CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 107 : DEMPUL


__ADS_3

tidak tidak perlu ditanya apa saja yang dilakukan Kevin dan Muna di kamar Resort saat mereka hanya berdua saja di dalam sana. Orang baru nikah kemarin saja, tentu sudah tahu mereka ngapain 🤭 yang menjadi masalah adalah sekarang yang mau nikah Siapa? yang ngebet siapa coba? klasik lah itu.


Pagi datang, matahari ternyata sudah terbit dengan indahnya. Hingga sinarnya menerobos masuk, kecelah celah tirai mana saja yang bisa ia terobos untuk bilang pada penghuni kamar, jika kini sudah mulai beranjak siang.


Kevin dan Muna sepertinya, tidak hanya melewati malam panjang, sebab setelag sholat subuh pun terjadi pergulatan yang menyisakan kelelahan bagi keduanya. Alhasil, hingga waktu merujuk pukul setengah 9 pun keduanya belum keluar dari kamarnya.


Celakanya lagi, orang orang di luar sana. Termasuk Aydan dan Anaya, tak terdengar mengetuk, atau merengek mencari mereka.


"Ya Allah.... Abaaaaaaang." Teriak Muna saat matanya terbuka sedikit, lalu mengintip pada jam dinding di kamar itu.


"Huum apa siih, berisik banget. Mau lagi?" tanya Kevin tanpa membuka matanya.


Plakh... Muna memukul bahu suaminya, reflek.


"Mau apanya? Bang, ini sudah hampir pukul 9. Satu setengah jam lagi tuh akad nikahnya Siska. Ya ampuuun, anak anak belum siap juga. Ini gara - gara abang nih. Mestinya setelah sholat, ga ada short trip... trip short. Ah, apa lah itu, kebablasan deh jadinya." Dumel Muna sambil melangkah akan masuk kamar mandi, segera mandi besar.


"Bukannya tadi kita memang hanya main sebentar yank?"


"Iya bentar... bentar kepala abang. Nih dada sudah kaya koran, penuh cetakan semua. Adooooh... mana pakaianku nanti bahannya transparan lagi. Abaaang iih. Nanti di liat orang, di tanya Aydan lagi, jawab apa coba?" Muna mandi tanpa menutup pintu, agar ceramahnya di pagi sabtu itu tetap di dengar suaminya.


Kevin beringsut bangun, memilih mengambil gelas dan menumpahkan air hangat untuk menyapa ususnya di dalam sana.


Menyeruput air hangat itu dengan pelan, sambil kedua manik matanya tak berhenti memandang sang istri yang sedang berdiri di bawah pancuran shower untuk mengguyurkan tubuhnya.


"Oh... ku kira istriku kurus. Ternyata perutnya besar juga." Batin Kevin memperhatikan tubuh polos yang sedang asyik melakukan kegiatan wajibnya setelah bercinta. Mana Kevin berani bilang perut Muna buncit, yang ada bakalan ada omelan part keberapa, jika ia utarakan lagi pagi itu.


Muna selalu sebentar dalan urusan mandi, dengan daster longgar tali satu, lalu di tutup jubah sutra seadanya, iapun keluar kamar. Juga dengan gelungan handuk di kepalanya. Ia pasrah saja jika harus di ledek nyak, bangun siang dengan kondisi habis keramas, sampai lupa dengan kedua anaknya.


Lalu giliran Kevin yang membersihkan tubuhnya, sambil senyum bahagia, mungkin ngalahin sumringahnya Asep yang sebentar lagi mau mecahin bisulnya Siska.


Suasana luar resort sudah sepi, tak ada yang menyahut pada tiap pintu kamar yang ia ketuk, bagai tak berpenghuni.


"Mbaaak. Permisi, orang orang di kamar itu pada kemana ya?" tanya Muna pada resepsionis yang berada di ambang pintu Resort.

__ADS_1


"Yang beberapa keluarga itu ya Bu?" tanya resepsionis dengan ramah.


"Iya betul, ke mana?" tanya Muna


"Oh kalau keluarga itu, tadi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit sudah ke pantai Bu, lalu mereka kembali sekitar pukul 06.00. Lalu pergi lagi, mereka menitipkan semua kunci di sini katanya, mereka mau pergi ke kondangan, gitu bilangnya Bu." Jawabnya dengan polos.


"Oh gitu ya, terus mereka ada bawa bayi gitu dan anak balita setinggi ini?" Muna memastikan jika kedua anaknya di bawa serta.


