CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 200 : TELUNJUK NAKAL


__ADS_3

Siapa yang tidak tau betapa manis, mesra dan serba gombalnya pasangan couple duo G yang sekarang sudah jadi Triple G ini, bahkan kemarin sempat hampir jadi Four G kan. Jadi ga heran walau dalam keadaan hati yang tidak baik-baik saja. Gilang tetap bisa bercanda dengan Gita, istrinya,


“Huh … a’a sih. Suka ga liat sikon. Kalo urusan itu, maunya sampai pagi aja.” Cemberut Gita sambil merebahkan tubuhnya di samping Gilang dan menyelipkan tangannya ke pinggang Gilang. Hingga sampai menyentuh Gwen yang dalam pelukan sang ayah.


“Bukan hanya suka Neng. Tapi udah candu. Kalo sudah gitu, ya lupa waktu lah.” Kekeh Gilang membuat posisi tubuhnya telentang. Agar kedua wanita kesayangannya sama-sama mendapat lengannya untuk menjadi bantal kedua kepala itu.


“Enak siiih ya. Mau di gempur sampe pagi juga, tetep ga bakalan bisa jadi owe-owe lagi.” Entah itu sebuah keluhan atau sesuatu yang membahagiakan hati Gita.


“Maaf Neng. Bukannya kita ga percaya Allah. Yang pasti a’a masih trauma kalo Eneng hamil lagi. Suka sih bikinnya, tapi a’a ga siap kalo mereka jadi anak semua.” Gilang membelai rambut Gita dengan lembut.


“Iya …. Tadi Eneng Cuma bercanda. Lagian, Gwen masih belum setahun. Terlalu kecil untuk punya adik lagi. Prosesnya juga Caesar kan. Bekas lukanya belum kering sepenuhnya, sama kaya luka di dalam hati Eneng. Masih basah dan membekas.”


Cup.


Gilang mencium kening Gita cepat.


“Istigfar. Kita kirim Al-Fatehah saja buat Genta, sayang.” Saran Gilang yang tau istrinya sedang terseret dalam ingatan akan anak laki-laki mereka yang sudah tidak bersama mereka.


“Iya A’a. Rejeki orang beda-beda ya. Eneng sampai resign dari kerjaan. Demi fokus bisa dapat anak. Giliran dapat, di kasihnya juga gini, harus operasi. Ga kayak kak Muna. Udah sibuk, paling sibuk dengan segala pekerjaan dan beban yang di sandangnya. Itu anak malah nambah-nambah juga. Kaya anak ayam.” Gita tiba-tiba menganalisa.


“Allah tau mereka mampu Neng. Mampu ngurus semua tanggung jawab di rumah sakit, di rumah tangga mereka juga. Tuhan kan ga kasih ujian di luar kemampuan umatnya. Mereka di kasih tiga, ya rejeki mereka. Kita Cuma di percayakan satu, ya syukurilah. Sebab walau satu, tapi Allah sudah siapkan rancangan yang terbaik untuk masa depan Gwen nanti. Dan rumah tangga kita juga kedepan.” Gita malas untuk menjawab kalao Gilang sudah semi dakwah macam ini.


Gita hanya membuat kepala Gilang sedikit menoleh ke arahnya, lalu Gita yang memulai ciuman yang berawalan lembut namun berakhir lama dan makin dalam. Satu menit, dua menit, tiga menit …. Ah. Di menit kesepuluh tak lagi decakan saliva yang terdengar semakin cepat. Tetapi, suara Gwen yang merasa posisi tidurnya sudah tak senyaman tadi.


Bukankah tadi ada satu lengan yang menjadi bantalnya. Dan separuh tubuh itu bagai benteng yang menempel menghadapnya. Tapi mengapa kini ia merasa tubuhnya seperti tergeletak begitu saja. Tanpa bantal dan tanpa tempelan tubuh menghadapnya lagi.


“Aaa yaa … mam ma …. Ya yaaa… “ Suara bayi sepuluh bulan itu mampu mengakhiri ciuman yang makin brutal di sebelahnya. Kenapa brutal?

__ADS_1


Heey … mereka tidak hanya berciuman. Tapi tangan satu sama lain sudah saling silaturahmi ke tempat tempat rawan bencana tadi, macam patroli ke tempat pengungsian saja. Untuk memastikan daerah itu perlu di cukupkan pasokan atau tidak.


