CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 7 : NETIJEN


__ADS_3

Waktu persiapan menuju resepsi memang hanya 2 minggu, sementara mempelai pun masih terlihat beraktiviras normal di kantor.


Tentu saja saat undangan beredar mereka menuai banyak komentar dari yang miring sampai yang tegak. Bukankah netijen maha benar.


Ada beberapa pegawai yang sedikit takjub saat membaca undangan jika keduanya bahkan sudah melaksanakan akad nikah tepat sehari sebelum perjalanan dinas ke Swiss. Artinya selama beberapa minggu di kantor itu mereka adalah pasangan sah. Tapi tidak serta merta menunjukan kemesraannya di depan umum. Hanya kaca sebagai sekat dinding yang tau betapa duo bucin itu selalu lempar pandangan.


Bukan netijen kalo tidak julid. Gosip beredar dengan berbagai versi tentunya. Yang awalnya mereka tak tau jika Gita sodara Kevin. Mereka ramai menuduh jika Gita yang menggoda Gilang sebagai orang kepercayaan Kevin sejak jadi sektertaris, Aspri bahkan sekarang jadi WaCEO. Sehingga menggunakan segala cara untuk bisa dekat dengan Gilang, alias mau numpang tenar.


"Eh... gila. Ini beneran Gita Putri Mahesa itu adalah Mahesa yang sama dengan nama bos kita Kevin Sebastian Mahesa?" obrol para netijen budiman beberapa hari sebelum acara resepsi di gelar.


"Ha... ga usah ngaku jadi biang gosip deh, kalo antena mu kurang panjang. Basii....!!" Jawab yang lainnya dari dalam kubikel tempat kerjanya.


"Ehh... serius baru ngeh kalo nama panjang Gita ada Mahesa nya juga. Pantesan kerja langsung di bagian sekretaris." Simpulnya sendiri.


"Ga semudah itu juga sih, aku bareng kok waktu magang. Awalnya memang di tawarin bagian itu, tapi aku yang milih mau di divisi pemasaran aja. Dan Gita langsung ke bidang itu. Bagus nasibnya." Jawab yang lain lagi.


"Nah... kalo yang namanya Siska itu yang beneran jalan tol. Dia hampir ga sempat magang, belum punya ijazah aja udah nongkrong di bagian sekretaris. Lalu ketika lulus langsung di angkat tuk bantu Pa Gilang jadi sekretaris, hingga sekarang." Jelas yang lain lagi


"Denger denger sih, Siska itu orang titipan ibu bos. Ga tau ada hubungan apa. Yang pasti bukan saudara, secara ibu bos kan bule gitu. Sunda Belanda kabarnya." Mereka masih ramai saja berceloteh ria tentang kehidupan bos mereka.


"Kabarnya sih, tempat nge-lobby jabatan paling mudah itu ya dengan ibu bos itu. Sebab dulu di awal, saat Gilang masih magang. Negonya sama bu Monalisa itu." Gosip semakin lancar jaya, hingga para netijen sudah saling berdiri pada kubikelnya masing masing agar dapat saling beradu pandang dengan lawan bicaranya. Biar lebih hot jelotot.


"Masa....?" ragu yang lain.


"Iya... semua keputusan tertinggi itu ada pada Ny. Kevin itu. Kalian mungkin lupa. Atau belum bekerja di sini ya. Dulu, bagian sekretaris tidak ada Siska juga Gita. Yang ada tuh Belia. Cantik, pintar dan ramah juga. Kerjaannya cakap, rapi dan teliti. Semua beres dan lancar deh di tangan Belia." papar Tania yang sepertinya sudah lama bekerja kantor itu. Tapi dengan jabatan jalan di tempat.


"Terus dia di mana sekarang?" tanya yang penasaran lainnya.

__ADS_1


"Udah di pecat lah, karena ibu bos cemburu. Pokoknya orangnya cantik kemana mana deh dari pada ibu bos." tandaa Tania lancar.


"Masa...? bukannya bu Monalisa itu udah cantik paripurna?" tanya yang lain lagi.


"Cantiknya karena blesteran saja, ga ori produk dalam negeri. Apa lagi udah jadi istri sultan, ya tentulah perawatannya yang super semua." Timpal Nanda yang sepertinya paling ahli dalam menafsir.


