CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 160 : NYERANG DI DALAM


__ADS_3

Matahari sudah berpindah posisi dengan bulan sang raja malam. Sudah siap dengan tugasnya menyinari mahkluk bumi yang memerlukannya, entah untuk mengeringkan pakaian, menyapa tulang manusia yang membutuhkan Vitamin D, hingga membantu proses fotosintesa tumbuhan.


Sama halnya dengan Gilang yang sudah siap melakoni harinya sebagai suami siaga juga wakil CEO yang selalu dapat Kevin andalkan.


Tidak usah tanyakan bagaimana rupa Kevin pagi ini. Selalu ada senyum sumringah saat ia sudah keluar dari kamarnya. Sebab selalu punya cara untuk meminta haknya dengan cara yang tak bisa Muna tolak.


Perduli dengan janin berusia 3 bulan di dalam sana, toh rintihan Muna sendiri yang membuat Kevin tak bisa berhenti dalam waktu singkat. Suara itu tak pernah gagal membangkitkan adrenalinnya untuk terus memacu pedalnya untuk menuntaskan hasrat hingga tuntas, puas lelas.


Muna memang tak hadir di rumah sakit. Nia sangat dapat ia andalkan untuk berada di sana untuk memantau kinerja para pegawai di tempat kerja. Sehingga bekerja dari rumah dan tetap bermain bersama Aydan juga Annaya adalah kegiatannya sekarang.


"Siska ... Aku di Bandung." Chat Muna yang tiba-tiba kangen dengan sahabatnya itu.


"Udah tau, dari Gilang." Balas Siska cepat.


"Huum. Bocor juga tu mulut." Ketik Muna lagi.


"Gilang gitu lhooo. Kamu hamil lagi juga udah dia laporin ke aku." Kekeh Siska sendiri mengetik pada gawainya.


"Buseeeeet dah." Balas Muna agak malu.


"Besok ke Cisarua ikut?" Siska melanjutkan chatnya.


"Heem ... Ikut ga ya?" tanya Muna masih di laman chat pada ponselnya.


"Masa Ny. Kevin ga ikut ...?" Pancing Siska lagi.


"Ada yang enak enak ga, ya?"


"Dasar BuMil pikirannya makanan teros." Balas Siska lagi.


"Aku brows dulu deh, Sis. Ntar ku kasih kabar." Balas Muna dengan satu tangan. Dan tangan satunya lagi mengelus lembut perut yang mulai menonjol itu.

__ADS_1


"Permisi ... Ijin bu. Saya Gibran. Pegawai Magang di bidang ini." Sapa Gibran sopan yang baru saja menemui Gilang dan di perintahkan langsung menemui Siska untuk mendapatlan kursi dan pembagian tugasnya.


"Oh ... Iya. Silahkan masuk. Saya Siska." Perkenalan Siska singkat pada Gibran yang memang bertampang tampan, tak berbeda jauh dengan Gilang. Tapi jangan lupa, kalo matanya ga kecil dan kulitnya ga putih. Bagi Siska mereka biasa saja. Sebab suaminya sudah tertampan di matanya.


Selanjutnya Siska sudah dengan detail dan jelas memberikan petunjuk apa saja perihal pekerjaan yang akan di kerjakan oleh Gibran. Hingga ponselnya bergetar, icon biru meronta ingin segera di sentuh.


"Anyooong Oppa." Sapa Siska yang sempat di lirik Gibran. Sungguh, Gibran sempat kaget melihat wajah oriental itu tertera di gawai seniornya.


"Nyi ... Akang makan di kantor ya. Ada acara. Nih, dapet nasi kotakan. Nyi makan sendiri ya siang ini." Gubbraaak, Gibran mau ketawa takut dosa lho. Sumpah.


Mata Gibran belum katarak, sedikit kagum dengan pria yang menghubungi Siska. Sungguh, ia kira artis Korea. Tapi kenapa menggunakan pakaian ASN, lalu ... Astaga. Pake panggilan Nyi, Akang lagi.


"Iya ... Ga papa. Aku bawa bekal kok tadi. Oppa makan saja di sana." Jawab Siska yang memang sudah terbiasa dengan suaminya yang berwajah Korea tapi logat Sunda pake banget.


"Eh ... Nyi. Tadi juga ada pedangang sayur ke kantor. Akang beli pete lhoo. Nanti Nyi masak sama kentang dan hati ya." Lanjut Asep lagi, membuat Gibran gemes. Tapi, berusaha untuk pura pura tuli saja.


