CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 104 : PERNIKAHAN NORMAL


__ADS_3

Gita dan Gilang saling berpandangan. Baru sadar jika dua minggu ini Gita memang terlambat datang bulan, parahnya keduanya selalu lupa untuk memeriksakannya, walau hanya dengan tespack.


“Kok bengong…?” tanya Kevin melihat ekspresi wajah adik dan iparnya tersebut.


Keduanya tidak menjawab.


“Ga peka kamu Lang.” Cerca Kevin dengan cueknya dan mengunyah makanan dalam mulutnya.


Akhirnya mereka hanya diam saja, sambil mencerna sentilan Kevin yang memang ada benarnya.


“Mungkin ga sempat aja cari tespack atau ke dokternya. Yang penting tuh, nanti di pantai hati-hati deh. Ga usah ikut lari-larian. Kalo perlu ga usah ikut nyebur deh, di gazebo aja nemenin Naya.” Saran Muna terdengar bijak namun sarat azaz manfaat.


“Nah… itu bener tuh. Ih… bini abang memang paling T.O.P deh. Sekalian biar terbiasa jaga bayi Git, jadi kaka bisa pacaran sama emak beranak dua ini.” Kevin mana pernah bisa gagal untuk lebih memanfaatkan keadaan.


“Hah… jaga bayi ga usah pake latihan juga kali kak. Alesan aja kan, biat Gita ga bisa main di pantai.” Elak Gita agak sewot.


“Ga ngelarang, hanya wajib berhati-hati. Kali bener di perutmu udah ada bayinya.” Lanjut Kevin lagi.


“Iya… ya deh pak bos. Ku mulai jaga diri aja.” Simpul Gita yang tak berminat berdebat dengan sang kakak.


Mobil Van mewah itu sudah terparkir rapi tak jauh dari area pantai yang juga tak jauh jaraknya dari resort yang Kevin miliki juga yang kini sedang di tempati oleh Asep sekeluarga.


Keluarga Kevin tidak langsung turun menjelajah pantai. Tetapi lebih memilih bertemu dan berkenalan dulu dengan ibu Asep, yang tidak lain adalah tante Muna dari abah Dadang.


“Assalamualaikum.” Sapa Muna dengan memegang tangan Aydan, sementara Kevin tampak bahagia mengendong Anaya.


“Walaikumsallam.” Jawab seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana namun terlihat masih sangat cantik dan segar.

__ADS_1


“Tante Sukma… ini Muna anaknya abah Dadang.” Muna memperkenalkan dirinya pada saudara kandung ayanhnya tersebut.


“Masya Allah, panjang umur.Alhamdullilah ya Allah, kita akhirnya bisa bertermu ya .. Mona.” Peluk ibunya Asep pada Muna yang masih ia panggil dengan nama aslinya Muna yaitu Monalisa.


“Alhamdullilah, tante. Ini Suami Muna, abang Kevin. Ini anak pertama Muna, Aydan dan yang di gendong papanya Anaya anak kedua kami.” Muna memperkenalkan anggota keluarga initinya.


Kedua manik mata Sukma bersimbun, berkaca. Terharu bisa berjumpa dengan keponakan yang pernah ia dengar ceritanya saja lewat ambu, ibunya.


“Subhanallah… Allahg maha besar bisa liat kalian sehat terus kita sekeluarga ya.” Ucap Sukma tak hentinya mengucap rasa syukurnya.


“Oh… iya. Perkenalkan juga tante. Ini nyak Timedan Babe Rojak. Malaikat pelindungnya Muna di dunia.” Lanjut Muna memperkenalkan kedua orng tua angkat yang tak pernah ia perlakukan dengan berbeda.


“Alhamdullilah… terima kasih ya. Nyak… babe. Sudah rawat Mona kami dengan baik. Allah sungguh memberikan malaiakat pelindung yang luar biasa untuk Mona. Tak ada kata yang lebih dari terima kasih yang bisa kami ucapkan untuk nyak dan babe. Maaf, kami tak pernah muncul dalam suka dan duka masa lalu. Karena pun menjalani roda kehidupan yang tak bisa kita atur sendiri.Biar Allah saja yang senantiasa membalas budi baik kalian.”


