
Mata Indira tidak menyadari jika di salah satu sudut rumah Babe Rojak ada perkumpulan yang tak sengaja terbentuk dengan sendirinya, membulat semacam membuat konfrensi. Sebab awalnya hanya Kevin dan daren saja yang saling bicara, di kepoin Nyak Time, di susul Muna, lalu di ikuti Zahra. Dan selanjutnya, Babe Rojak dan mama Rona turut penasaran pada sudut yang terlihat sedang dalam obrolan seru.
Celakanya Indira sungguh masih berani saja berbicara sesukanya pada Kevin, yang jelas masih menyimpan dendam padanya. Ya … Kevin memang sudah tobat urusan cassanovanya. Tapi untuk seorang mantan pelakor bagi Kevin butuh proses untuk memaafkannya. Iya. Itu memang dosa, dan itu memang salah. Muna sering memperingatkan suaminya agar belajar memaafkan ibu tirinya. Toh, Maminya sudah tenang di sorga. Lalu, untuk apa Kevin masih menyimpan dendam. Bukankah itu hanya menghalangi semua doa dan permintaan mereka saja. Sebab hatinya tak benar-benar bersih. Tetapi Kevin selalu berdalih jika dia bukan Tuhan yang maha pemaaf. Cukuplah ia dengan baik memperlakukan Gita dan Daren. Tak usah berbesar hati untuk ia harus menerima Indira sebagai ibu pengganti untuknya.
“ Zah … kalian udah hampir setahun nikah, belum hamil juga kan yaah. Urusin Annaya gih… buat pancingan. Atau adenya Annaya kasih Daren saja, Vin. Gimana?” tuuuh kaaan. Posisi gerombolan di sudut tadi belum bubar. Tapi kecurigaan Nyak Time udah kejadian aja.
“Eh … mpok Indira. Ape lu kira Annaya umpan …? Segala sebage pancingan.” NYak Time. Itu suara Nyak Time yang tentu saja langsung nyolot mendengar perkataan yang sudah bisa ia prediksi.
“Oh maaf kalo salah. Ya … bukan bermaksud apa-apa. Hanya mungkin dengan adanya kesibukan mengurus bayi. Daren dan Zahra bisa lebih enjoy melakukan hubungan intim. Jadi cepet berhasil. Kalo perkataan saya salah, ya maaf.” Jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Indira tidak tau duduk permasalahan yang Zahra hadapi. Sebab sedari tadi memang tak ikut bergabung dalam obrolan yang bahkan sudah mendapatkan sebuah ketenangan.
“Bukan masalah elu salah kate, lalu se enaknye minta maaf. Tapi, otak lu kagak bisa mikir lebih baik lagi …? Kalo kagak punya anak dalam rumah tangga entuh kaga wajib. Dan bukan sebuah aib.” Cecar Nyak Time dengan nada suara yang tak pernah pelan.
“Iiih … nyak Time kenapa siih nyolot bener. Kan saya cuma bercanda.” Indira mana berani terus membenarkan dirinya. Ia tau, semua yang berada di pojokkan itu pendukung Nyak Time. Sama seperti para readers yang sekarang ada di mana-mana. Pasti semua sefrekuensi sama nyak Time. Ye kaaan??
“Sudah. Ga ada itu Annaya segala jadi pancingan. Juga ga ada segala adik Annaya nanti di kasih ke Daren. Anak kami ya, anak Daren juga Gita. Aydan, Annaya, adiknya nanti. Kita semua orang tua bagi anak atau keponakan. Tidak boleh ada perbedaan. Lahir dari rahim siapa juga semua manusia berhak mendapat kehidupan dan didikan yang layak. Toh kedepan mereka akan punya kehidupan masing-masing yang tidak akan bergantung dengan kita lagi.” Kevin menengahi. Tak ingin melihat Nyak Time dan Mama Indira akan terus beradu pendapat.