"Hati sama kentangnya udah ada?" tanya Siska cuek, padahal sadar saja itu mode vicall. Dan di ruangan itu ada Gibran.


"Belum, nanti deh pulang kantor. Pas jemput kamu, kita mampir di pasar." Lanjut Asep sambil membuka kotak nasinya.


"Iya ... Bareng yuk." Tawar Asep lagi.


"Ya ... Ayooo." Siska mengatur posisi ponselnya dan mulai membuka kotak bekalnya.


Masih tidak perduli dengan Gibran yang bagai patung di ruangan itu, menyaksikan kebucinan pengantin baru. Yang pasti tengah mengklaim, jika dunia ini hanya mereka isinya. The best Couple Bucin Level 3 kan yaa. (Pasti setelah ini readers minta, nyak buntingin Siska niih. Biar bisa liat Triple bumil. Sabar ya ... Siska baru dua minggu buka segel. Jadi jalannya belom longgar. Ha ... Ha ... Ha)


Karena kedatangan Kevin and the krucil. Jadwal Gilang dan Gita ke dokter kandungan pun tertunda. Sehingga di sore Selasa, pasangan itu baru punya waktu untuk memeriksakan kandungan pertama Gita.


Kini keduanya sudah berada di Klinik Sahabat Ibu dan Anak. Tempat para wanita korban lelaki menyerahkan diri untuk di periksa, di rawat dan di bantu segala permasalahn seputar kehamilan dan persalinan.


"Kondisi bayi baik. Hanya ..." Kalimat dokter Yendri di depan Gita agak menggantung.

__ADS_1


"Hanya apa dokter?" penasaran Gilang tak sabar.


"Hanya, ibu dan bapak memang harus ekstra hati-hati. Ini kehamilan ...?" Lagi, dokter memastikan identitas pasien di depannya.


"Pertama ... Ini kehamilan istri saya yang pertama dokter." Jawab Gilang cepat.


Dokter Obgyn itu mengangguk.


"Ya ... Usia ibu 30 tahun. Tekanan darah normal, HB bagus. Tapi ...?" dokter itu masih menimang kartu identitas dan memindai alat di permukaan perut Gita.


"Ada apa ...?" tanya Gilang dengan degup jantung yang berdebar-debar. Cemas, takut dan khawatir menyerangnya.


"Oh ... Bukan masalah besar. Hanya kita perlu melakukan pemeriksaan lebih intens lagi ya. Sepertinya, dalam kantung rahim ini ada dua biji kacang." Jawab dokter itu pelan, melorotkan kacamatanya hingga ujung hidung. Berganti-ganti memandang wajah Gilang dan Gita secara bergantian.


"Maksudnya ...?" tanya Gita merapikan pakaiannya, dan berusaha bangkit dari posisi berbaringnya


"Ada kemungkinan bayi ibu dan bapak, kembar." Jawab dokter dengan jelas.


"Alhamdulilaah. Serius dokter?" Sergah Gilang bahagia.


"Menurut hasil pemeriksaan alat ini sih, begitu. Selamat ya ..." Lanjut dokter pada pasangan duo G tersebut.


"Terima kasih dokter, terima kasih." Ujar Gita senang bukan kepalang.


"Kok sama saya terima kasihnya. Sama bapaknya dong. Kan Bapak yang nyumbang banyak." Gurau dokter pada Gita. Sampai tawa mereka pun pecah karena bahagia.


"Bercanda ya Bu. Saya resepkan obat penguat kandungan, juga vitamin ya. Agar bayi kuat dan ibu sehat." Pesan dokter yang sudah paruh baya itu dengan sangat ramah.


"Siaap. Baik dokter." Gilang ... Gilang yang sangat antusias dengar calon anak mereka langsung dua. Kevin hampir overlap nih, untung Muna bunting anak ke tiga.


"Waah ... Bapaknya semangat sekali." Kekeh dokter itu merespon jawaban Gilang.

__ADS_1


"Pak usia mereka belum 3 bulan. Artinya belum lewat masa rawan. Sebaiknya puasa dulu ya. Biar bayinya ga desek desekan di dalam. Karena benda tumpul milik bapak nyerang di dalam." Ah, dokter ini sepertinya tidak hanya mengambil spesialis kandungan waktu sekolah, tapi nyambi di stand up komedi juga kayaknya.


Bersambung ...


__ADS_2