.” Lanjut
Asep.
“Kita secara tak langsung bersaudara. Saling mengingatkan saja, jika keadaan dunia menyeret kita pada hal yang akan menyakiti hati wanita pilihan kita. Sebab harapanku, hanya ingin menikahi seorang wanita, hanya sekali untuk seumur hidupku.” Serius Gilang sambil menyetir.
“Amin. Semua rumah tangga pun berkeinginan yang sama.” Jawab Asep datar.
Hening.
Keduanya tetiba terdiam, menyelami akan hal yang baru saja mereka ungkapkan. Hingga tak terasa, kini pick up itu sudah terparkir di depan rumah keluarga pak Herman.
Gita, membalut tubuhnya dengan selendang, sebab angin malam memang menusuk hingga ke tulang. Tapi semangatnya besar, menantikan kedatangan suami yang membawakan ikan segar untuknya.
Sementara di antara rumah pak Herman dan Kevin. Sudah terbentang pangangan panjang yang awalnya berisi kayu yang di bakar, dan berangsur menjadi bongkahan arang, siap membakar apa saja yang akan di bentang di atas tatanan besi bulat di atasnya.
__ADS_1
“Waah … besar-besar. Eneng mau yang ini a’.” Semangat Siska memilih ikan yang akan di bakar nantinya.
“Kak, boleh Mirna saja yang membersihkan ikannya?” sopan Mirna meminta ijin pada Gita, agar Gilang tak kesusahan dalam hal mebersihkan ikan tadi.
“Iya. Boleh Mir. Terima kasih.” Jawab Gita yang langsung memeluk suaminya.
“Terima kasih a’. Maaf merepotkan.” Bisiknya manja di telinga Gilang.
“Asal Eneng bahagia mah, a’a usaha lakukan demi Eneng dan anak kita.” Usapnya pada perut Gita.
Sementara Asep sudah masuk dan memilih mandi, untuk tetap menjaga kewangian tubuhnya. Yang mungkin sewaktu-waktu akan di serang atau menyerang istrinya, tengah malam nanti.
Keluarga itu sudah seolah tak memiliki penunjuk waktu, sebab semua terlenakan dengan menikmati ikan bakar kidaman Gita. Tak hanya Gita yang lahap, tapi semuanya tampak bersemangat menikmati kudapan tengah malam itu.
“Eaaakh”.” Gita tak sengaja bersendawa. Kekenyangan memakan ikan segar bahkan tanpa nasi. Hanya di cocol sambal matah buatan ibu Siska, Gita benar-benar merasa puas.
“Ibu … makasih. Enak semuanya.” Mata Gita sampai berair. Antara kepedasan dan haru karena layanan ibu Siska yang luar biasa.
“Alhamdulilah kalau suka. Anak ini banyak membawa berkah dan di senangi banyak orang. Lihat tuh, tidak hanya kamu yang terpuaskan. Tetapi semuanya mendadak ngidam karena seleramu.” Kekeh Ibu Siska sungguh bahagia.
“Yang namanya bahagia itu, ga pakai tapi Neng.” Peluk ibu Siska penuh sayang pada Gita.
“Eneng pamit ke sebelah ya bu, mau istrirahat.”
“Nah … itu baru bener. Tidur nyeyak ya nak, jangan lupa berdoa.” Kata pengantar ibu Siska pada Gita dan Gilang yang memilih mundur dari lingkaran bulat yang tercipta dengan sendirinya, saat menikmati makanan tadi.
“Kenyang Neng?” tanya Gilang. Gita mengangguk.
“Puas …?” tanya Gilang lagi.
“Banget …”
“Alhamdulilah.”
“AGi … maafin Eneng sama dedek bayi ya. Suka ngambek, dan minta yang aneh-aneh, ga tau waktu lagi.” Ujar Gita sambil menikmati usapan lembut tangan suaminya di kepalanya.
__ADS_1
“Dede bayikan belum sekolah Neng, belum tau waktu mana siang- mana malam. Yang dia tau hanya keinginannya terkabul. Dan ayah juga tak peduli, apakah matahari atau bulan yang menerangi langkah ayah untuk berjuang mengabulkan keinginan kalian. Akan ayah lakukan, sekuat tenaga.” Panjang lebar Gilang bernarasi, entah itu serius atau gombal.
Namun, belum tau apa jawaban Gita. Yang terdengar hanya dengkuran halus dari hidung istrinya, yang sudah pulas berbantalkan lengannya.
Gilang mencium lama kening Gita.
“Liat tidur Eneng pulas gini, rasanya damai banget hati a’a.” Ujar Gilang sebelum menyusul sang istrinya ke alam mimpi. Sembari berharap tak akan ada lagi drama dan huru-hara seperti hari ini. Ya, bukankah esok akan lebih
baik dari hari ini. Itu adalah kelinginan Gilang si ayah siaga.
Pagi datang, sinar matahari memaksa masuk di sela celah gorden yang menutupi jendela kamar Gita dan Gilang. Keadaan senyap, bahkan sepi. Tak terdengar suara mobil, motor atau hiruk pikuk obrolan, bincang pagi di saekitar mereka.
Gita yang pertama membuka dan mengucek matanya, untuk memastikan pukul berapakah waktu setempat.
Mata Gita hampir keluar, menyadari ternyata hari sudah pukul 9 bahkan lewat 30 menit.
“AGi …”
“Heeem …”
“Kita kesiangan.”
“Biarin.”
“Tapi kita telat kerja a’ … “ Teriaknya di telinga Gilang. Sontak Gilang bangun dengan menyipitkan matanya, memandang heran pada wajah cantik istrinya yang baru bangun tidur.
“Kerja apa? Ngerjain eneng?” tanya Gilang konyol.
“Kita terlambat a’a. Apa kata karyawan lain.” Belum selesai Gita melanjutkan kalimatnya. Gilang sudah buru-buru memeluk Gita. Mencicipi bibir merah di hadapannya. Bermaksud **********, sebab sudah rindu untuk bermesraan pada sang istri.
“A’a … buruan mandi.” Gita berhasil melepas pagutan singkat itu.”
“Kita sedang di Cikoneng sayang. Kita sedang cuti ngidam.” Kekeh Gilang yang kemudian mengulang lagi akan menerkam bibir istrinya dengan gemas. Eh, gemas atau naf su di pagi hari ya?
“A’a … bau jigoooong.” Mendadak Gita sadar jika ia sedang hamil dan dalam masa ngidam. Maka mulai celakalah nasib Gilang.
__ADS_1
Berambung ….