
"Siska buka pintu, Nak." Suara itu milik pak Herman ayah Siska. Yang semakin kesininya semakin menggedor gedor pintu kamar Siska di paling depan.
"Bapak... Kenapa gedor gedor kamar Siska?" suara ibu Siska tergopoh mendekati suaminya yang masih dalam pengaruh alkohol tadi sore.
"Listrik mati bu. Listrik nya mati." Jawabnya ke arah istrinya.
"Iya... Listriknya mati. Kenapa kamar Siska yang di gedor. Orang lagi istrirahat juga." Bela ibu Siska yang mengerti jika di dalam sana, mungkin saja sedang bekerja keras melakukan penyatuan yang hakiki.
Benar bukan…?
Didalam Siska dan Asep ngos-ngosan bahakn kini sedang kelimpungan.
Siska baru saja mengeluarkan rintihan terlucknutnya, yang tidak sengaja ia ciptakan. Saat pertahanannya bobol dengan kuat dan keras, seolah penuh paksaan.
Namun, saat suara itu terdengar. Bibirnya sudah langsung di sambar Asep, agar tak bersuara lagi. Sedangkan benda kesayangan Asep di bawah sana dengan kuatnya menerobos liar, tempat sempit masih bersegerl milik siska.
Inti Siska berkedut sendiri, rontaannya justru membuat pinggulnya bergoyang dengan sendirinya, dan itu makin membuat Asep semakin menggila untuk terus menerobos ke dalam-dalam sana.
Asep bisa apa? saat sadar telah berada di pucuk sorga. Ingin mundur tak bisa, keluarpun sudah terlanjur menyobek segel dengan paksa. Rencananya, Asep hanya akan memelankan volime tumbukkan benda kesayangannya itu, sebab sesuatu yang ingin muntah di dalam semakin dekat.
Tapi, ada apa dengan suasana yang hening mencekam? Alam semesta seolah berhenti berotasi saat Asep benar benar berada di puncak tujuannya.
Oh Tuhan, panggilan itu.
Gedoran itu.
Obrolan di luar kamar pengantin itu, sungguh tak berpihak pada mereka yang sedang dalam keadaan on fire.
Haruskah Asep mencabut benda kesayangannya, lalu membuka pintu dan berpura-pura sedang tertidur nyenyak? Tapi kemana pakaiannya? Gelap gulita, ia bahkan tak tau kemana arah lemparannya sendiri. Lalu bagaimana dengan peluhnya yang besar, bagai biji jagung. Tentu tak mungkin ia mengaku sedang tidak melakukan apa-apa.
__ADS_1
Belum lagi Siska, yang teronggok dengan kondisi paha terentang, sedikit basah. Entah, apakah istrinya terkencing atau kenapa? Asep tidak bisa memastikan sumber kelembaban itu dari mana.
Sayup, Asep masih bisa memastikan jika mertuanya masih berada di depan pintu kamar mereka.
Pelan-pelan meraba nakas untuk mencari ponsel untuk menyalakan lampu adalah tindakan terbenar yang bisa ia lakukan sekarang.
Memastikan tubuh Siska sudah bagai terlur gulung raksasa, karena balutan selimut. Asep memilih memasang celana yang memang sudah teronggok pasrah di atas lantai, akibat lemparannya sendiri.
Mengeringkan seadanya dengan pakaian yang akan ia kenakan, juga salah satu tindakan yang wajib ia lakukan sebelum membuka pintu kamar pengantin mereka.
“Sudah lah pak. Kembali ke kamar kita saja. Mungkin listrik mati dari PLN.” Lanjut ibu Siska yang sungguh tak ingin mengganggu ritual sakral anak gadisnya, eh. Udah ga gadis yak, kan baru di jebol Asep.
“Ibu ga liat, listrik di rumah sebelah nyala bu. Ini Cuma jeglek bu, dan sekringnya ada di kamar depan ini.” Pak Herman memang agak mabuk. Tapi masih ingat jika jalur stop kontak listrik di rumahnya di kendalikan dalam kamar depan, yaitu kamar perngantin anaknya.
“Iya, tapi ini sudah malam pak. Biar tunggu mereka bangun saja menghidupkannya.” Tawar ibu Siska, tak ingin suaminya terus meminta pintu di bukakan.
“Ibu lagi ngapain sih, listriknya sampai jeglek begitu?” suara pak Herman agak meninggi pada istrinya.