“Iya … iya ayah di sini, Gween. Udah bangun cantiiik.” Gilang balik kanan donk, supaya fokus menghadap bayi yang matanya sudah sebesar kelereng.


Gita pindah tempat tidak lagi di sebelah Gilang. Tapi ke sebelah tubuh Gwen.


“Udah bangun, mau nen …?” Iya, Gwen memang sudah sepuluh bilan. Sudah bisa makan makanan tambahan. Tapi dia masih ngASI langsung dengan Gita. Dengan cepat Gita mengeluarkan satu galonan yang tergendong dengan kain melintang di dadanya. Lalu menyodorkan ke mulut kecil Gwen.


Hap …


Dengan mata bulatnya yang menyorot indah ke wajah sang ibu. Gwen pun sangat menikmati proses transferan itu. Sampai tak mereka sadari, ada yang pusing melihat pemandangan di depannya.


Bukankah galonan tadi sempat ia remas-remas. Membuat adrenalinnya sedikit terpacu untuk meminta lebih. Eh, bukan lebih sih. Ya… hanya sebelas dua belas lah dengan yang sekarang Gwen lakukan.


“Bunda Gweeen.” cicit Gilang


“Ayahnya Gwen boleh samaan di sebelah nya ya.” pintanya pelan.


“Ayah ngaco.” Kekeh Gita.


“Ngangur loo sebelahnya. Yaaa … lapar.”


“Makan sana di dapur. Masih ada pepes ikan.” Jawab Gita sungguh-sungguh.


“Maunya pepesan yang punya Gwen itu. Kan masih kebungkus juga yang sebelahnya ini.” Hey, pake nunjuk barangnya lagi. Itu Gwen di kira buta apa.


Gwen kira sang ayah sedang bercanda dengannya, saat jari telunjuk Gilang menjunjuk-nunjuk gallon yang satunya. Dengan cepat tangan kecil Gwen menangkap telunjuk nakal yang sejak tadi main tunjuk di atas dada ibunya. Gwen genggam penuh dan erat semampu tangan kecilnya mencengkram.

__ADS_1


Gita tertawa melihat kecepatan tangan Gwen menangkap telunjuk nakal itu. Gwen terus memegang, seolah tak mau melepasnya. Sampai ia merasa puas untuk mengisap air dari dada Gita. Lalu dengan ceria ia menggulingkan tubuhnya kea rag Gilang. Mengantar telunjuk Gilang masuk ke dalam mulutnya, lalu sedikit mengigitnya.


“Gweeen … kenapa jari ayah di gigit.” Respon Gilang saat sadar jarinya sudah masuk mulut sang anak.


Gita tertawa terpingkal melihat Gwen yang sudah berhasil menghukum jari takal. Yang baru saja terlihat mengganggu kesenangannya tadi.


“Ini jari ayah, sayang … tidak boleh di masukkan ke mulut si cantik ayah.” Gilang pelan-pelan melepas jarinya dari tangan Gwen.


“Ha … ha… ha. Rasain. Nakal siih, gigit aja Gwen.” Kekeh Gita merasa ada yang membantunya, membelanya. Saat ada serangan sebelum waktunya.


“Eh … lumayan sakit lho, Neng. Gigitannya.” Gilang mengusap telunjuknya sendiri.


“Ya iyalah … gigi empat. Apa kabar puncakku yang biasa di plintir plintir oleh orang yang udah bergigi lengkap.” Gita masih saja dalam mode bercanda.


“Huh … kalau itu. Mana pernah a’a gigit sih Neng. Cuma di isep manja.” Gilang meladeni candaan sang istri.


“BTW A’. Ga balik ke kantor?” tanya Gita baru sadar jika sejak tadi suaminya ga ada tanda-tanda akan kembali ke tempat kerja.


“Ga …”


“Kenapa …? Mau coba sensasi begituan di sore hari di saksikan Gwen?” terka Gita masih belum peka jika sesungguhnya suaminya hanya sedang mengalihkan sedikit luka di hatinya.


“Serius berani. Ayoo …” tantang Gilang melorotkan celana pendeknya.


“Anjiiiir. Neng Cuma bercanda A’a.” Gita meloncat kea rah Gilang untuk segera menaikkan celana Gilang yang sempat ia turunkan menampakkan dalaman yang ia pakai.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2