CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 68 : KANGEN AKANG


__ADS_3

Asep terlihat pendiam juga kaku saat tak biasa dan belum begitu kenal baik dengan orang lain. Tapi sebenarnya ia sosok pria hangat yang selalu perhatian dan sangat pengertian. Akibat selalu bergaul dengan ambu yang harus selalu ia layani dengan prima. Hal itu membuat ia terbentuk menjadi pria yang ngemong. Sehingga Laela nyaman dan bertahan dalam waktu lama. Walau pun Asep tidak main rasa.


Dengan wanita tua saja ia bisa menaklukkannya, apa lagi hanya dengan dua bocah yang akan ia ajak makan siang. Tentu itu adalah hal yang mudah. Asep mengajak Mirna dan Antoni di KFC saja. Tempat makan ayam goreng favorit sejuta umat. Di sanalah kini Asep memandang penuh senyum, kepolosan wajah bocah dan remaja itu makan dengan lahapnya.


Sementara di ruang rawat inap VVIP, Siska di interogasi oleh bu Nirwana.


"Sis... kamu pacaran sama Asep?" tanyanya tanpa basa basi.


"Hah... kata siapa?" Siska balik bertanya. Seolah terkejut dengan pertanyaan sang ibu.


"Katanya..., kamu berhasil mencuri hatinya. Dan tadi tanya sama ibu. Apakah mau punya menantu yang kerjaannya sebagai ASN. Sis... ASN apa sih... ibu ga paham." Celetuknya sambil mengupas buah apel yang banyak di ruangan itu.


"ASN itu PNS bu. Pegawai Negeri Sipil." Kekeh Siska agak malu dengan keluguan sang ibu.


"Oh... kalo PNS ibu tau. Itu yang bisa jadi Camat ya Sis?"


"Ga semua PNS juga sih bu jadi Camat. Itu kan jabatan yang di embankan bagi orang yang bekerja di kantor Kecamatan."


"Kalo Asep?"


"Kalo dia... kemarin sih masih kerja di kantor kecamatan. Tapi karena kuliah dan ngurus ijin belajarnya. Dia malah di pindah ke kantor Pemda di Kabupaten Bandung. Jadi sekarang ga tinggal di kampung lagi."


"Oh... jadi ga bisa jadi Camat?" tanya bu Nirmala penasaran.


"Ya ga tau. Yang nentuin jadi camat atau ga kan Bupati dan segala unsur di dalamnya. Lagi pula, kebanyakan yang jadi camat itu yang lulusan IPDN."


"Apalagi itu?"


"Ya... sekolah... eh. Kuliahnya yang memang di latih jadi pemimpin gitu gitu deh bu."


"Oh... sekolah yang khusus bisa jadi camat?"


"Ya ga juga... duh. Gimana ya jelasinnya. Coba ibu bayangin, kalo ada 100 orang dalam setahun lulus sekolah itu dan semua jadi camat. Lalu siapa yang jadi masyarakatnya?" Siska terpaksa memberi perumpamaan untuk sang ibu yang polos.


"Iya juga ya. Masa pegawai, Camat semua... hihihiii bener kamu, Sis. Siapa yang bikin surat, ngantar surat dan lain lainnya." Cengirnya.

__ADS_1


Siska melepas nafasnya lega, bersyukur ibunya tak lagi nyolot.


"Eh... belum di jawab pertanyaan ibu." Tukasnya lagi.


"Yang mana?"


"Hubunganmu sama Asep." Lanjutnya lagi.


"Oh..."


"Kok cuma oh. Iya atau tidak?"


"Iya bu... kami bersepakat untuk menjalin hubungan lebih dari teman biasa." Siska mengakui hubungannya dengan Asep walau baru jadian sehari itu.


"Udah mau kawin?" tebaknya.


"Ibuuuu..."


"Kenapa?"


"Kuliah kami sama sama belum selesai bu."


"Iya sih... tapi. Ah... kami masih sama sama repot kayaknya bu." Alasan Siska. Gimana mau nikah, jadian juga baru kan.


"Tapi kalian bisa jaga diri kan?" tanya ibunya lagi


"Ya... kan kami jauhan bu. Asep di Bandung, Siska di Jakarta."


"Ah... terserah kalian saja. Sudah dewasa juga, udah tau kan mana yang boleh dan tak boleh di lakukan sebelum nikah. Ibu memilih percaya saja sama kamu. Kalo memang mau nikah, kamu pasti ga akan kabur ke Jakarta waktu itu." Kenang bu Nirmala yang memang hampir kalap menjual anak gadisnya pada rentenir desa, akibat ekonomi mereka yang memprihatinkan.


