CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 5 : KENA MENTAL


__ADS_3

Sepekan berlalu, tak perlu di bahas manisnya rumah tangga baru pasangan duo gombal plus bucin, Gita dan Gilang. Keduanya makin hari makin pintar membagi waktu dan berbagi tugas di rumah.


Jika istri sibuk buat sarapan, si suami meluk dari belakang sambil pegang setir cari tombol klakson. Dua di depan dada.


Giliran suami nungging nungging mengais sampah pake penghisap debu, seantero rumah, eh giliran tangan istri so so an, mau cari buah anggur dua biji yang sembunyi di sela sela pa ha itu. Bikin ngiri ga siih?


Untuk itu kita skip saja kekonyolan mereka yang hanya buat kita makin iri dengan manisnya tingkah mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga yang memang baru bermulai. Di atas tumpukan modal uang yang banyak pula.


Biduk rumah tangga mereka bahkan belum genap sebulan, masih hitungan minggu. Resepsi saja belum di gelar, mana tau rasanya nyeri nyeri sedap ngumpulin uang buat bayar sewa gedung, tagihan keluarga kiri dan kanan minta kain seragam. Aneka varian menu makanan yang wajib ada. Ah... mereka bahkan sudah punya 3 M dari Bang Kevin. Bagi kita masyarakat awam, semua persiapan itu kudu wajib di perhitungkan matang matang. Jika tidak, cukup akad dan selamatan saja sudah cukup yang penting sah.


Rabu menjelang, setelah senin lalu Kevin menginformasikan akan melakukan pengecekan perusahaan. Apakah ada hal-hal yang bersifat emergency untuk segera ia bantu selesaikan.


Ruang CEO terbuka dan sudah bersih tanpa debu. Lebih dari 2 jam Kevin berada di dalam, bersama Gilang, Siska, Danu dan kepala divisi lainnya.


"Segera buka lowongan pekerjaan. Usahakan seleksi ketat. Waktu magang di persingkat, hanya 2 bulan. Asal yang nilai akademiknya bagus dan attitudenya baik. Silahkan jika punya teman dan keluarga yang berkualitas untuk melamar, namun tetap akan melewati ujian yang sama. Sebarkan saja melalui media online. Sebab kantor kita yang di Cisarua akan mulai dalam 3 bulan kedepan." Petintah Kevin yang sudah mulai melingkar nama nama pegawainya yang akan di pindah tugaskan ke Cisarua untuk menjalankan kantor cabang PT.MK Farma.


Tidak ada bantahan, juga pertanyaan dari beberapa kepala divisi di sana. Memilih patuh dan segera memutar otak untuk segera mematuhi segala saran juga pendapat sang CEO adalah hal yang harus segera di selesaikan.


"Lang... kamu bertahan sebentar." Perintah Kevin saat semua orang tadi akan meninggalkan ruangannya.


"Siap pak." Jawab Gilang cepat.


"Panggil Gita." Perintahnya lagi.


Gilang mengangguk, lalu melangkah memberi kode pada Gita agar masuk ke ruang CEO.


"Tutup pintunya." Perintah Kevin lagi saat Gita baru saja memasuki ambang pintu. Dan Gita tidak hanya menutup tetapi langsung menguncinya, dua kali.


"Ga usah di kunci juga, kayak mau mesum aja dalam kantor." Rutu Kevin.


"Pengalaman pribadi ya?" ledek Gita memberanikan diri menggoda Kevin.


"Ini kantor ya, jaga kesopanan terhadap pimpinan." Tegas Kevin membuat Gilang agak terkejut.


Gita hanya terseyum lalu meminta maaf. Agar Kevin kembali pada wajah biasa dan tidak tegang.

__ADS_1


"Ah... ga jadi bicara di sini. Tidak cocok dengan topiknya. Kita makan siang di rumah saja. Mae tadi ada menyiapkan makanan." Ujar Kevin lagi mengajak Gilang dan Gita pulang ke rumahnya untuk makan siang bersama.


Rupanya sejak selasa malam mereka sudah berada di Bandung, bersama Aydan dan Anaya di sertai Laras tentunya.


Mereka rindu untuk menengok rumah di Bandung. Babe juga titip pesan pada mang Hadi, orang kepercayaan babe mengurus ternaknya, agar menjual semua ayam ayamnya. Sebab kemungkinan untuk kembali ke Bandung dan bermukim itu sangat kecil untuk babe.


"Assalamualaikum." Sapa Kevin begitu masuk rumahnya, di ikuti Gita dan Gilang.