“Amin… Amin ya Robalalamin. Kite hanye manusie biasa mpok. Ngejalanin ape yang ade di depan mate aje dengan tulus ikhlas.” Jawab nyak Time yang juga terdramatisir dengan perkenalan yang mengharukan tersebut.


Kini Aydan justru memiliki banyak teman yang walau tak sebaya, sebab mereka ada yang berusia SMP dan SD yang tak lain adalah saudara sepupu dari pihak keluarga Muna. Hal itu membuat Aydan lupa diri, merasa semakin asyik memiliki banyak objek yang bisa mengajaknya bersenang senang.


Muna bukan takut panas, hanya Anaya memang justru semakin betah gelonjotan nempel di dadanya, sehingga ia hanya bisa memandang betapa asyiknya Kevin dan Aydan menantang terik matahari, berkejaran dengan gulungan ombak yang kadang seolah mengejar mereka.


Semua permaianan yang di tawarkan pada mereka, di babat habis oleh duo lelaki kesayanagn Muna tersebut. Walau tak bisa bergabung, Muna cukup bahagia melihat pemandangan yang baginya cukup langka, untuk seorang Kevin yang memiliki banyak tugas dan tanggung jawab di rumah sakit maupun di perusahaannya.


Asep memilih ikut bergabung duduk di gazebo dengan Muna dan Gita yang seolah di atur jaga tepian pantai saja.


“Cie… Cie yang mau nikah.” Ejek Muna pada Asep yang membawa minuman kelapa untuk mereka bertiga.


“Hmm…” Dehem Asep.

__ADS_1


“Ga… ikut maun di pantai Sep?” Tanya Gita setengah mengolok.


“Mau siih, tapi. Tuh liat satpamku.” Ujar Asep menunjuk Ambu dengan dagunya, yang ternyata berjalan mengiring di belakangnya.


“Oh… Punya satpam.” Tawa Muna dan Gita tergerai. Melihat wajah BeTe asep yang selalu dalam pantauan sang ambu.


”Napa kitu… ketawa na bahagia sekali.” Komen Ambu yang baru berhasil mendaratkan bo kongnya di atas Gazebo yang lumayan besar itu.


“Itu… ambu. Si Asep katanya mau ikut nyebur di pantai.” Karang Muna dengan usil.


“Berani nyebur a’ a Sep?” tanya Ambu memastikan. Asep tidak perduli, memilih menyeruput air kelapa saja dengan melemparkan pandangannya pada semua makhluk yang berkejaran di pantai, sejauh mata masih bisa tertangkap manik matanya.


“Kalo memang mau ikut nyebur mah, sok atuh. Nyebur saja.” Ujar Ambu pelan. Namun mampu menarik tiga kepala dewasa di dekatnya menolah ke arahnya.


“Tapi, besok yang duduk di pelaminan teh, biar ambu sama neng Siska aja.” Lanjutnya dengan wajah agak congkak. Kata itu memang semakin pelan di ucapkan ambu, tetapi sarat ancaman. Biasalah Ambu. h Bukankah diua yang memang sangat ngebet untuk menjadikan Siska cucu menantunya.


“Yang mau nyeburt teh, saha ambu? satu 30n menit lagi, orang salon juga datang ke sini, mau apain Asep ya… itu katanya mau di SPA biar ga berkeringat lebih pas acara besok. Apa semua begitu ya?” curhat Asep dengan polosnya.


“Hah, SPA? Cowok di SPA juga sebelum acara nikah?” Ujar Muna dengan mulut nyablaknya.


“Ya iyalah mam. A’a Gi juga sempet sekali di SPA sebelum kami resepsi.” Jawab Gita.


“Oh… iya iya. Bener. Buat yang nikah dan resepsinya normal memang wacananya begitu. Sebab itu bagian dari rangkaian perawatan paket pengantin ya.” Ujar Muna kemudian.


“Haha… kenapa kaget gitu?” tanya Gita.


“Ya… kaliankan nikahnya normal. Ga kaya kami dulu. Cuma punya waktu tiga hari untuk melaksanakan akad dan resepsi. Jadi, tiap stepnya ya terjadi sesuai dengan jadwalnya.” Kenang Muna dengan pernikahannya yang spektakuler dulu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2