"Nah kan ibu juga tau. Tujuan Siska ke sini mau mengangkat derajat hidup kita. Kalo Siska kabur dari desa. Lantas ke kota dam tak selesai kuliah karena menikah, ya sama juga bohong lah bu." Ujarnya.


"Iya... ibu percaya. Baik baik menjaga diri. Juga menenpatkan diri. Keluarga mereka adalah orang baik, dengan orang yang jahat pun kita tidak berhak membalas dan menyakiti. Apalagi dengan keluarga yang sangat banyak jasanya pada kita sekeluarga. Jika bukan karena Muna, ibu tidak tau bagaimana hidup kita hingga sekarang. Bahkan kini, kamu berkesempatan menjadi iparnya kalau jodoh. Jangan silau ya Sis. Tetap rendah hati, jangan sombong. Jangan memanfaatkan kebaikan orang untuk mencari keuntungan diri sendiri." Nasihat bu Nirmala berubah bijak saat hanya berdua saja dengan anak perempuannya yang beranjak dewasa.


"Iya bu. Insya Allah Siska bisa jaga diri dan ahklak." Jawabnya serius.

__ADS_1


Perawat datang ke ruangan tersebut. Membawa beberapa obat yang telah di resepkan dokter untuk di bawa pulang. Siska tersenyum saat tau akan pulang, tapi seketika hilang dan memudar. Saat melihat ke arah tubuhnya yang masih menggunakan kimono yang di sediakan pihak rumah sakit.


Bukankah kemarin ia datang tanpa persiapan apa apa saat Asep antar ke rumah sakit ini. Lalu di mana pakaiannya kemarin. Tentu tidak mungkin kan, ia pulang dengan pakaian pasien tersebut.


"Assalamualaikum..." Sapa Mirna dan Antoni ceria memasuki ruang rawat Siska.


"Walaikumsallam." Sahut Siska dan bu Nirmala bersamaan.


"Ibuu... nih liat nih. Anto bawakan makanan untuk ibu. Di Jakarta jualannya ga kaya di tempat kita lho bu." Celoteh Antoni antusias menyerahkan sebuah totebag bergambar siluet kakek tua berkaca mata, berdasi kupu kupu, tersenyum lebar warna hitam serta berbtulis no.1 tersebut.


"Memangnya kanapa?" tanya bu Nirmala agak heran.


"Nih... coba ibu liat. Masa naroh ayam gorengnya di dalam ember... haha... haha." Ujarnya merasa lucu dengan kemasan KFC paket Whole Bucket Mix Chicken yang berisi 9 potong ayam yang memang di masukan dalam wadah yang mirip ember kecil.


"Mana...?" tanya bu Nirmala pada Antoni


"Nih... coba ibu lihat. Emberkan bu. Tapi gambarnya sama dengan nama tempat kami makan tadi bu. Ayamnya juga enak. Enak sekali bu. Makanya di belikan kak Asep buat ibu dan kami lagi." Jelas Antoni bangga.


"Wah... sudah bilang terima kasih sama kak Asep?" tanya bu Nirmala


"Sudah dong bu. Dari tadi... sering malah. Anto suka di Jakarta bu. Ramai sekali." Ucapnya polos


Wajah Siska memerah, agak malu akan keudikkan sang adik. Tapi apa mau di kata, mereka memang hanya tinggal di sebuah desa. Daerah pesisiran pantai. Jauh dari kota juga kabupaten. Kesempatan untuk menikmati jajanan atau tempat makan ala kota juga tak ada. Sehingga wajar saja mereka tak memiliki wawasan yang luas. Jika Siska dulu tidak kabur ke Jakarta. Mungkin ia juga lebih parah dari itu. Dan mungkin kini, ia sudah menjadi emak emak, jadi istri muda si bandot tua di desa mereka.


Siska memberi kode dengan melambaikan tangannya pada Asep. Yang kemudian mendekat ke tempat Siska berada sekarang.


"Kenapa nyai... kangen akang ya?" suaranya pelan hingga hanya Siska yang mendengar. Saat ibu dan Antoni masih terlihat takjub dengan ember KFC tadi.


Bersambung...


Semangat semangat readers


Udah weekend aja niih


Libur hampir usai

__ADS_1


Selamat kembali ke aktivitas rutin kalian semua ya


Makasih ❤️❤️❤️


__ADS_2