“Iya biasanya juga begitu, tapi alat music di depan itu semua narik dari sini bu.” Gusar pak Herman pada istrinya.
Dan belum sempat obrolan itu berlanjut, Asep sudah membuka pintu kamar lalu menyapa kedua mertuanya ramah.
“Ada apa ya pak, bu?” tanyanya pelan.
“Maaf nak Asep….” Belum selesai perkataan ibu pada Asep, ayah Siska sudah menerobos masuk ke kamar itu, dan membuka buka tabir yang menutupi dinding tempat aliran listrik itu berfungsi.
Seketika itu juga, listrik pun menyala. Jangan di tanya apa saja yang terlihat di atas ranjang pengantin tersebut, Siska memang terlihat membelakangi arah pintu, tapi alas tidur mereka tak bisa bohong. Jika beberapa detik yang lalu baru saja terjadi tsunami kecil di tempat itu.
Asep hanya membuang muka, saat ayah Siska menoleh kearahnya. Sedangkan ibu Siska tak berani melangkah masuk ke kamar anaknya. Fellingnya sangat kuat, jika anak dan menantunya tentu sudah akan melakukan hubungan yang memang wajar mereka lakukan.
__ADS_1
“Sudah nyala, ayo keluar.” Tarik ibu Siska pada tangan suaminya, tanpa berani menoleh kea rah dalam kamar Siska.
Pak Herman patuh saja, walau mabuk. Sebenarnya ia juga tak mau menggangu aktivitas malam pertama anaknya, tapi, tidak mungkin kan, mereka harus tidur dalam keadaan gelap gulita sampai pagi.
“Ya… sudah. Bubar, bubar. Pestanya berenti saja.” Teriak pak Herman pada beberapa pelaku seni yang terlihat masih betah di atas panggung, dengan beberapa penonton yang tampak teler dan masih haus hiburan.
Tapi, bukankah pak Herman adalah tuan rumah. Maka wajar saja ia yang meminta keributan itu berakhir. Tepat pada pukul dua dini hari.
“Ibu, ga usah lanjut mencuci dan menyetrika. Supaya ga jeglek lagi.” Ujarnya dengan langkah yang masih sempoyongan menuju kamar mereka.
Dikamar pengantin, Asep pelan-pelan membuka telur gulung dari selimut yang ia buat tadi. Cahaya lampu kamar tak lagi temaram, melainkan terang benderang. Siska pasrah dengan tubuh yang masih tak berpenutup apa-apa. Ia hanya menggunakan kedua tangannya untuk menutup wajahnya karena malu.
Siska tak mampu melihat wajah Asep yang sudah dengan sangat jelas melihat lekukan tubuhnya dengan polo situ. Sedikit memiringkan tubuhnya, agar bentuk tubuhnya tidak terbentang seperti padi yang siap untuk di panen saja.
Hal pertama yang Asep ingin tau adalah, mencari sumber kelembaban yang sempat ia raba di sela paha istrinya tadi.
Siska tentu tidak memampang bagian itu, tapi tangan Asep sudah menyelinap saja dari belakang dengan tisu kering di tangannya. Ia paham, pasti Siska pun tak nyaman dengan rasa sembab di bagian bawahnya tersebut.
“Nyai... ini darah.” Ucapnya polos. Mendekati tubuh Siska yang membelakanginya.
“Ya iyalah berdarah, sakit gitu. Nabraknya ga kira-kira.” Hardik Siska kehilangan keromantisan setelah hilang keperawanan.
“Maaf nyai… naluri lelaki.” Alasan Asep sedikit merayu Siska. Membalikkan tubuh yang masih polos itu ke arahnya, meletakkan kepala Siska di lengannya, dan mencium-cium kening Siska bertubi-tubi.
“Selamat ya Nyai, akhirnya kita sungguh melakukannya saat kita sudah resmi menjadi suami-istri. Terima kasih oppa yang buka segelnya.” Akhirnya Asep mau menggunakan panggilan kesayangan Siska selama ini.
Siska senang dong, berbalik menghadap Asep dan mencium pipi suaminya tak kalah sering, karena Asep mau di sebut dan di panggil oppa.
“Oppa itu, ini…” Ujar Asep mengantarkan tangan Siska pada benda yang baru saja menang tanding di dalam goa milik Siska tadi.
__ADS_1
Bersambung…