“Sepenting apa sih …. Orang tua kandung? Jika orang tua angkat pun tak bercacat cela dalam hal mendidik anak orang lain? Untuk itu tak usah di permasalahkan. Kapan Daren dan Zahra bisa dapat keturunan. Atau tidak pernah sama sekali. Sebab semua anak-anak kami juga anak kalian. Perlakukanlah mereka seperti anak kalian sendiri tanpa harus memindahkan identitas mereka secara administrasi.” Lanjut Kevin yang tentu keberatan jika anak yang ia buat dari hasil motong sarung akan di berikan pada Daren. Juga tetap mengijinkan untuk Daren dan Zahra menganggap anaknya dan Muna seperti anak mereka sendiri.
Tak ada yang berani membantah apa saja yang keluar dari mulut Kevin. Mama Indira apalagi, mana berani ia memlihat tatapan mata Kevin yang selalu tajam ke arahnya. Diendra, papinya memilih sibuk saja meyusun lego bersama Aydan.Memilih nanti saja menasihati istrinya, saat hanya mereka berdua yang saling bicara di tempat lain.
__ADS_1
“Tok … tok … tok. Boleh permisi pulang duluan?” suara Gilang terdengar dari arah luar rumah. Ia bertugas memastikan pekerjaan para pendekor tadi selesai dengan baik.
“Buru-buru amat sih …” cegah Babe Rojak menanggapi permohonan Gilang.
“Iya … maaf Be. Satu jam lagi sudah masuk kelas.”
“Halaaah .. elu Lang. Segala masuk kelas, kaya anak sekolahan Lu.” Ledek Nyak Time pada Gilang dengan nada penuh canda. Dia memang tidak tau jika Gilang melanjutkan studinya.
“Iya Nyak, Alhamdulilah. Gilang memang sekolah lagi.” Jawab Gilang dengan senyum yang tak pernah memudar dari wajah tampannya.
“Eeeh buseet. Hebat beneeer dah. Lu Kuliah lagi …? Di mane ?”
“Alhamdulilah. Terus … selama kuliah elu tinggal di mane …?”
“Gilang kost deket kampus, Nyak.”
“Lailah hailallah … ngape lu segala jadi anak kost lagi. Rumah nyak babe kososng Lang. Tinggal di mari aje, ngape?”
“Ga papa nyak. Cari yang deket kampus, biar bisa jalan kaki.” Jawab Gilang jujur.
__ADS_1
“Segala … lu alasan.” Nyak Time tidak bisa banyak meminta, sebab keputusan sudah bulat di ambil Gilang.
“Hai semuanya … permisi. Mau ikut A’a Gilang jadi anak kost juga.” Pamit Gita pada semuanya.
“Eeeh … tunggu- tunggu. Bentar, nyak bungkusin lauk dan nasi buat makanan anak kost dulu. Nih, pasti sangat bermanfaat bagi anak kost, apa lagi bininya lagi bunting. Pasti nih hobbynya cuma leyeh-leyeh aje di tempat tidur.” Ujar Nyak Time beranjak kebelakang untuk mengisi tempat makanan bekal Gita dan Gilang. Itu rejeki, walau hanya makanan sisa acara tentu saja di terima oleh Gilang dan Gita.
“Git … apa tidak sebaiknya kamu tidur di rumah kita saja, Papi juga masih kangen kamu.” Pinta Diendra memandang sendu pada sang ayah.
Gita mengerlingkan matanya ke arah Gilang. Mana Gita bisa menjawab dengan langsung tanpa ijin dari sang suami. Ia juga rindu dengan kamarnya yang ada di rumah Mahesa. Tapi sebagai istri, dia juga tentu masih sangat ingin berbakti pada suaminya.
“Boleh A’ … ?” tanya Gita pada Gilang.
“Terserah eneng … kalo mau silahkan.” Gilang bukan tipe suami pengekang. Ia selalu mengutamakan kebahagiaan istrinya pasti.
“Lain kali saja, Pi. Gita mau merasakan jadi anak kost sebentar.” Putusnya sendiri setelah melihat Nyak Time sudah tergopoh membawa rantang empat susun ke arahnya.
“Baiklah … Papi tunggu kedtangan kalian ya, Git. Gilang …” Lanjut Diendra pasrah. Benar bukan ia bahkan punya anak tiga dari dua istri yang berbeda. Tetapi tetap saja bagai tak memiliki keturunan, saat semua anak sudah membina keluarganya masing-masing.
Bersambung …
__ADS_1