CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 118 : GELAP GULITA


__ADS_3

Muna tidak memperdulikan celetukan suaminya, memilih memejamkan matanya menghindar obrolan yang baginya tidak penting itu. Kevinpun sama. Memilih memeluk istrinya saja sampai pagi datang.


Sementara di kamar pengantin yang baru beberapa jam yang lalu sah tadi.


Asep maupun Siska tampak canggung harus memulai darimana. Keduanya saling cinta, tentu Allah pun telah menghapuskan rasa malu di antara kedua insan yang tak sekali hampir ke bablasan itu. Berdiri lebih dari setengah hari untuk menerima ucapan dan doa restu agar rumah tangga mereka bahagia selamanya. Rupanya tak membuat keduanya lelah.


Asep memang agak pendiam, tapi tidak dengan gerakan tangannya. Siska telah sah baginya, mereka sudah wajar melakukan hubugan layaknya suami istri. Jika saat semasa berpacaran, Asep tak sekali menabrakkan bibirnya ke bibir SIska. Dengan bonus elusan lembut pada permukaan dada Siska juga kadang ke area di atas lutut Siska.


Asep pernah memegang bagian yang Siska lindungi dengan kain berbentuk segitiga. Memutar, meraba kadang menekan telunjuknya di pertengahan rongga itu. Namun, kesadaran Siska masih sangat waras. Sehingga walau wajahnya memerah menahan rasa ingin untuk terus di telusuri dan di jamah itu, mereka berdua tetap harus sabar hingga pada masa yang sungguh tepat.


Kini, Asep sudah memiliki sertifikat halal untuk melakukan apapun pada wanita yang selalu ia panggil nyai itu. Tanpa menunggu hari berganti, saat suara letusan bass dangdutan di luar rumah masih bertalu-talu. Asep tak bisa membendung hasratnya lagi.


Asep melahap bibir yang selalu membuatnya ketagihan untuk berlama lama saling membelitkan lidah mereka dam rongga mulut keduanya. Sementara tangan Asep memegang kepala Siska agar tak jauh bahkan lebih erat untuk tertempel di wajahnya tak berjarak.


Siska yang lebih dahulu tergila-gila pada Asep, tentu saja tak pernah melewatkan momen ini. Dan tak punya niat untuk menolak, walau ia sendiri mengakui betapa hari ini mereka sudah melewati hari yang panjang dan memelahkan.


Namun ajaib, seketika rasa lelah, capek dan apapun itu sirna begitu saja. Apalagi kini tangan Asep sudah tidak di kepalanya. Melaiankan sudah meraba permukaaan kulit dadanya. Menyelinap masuk di antara celah kancing piyamanya. Ya… malam itu Siska menggunakan piyama. Bukan lingerie seksi seperti kebanyakan pasangan pengantin baru pada umumnya. Dalam pikiran Siska ia pasti akan malu, jika nanti ketahuan ibunya menggunakan pakaian kurang bahan itu.

__ADS_1


Tetapi, Asep selaku suaminya kini. Tak pernah perduli apakah ia menggunakan lingerie atau piyama tidur. Toh, kini atasan piyama itu sudah berhasil ia lucuti dari tubuh bagian atas istrinya. Menyisakan kain berenda merah, melintang di permukaan benda berjajar yang selama ini ingin ia kecup, hisap dalam durasi wakyu yang lama tanpa memikirkan takut dosa.


Siska hanya bisa merem as, rambut hitam Asep. Saat suaminya itu, sibuk berurusan di dadanya. Siska hanya menikmati dengan pasrah, sebab iapun telah lama memendam hasrat yang menggebu, untuk segera merasakan surga dunia tersebut.


Asep tidak berhenti di bagian dada, melainkan turun-turun ke perut Siska, ,mengecup seadanya area mana saja, yang ternyata melahirkan rintihan kegelian dari sang istri. Oh, Asep sadar. Celanya terasa makin sesak oleh ulahnya sendiri. Ada benda yang harus ia jaga selama ini, agar tidak bertindak semena-mena, apalagi saat dekat dekat dengan Siska. Dan itu baginya sangat menyiksa.