"Eh... tapi. Aku pernah ngobrol dengan Joli, itu temen magang yang sekarang udah pindah ke pabrik. Yang sekarag udah nikah sama pak Koco. Katanya dulu Koco, Siska dan ibu bos itu hanya OB lho di perusahaan pak bos yang sebelumnya di Jakarta."


"Whaaat...????"


"Appaah?"


"Yang bener...?"


"Masaaa....?"


"Iya beneran. Makanya Siska bisa di tempatkan di posisi bagis itu, Koco juga jadi kepala bagian pabrik. Itu semua karena mereka satu server sebagai OB di tempat kerja sebelumnya." Jelas Nanda tak berhenti menghibah.


"Waw beruntung banget sih nasibnya dari OB hingga jadi istri CEO. Ku juga mau kali kaya dia." Sahut para netijen yang makin ramai bertanya jawab, lebih heboh dari lomba cerdas cermat saja.


"Tapi kita ga ngerti juga sih, kriteria apa yang bisa jadi orang kepercayaan mereka. Dulu bahkan Pak Gilang hanya penjaga malam dan tukang kebun saja di kantor ini. Tapi lihatlah sekarang. Dia bahkan sudah menduduki jabatan wakil CEO. Semudah itu dia mendapatkan jabatan." Tukas yang lain lagi.


"Oh... mungkin karena dia pacaran sama Gita. Makanya jabatannya lekas meroket. Biar setara saat menikah. Artinya... Gilang dong yang jual diri." Kekeh salah satu dari mereka masih ribut menerka siapa yang memanfaatkan siapa.


"Hus... sembarangan kalau ngomong." Hardik yang lain lagi.


"Orang kaya itu lucu ya... yang satu nikah sama mantan OB, yang satu nikah sama mantan tukang kebun. Kaya ga ada gitu, temen kuliah kek yang satu frekuensi dengan kekayaan mereka. Drama banget." Timpal yang lain lagi.

__ADS_1


"Hmm.. jadi mereka orang biasa mendadak sultan donk. Rejekinya bagus." Jingga ikut nimbrung.


"Ya ... kalo Gita ternyata saudara pak bos, lalu mau menikah dengan orang biasa seperti Gilang. Kan artinya Gilang numpang kaya dong sama Gita." Sambung yang lain lagi.


"Ha... ha... iya ya. Hoki berwajah tampan akhirnya di gondol anak sultan deh." Komen berikutnya mengalir sulit berhenti.


"Di antara kalian ada yang mau penyegaran kerja di Cisarua atau di rumahkan?" tanya Danu yang kebetulan lewat dan bertahan beberapa menit untuk mencerna obrolan tidak jelas itu.


Semua tercekat dari obrolan tadi. Danu kepala Divisi bagian HRD tentu sangat memiliki andil besar untuk urusan pecat memecat, juga tentang pindah memindah pegawai. Danu hanya cukup memberikan daftar kinerja perorangan di kantor itu lalu menyerahkan pada Kevin. Maka tamatlah riwayat kerja mereka.


Beberapa kepala yang sempat muncul kepermukaan tadi, mendadak menyusut. Terduduk hilang di balik kubikel masing-masing. Entah karena pekerjaan sudah selesai, atau pekerjaan tidak segera di buat. Atau memang hanya sengaja ingin bergosip ria saja, membuat mereka berlima asyiik saja berbicara sesuka hati. Bahkan tidak peduli dengan status kebenaran yang ada.


Tidak ada sangsi untuk para penghibah itu, hanya ancaman Danu tadi cukup mengkerdilkan hati para netijen sejati. Yang segera Danu catat sebagai teguran pertama. Atas tuduhan pencemaran nama baik para petinggi perusahaan.


Masih ada yang berani ghibah sembarangan. Intinya bersyukur saja semua obrolan tadi hanya di dengar Danu. Bukan Kevin si singa tidur itu.


Bersambung...


Makasih yang udah pindah lapak.


Dukung karya nyak selalu yak...


Sedang perlu mood boster untuk bisa up banyak banyak nih.


Makasiih.


πŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


__ADS_2