"Oh iya Bu, mereka sepertinya satu keluarga yang lengkap terdiri dari nenek kakek ibu bapak dan anak bayinya masih kecil tadi masih digendong sama mamanya." jawab resepsionis itu lagi


"Oh Tuhan anakku dikira anak orang lain." Batin Muna.


"Terima kasih informasinya ya mbak." Jawab Muna membalik tubuhnya akan kembali ke kamar mereka.


"Iya, eh Bu maaf. Permisi ibu yang di kamar tengah, bukan?" tanyanya dengan sopan.


"Iya kenapa?"


"Oh, sarapan Ibu mau diantar ke kamar atau langsung makan di resto saja? sebab tadi pesan dari pak Gilang. Katanya siapkan sarapan untuk kamar itu dan harus ditanya. Apakah mau diantarkan ke kamar atau di ambil sendiri seperti itu Bu." Keterangan yang ia dapatkan dari resepsionis sangat jelas merujuk bahwa Gilang lah yang sudah membiarkan mereka berdua menghabiskan hari hingga pagi berdua saja dengan Kevin. Oh Gilang memang selalu the best.


"Baik, ditunggu ya bu."


Muna mengangguk lalu berjalan nelangsa menuju kamar mereka berdua. Merasa bersalah akibat ulah mereka yang seperti baru nikah kemarin saja. Sampai lupa anak dua.


Gilang dan keluarga mereka yang lainnya juga sudah berada di rumah sebelah Siska, untuk mulai di dandani dan mengunakan kostum seragaman mereka.


"Bagaimana dengan anak-anakku?" pikirnya saat kembali ke kamar. Melihat Kevin yang sudah selesai mandi menggunakan pakaian santainya.


"Anak - anak sudah bangun Mae?" tanya Kevin saat melihat Muna hanya datang sendiri.


"Bukannya Bangun lagi bang, mereka udah pada kabur kali..." Jawab Muna agak kesal.


"Kabur gimana?" heran Kevin.

__ADS_1


"Ya udah ke rumah lah, iih malu banget deh." Dongkolnya Muna.


"Masih pagi bu, jangan marah marah. Buruan kita susul aja mereka." Bijak Kevin yang tidak mau terpancing dengan emosi istrinya.


Tok


Tok


Pintu kamar terdengar di ketuk. Rupanya pelayan Resort itu mengantarkan menu sarapan pagi untuk mereka.


"Terima kasih." sapa Muna menerima menu tersebut.


"Wow... ada sarapan spesial." Respon Kevin melihat suguhan di depannya.


"Heeemmm spesial banget dari Gilang." Jawab Muna masih dengan nada suara yang belum bersahabat.


"Oh... bagus. Gilang memang pengertian." Ujar Kevin mulai menyiapkan sarapannya.


"Kayaknya kita dikerjain deh bang, mereka tuh pagi-pagi udah pergi ke pantai lagi lihat matahari terbit. Kata resepsionis, mereka udah pada siap berangkat ke kondangan, mereka pasti udah nyampe nih Bang." Lanjut Muna sambil mengunyah makanannya.


"Ga Sia sia ajak mereka buat jaga anak-anak. Jadi kita bisa berhoneymoon." Kekeh Kevin riang.


"Tapi malu lah bang, yang nikah siapa yang enak enak siapa?" desis Muna sungguh merasa tak enak.


"Udaah diem deh. Buruan makan aja. Biar kita cepat nyusul mereka. Terus istri Abang nggak dandan kayak istri-istri orang kalau ke kondangan gitu yang mau pakai bedak tebal yang pakai dempul lapis berapa gitu?" Kevin makin senang membuat Muna makin kesal.


"Abang ku sayang, kecantikan istri Abang ini udah Paripurna ya, jadi nggak usah di kasih dempul sampai 7 lapis atau berapa lapis juga, aye tetap cantik kok." Puji Muna yang percaya dirinya langsung naik maksimal.


"Iyaaa... percaya sayangku, kalo istri abang itu cantiknya lahir dan batin." Puji Kevin sungguh sungguh.


"Jangan ngerayu Muna lagi bang, kita udah hampir telat buruan makan. Tapi kalau soal dempul kali ini Muna emang perlu. Dan tolong itu Abang yang bantu pasangkan." Ujar Muna membuka kimono sutra yang dia gunakan untuk menutup dadanya hasil karya Kevin yang memang sangat lengkap terperinci hampir di seluruh permukaan dada. "Terus itu diapain?" tanya Kevin bingung.


"Di dempul lah, biar ke tutup." Ujar Muna penuh perintah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2