"Walaikumsalam." Jawab Muna yang langsung meraih tangan Kevin menyaliminya dengan takzim.


Cup bibir Muna sudah basah saja di kecup Kevin singkat.


"Aunty..." Serbu Aydan pada Gita dan langsung minta di gendong.


"Kakak Ay... iiih makin tampan aja niih. Cium dong." Ummmaaah... muuaaach. Pipi kiri dan kanan Gita sudah di cium cium oleh Aydan.


"Om Lang... gendong." Rengeknya manja ke arah Gilang. Dan Gilang segera mengambil alih mengendong Aydan.


"Iih... kak Ay. Makannya banyak ni, makin berat badannya." Gilang mencium gemas pipi keponakan istrinya itu.


"Om... ada udang becal. Mamam yang macak, makan yuk." Ajak Aydan tanpa sungkan juga tanpa perintah dari kedua orang tuanya.


"Huumm.... so far, so good lah." Jawab Gita sambil tersenyum.


"Bang... makanan sudah siap. Ajak Gilang gabung." Panggil Muna pada Kevin yang masih betah dengan panggilan abang.


"Kak Ay... makan bareng di sini, okey?" Tawar Muna pada anak sulungnya yang sudah mandiri dalam urusan makan.


"Iya mam. Tapi duduk dekat om Lang." Pintanya.


Muna meletakan kursi khusus Aydan di dekat Gilang sesuai permintaannya. Walau harus berputar putar, Muna tampak dengan senyum ikhlas tiada lelah menyiapkan makanan untuk Aydan juga Kevin suaminya.


Di situ, Gita langsung kena mentalnya. Menyadari bahwa itulah yang mertuanya maksudkan. Sebagai seorang istri yang wajib melayani suami. Dan anak saat sudah memiliki anak.


Sebelum benar-benar duduk untuk makan. Muna menyempatkan ijin makan pada Laras. Agar memberinya keleluasaan untuk mereka menikmati makan siang bersama.

__ADS_1


Muna memang muda dari Gita, tapi dari kecakapan itu, Gita benar merasa wajib banyak belajar dari Muna dalam hal mengurus rumah tangga.


Tak ada gurat kesal atau cemberut di wajahnya saat Kevin dan Aydan yang berlomba minta di layani olehnya hanya dengan perkara kecil urusan menu makanan yang imgim mereka santap, semua terlayani dengan baik sabar dan penuh senyuman.


Namum, pemandangan sibuk itu justru menunjukkan betapa mesra dan harmonisnya rumah tangga kakaknya tersebut.


"Lang... Gita sudah bisa buat sarapan belum untukmu?" tanya Kevin di sela makan siang mereka.


"Bisa..." Jawab Gilang menoleh ke arah Gita.


"Sarapannya bibir atau bubur sih?" canda Kevin pada pasangan itu.


"Nasi goreng, omlete, orak arik tempe, tumis sayur, telor cepok juga." Jawab Gita semangat.


"Kamu lagi baca pilihan menu di warung dekat kantor Git?" tanya Kevin lagi.


"Enak aja... itu menu sarapan yang pernah Gita buat untuk a'a lho." Gita menyombongkan diri.


"Masa... bukannya rebus air terus di siram ke mie instan?" Kevin selalu suka membuat Gita keki.


"Hhhaaa... pelecehan. Punya stok mie instan saja ga lho di rumah." Bela Gita pada dirinya sendiri.


"Masaaa...? Beneran Lang?" Kevin mencari kebenaran.


"Iya... kalo masalah rasa mungkin belum bisa beradu dengan chef mamam Aydan. Tapi dari segi niat melayani suami, patut lah di acungi jempol." Puji Gilang pada Gita.


"Syukuur lah kalo begitu. Gita SMAnya di asrama, jadi ke dapurnya telat. Ga kayak Mae. Udah terlatih sama bumbu dapur." Jawab Kevin.


"Ga papa ga pinter masak, rumah makan kan banyak. Masak itu ketrampilan, ga bisa di samakan kemapuan masing masing orang. Si abang sejak awal... sewot aja urusan Gita belum mahir masak. Ga usah di tanggepin Git." Bela Muna pada Gita yang seolah selalu di tuntut Kevin seperti Muna yang ahli dalam urusan dapur.


Bersambung...


Makasih yang udah mampir


Moga betah selalu yaaak

__ADS_1


Jangan sungkan timpuk mawar n kopi yaaah...


❤️❤️❤️


__ADS_2