Belum terdengar kepiawan Asep terhadap lawan jenisnya selama ini. Tetapi, apakah itu naluri lelaki, atau memang telah ahli. Sehingga, bahkan kini celana piyama Siskapunn telah terlucuti.


Siska memang tak memakai lingerie. Tapi ia memang sudah siap dengan couple merah membara di malam pertamanya tidur bersama Asep.


Asep sudah mengendus-ngendus di antara paha Siska, mencium-cium area yang hanya pernah ia raba tanpa ia lihat sebelumnya. Dan kali ini, kulit putinya sudah bercampur kemerahan, terutama bagian daun telinganya. Karena hatinya meletup-letup ketika ini adalah momen pertama bagi Asep menempelkan hidung dan mengecup daerah yang baru ia lihat dan sudah termiliki.


Siska menarik kepala Asep agar berhenti bermain main di bawah sana dengan ciumannya yang terasa semakin membabi buta. Asep tersenyum melihat wajah Siska yang sendu dan terlihat sangat ingin di perlakukan lebih lagi, maka dengan sigapnya Asep melucuti pakaiannya sendiri, sebab seketika ia merasakan hawa di kamar itu memanas, entah berapa derajat suhu AC di kamar itu di setel. Namun, tak mampu membendung keringat yang keluar dari pori-pori kulit Asep.


Asep memulai dari atas lagi, mencumbu Siska mulai dari leher dengan gerakan tangan yang sangat terampil menyusup belakangnya, hingga pengait dari besi tiga susun itu terlepas, dan kain penghalang berwarna merah itupun ia lempar tak bertujuan. Entahn sangkut di mana, semoga saja tidak di antara bunga bunga yang tertata di atas dasbort ranjang mereka yang memang masih berhias, selayaknya kamar pengantin pada umumnya.


Temaram lampu di sela sela pot bunga di pinggir ranjang pengantin itu, memang mampu membuat suasana kamar itu terpancar romantis. Di tambah leng uhan Siska yang mulai terdengar sayup, akibat ulah Asep yang semakin bi nal. Inikah momen yang selama ini mereka nantikan, bahkan tak bermaksud menundanya untuk beberapa hari. Jangan salahkan Asep dan Siska melakukannya tepat di malam mereka sah menjadi suami istri. Sebab keberuntungan memang sedang berpihak pada mereka. Siska tidak sedang haid seperti malam pertama Muna, dan keluarga Siska maupun Asep tak ada yang perlu masuk UGD seperti malam pertama Gilang dan Gita. Sehingga keduanya sepakat untuk mendaki gunung dan menyusuri lembah ngarai yang selama ini membuat mereka panasaran.

__ADS_1


Rabaan tangan Asep saja telah mampu membuat basah kain segitiga milik Siska. Sedapat mungkin Asep pun melucutinya, sehingga tampilan tubuh Siska kali ini benar benar polos.


Asep sudah kembali mendesak lidahnya untuk beradu kembali dengan lidah Siska, lengket di luar lincah di dalam. Asep sebelumnya sudah berhasil menyetarakan tubuhnya dengan Siska yaitu sama sama tanpa busana. Sehingga, tugasnya kini adalah melesak-lesak, bergesekkan menerobos masuk di antara kedua paha Siska yang terbuka. Benda kesayangan Asep sudah memiliki kekuatan penuh untuk menyusuri tempat terindah yang selalu di harapkan oleh semua kaum adam yang sudah halal tentunya.


Ternyata Asep bukanlah tipe orang yang penyabar, hanya bermodalkan ciuman lama di bibir Siska. Benda kesayangannya itu sudah berhasil bergesek di pintu masuk goa milik Siska. Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba sebuah hantaman kuat memaksa masuk menembus pertahanan Siska.


“Aaakhh… Oppa!!!" seru Siska melepas pagutan bibir Asep.


Jeglek.


Kamar gelap gulita, suara gaduh di luar rumah pun mendadak diam. Mulut Siska langsung di bekap Asep dengan mulutnya. Agar tak bersuara lebih nakal lagi.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


“Siska buka pintunya.” Celetuk suara dari luar kamar Siska.


Bersambung…


__ADS_2